I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Jika Benar Cinta.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


πŸ“± Hanan : "Via sayang, coba kasih ponselnya pada mama Aya. Katakan padanya jika Om Hanan mau bicara," kata Hanan karena saat ditanya apakah mau ikut bersamanya atau tidak. Vania tidak menjawabnya, si cantik hanya diam karena dia tidak mengerti apa yang harus dia jawab.


πŸ“± Vania : "Iya, tebental. Via bilang mama," jawab Vania berbisik pada mamanya. Padahal Ayara mendengar semuanya. Termasuk perkataan Alvian yang mengatakan hanya mencintainya.


Akan tetapi Ayara tidak berbesar hati dan tidak berharap sama sekali, karena sudah cukup dia terluka satu kali dan meninggalkan bekas luka yang cukup besar


Jadi jangan sampai karena kata-kata manis Alvian. Dia harus terluka lagi. Ayara tidak sanggup bila harus merasakan sakitnya. Yaitu saat kita tidak dibutuhkan oleh orang yang kita cintai.


"Mama, Om tanan mau bitala tama mama," bisik Vania tapi masih bisa di dengar oleh Alvian dan juga Hanan.


Sehingga membuat kedua member ALV itu tersenyum karena benar-benar merasa lucu pada tingkah Vania.


"Mama ndak tangis lagi, tan?" tanya si cantik yang langsung membuat Ayara mengelengkan kepalanya.


"Tidak! Mama tidak menangis," jawab Aya tersenyum seraya mengelus pipi putrinya.


"Om tanan mau bitala tama Mama," ucapnya lagi seraya menunjuk ponsel yang ada di atas meja samping tempat tidur.


"Baiklah! Mama pinjaman sebentar, ya. ponselnya," kata Ayara karena tahu benda pipih tersebut dibeli Alvian agar bisa menelpon disaat dia ingin bicara bersama Vania.


"Ini puna Mama duga," jawab Vania tidak mau dibilang hanya ponselnya.


"Iya, iya! Punya kita," Ayara yang tidak mau putrinya bersedih akhirnya mengiyakan juga.


Lalu meskipun terpaksa. Dia memutar tubuhnya karena Ayara juga merindukan Hanan. Pemuda yang sudah seperti kakak baginya.


Namun, dia tidak mau melihat kearah ponsel dengan jelas, karena ada Alvian di samping Hanan.


πŸ“± Hanan : "Hai... Aya!" seru Hanan yang tidak mampu menahan rasa sesaknya. Meskipun Bara sudah mengatakan jika sebelum mereka pulang. Alvian sudah membeli berbagai macam belanja dan mainan. Satu mobil penuh.


Tetap saja Hanan yang sudah dikirimkan video pendek tentang kehidupan Ayara bersama Vania. Membuat mereka merasa bersalah pada gadis itu.


πŸ“± Ayara: "Hai juga! Eum... selamat ya! Selamat karena kau dan teman-temanmu akhirnya bisa mencapai cita-cita kalian. Maaf, karena aku telat untuk mengucapkannya," jawab Ayara tersenyum getir.


Entah mengapa, begitu mengigat semuanya. Rasa sakitnya langsung terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Tulang-tulang Ayara ikut terasa sakit yang dia sendiri tidak tahu kenapa.


πŸ“± Hanan : "Aya, kau tidak perlu minta maaf. Justru kami lah yang minta maaf padamu, karena cita-cita kami. Kau dan Via harus menderita," seru Hanan yang mungkin bila berada di hadapan Ayara. Maka sudah dia peluk gadis itu. Untuk menyalurkan segala rasa bersalahnya.


πŸ“± Ayara : "Kata siapa aku menderita? Hanan... aku sangat bahagia hidup bersama putriku. Jadi jangan kalian berpikiran seperti bahwa aku sangat menderita." Ayara masih tetap berusaha untuk tersenyum.


πŸ“± Ayara : "Aku sudah hidup bahagia, jadi kalian tidak perlu minta maaf padaku, karena kalian tidak bersalah juga. Meskipun aku hidup serba kekurangan. Tapi aku benar-benar bahagia, Han. Apa kau tahu kenapa?" sambung Ayara menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan lagi ucapannya.


πŸ“± Ayara : "Karena di sini, aku tahu mana lawan dan mana kawan untuk ku jadikan teman. Jadi kau tidak perlu meminta maaf, Oke! Sekali lagi selamat! Jujur, aku bersyukur pernah mengenal kalian. Karena aku tidak perlu mengumpulkan uang hanya untuk menonton konser ALV." Ayara tersenyum.


Akan tetapi dia juga terisak kecil, seraya menutup mukanya sendiri.


πŸ“± Hanan : "Aya! Kami---"


"Al, Hanan. Ayo kita keluar sekarang. Setengah jam lagi giliran kita," ucap Sandy berdiri di pintu masuk.


Dia sengaja hanya berdiri di sana, karena waktu mereka tidak banyak. Belum lagi nanti Kak Mauza juga harus memeriksa tampilan mereka berlima. Sebelum menaiki panggung megah yang sudah menanti.


"Oh, baiklah! Kalian duluan, aku akan segera menyusul." yang dijawab oleh Alvian. Soalnya dia masih ingin berbicara pada Ayara.


Melihat mantan kekasihnya terisak sedih. Membuat Alvian menjadi tidak tenang sebelum berbicara pada Ayara.


πŸ“± Hanan : " Aya, nanti malam kita sambung lagi, ya. Ini sebentar lagi waktunya kami menaiki panggung. Maafkan aku, atas segala yang sudah terjadi. Meskipun kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang. Aku tetap akan datang ke kota S. Untuk membawa kau dan keponakanku pulang bersamaku," ucap Hanan yang langsung berpamitan pergi.


Dia sangat mengerti jika Alvian masih ingin berbicara pada Ayara. Makanya dia dan Sandy cepat-cepat pergi dari sana. Bahkan sebelum Ayara menjawab perkataannya.


Mendengar Hanan berpamitan padanya. Membuat ibu satu anak itu menatap pada layar ponsel yang ada di atas meja.


Sedangkan Vania sudah tertidur disampingnya karena sebelum Alvian menelepon tadi. Mereka berdua sudah mau tidur.


πŸ“± Alvian : "Aya, jangan ditutup dulu! Aku masih ingin bicara denganmu," cegahnya begitu melihat Ayara sudah memegang ponsel. Mau memutuskan sambungan telepon mereka.


πŸ“± Ayara : "Huh!" wanita itu menghembuskan nafasnya ke udara. "Kau mau bicara apa lagi? Putrimu sudah tidur," jawab Ayara mengarahkan kamera ponsel kearah Vania.


Si cantik Vania tidur sambil memeluk boneka beruang yang dibelikan oleh papanya.


πŸ“± Alvian : "Agh! Lagi tidur saja dia terlihat imut. Aku ingin cepat-cepat pulang ke sana." seru Alvian tersenyum menahan rasa rindunya pada sang putri.


πŸ“±Alvian : "Aku menelepon bukan karena ingin bicara pada anak kita saja. Tapi ingin bicara denganmu. Tapi sejak kemarin kau tidak mau bicara padaku," jawab pemuda itu setelah kamera ponsel sudah mengarah pada Ayara lagi.


πŸ“± Ayara :"Berapa kali aku katakan padamu. Kau dan aku sudah tidak ada urusan apa-apa lagi. Jadi mau aku bicara padamu atau tidak, itu urusanku." Ayara menjawab dengan ketus.


πŸ“± Alvian :"Iya kalau bagimu, tapi tidak bagiku," Alvian terus menatap pada Ayara yang sudah menampilkan wajah juteknya.


πŸ“± Alvian: "Aku sangat merindukanmu, Aya. Jadi aku mohon jangan seperti ini lagi. Aku benar-benar mencintaimu. Tolong percayalah! Setelah konser kami selesai. Aku akan langsung berangkat ke kota B untuk menjemput kalian." ungkap pemuda itu agar Ayara tidak memikirkan hal aneh tentang dirinya.


Walaupun Ayara berkata sangat membencinya. Namun, Alvian tahu semua itu hanya karena Ayara masih kecewa padanya. Akan tetapi perasaan mereka pasti masih sama.


Setelah dia melihat tingkah Aya yang berubah-ubah saat berbicara padanya. Membuat Alvian menyimpulkan sendiri bahwa Aya juga masih mencintainya.


πŸ“± Alvian : "Aku sangat mencintaimu dari dulu sampai sekarang. Tidak pernah berubah sedikitpun. Aku sangat menyesal atas keegoisanku. Namun, aku ingin kau memberiku kesempatan satu kali lagi. Aku mohon!" ucap Alvian kembali menyakinkan.


Jika dia tidak bisa menyakinkan Ayara. Maka sudah pasti malam ini Alvian akan tampil dengan bad mood karena masalah pribadinya.


πŸ“± Ayara : "Apakah kau hanya ingin mengatakan hal konyol ini saja?" tanya wanita itu jengah.


πŸ“± Alvian : "Iya, tapi aku tidak bicara hal konyol. Aku benar-benar serius dengan ucapanku. Kau mau kan memberiku kesempatan satu kali lagi, aku mohon!" pinta Alvian mengigit jari tangannya sendiri.


πŸ“± Ayara : "Apakah kau yakin bisa menepati janjimu? Apa kau tahu konsekuensi nya jika kau berani mengingkari janjimu?" Ayara malah melempar pertanyaan.


πŸ“± Alvian : "Iya, aku siap menerima konsekuensi apapun itu. Tapi aku mohon! Tolong beri aku satu kali kesempatan lagi." seru Alvian degan jantung berdebar-debar mendengar perkataan Ayara.


πŸ“± Ayara : "Baiklah! Aku memberimu satu kali kesempatan dan jika kau berani melanggarnya. Maka aku pastikan, kau tidak akan pernah melihat Vania lagi." ucap Aya karena dia juga sangat penasaran.


Akankah Alvian serius pada ucapannya. Meskipun dia sendiri ragu bila Alvian akan menepati janjinya. Akan tetapi demi kelangsungan kebahagiaan putrinya. Ayara harus berani mengorbankan perasaan dia dan buah hatinya.


Soalnya, bila kali ini Alvian ingkar janji. Maka selama-lamanya mungkin Vania tidak akan bertemu papanya lagi. Seperti itulah tekad yang tiba-tiba hadir di pemikiran Ayara.


πŸ“± Alvian "Oke! Aku setuju, aku tidak akan mengingkari janjiku pada kau dan anak kita. Sayang, terima kasih karena kau sudah mau memberiku kesempatan." seru Alvian tersenyum lebar.


Namun, Ayara hanya diam tidak menunjukkan reaksi apa-apa karena dia ragu bila Alvian bisa menepati janjinya.


Setelah Aya melihat seperti apa Alvian berjalan bergandengan mesra bersama gadis bernama Alice. Lalu apa mungkin akan memilih dirinya yang jauh dari kata sempurna.


Tidak! Tentu Alvian tidak akan memilih Ayara dan Vania, karena bila menurut Ayara. Apa yang dikatakan oleh mantan kekasihnya hanyalah karena lagi terobsesi pada kehadiran Vania.


Setelah itu, maka Alvian akan melupakan semuanya. Apalagi selain Alvian seorang musisi terkenal. Pemuda itu adalah seorang calon pewaris dari perusahaan Rafael.


Sangat tidak mungkin bila Alvian akan menepati janji tersebut. Soalnya tidak mungkin keluarga besar pemuda itu akan menerima dia dan Vania sebagai bagian dari keluarga Rafael.


Ayara bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis. Jika Alvian memilih dia dan Vania. Maka bukan hanya karier nya saja yang akan terancam. Akan tetapi juga perusahaan Rafael akan mengalami goncangan besar.


Jadi Ayara sudah memiliki hasil dari semuanya. Di ibaratkan tinggal menunggu pengumuman pemenangnya saja.


Namun, kembali lagi seperti pemikiran Aya yang semula. Biarkan Vania terluka sekarang, daripada setelah besar dan mengerti. Putrinya harus merasakan kecewa dan sakit hati.


πŸ“± Ayara : "Huem! Aku tunggu sampai dimana kau akan berjuang untuk putrimu," kata si ibu muda langsung memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak.


Alvian yang sudah tidak ada waktu lagi. Langsung saja menyimpan ponselnya kedalam saku jas yang ia pakai. Nanti saat dia tampil, semua barang-barang seperti itu akan disimpan oleh Staf Muzaki.


"Sayang... maafkan Mama ya," lirih Ayara mengelus kepala putrinya. "Mama terpaksa melakukannya. Jika papamu benar-benar mencintai kita. Maka dia tidak akan pernah melepaskan kita lagi." lanjut Aya mulai merebahkan tubuhnya bersama sang putri.


...BERSAMBUNG.....