
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Pa, mau tama Mama," ucap Vania yang melihat ibunya marah-marah pada orang yang tidak dia kenal.
"Sayang, sudahlah! Ayo kita pulang saja," Alvian yang melihat Ayara semakin marah-marah pun langsung saja mengajak istrinya untuk meninggalkan tempat tersebut.
Bukannya Alvian tidak mau menyapa ayah mertuanya. Dan meminta maaf atas perbuatannya yang membuat Ayara hamil. Namun, seperti apa Tuan Edward sebenarnya membuat Alvian membuang niat baik tersebut jauh-jauh dari pikirannya.
"Siapa kau? Apakah---"
"Saya adalah suami Aya," jawab Alvian cepat.
"A--apakah kau orang yang---"
"Mama, Pa, Via tatut," ucapan Vania mulai menangis sambil memeluk leher ayahnya. Sehingga Tuan Edward tidak menyelesaikan lagi ucapannya.
Rasanya beliau sangat ingin berkenalan dengan Vania yang menatapnya lekat. Walaupun Aya tidak mengatakan, bahwa gadis kecil tersebut adalah anak yang dikandungnya. Sewaktu meninggalkan kediaman Wilson.
Tuan Edward bisa menebaknya sendiri. Dari besarnya Vania, beliau tentu sudah tahu.
"Tidak usah takut, ya, kan ada Papa." ucap pemuda itu membujuk putrinya yang menangis karena memang merasa takut.
"Aya, ayo kita pulang. Lain kali kita masih bisa datang ke sini lagi." ajak Alvian untuk kedua kalinya dan langsung diiyakan oleh Ayara.
"Baiklah! Aku juga sudah selesai," Aya bersama anak dan suaminya sudah berjalan beberapa langkah. Namun, Tuan Edward kembali berkata.
"Aya, tolong maafkan Papa, Nak! Maafkan Papa yang tidak---"
"Buat apa Anda minta maaf? Bukankah tadi Saya sudah bilang, jika di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Sesuai keinginan Anda waktu itu. Maka di manapun dan kapanpun kita bertemu. Anggap bahwa kita tidak pernah saling kenal." seru ibu muda itu yang sudah terlalu kecewa pada sang ayah.
Ayara seperti itu bukan karena dia sudah memiliki suami kaya raya dan mertua yang menyayanginya. Akan tetapi saat dimana dia melahirkan Vania di rumah sakit kurang lebih tiga tahun lalu.
Wanita itu tanpa sengaja melihat berita di televisi yang ada di kamar rawatnya. Berita tersebut membahas tentang Keluarga Wilson. Di mana Tuan Edward mengatakan bahwa beliau hanya memiliki dua orang anak. Yaitu satu orang putra dan satu orang putri.
Semenjak itulah Ayara sudah menganggap bahwa hubungan di antara mereka benar-benar sudah putus. Bukannya dia mau durhaka pada orang tuanya. Namun, perlakuan Tuan Edward sendirilah yang membuat Ayara si gadis malang. Membuang kenangan buruk di antara mereka.
"Jasmeen... apakah ini balasan untukku yang sudah menyia-nyiakan putriku sendiri. Tolong maafkan aku, aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku yang sudah menyakiti perasaan mu. Aku..." lirih Tuan Edward menatap kepergian Ayara bersama anak dan suaminya.
"Apakah laki-laki tadi adalah suaminya? Jika iya, pemuda itu sepertinya bukan orang miskin. Selama ini kau tinggal di mana, Nak. Maafkan Papa, Aya." gumam laki-laki itu lagi yang sudah duduk di samping batu nisan mendiang istrinya.
"Jasmeen, aku minta maaf padamu. Aku bersalah padamu semenjak kau masih hidup karena selalu mendengar ucapan ibuku." ucap Tuan Edward duduk menghabiskan waktu sampai satu, atau dua jam, seperti Minggu-minggu sebelumnya.
Ya, sekarang setiap akhir pekan dia selalu mendatangi makam istri pertamanya. Tidak seperti dulu yang selalu menghabiskan waktunya bersama keluarga baru untuk melakukan piknik, jalan-jalan ataupun berkumpul bersama keluarga besar Wilson.
Akan tetapi mau seperti apapun acaranya. Tetap saja mereka tidak pernah membawa Ayara yang dianggap hanya sebagai anak pembawa sial.
Namun, penyesalan selalu berada di akhir, karena di saat beliau menyesali perbuatannya, yang tidak pernah adil pada anak kandungnya sendiri. Hanya karena terlahir dari ibu yang hanya anak panti asuhan.
Semua itu sudah tidak ada gunanya. Apalagi hari ini beliau mendengar sendiri bagaimana Ayara mengatakan bahwa diantara mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa.
*
*
"Hick... hick... aku membencimu, Edward. Selama ini kau tidak pernah memanggil diriku anak. Kau tidak pernah menganggap aku adalah darah dagingmu sendiri. Keberadaan ku seakan tidak ada di rumah mewah kalian." tangis Ayara pecah saat mereka sudah duduk didalam mobil.
"Kau dan ibumu, selalu membangga-banggakan Arianti yang merupakan putrimu dengan Rose. Kalian tidak pernah mau tahu saat aku sakit. Disaat aku tidak pulang ke rumah sampai beberapa hari. Kalian tidak pernah mencariku." setelah bertahun-tahun menanggung dan menyimpan sendiri perlakuan buruk keluarga Wilson.
Hari ini Ayara keluarkan semuanya. Dia benar-benar merasa bertambah sakit setelah mendengar kata permintaan maaf dari sang ayah.
"Apa kau tahu, Vin. Karena mereka tidak pernah menyukaiku. Itulah yang membuat aku malas pulang kerumah. Ada dan tidaknya aku, itu tak berpengaruh apapun bagi mereka, karena Edward tidak pernah menganggap bahwa aku adalah anaknya." ucap Aya menunjuk kearah makam. Soalnya Tuan Edward masih berada di sana.
"Aya, aku tahu itu. Sudah, ya. Lupakanlah semuanya. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatimu lagi. Apalagi bila hanya untuk menyakitimu. Itu tidak akan pernah aku biarkan. Percayalah!" Alvian memang belum menjalankan kendaraannya karena ingin menenangkan istrinya terlebih dahulu.
Sedangkan Vania ikut terisak di dalam pelukan sang ayah. Gadis kecil itu paling anti apabila melihat mamanya menangis. Vania seakan-akan ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh ibunya.
"Apa kau tahu apa yang ingin aku katakan disaat kau pulang dari konsep pertamamu? Saat itu aku ingin bercerita padamu, bahwa aku akan belajar mencari pekerjaan. Karena Edward tidak mau membiayai kuliah ku. Tak aku sangka, ternyata begitu dia mendengar bahwa aku hamil. Mereka bersama-sama mengusirku dari rumah keluarga Wilson." seru Ayara yang terlihat marah.
Akan tetapi wanita itu terus terisak menahan rasa sakit hatinya. Sungguh, Ayara patut diberikan piagam penghargaan. Sebagai keberhasilannya yang sanggup hidup di antara orang-orang yang selalu menghina dia ataupun ibunya, yang sudah meninggal dunia.
Mirisnya si pelaku tersebut adalah keluarganya sendiri yang memiliki ikatan darah, meskipun tak diakui. Namun, hal tersebut tidak akan pernah bisa dirubah oleh manusia.
"Sayang, maafkan aku," tidak ada kata-kata lain yang bisa diucapkan oleh Alvian. Selain kata maaf. Andai dia tidak pernah membuang Ayara karena lebih memilih karirnya. Maka tidak mungkin gadis itu mengalami penderitaan lagi setelah diperlakukan tidak baik oleh keluarganya sendiri.
Cup!
Pemuda itu mencium kepala Ayara berulang kali.
"Maafkan aku, jangan menangis lagi! Aku tahu seperti apa rasa sakit mu, karena telah diperlakukan tidak adil oleh keluargamu sendiri. Soalnya aku saja yang tidak ditegur oleh papa. Gara-gara memilih jalan hidupku yang menjadi seorang penyanyi, rasanya sangat sakit." Alvian menarik Aya kedalam pelukannya.
Dengan Vania berada di tengah-tengah mereka berdua, karena si cantik masih berada dalam pelukan Alvian.
"Mama jangan tangis lagi," ucap Vania menyeka air mata sang ibu. Padahal dia sendiri saja juga manis.
"Vai, sayang," Ayara bukannya berhenti menangis. Namun, semakin mengeratkan pelukan bersama anak dan suaminya.
"Aya, maafkan aku. Ternyata hal penting itu yang ingin kau katakan hari itu." gumam Alvian masih memeluk anak dan istrinya secara bersamaan.
Hampir sepuluh menit mereka berada di dalam mobil yang masih terparkir di tempatnya. Setelah keadaan Ayara benar-benar tenang.
Barulah Alvian menjalankan kendaraan mewahnya. Meninggalkan tempat tersebut dan langsung menuju ke rumah baru mereka yang dihadiahkan oleh Tuan Abidzar.
Akan tetapi posisi Aya bersandar pada bahunya. Begitu pula si cantik Vania, gadis kecil itu masih memeluk tubuh papanya. Padahal Alvian sedang membawa mobil.
Namun, demi anak dan istrinya, Alvian membiarkan kedua wanita berharganya menjadikan tubuhnya sebagai sandaran, karena memang seperti itu seharusnya.
"Mama sama Via apakah tidak mau membeli sesuatu?" tanya pemuda itu memecahkan keheningan di dalam mobil tersebut.
"Mama," Via malah menunjuk pada sang ibu yang menurutnya lebih membutuhkan. Jika dia menangis karena melihat mamanya bersedih. Begitulah kiranya yang dipikirkan oleh si cantik.
"Tidak! Aku hanya ingin kita langsung pulang saja," jawab Ayara yang mengerti bahwa Alvian dan Vania lagi menunggu jawaban darinya.
"Oke, kita langsung pulang ke rumah baru, ya." Alvian hanya tersenyum kecil dengan pemikiran untuk mengambil keputusan. Agar bisa selalu membahagiakan Ayara dan Vania.
... BERSAMBUNG... ...