I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Makan Sepiring Bertiga.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Ayo silahkan turun Ayara ku," ucap Alvian membukakan pintu mobil buat sang istri. Soalnya dia sudah turun duluan bersama Vania dalam gendongannya.


"Terima kasih!" jawab Ayara menerima uluran tangan dari suaminya. Lalu pasangan suami-istri itu pun langsung masuk kedalam rumah mewah mereka. Bukan kembali ke rumah utama lagi.


Selama dua malam belakangan, Ayara memang menginap di rumah mertuanya karena Vania sakit dan juga Lula sudah tinggal di Apartemennya yang diberikan oleh Tuan Abidzar.


Tidak tanggung-tanggung memang. Rasa bahagianya karena sudah memiliki anak perempuan plus cucu perempuan yang sangat menggemaskan. Tuan Abidzar rela mengeluarkan uang puluhan juta dolar hanya untuk membalas kebaikan Lula.


Meskipun gadis itu sudah mengatakan bahwa dia ikhlas membantu Ayara selama ini karena sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Namun, tetap saja Tuan Abidzar ingin membalas kebaikan tersebut.


Dari mana beliau tahu jika Lula sudah baik pada Ayara dan cucunya? Jawabanya tentu saja dari orang yang dia tugaskan untuk menyelidiki semuanya masa lalu sang menantu.


Dari sanalah Tuan Abidzar mengetahui bahwa Lula memiliki peran besar membantu Ayara dan Vania kurang lebih hampir empat tahun.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya dan Nona Via yang cantik. Apakah mau makan siang sekarang?" sambut pelayan yang sudah memasakkan makanan buat makan siang.


"Terima kasih, Bibi." jawab Ayara karena Alvian hanya mengangguk kecil.


"Alvin, apakah kita mau makan siang sekarang?" tanya Ayara pada suaminya sambil melihat jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit.


"Iya, nanti kita tinggal istirahat. Lagian Via juga harus banyak makan dan minum obat. Agar besok bisa pergi jalan-jalan." jawab Alvian sudah berjalan kearah dapur bersih.


Tahu jika majikannya akan kembali siang ini. Jadi para pembantu langsung memasak makanan untuk makan siang.


Jika tadi pagi para asisten di rumah tersebut hanya memasak buat mereka saja, karena Ayara dan Vania masih menginap di rumah utama.


"Kita mau pergi jalan-jalan? Atau hanya kau saja?" Ayara menyeimbangi langkah kaki suaminya.


"Tentu saja kita bertiga, sebagai ganti karena satu Minggu ini aku meninggalkan kalian di rumah." jawab Alvian tersenyum pada putrinya yang terus menempel pada dada bidangnya.


Cup!


"Anak Papa sangat merindukan Papa, ya." ucapnya memberikan kecupan berulang kali pada kening sang putri.


"Alvin, cuci tangan dulu menggunakan sabun anti septik. Kamu habis menempuh perjalanan jauh." titah Ayara yang sudah berjalan ke arah wastafel lebih dulu dan mengucurkan air keran untuk mencuci tangannya juga.


"Sesuai perintah Nyonya Ayara. Kami berdua akan mencuci tangan." jawab Alvian membawa Vania ikut mencuci tangan. Sedangkan Ayara yang mendengar ucapannya hanya tersenyum simpul.


"Papa, tangan Via bantah," ucap si princess yang mengulurkan tangannya pada sang ayah


"Iya, tangan Papa juga basah, tunggu ya Kita lap kering dulu. Baru setelahnya kita makan siang. Apabila Via belum minum obat, bisa sekalian minum obat juga. Agar cepat sembuh." Alvian berbicara dengan suara lembutnya dan sangat berbeda dia yang lagi di atas panggung dan saat bicara bersama keluarganya.


"Sudah selesai! Sekarang mari kita makan siang, biar Papa yang menyuapi Via, ya." lanjutnya lagi dan diangguki oleh si kecil Vania.


"Ayo duduk!" titah pemuda tampan itu menarik kursi meja makan buat istrinya yang hanya menurut saja. Walaupun sebetulnya Aya sudah tidak sabar menunggu jawaban atas pertanyaan nya tadi.


"Aya, besok siang, teman-teman ku mau pergi liburan ke Villa baru milik Naufal. Jika kau mau, kita akan ikut liburan ke sana. Namun, bila tidak mau, maka kita cari tempat liburan yang lainnya." jawab Alvian setelah ikut duduk bersama Vania masih dalam dekapannya.


"Apakah aku boleh ikut?" Ayara balik bertanya.


Kenapa tidak! Tentu saja sangat boleh. Bahkan Naufal dan yang lainnya menyuruh kalian berdua ikut, agar lebih ramai lagi."


"Jika aku dan Via ikut. Apakah ada orang lain lagi selain kalian berlima?" ibu muda itu kembali bertanya.


"Eum... sepertinya tidak ada lagi. Hanya kita saja yang akan liburan ke sana. Kenapa?"


"Bagaimana jika kita ajak Lula, dia tidak pernah liburan. Rasanya aku akan bersedih bila dia tidak ikut bersama kita." jawab Ayara karena sangat mengetahui seperti apa kehidupan Lula selama ini.


"Tidak masalah! Akan lebih seru bila dia ikut. Mana tahu kehadirannya bisa menghibur Bara yang lagi patah hati karena baru saja putus dengan kasihnya." ujar Alvian melihat Ayara mengisi piring untuknya.


"Bara putus dengan kekasihnya? kenapa apakah para berselingkuh?" tebak Ayara karena menurutnya tidak mungkin kekasih Bara yang berselingkuh. Atau juga yang mengajak putus lebih dulu.


"Terima kasih!" ucap Alvian setelah menerima piring makanannya. Baru setelah itu dia menjawab pertanyaan sang istri. Yaitu masalah tentang Bara.


"Bara sebetulnya tidak ingin putus. Namun, karena Ria tidak bisa diajak menikah dalam waktu dekat ini. Jadi Ria sendirilah yang mengajak Bara untuk putus tidak melanjutkan hubungan mereka lagi." papar pemuda itu mulai menyuapi putrinya dan dia sendiri.


"Kenapa gadis itu tidak mau? Apakah dia sangat cantik?" Ayara semakin penasaran. Sampai-sampai tidak jadi mengisi piring untuknya sendiri karena lebih tertarik cerita tentang Bara daripada mengisi perutnya sendiri.


"Ini makan, biar aku yang menyuapi." ucap Alvian menyuapi istrinya juga. Kebetulan sekali saat pemuda itu menyodorkan sendok makanan, mulut istrinya lagi terbuka. Jadi Aya tidak bisa lagi menolaknya.


"Kalau cantik dia sama seperti Lula, tidak terlalu cantik. Apabila dibandingkan dengan kecantikan istriku, karena Ayara ku tidak ada bandingannya." goda Alvian seperti biasa.


"Agh, kau ini! Aku lagi serius." Aya memanyunkan bibirnya ke depan. Namun, malah membuat Alvian tersenyum lebar dibuatnya.


"Sayang, aku juga serius. bagi diriku tidak ada gadis yang lebih cantik daripada istriku."


"Alvin, aku serius," kali ini Ayara sampai menutup mulutnya tidak mau menerima suapan dari sang suami. sebelum pertanyaannya dijawab.


"Ria itu seorang mahasiswi kedokteran yang sekarang masih kuliah di Amerika. Jadi itulah alasannya kenapa belum bisa diajak menikah oleh Bara." jawab Alvian kembali berbicara dengan serius, karena dia mana berani membuat Ayara nya marah.


"Bukannya tidak apa-apa mereka menikah apabila tidak diumumkan? Soalnya adik... adik Tuan Edward ada yang menjadi seorang dokter dan dia menikah saat satu tahun sebelum lulus. Tapi pernikahannya dirahasiakan." ucap Aya sempat ragu saat menyebutkan nama keluarga yang sudah membuangnya.


"Kasihan sekali istriku, untuk menyebutkan nama keluarganya sendiri saja tidak bisa."


Gumam Alvian disela menyuapi istri maupun anaknya dan juga terkadang dia sendiri. Ini adalah makan satu piring bertiga yang kembali terjadi.


Dulu di saat Alvian menemani Ayara makan di salah satu restoran yang lagi viral. Mereka juga makan satu piring bertiga. Dengan Alvian yang menyuapi Ayara. Meskipun saat itu Vania belum lahir, akan tetapi si cantik sudah ada dalam kandungan Ayara mamanya.


"Entahlah aku juga tidak tahu banyak sih, apa alasan dia mengajak putus. Namun, yang jelas Bara sudah memenuhi permintaan gadis itu karena dia harus segera mencari wanita yang bisa diajak serius. Soalnya kakek Bara sudah sakit-sakitan dan beliau ingin menyaksikan cucu satu-satunya itu menikah sebelum beliau meninggal dunia."


"Iya juga sih, kita kan tidak tahu ada alasan apa diantara mereka. Tapi semoga saja Bara segera menemukan gadis yang bisa diajak serius dan juga mencintainya bukan karena dia yang famor sebagai member ALV." jawab Aya mulai menikmati makanan yang disuapi oleh suaminya.


"Alvin, kenapa kau malah menyuapi kami, bukannya kau sehabis dari perjalanan jauh dan pastinya sangat melelahkan bukan." setelah perutnya hampir kenyang barulah mayara menyadari Jika dia makan disuapi oleh suaminya.


"Sudah tidak apa-apa! Ayo makan lagi, setelah ini kita istirahat." perkataan Alvian tida bisa dibantahkan lagi.


"Tapi sayang, kata papa kau mau dimasukkan ke universitas kedokteran juga. Papa ingin kau meneruskan kuliahmu. Agar bisa memenuhi cita-citamu yang ingin menjadi seorang dokter."


"Apa! Tapi aku tidak mau, aku sudah tidak ingin lagi menjadi seorang dokter, Alvin. Sekarang cita-citaku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga biasa yang bisa mengurus anak maupun suamiku." tolak Ayara cepat.


"Jadi kau tidak mau kuliah lagi?" tanya pemuda itu kaget, karena setahunya Aya sangat ingin kuliah di jurusan kedokteran.


"Itu dulu, tapi sekarang tidak lagi. Aku hanya ingin hidup seperti ini saja. Tidak perlu memiliki gelar dan title yang tinggi, karena semua itu tidak akan menjamin kebahagian untuk diriku sendiri. Maupun untuk orang-orang di sekelilingku."


Jawaban istrinya tentu saja langsung membuat Alvian membawa Vania berdiri. Lalu memberi pelukan pada sang istri. Sehingga membuat para asisten rumah tangga mereka tersenyum melihatnya.


"Alvin, kau ini kenapa?" tanya Ayara bingung.


"Sayang jika kau tidak ingin kuliah lagi. Maka aku akan menjadikan mu, ibu dari anak-anakku saja. Kita tinggal memberikan Via adik yang banyak, agar rumah ini semakin, ramai." jawab Alvian telah melepaskan pelukannya.


"Memangnya apa hubungannya dengan kuliah dan membuat adik untuk Via? Kau ini," seru Ayara yang sudah berdiri dari tempat duduknya karena dia akan mencuci piring bekas mereka makan siang.


Soalnya mereka memang sudah selesai makan siang. Walaupun hanya satu piring bertiga. Akan tetapi rasa nikmat dari makanan tersebut membuat lebih cepat kenyang.


"Tadinya aku takut apabila tiba-tiba kau hamil lagi. Sedangkan papa ingin kau kuliah meneruskan sekolahmu." jawab Alvian jujur karena setelah mereka menikah. Saat melakukan hubungan suami-istri. Dia selalu kepikiran takut jika langsung membuat Ayara hamil.


"Papa... tita mau ke lumah oma lagi?" pertanyaan Vania membuat Alvian, berhenti tidak meneruskan pembicara bersama istrinya lagi.


"Bukan, Nak! Besok siang, apabila Vania sudah sembuh maka kita akan pergi jalan-jalan bersama para Om member ALV dan juga tante Lula." jawab Alvian sambil menunggu istrinya mencuci piring.


Soalnya percuma dilarang juga, istrinya tidak akan pernah mau mendengar larangan mengerjakan pekerjaan rumah, karena Aya lebih suka mengerjakan sendiri. Apalagi hanya satu buah piring, sendok beserta satu gelas.


... BERSAMBUNG......