
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Tok!
Tok!
"Ara, apa kalian masih tidur?" teriak Lula yang sudah mendatangi rumah sederhana Ayara bersama putrinya.
Tok!
Tok!
"Ara, ini aku. Tante paling cantik sudah datang," teriaknya lagi.
"Vania, ayo bangun! Cepat kau buka pintunya," sekarang bergantian memangil nama Vania.
"Ara, kau---"
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka oleh Ayara dengan pelan. Dia baru saja terbangun setelah mendengar suara cempreng Lula sahabatnya.
Soalnya hampir semalaman dia tidak bisa tidur karena setiap memejamkan matanya. Malah selalu terbayang pertemuan dengan Alvian kemaren siang.
"Astaga! Ara, matamu digigit apa? Kenapa bisa bengkak seperti ini?" seru Lula begitu kaget melihat mata Ayara menjadi bertambah sipit.
"Lula," lirih Aya langsung memeluk Lula begitu mereka tiba di dalam rumahnya dan menutup kembali pintu tersebut. Agar tidak ada yang tahu bahwa dirinya menangis.
Begitulah cara Aya selama ini agar bisa melindungi dirinya dan Vania. Dia harus berpura-pura menjadi gadis hebat dan kuat agar tidak selalu direndahkan bagi mereka yang tidak menyukainya.
"Lula, aku..." tidak jadi melanjutkan ucapannya.
Aya kembali menangis tersedu-sedu sehingga membuat Lula bingung melihatnya. Sosok Ayara yang terlihat kuat selama ini begitu rapuh tanpa bicara apa-apa.
"Hei, ada apa? Huem? Ayo ceritakan padaku? Apakah ibunya Zinet berbuat macam-macam padamu lagi?" tanya Lula menyebutkan nama salah satu tetangga Ayara yang juga tidak menyukainya.
"Ara, ada apa? Tolong jangan seperti ini kau membuatku takut?" desak gadis itu yang balas mendekap tubuh Ayara.
Soalnya si ibu muda itu tubuhnya bergetar gara-gara menahan sesak di dadanya. pertemuan dia dan Alvin kemarin siang benar-benar sudah menyiksa dirinya.
Andai itu posisi orang lain. Mungkin sudah mengembalikan Vania kepada Alvian sejak dulu. Namun, tidak bagi Ayara.
Meskipun dia sudah disakiti, tapi Aya tetap masih melindungi cita-cita Alvian selama ini. Namun, jika harus dipertemukan lagi tentu dia tidak sanggup.
"Ara, apakah ibunya Erdogan yang menuduh mu ingin merebut suaminya? Jika memang benar dia, maka aku akan mendatangi rumahnya sekarang dan akan kujambak rambut keritingnya itu." seru Lula melepaskan pelukan mereka, karena dia akan mendatangi rumah wanita yang menghina Ayara dan Vania kemarin siang.
Jarak rumah mereka hanya beberapa meter dari rumah Aya. makanya Lula langsung menuduh wanita itu.
"Kau tenang, ya. Diam di sini sambil mendengar teriakan ibunya Erdogan," ucap Lula yang langsung membuat Ayara mengelengkan kepalanya pelan. Seraya berkata.
"Lula, tenanglah! Aku menangis bukan karena para tetanggaku,"
"Astaga! Lalu kenapa kau menangis? Apakah gara-gara memikirkan..." Lula tidak melanjutkan lagi ucapannya karena takut Vania mendengar pembicaraan mereka.
"Eh, bukan! Bukan karena dirinya. Tapi aku sangat merindukan ibuku. Aku ingin datang ke makamnya, tapi tidak punya uang," dusta Ayara yang tidak mungkin menyebutkan bahwa kemarin siang dia sudah bertemu dengan ayah kandung putrinya.
"Ya Tuhan! Ara sayang! Maafkan Aku aku kira tadi ada yang menyakitimu," seru Lula memeluk kembali tubuh sahabatnya.
"Tumben sekali kau menangis sampai seperti ini. Apakah kau bermimpi bertemu dengannya? Atau bagaimana, ayo ceritakan padaku?" melepaskan lagi pelukan mereka lalu menuntun tangan Ayara untuk pindah ke kursi kayu yang ada di dalam rumah tersebut.
"Nah sekarang tunggu di sini, aku akan mengambilkan air putih untukmu. Setelah itu ceritakan padaku apa sebenarnya yang sudah terjadi. Sehingga kau seperti orang patah hati," ucap gadis itu yang langsung pergi ke belakang untuk mengambil air putih seperti perkataannya tadi.
"Lula... tolong maafkan aku, aku belum bisa menceritakan bahwa kemarin siang tanpa sengaja bertemu dengan ayah kandung putriku," gumam Ayara kepergian Lula.
"Tapi suatu saat nanti, akan kuceritakan padamu. Walaupun aku sangat yakin kau akan mengatai aku gila. Yang mengaku jika idola yang setiap hari kau ceritakan adalah mantan kekasihku. Iya pula lah ayah kandung Vania," saat berkata seperti itu air mata Ayara yang sudah berhenti menetes. Sekarang keluar lagi membasahi pipinya.
"Apakah kau sudah merasa lebih baik kan?" tanyanya setelah Aya menaruh gelas kosong ke atas meja di hadapan mereka berdua.
"Iya, terima kasih," jawab Aya mata dan hidung memerah.
"Sudahlah! Kau tidak perlu berterima kasih, karena aku tidak melakukan apapun. Hanya saja tolong ceritakan apa yang membuatmu mengingat almarhumah ibumu. Sampai kau menangis seperti sekarang?"
"Eum, aku..." Aya berhenti tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Iya, aku apa? Apakah kau bermimpi bertemu dengannya?" Lula yang sudah tidak sabar sampai menggerakan kedua tangannya. Seperti sedang memberi penyampaian melalui tangannya.
"Kemaren saat di Taman, aku tidak sengaja melihat orang yang begitu mirip dengan Almarhum ibuku? Jadi karena itulah aku merindukannya," jawab Ayara langsung dipercayai begitu saja oleh Lula.
"Astaga! Kenapa bisa seperti itu. Kau yang sabar ya, nanti kita akan datang ke makam ibumu bersama-sama. Tapi tunggu Kak Regina menambah gaji kita agar ada lebihnya." seru Lula mengelus punggung tangan Ayara.
"Benarkah kau juga akan ikut ke makam ibuku? Wah! Lula, Terima kasih banyak! Aku sangat senang sekali mendengarnya." kali ini Ayara benar-benar tidak berbohong.
Dia memang sangat senang apabila Lula akan ikut bersama mereka kembali ke kota S. Soalnya sudah pasti di jalannya nanti akan seru. Tidak seperti saat dia bersama putrinya saja yang kebanyakannya hanya tidur.
"Iya benar sekali! Lagian aku sudah sangat lama ingin pergi ke kota asal kekasih khayalanku," Lula tersenyum sumringah begitu membicarakan Aldebaran yang dia sebut Albar.
"Oke, kalau begitu kita akan lebih giat lagi bekerja. Supaya Kak Regina cepat merenovasi toko bunganya. Agar kita bisa mendapatkan tambahan gaji," ternyata mengobrol bersama Lula bisa menghilangkan rasa sedih Aya. Meskipun tidak sepenuhnya, tapi setidaknya dia sudah bisa tersenyum.
"Ya sudah! Kalau begitu cepatlah mandi. Aku akan memasakkan sesuatu untuk kita sarapan pagi ini. Soalnya aku juga belum sarapan." titah Lula sudah berdiri lebih dulu.
Lalu ia tarik tangan Ayara, agar segera membersihkan tubuhnya yang terlihat sangat kacau. Untungnya si cantik Vania masih tidur. Sehingga tidak tahu bahwa mamanya kembali bersedih.
"Baiklah! Aku mandi dulu. Oya, di dalam lemari pendingin ada roti yang kubeli di supermarket kemarin. Jika kau mau, buat saja. Tapi terserahlah! Aku terima beres pokoknya." tawa ibu muda itu sebelum kembali ke kamarnya.
"Ayara... sebetulnya siapa yang kau temui di Taman kemarin siang? Apakah pria brengsek yang sudah menghamilimu atau memang wanita yang mirip dengan Almarhumah ibumu? Namun, feeling ku mengatakan, bahwa kau sedang berbohong padaku. Tapi tidak apa-apa, aku tahu jika bukan masalah besar. Maka kau pasti akan berbicara jujur," gumam Lula sambil membuatkan sarapan roti untuk mereka sarapan pagi ini.
Sementara itu Ayara yang berada di dalam kamar mandi. Menyiram kepalanya sampai basah, dengan air dingin. Agar bisa merasa lebih tenang.
"Alvin, aku harap kemarin benar-benar pertemuan terakhir kita, jadi enyahlah kau dari pikiranku." gumam Ayara menyiram lagi air dingin sambil memejamkan matanya.
"Apabila kau dan aku masih bertemu. Maka jangan salahkan aku apabila memaki dirimu. Enak saja kau bertanya siapa Vania. Meskipun wajahnya mirip denganmu, tetap saja dia adalah anakku sendiri." sambil mandi di dalam hatinya terus meluapkan emosi yang tidak bisa ia luapkan melalui mulutnya.
"Meskipun Vania adalah darah daging mu. Tapi kau tidak berhak sama sekali atas dirinya, karena dia hanya milikku sendiri. Aku yang sudah mengandung dan membesarkannya. Sehingga bisa tumbuh seperti sekarang. Vania juga tidak membutuhkan dirimu, karena aku adalah ibu sekaligus ayahnya."
Meskipun sangat tidak mungkin Alvian mengakui Vania sebagai putrinya. Tetap saja Ayara merasakan takut apabila sang mantan tiba-tiba datang. Lalu membawa paksa Vania.
Bila hal itu sampai terjadi, maka apa bisa dilakukan oleh Aya untuk mempertahankan putrinya. Alvian memiliki banyak uang dan kedudukan tinggi. Sudah pasti tidak akan bisa melawannya.
Kleeek!
"Sayang! Putri Mama sudah bangun," seru Aya kaget karena hampir saja dia menabrak tubuh kecil sang putri yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Sambil memeluk baju kecil yang terdapat tanda tangan Alvian di sana.
"Mama, tita telja?" tanya si kecil seperti biasanya.
"Cup, cup! Tentu saja kita akan bekerja. Agar pas gajian kita bisa pergi membeli lima kaleng minuman buat si cantik Vania," jawab Ayara sambil menggendong putrinya.
Lalu dia dudukan pada kursi kayu yang ada di dalam kamar mereka.
"Vania tunggu di sini, ya. Mama akan memakai baju sebentar," ucap ibu muda itu sudah kembali ceria, karena tadi dia sudah memaki Alvian sepuas hatinya.
"Iya," jawab Vania seraya memberikan baju kecil yang ia peluk kepada sang ibu. Untuk disimpan seperti biasa.
"Jika aku sudah mampu membeli boneka yang diinginkan oleh Vania. Maka aku akan membuang baju ini jauh-jauh," gumam Ayara.
Sebetulnya dia tidak menyukai putrinya memeluk baju yang terdapat tanda tangan Alvian di sana. Namun, gadis kecil itu sudah terbiasa sejak kecil seperti itu.
Awal mulanya adalah ketika Vania sakit dan rewel selalu menangis. Lula memberikan baju itu agar si bayi kecil Vania memeluknya dan diam tidak menangis lagi.
"Keponakan Tante yang cantik, jangan menangis lagi, ya. Nanti Ian ALV yang tampan itu tidak menyukaimu. Ini adalah tanda tangannya. Jadi kau peluk saja dulu, apabila sudah besar dan memiliki banyak uang. Kau bisa iku tante untuk meminta tanda tangannya lagi." itulah ucapan Lula saat memberikan baju tersebut yang sampai saat ini selalu menjadi obat penawar ketika Vania lagi sakit.
soalnya begitu ditempelkan baju yang terdapat tanda tangan Alvian. Si cantik Vania langsung diam dan bisa tertidur dengan nyenyak.
Ayara yang hanya ingin putrinya diam dan tidak rewel. Akhirnya membiarkan saja. Agar dia bisa bekerja di dalam rumah maupun di toko bunga. Namun, siapa sangka jika Vania menjadi tergantungan pada baju tersebut sampai saat ini.
...BERSAMBUNG......