
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Lula, kau kenapa malah terlihat murung? Apakah ada yang salah atau mengaggu pikiran mu? Jika iya tolong katakan padaku," ucap Ayara setelah melepaskan pelukan bersama sahabat yang seperti saudara perempuan bagiannya.
"Tidak! Aku baik-baik saja, Aya. Kau tidak perlu khawatir karena aku hanya bersedih kedua orang tuaku tidak bisa hadir di hari bahagia ini," jawab Lula memaksakan untuk tersenyum.
Padahal mau seperti apapun dia menyembunyikannya dari Ayara. Tentu saja si ibu hamil tersebut bisa mengetahuinya, karena mereka hidup bersama lebih dari tiga tahun.
"Sababatku, apa yang membuatmu tidak bisa menikmati kebahagiaan pernikahan kalian berdua. Padahal kau sangat mencintai Bara."
Gumam Ayara yang berpura-pura percaya pada ucapan Lula. Namun, di dalam hatinya sudah memiliki pemikiran untuk meminta bantuan pada Alvian suaminya.
"Kau tidak perlu bersedih karena tiga hari dari sekarang kita akan ke kota B." Bara yang mendengar pembicaraan Lula dan Aya ikut menimpali.
"Huem, iya." Lula tersenyum menatap pada Bara degan jantung berdebar-debar karena masih belum percaya bahwa semua ini nyata.
"Jika kalian mau berangkat ke kota B kasih tau aku. Soalnya aku mau menitipkan hadiah buat Dokter Erina dan Jessie." ucap Alvian yang sudah menjalin hubungan baik pada orang-orang yang sudah membantu Ayara dan Vania.
Sebagai ungkapan rasa syukur karena masih ada orang-orang baik yang mau membantu kedua wanita yang sangat dia cintai.
"Apakah untuk Kak Regina tidak ada?" tanya Aya pada Alvian.
"Tentu saja ada. Tapi buat Kak Regina aku bedakan dari mereka berdua. Termasuk untuk tante dan Om."
"Al, kau tidak perlu menitip sesuatu untuk ibu dan ayahku. Mereka sudah---"
"Hei... aku mau memberi Om dan tante, bukan dirimu. Soalnya sekarang kau sudah memiliki suami yang punya banyak uang daripada aku." sela Alvian karena hubungan keluarga Rafael dan keluarga Lula juga seperti mana saudara.
"Ck, bukannya kau jauh lebih kaya dari aku? Aset mu jauh lebih banyak daripada aku," decak Bara tersenyum.
"Haa... ha... sebetulnya bukan aset yang membuat aku lebih kaya daripada kalian, Bar. Tapi harta paling berhargaku adalah istri dan kedua anakku. Mereka melebihi dari aset apapun," tawa Alvian sudah merangkul mesra istrinya.
"Ya-ya! Kau lah pemenangnya. Tapi aku akan segera menyusul mu, karena sekarang aku sudah memiliki istri dan tinggal memiliki anak saja," seloroh Bara yang membuat kedua pipi Lula merah merona.
Malu? Ya, tentu saja Lula merasa malu pada ucapan sang suami. Mereka hanya pernah sekali berciuman. Jadi untuk pembicaraan yang mengarah pada ranjang. Tentu Lula merasa malu.
"Sudah-sudah! Sana pulang lah! Ini sudah malam. Sudah cukup menikah yang di rumah kami. Masa iya malam pertama mau di sini juga. Nanti malah kami tidak bisa tidur gara-gara ada gempa lokal,"
Alvian sengaja berbicara seperti itu. Sebab bila tidak diusir maka Bara dan lula, bisa-bisa gagal untuk melakukan malam pertama.
"Huh! Ya sudah, kami pulang dulu. Kau ini takut sekali bila kehadiran kami mengaggu kalian berdua." jawab Bara pura-pura kesal.
Akan tetapi dia lagi merasakan bahagia karena bisa memiliki Lula. Si gadis sederhana yang mampu membuatnya melupakan Ria.
"Aya, kami pulang dulu ya." pamit Bara dan Lula langsung keluar dari rumah mewah tersebut.
Soalnya jika yang lainya memang sudah pulang setelah makan malam bersama. Sekitar setengah jam yang lalu.
Fiuuuh!
"Alvin!" serunya sudah mengalihkan pandangan matanya kearah sang suami.
"Kau kenapa? Huem!" ucap pemuda itu dengan suara lembut.
"Apakah kau takut untuk menghadapi malam pertama kita?" bukan Alvian namanya bila tidak bisa menghibur hati Ayara yang lagi gundah.
"Alvin..." Aya tidak jadi melanjutkan ucapannya. Wanita itu justru menatap kearah baby sister yang datang bersama Vania dalam gendongannya.
"Tuan, Nona. Maaf sudah menganggu. Tapi Nona Via tidak mau Saya temani tidur." ucap si pengasuh karena tadi dia disuruh oleh Aya menemani Vania bermain sekaligus menidurkan princess Rafael tersebut.
"Tidak apa-apa. Kakak istirahat saja. Biarkan Via bersama kami," Alvian yang menjawab sambil mengambil alih putrinya. Gadis kecil itu langsung minta digendong begitu melihat papanya.
"Bibi istirahat saja..Via akan ditidurkan oleh papanya," sekarang bergantian Ayara yang menyuruh pengasuh anak mereka untuk istirahat.
"Baiklah! Kalau begitu Saya permisi dulu," si baby sister pun pergi meninggalkan ruangan keluarga. Sebab sudah tidak heran jika Alvian dan Ayara lebih banyak mengurus Vania sendiri daripada bantuan pengasuh.
"Via mau bobok?" tanya Alvian setelah hanya tinggal mereka bertugas saja di sana.
"Iya, Via mau bobok tama Papa," jawab gadis kecil itu kembali menguap. Sehingga membuat kedua orang tuanya tersenyum.
"Ayo sayang kita keatas," sebelum Aya menjawab. Alvian sudah menggandeng tangan istrinya mengunakan satu tangan. Sedangkan tangan satunya mengendong Vania.
"Ayo tidurlah! Ada Papa bersamamu," ucap pemuda itu lagi karena Vania terus menguap.
Ternyata gadis kecil itu benar-benar mengantuk. Sehingga belum tiba mereka di lantai atas. Namun, Vania sudah tertidur dalam gendongan papanya.
"Sepertinya Via hanya ingin tidur bersama mu, Al." kata Ayara tersenyum bahagia melihat suami dan anaknya yang memiliki hubungan sangat dekat.
"Tidak apa-apa, sayang. Dia memang putriku," jawab pemuda tersebut berhenti tepat di depan pintu kamar mereka. "Masuklah! Tidak usah mandi lagi. Cukup ganti baju tidur saja. Kau lagi hamil, jadi kurangi mandi malam seperti biasanya."
"Iya, kau tidak perlu khawatir karena tadi nenek juga sudah bilang seperti itu."
"Baguslah! Kalau begitu tunggu aku menidurkan princess," imbuh Alvian melepaskan genggaman tangannya. Lalu diapun membuka pintu kamar Vania yang berada disebelah kamar mereka.
Begitu pula dengan Ayara. Wanita itu juga masuk ke kamar. Setelahnya Aya pun menganti pakaiannya dengan baju tidur. Seperti apa yang disuruh oleh suaminya tadi.
Sekitar lima menit kemudian. Alvian sudah menyusulnya. Pemuda tersebut menutup pintu kamar. Lalu berjalan perlahan sampai di hadapan Ayara. Dengan kedua tangan dilipat didepan dada.
"Sayang, kau kenapa? Apa yang kau pikirkan?" lagi-lagi Alvian mengulangi pertanyaan yang sama.
"Alvin... ayo duduklah!" Aya menggeser tubuhnya agar Alvian ikut menaiki tempat tidur mereka.
"Ada apa?" begitu duduk di samping istrinya. Alvian pun menarik Ayara untuk dia peluk. Guna memberikan ketenangan pada sang istri.
"Sepertinya Lula memiliki masalah," jawab Aya mendorong pelan dada bidang suaminya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Apakah Lula berbicara sesuatu padamu?" Alvian juga ikut menjauhkan tubuh mereka.
...BERSAMBUNG......