I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Cukup Lakukan.



๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...HAPPY READING......


.


.


"Al, aku mohon tolong selidik dari Bara, ya. Takutnya ada masalah di pernikahan mereka," pinta Ayara mengenggam erat tangan Alvian.


Saat ini dia memohon seperti mana seorang anak kecil. Padahal walaupun Ayara tidak meminta dengan bersungguh-sungguh pun tentu Alvian akan memenuhi semua permintaan istrinya.


Cup!


Satu kali kecupan kembali diberikan pada istrinya. Begitulah cara pemuda itu menenangkan hati wanita yang dia cintai bukan hanya sekarang. Akan tetapi saat mereka masih berpacaran dulu juga seperti itu.


Alvian bisa menenangkan setiap Ayara lagi memiliki masalah bersama keluarganya. Hubungan yang sama-sama membutuhkan dukungan itulah membuat keduanya saling bergantung satu sama lain.


"Tentu saja aku akan menanyakan pada Bara. Walaupun kau tidak memintaku untuk mencari tahu tentang hubungan mereka." jawabnya tersenyum seraya membelai rambut panjang sang istri.


"Aya sayang, kau tahu kan bahwa Lula sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri. Dia sudah banyak membantu kau dan Putri kita. Jadi hanya dengan menjaganya lah caraku membalas kebaikannya yang tidak bisa ku nilai dengan uang," lanjut Alvian lagi.


"Alvin... terima kasih, suamiku. Ternyata kau memang dikirim oleh Tuhan untuk mengantikan mamaku." seru Ayara sudah kembali lagi memeluk suaminya.


Kedua pasangan tersebut memang selalu menyelesaikan masalah dengan tenang. Sehingga mau sebesar apapun masalahnya pasti terselesaikan dengan cara baik-baik.


"Aku bahagia sekali bila keberadaan ku begitu berharga bagimu, Aya. Sebab aku sangat mencintaimu dari dulu sampai saat ini. Saat kita berpisah sehari saja aku tidak pernah tidak mengingat dirimu. Nama Ayara seperti nafas dalam tubuh ini," ungkap pemuda itu sebelum bibirnya yang seksi menempel pada bibir ranum Ayara.


Sehingga silaturahmi bibir pun terjadi. Ralat! Bukan hanya sekedar silaturahmi bibir saja. Namun, juga lebih dari itu. Apalagi yang mereka lakukan? Selain menikmati kebersamaan bersama orang yang dicintai.


Mungkin karena rasa cinta mereka yang besar. Sehingga selalu merasa seperti mana pengantin baru.


Mereka tidak melakukan hubungan suami-istri hanya ketika saat Alvian pergi melakukan tour di berbagai tempat. Atau saat Vania sakit.


Berbeda dengan Alvian dan Ayara. Pasangan pengantin baru yang sesungguhnya malah baru tiba di kediaman pribadi Bara sekitar dua puluh menit lalu.


Lula yang belum mandi dari selesai acara pernikahan mereka langsung memilih untuk membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Sedangkan Bara duduk di dalam kamar mereka yang terletak di lantai atas sembari menunggu sang istri.


Ttttddd!


Ttttddd!


๐Ÿ“ฑ Bara : "Iya, Ma?" ucap Bara setelah telepon bersama mamanya tersambung. Soalnya saat mereka berada dalam perjalanan. Nyonya Patricia ibunya mengirim pesan agar Bara segera menghubungi beliau.


๐Ÿ“ฑ Nyonya Patricia : "Sayang, kau ada di mana? Apakah sudah sampai di rumah?"


๐Ÿ“ฑ Bara : "Iya, Ma. Kami sudah tiba di rumah beberapa saat yang lalu. Ada apa?" pemuda itu kembali bertanya.


๐Ÿ“ฑ Nyonya Patricia : "Apakah Lula ada bersama mu?" bukannya langsung menjawab akan tetapi wanita tersebut kembali mananya Kan keberadaan menantunya.


๐Ÿ“ฑ Bara : "Lula sedang mandi. Mama mau bicara apa? Katakan saja tidak usah berbelit-belit," desak Bara yang bisa menebak bahwa sang ibu mau berbicara sesuatu.


๐Ÿ“ฑNyonya Patricia : "Bara, kau tidak boleh menghamili Lula. Jika ingin melakukan hubungan suami-istri. Usahakan mengunakan alat kontrasepsi atau kau tidak usah menyentuhnya dulu. Sampai kau benar-benar yakin bahwa sudah mencintainya," jawab wanita itu yang membuat tubuh Lula membeku mendengar ucapan ibu mertuanya.


๐Ÿ“ฑ Bara : "Ma, apa maksud Mama berbicara seperti itu? Bukankah setiap orang tua jika anaknya menikah ingin segera memiliki cucu? Tapi---"


๐Ÿ“ฑNyonya Patricia : "Bara, jangan membantah! Mama berbicara seperti ini untuk kebaikan kalian berdua. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Kau cukup lakukan apa yang Mama katakan," sela wanita tersebut yang merencanakan untuk memisahkan hubungan anak dan menantunya.


"Jadi benar Mama Patricia tidak menyukai ku? Dan... apakah Bara juga tidak mencintai ku?"


Gumam Lula di dalam hatinya. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi. Mungkin karena terlalu serius bicara bersama mamanya. Bara sampai melupakan keberadaan sang istri.


... BERSAMBUNG......