I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Data Lengkap Ayara.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Malam harinya. Semua keluarga lagi menikmati makan malam. Meskipun diluar sana sedang heboh oleh berita Alvian si member ALV telah memiliki istri dan anak perempuan yang telah berumur lima tahun.


Begitulah menurut rumor yang beredar. Padahal umur Vania belum genap tiga tahun. Namanya juga manusia, jika hal buruk tentu akan cepat tersebar dan yang tidak pun akan ditambah-tambahkan.


Akan tetapi Alvian dan keluarga Rafael tidak ambil pusing akan hal itu. Mereka masih hidup dengan tenang seperti biasanya. Alvian tenang karena tadi saat mereka makan siang, Tuan Abidzar papanya berkata. Tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi pada menantu dan cucunya.


Jadi meskipun tidak terlalu dekat dengan sang ayah. Namun, Alvian sudah tahu bahwa papanya sudah memiliki rencana untuk mengatasi masalahnya.


Hanya saja sejak tadi siang Vania selalu bersama kakek dan neneknya. Gadis kecil itu tidak mau saat diajak oleh kedua orangtuanya naik kelantai atas. Tempat kamar mereka berada, karena di rumah utama. Vania juga telah memiliki kamar sendiri.


Apa yang tidak diberikan oleh Tuan Abidzar untuk membahagiakan sang cucu. Bila nyawanya disuruh mengantikan dengan nyawa Vania, tentu akan beliau lakukan. Asalkan cucunya baik-baik saja.


Belum apa-apa saja, tidak sampai waktu dua jam setelah Ayara dan Vania dihadang oleh wartawan. Tuan Abidzar langsung memerintahkan kepada sekertaris pribadinya. Agar mencari psikiater anak, supaya cucunya tidak mengalami trauma karena merasa takut.


"Alvin, setelah ini susul Papa ke ruang kerja," ucap Tuan Abidzar berdiri dari tempat duduknya, karena beliau sudah selesai menghabiskan makan malamnya.


"Iya, Pa," jawab pemuda itu cepat dan singkat karena memang itulah yang dia tunggu-tunggu. Soalnya untuk bertindak sendiri Alvian takut membuat papanya marah. Jadilah menunggu papanya yang mengajak bicara lebih dulu.


"Via habiskan makan malam nya, ya. Opa mau kerja dulu," pamitnya pada sang cucu yang masih makan ditempat duduk khusus untuk si princess.


"Tanti Via bobok tama, opa, ya?" bukannya menjawab. Namun, si gadis kecil malah membahas dia yang mau tidur bersama kakeknya.


Cup!


"Tentu saja, nanti Via akan bobok sama Opa lagi. Tapi makanannya harus dihabiskan dulu, jika tidak habis. Maka Via tidak bisa bobok sama, Opa," Tuan Abidzar mencium kening cucunya yang masih mengunyah makanan.


"Iya, Via matan na banak," jawab Vania semakin semangat menghabiskan makanan nya. Lalu Tuan Abidzar pun pergi meninggalkan kekurangannya yang masih menghabiskan makan malam mereka masing-masing.


Begitu juga Alvian. Pemuda itu juga belum selesai karena tadi dia datang terlambat karena mengangkat telepon dari Staf Muzaki yang meminta dia melakukan jumpa pers secepatnya.


Akan tetapi karena belum berbicara degan papanya. Jadi Alvian belum bisa memberikan kapan keputusan dia akan jumpa pers. Bila tidak ada berita miring tentang Ayara sebagai simpanan. Hamil diluar nikah dan juga yang mengatakan bahwa Alvian sebenernya sudah dijebak oleh Ayara.


Agar mau menikahinya, jadi Ayara hamil anak laki-laki lain. Lalu meminta Alvian bertanggung jawab. Hampir dua puluh lima persen para fans ALV menduga seperti itu.


Padahal semua tuduhan itu tidak ada yang benar, kecuali tentang Ayara hamil diluar nikah. Hanya itulah yang membuat Alvian binggung. Dia bisa saja mengakuinya didepan publik atas perbuatan bejat nya.


Namun, Ayara melarang dia mengakui hal tersebut karena tidak mau putri mereka kena ejekan di seumur hidupnya. Yaitu akan dihina sebagai anak haram.


Soalnya bila dibandingkan yang suka dan tidak sukanya. Maka akan lebih banyak orang yang tidak menyukai kita, karena itu sudah hukum alam dan biasa terjadi di manapun tempat tinggal kita.


Gara-gara hal itu ponsel milik Ayara sudah disita oleh Alvian, karena tidak ingin istrinya melihat berita tentang mereka.


"Papa mu mungkin mau membahas masalah tadi siang, Al," ucap neneknya Alvian menatap kepergian anak sulungnya.


"Iya, Nek. Itu sudah pasti. Alvin mau menyusul papa dulu," jawab Alvian karena dia sudah selesai menghabiskan makan malamnya. "Sayang, aku menemui papa dulu, ya. Kau makan saja," lanjutannya berpamitan pada sang istri.


"Iya, pergilah," Ayara hanya tersenyum disertai anggukan kepalanya. Setelah itu karena tidak ingin membuang-buang waktu Alvian pun langsung menyusul ayahnya ke ruang kerja beliau.


Tok!


Tok!


"Masuk!" suara Tuan Abidzar dari dalam. Sehingga Alvian pun membuka pintu tersebut.


Ceklek!


Pintu dibuka. Lalu pemuda itupun masuk kedalam dan tidak lupa menutup pintunya kembali.


"Duduklah!" titah Tuan Abidzar yang telah menunggu kedatangan anaknya. "Tentu kau sudah tahu kan kenapa Papa memanggil mu ke sini,"


"Sudah, Pa," Alvian menjawab sambil duduk dihadapan papanya.


"Ini," Tuan Abidzar menyerahkan satu buah dokumen berwarna biru yang entah didalamnya berisi berkas apa. Namun, Alvian cepat-cepat menerimanya.


"Bukalah! Papa sudah melakukan semampu yang Papa bisa. Selanjutnya adalah tugas mu sebagai seorang suami dan juga ayah. Anggap saja semua ini ujian untuk rumah tangga mu," titah beliau sambil melipat tangannya di depan dada.


"Apa ini, Pa? Apakah---"


"Buka dan baca dengan teliti, Papa sudah membuat identitas Aya menjadi identitas Jasmeen. Sekarang istrimu benar-benar tidak ada kaitannya dengan keluarga Wilson lagi." sela pria itu sebelum selesai bertanya.


"Maksudnya?" Alvian masih terlihat belum paham.


"Apakah Papa sudah mengeluarkan Aya dari data Tuan Edward?" Pemuda itu bertanya sambil tangannya membuka dokumen yang diberikan oleh papanya.


"Papa tidak melakukannya, tapi selama ini Aya memang tidak pernah masuk ke data Wilson, karena ternyata Edward dan Jasmeen hanya menikah siri. Jadi Ayara bisa masuk sekolah hanya mengunakan data ibunya. Yaitu dengan status ayah kandung Aya dibuat sudah meninggal dunia." jelas Tuan Abidzar benar-benar tidak menyangka bahwa Edward tega memperlakukan darah dagingnya sampai data saja harus direkayasa.


"Astag! Ja--jadi Aya dan Mama Jasmeen memang tidak pernah diakui. Tapi apakah mungkin Aya memang bukan putri Tuan Edward, Pa?" seru Alvian setelah membaca data akte kelahiran istrinya.


"Tidak! Aya adalah anak kandung Edward. Namun, karena keluarga Wilson tidak menerima Jasmeen, mereka menikah siri dan setelah Ayara lahir pun surat pernikahan belum juga dibuat oleh Edward." jawab Tuan Abidzar berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Bertambah saat Jasmeen telah meninggal Dunia. Maka dari itu, Edward selalu menyuruh asisten rumah tangganya yang mendaftarkan Aya saat masuk sekolah. Aya dan Edward memiliki hubungan hanya darah saja, Nak. Namun, bukti di negara Edward tidak punya sama sekali. Jadi kau tahu kan apa artinya?" lanjut Tuan Abidzar menatap putranya lekat.


"Ini bagus untuk kita, karena Tuan Edward ataupun keluarga Wilson yang lainya, bukan menjadi ancaman untuk pernikahan kami?" tebak Alvian karena dia juga bukan hanya bisa bernyanyi. Tapi juga pandai saat masih sekolah.


"Iya, keluarga Wilson tidak bisa mengambil keuntungan dari masalah ini. Seperti apapun mereka berkoar-koar mengatakan di media bahwa Ayara anaknya. Itu tidak ada gunanya karena data istrimu sudah aman. Mereka hanya memiliki bukti jika Aya pernah tinggal di sana. Selebihnya tidak ada lagi." Tuan Abidzar diam sejenak.


Lalu karena Alvian hanya diam saja sambil memeriksa data lengkap Ayara. Lelaki itu pun kembali berkata.


"Tapi tentang Aya bukti itu bukan masalah besar, jika sampai mereka berani melakukan sesuatu maka kita hanya perlu mengatakan. Bahwa Aya memang pernah tinggal di sana. Namun, bukan berarti dia bagian dari keluarga Wilson."


"Lalu untuk menghadapi masalah jumpa pers yang akan Alvin lakukan bagaimana, Pa? Soalnya tadi Staf Muzaki menelepon dan mengatakan tidak bisa menahan waktu untuk mengklarifikasi tentang Aya dan Via." tanya Alvian yang membuat dia mendapatkan lemparan bantal sofa dari papanya.


"Auh! Papa kenapa melempar ku?" protes Alvian sambil mengaduh.


"Kau ini, selain pandai bernyanyi. Apa lagi kelebihanmu. Sampai-sampai masalah seperti ini, masih bertanya pada papa?" cibir Tuan Abidzar sambil menguap karena menahan kantuk.


"Coba kau periksa satu persatu dokumen itu. Kau baca dengan teliti karena disitu juga ada data Vania dan juga data tanggal perkawinan kalian yang sudah dirubah oleh pengacara keluarga kita." meskipun tadi sudah mencibir putranya, tetap saja Tuan Abidzar menjelaskan dengan sabar.


"Jadi tanggal pernikahanku juga Papa ubah, data... Pa, Papa juga sudah menganti data kelahiran Via," seru Alvian dengan mata membola seakan-akan mau keluar dari tempatnya.


"Iya, tidak mungkin kan data pernikahanmu bulan ini. Sedangkan data kelahiran Vania hampir tiga tahun lalu. Jadi tanggal pernikahan kalian dibuat empat tahun lalu. Agar tidak ada orang yang mengkritik kenapa kau sudah memiliki putri sebesar itu." jawab Tuan Edward. Soalnya beliau memang sudah mengubah semua data tentang Ayara maupun Vania cucunya.


"Lalu apakah Papa juga yang menyuruh seseorang menemui kepala sekolah tempat Via sekolah? Makanya Ayara tidak dipersulit degan akte kelahiran anak kami?"


"Tidak! Bukan Papa yang melakukannya, tapi sekertaris pribadi Papa yang membuat semuanya menjadi mudah." sangkal lelaki setengah baya itu dengan tersenyum tampan.


Ya, meskipun sudah tua. Tuan Abidzar adalah orang yang sangat tampan. Maka dari itu kedua putranya juga memiliki ketampanan sejak kecil.


"Agh! Itu namanya sama saja Papa yang melakukannya. Sekretaris pribadi Papa hanya menjalankan perintah." kali ini Alvian yang mencibir papanya.


Lalu pemuda itu pun kembali melanjutkan memeriksa setiap lembar dari dokumen tersebut.


"Wah, Pa, ini data dari Dokter Arsinta juga ada? Papa benar-benar hebat!" puji Alvian pada kehebatan ayahnya


"Itu namanya bukan hebat, Alvin. Tapi sebuah taktik seperti mana kita saat menyelesaikan pekerjaan di perusahaan. Jika kita lalai dan tidak teliti dalam bertindak maka lawan yang akan menang."


"Iya, Pa. Tapi apapun alasannya, bagi Alvian Papa tetap sangat hebat karena data yang bertahun-tahun lalu saja, bisa Papa rekayasa semuanya. Bahkan langsung mendapatkan data yang menjadi asli seperti ini." ucap Alvian benar-benar merasa lega setelah melihat data-data istri dan anaknya sudah lengkap.


"Papa hanya ingin melindungi Ayara dan juga Vania. Makanya untuk menyelesaikan berkas-berkas ini, membutuhkan waktu lebih dari dua Minggu, karena semua para tetangga yang mengenal Aya di kota B. Juga harus diselesaikan satu persatu." jelas beliau yang telah menutup mulut para tetangga Ayara di kota sebelah. Agara tidak menyebarkan berita yang tidak-tidak.


"Karena bila kita tidak memberikan mereka uang dan sedikit peringatan. Bisa saja mereka membuka mulut bahwa dulu anak dan istrimu tinggal di sana seorang diri. Namanya juga pencari berita. Mau dimanapun, sekecil apapun masalah dirimu ataupun artis lainnya. Pasti akan mereka temukan."


Setelah mendengar ucapan papanya. Membuat si artis papan atas itu berdiri dari tempat duduknya dan langsung saja berjalan mendekati sang ayah yang masih duduk. Lalu memeluknya cukup erat.


"Papa terima kasih, karena Papa sudah bersusah payah untuk melindungi keluargaku. Setelah masalah ini selesai, Alvian berjanji akan membantu papa bekerja di perusahaan." ucap Alvian degan sangat tulus.


"Ck, Papa sudah tidak membutuhkanmu lagi di perusahaan, karena sudah ada dari adikmu yang akan menjadi penerus Papa dari Evander grup." decak Tuan Abidzar yang membuat Alvian melepaskan pelukannya dan berkata.


"Apakah Papa patah hati padaku? Kalau begitu katakan apa yang harus Alvian lakukan agar bisa berbakti menjadi anak yang baik. Bagi Papa dan juga mama," pertanyaan Alvian langsung membuat Tuan Abidzar tersenyum menyeringai.


"Baiklah! Tadinya Papa tidak menginginkan balasan apa-apa. Papa membantumu karena Ayara adalah putri Jasmeen sahabat baik Papa dan juga dia menantu di keluarga Rafael." Tuan Abidzar menarik agar Alvian duduk disampingnya dan Alvian pun menurut saja.


"Namun, setelah dipikir-pikir lagi Papa tidak ingin rugi begitu saja. Anggap saja kita lagi melakukan bisnis. Sebab kau tahu sendiri kan untuk membungkam mulut orang-orang di ibukota B. Papa sudah mengeluarkan banyak uang. Sedangkan uangmu yang lebih banyak dari yang Papa punya, utuh tidak terpakai." lanjut beliau lagi yang semakin tersenyum.


"Lalu? Apakah Papa sudah kekurangan uang? Wah ini berita bagus, agar uangku ada yang memakainya." Alvian yang tahu jika papanya tidak mungkin kekurangan uang. Ikut meladeni candaan sang ayah.


"Tidak! Papa tidak butuh uang, ini adalah bisnis. Jadi sebagai ganti ruginya papa ingin lebih besar dari nilai uang yang telah dikeluarkan."


"Haaa... ha... Papa mau apa? Ayok katakan saja. Alvin akan menurutinya, asalkan bukan berpisah dari Aya, karena dia sama saja dengan jantung hidup Alvin." tawa pemuda itu karena tumben sekali papanya tidak bicara langsung.


"Apa yang kau katakan, mana mungkin Papa menyuruh kau dan Aya berpisah. Bahkan jika kau berani menyakitinya. Maka Papa yang akan membalas perbuatan mu," ancam Tuan Abidzar karena beliau benar-benar sangat menyayangi Ayara seperti mana putrinya sendiri.


"Papa hanya minta biarkan Via di sini dan kau buat istrimu melahirkan cucu Rafael lagi. Papa ingin dirumah ini ramai oleh suara tangis dan tawa dari anak-anak kalian," ungkap beliau yang merasa sangat bahagia setelah memiliki Vania didalam keluarga mereka.


"Apa! Jadi Papa mau Via di sini?" seru Alvian tidak menyangka jika sang ayah meminta putrinya untuk tinggal disana.


"Iya, Papa ingin Via disini, jika kau dan Aya terserah mau tinggal dimana saja. Malas tingal dirumah kalian, maka pindah lagi kesini." jawab Beliau yang langsung membuat anaknya mengelengkan kepalanya.


"Eh, tidak-tidak! Alvin dan Aya akan tinggal di rumah kami sendiri. Tapi... jika Via terserah dia maunya dimana. Namun, jika cucu lagi Alvin harus bertanya pada Aya,"


"Huem, tidak masalah! Kau bicarakan saja pada istrimu. Tapi Papa rasa Aya akan setuju bila kalian menambah anak, karena saat Papa berkata ingin dia kuliah kedokteran seperti cita-citanya. Istrimu langsung menolak dan berkata jika dia hanya ingin menjadi ibu untuk anak-anaknya saja." imbuh Tuan Abidzar.


Saat Aya menginap di rumah utama. Yaitu ketika Alvian konser di Amerika. Tuan Abidzar sudah memberikan beberapa brosur dari universitas kedokteran yang terbaik di negara mereka. Ayara disuruh memilih mau kuliah dimana. Biar sekertaris pribadi beliau mengurus semuanya. Akan tetapi Ayara menolak sebelum melihat brosur tersebut.


"Iya, Alvin juga pernah bertanya dia mau kuliah dimana. Tapi Ayara tidak mau," ucap Alvian mengagguk.


"Oh iya, Pa. Jadi jika menurut Papa apakah bisa dua hari lagi Alvin melakukan jumpa pers?" setelah mengobrol berbagai hal. Alvian kembali membicarakan masalah yang lagi ia hadapi.


"Kenapa harus dua hari lagi? Besok kau tinggal melakukan jumpa pers dan umumkan pada dunia bahwa Aya adalah istrimu. Menantu dari keluarga Rafael. Semua berkas data istri dan anakmu sudah lengkap. Jadi jangan kau tunda lagi," jawab pria itu seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Besok kau dan Aya saja yang melakukan jumpa pers. Via tidak usah dibawa, dia masih kecil dan tidak ada sangkut pautnya dengan identitas putrimu. Cukup tunjukan data lengkap ini, siapa yang akan menyangkal bahwa Via benar-benar putri kandung mu."


"Baik, Pa. Setelah ini Alvin akan memberitahu Staf Muzaki bahwa besok siang kami akan melakukan jumpa pers di perusahaan Agenci." jawab Alvian semagat karena dia sudah tidak sabar memiliki kebebasan hidup bersama sang istri.


"Iya, lakukanlah! Meskipun benar Via lahir diluar pernikahan kalian. Papa tidak mau orang-orang berkata jelek tentang Aya dan putrimu. Maka dari itu Papa merubah semua data mereka berdua." Tuan Abidzar menepuk pelan pundak putranya sebelum mereka sama-sama keluar dari dalam ruangan kerjanya.


"Ayo kita keluar, Via akan tidur bersama kami." ucap beliau yang tangannya langsung digandeng oleh Alvian sampai mereka tiba di ruang keluarga.


"Mama, Kakak ipar. Coba lihatlah, apa yang kakak dan papa lakukan. Kenapa mereka berdua bisa berjalan bergandengan tangan seperti pasangan kekasih." ucap Deri yang lagi bermanja pada Nyonya Risa mamanya.


Perkataan pemuda tampan itu jelas sama membuat mereka semua tertawa. Begitu pula si cantik Vania. Gadis kecil itu juga ikut tertawa bersama buyutnya yang masih sangat sehat.


...BERSAMBUNG......