
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Ara, maaf ya, aku tidak bisa menemanimu," ucap Lula merasa bersalah. Namun, dia juga tidak bisa membatalkan niatnya untuk pulang menemui keluarganya. Saat ini kedua gadis seumuran tapi beda status itu sudah pulang ke rumah sewa milik Lula.
"Iya, tidak apa-apa! Kau hati-hati, ya. Aku pasti merindukan mu," Ayara memeluk erat sahabat tapi rasa saudaranya sendiri.
"Huem, aku juga pasti akan merindukan mu. Kau hati-hati, jangan kelelahan," pesan gadis tersebut sebelum benar-benar pergi meninggalkan Ayara.
"Sayang! Keponakan Onty yang belum tahu laki-laki atau perempuan. Kau jaga ibumu ya, Nak." Lula menunduk sambil mengelus perut Aya yang sudah mulai menunjukkan bahwa ia sedang hamil.
Iya, Onty Lula yang cantik. Aku akan menjaga ibu," Ayara yang menjawab mengikuti candaan dari sang sahabat. Lalu mereka berdua tertawa bersama.
"Ha... ha... Ara, aku sudah tidak sabar ingin mengendong anakmu," tertawa dan sudah kembali berdiri seperti semula.
"Apalagi aku, hanya dia harta yang kumiliki saat ini. Tapi tidak lama lagi, tinggal enam bulan lagi," jawab Ayara tersenyum yang penuh menyiratkan luka mendalam.
Bagaimana dia akan baik-baik saja. Setiap hari melihat dan mendengar lagu ayah dari bayi yang ia kandung tampil di depan televisi atau sosial media milik Lula. Sahabatnya itu adalah fans berat nya Group boyband Alvian.
Jadi saat dirumah ataupun sedang ada waktu luang ketika berada di Toko bunga. Gadis itu selalu melihat berita terbaru Alvian. Terkadang Lula memperlihatkan foto Alvian dan memuji penuh damba.
Untuk menghargai Lula, Ayara terpaksa melihat asal sambil menahan sesak hatinya. Dua tahun mereka bersama dan apalagi bayi yang ia kandung adalah anak penyanyi yang sedang naik daun tersebut. Jadi jangankan melihat foto dan video Alvin. Mendengar namanya saja Aya merasakan sakit tapi tak berdarah.
"Hei, kau bicara apa? Aku adalah saudara mu. Jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi," seru Lula tidak suka karena dia benar-benar tulus menyayangi Aya. "Sudahlah! Aku pergi dulu, ya. Nanti kuncinya kau bawa ke tempat baru mu," lanjutnya lagi melihat hari sudah maju sore.
"Iya, kau hati-hati. Aku juga akan segera pergi sekarang. Soalnya Bibi Meta sudah menunggu ku," kata gadis itu melambangkan tangannya pada Lula.
Setelah tidak terlihat lagi dia pun kembali masuk untuk mengambil tas ranselnya dan kardus kecil yang didalamnya ada pakaian dari Lula untungnya.
"Anakku, mari kita pergi melihat tempat baru kita," ajaknya pada si buah hati yang begitu baik. Bagaimana tidak baik, Ayara sangat jarang merasakan mual atau apapun itu. Dia selalu sehat sehingga bisa bekerja untuk bertahan hidup.
Dengan menenteng kardus barangnya yang tidak terlalu berat. Gadis itupun berjalan pelan menuju ke rumah yang akan dia sewa. Tidak lama hanya kurang lebih lima belas menit Aya sudah tiba di sana.
"Permisi, Bibi, maaf Saya terlambat," sapa Ayara ketika melihat Bibi Meta sedang menyapu rumah tersebut.
"Ara, kau sudah datang! Ayo masuklah! Bibi sudah menyapunya agar kau tidak kelelahan," jawab wanita paruh baya itu tersenyum. Dia tahu bahwa Aya sedang hamil dan suaminya sudah meninggal dunia. Begitu berita yang mereka ketahui. Padahal Ayara tidak pernah berkata apapun tentang kehamilannya.
Entah Bibi Atika atau juga Lula yang membuat kebohongan itu. Ayara juga tidak tahu, tapi yang jelas semua itu mereka lakukan karena tidak mau Aya dihina karena hamil diluar nikah.
Semua warga sekitar yang sudah mengenal Aya juga menyebut namanya Ara. Bukan Ayara. Nama baru dan kehidupan baru pula bagi dirinya.
"Ini barang-barangnya boleh kau gunakan. Dulu orang sebelumnya juga tidak membawa barang apapun, karena di sini sudah lengkap," jelas beliau membawa Ayara melihat rumah kecilnya yang hanya berukuran empat kali enam meter.
Sangat pas untuk Ayara yang hidup bersama anaknya. rumah tersebut hanya memiliki satu kamar tidur saja, itupun ukuranya sama seperti di tempat Lula.
"Untuk menghidupkan airnya kau gunakan tombol yang ini. Sedangkan yang ini untuk lampu dapur," tunjuk beliau lagi.
"Iya Bibi, nanti jika ada yang lupa Saya akan bertanya lagi,"
"Baiklah, kalau begitu Bibi mau pulang sekarang. Soalnya lagi menjaga kedua cucu Bibi. Oya, di kamar di atas meja kecil ada makanan yang Bibi bawa, kau makanlah! Tadi anak Bibi membawa makanan lebih. Makanya Bibi bawa sebagian untuk mu," papar beliau sebelum pergi.
"Bibi tunggu! Ini uang sewanya Saya bayar diawal saja. Ini ada tiga puluh dua Dolar, berarti untuk satu bulan, 'kan?" cegah Ayara seraya menyerahkan uang yang ia masukan kedalam amplop.
"Apakah kau punya untuk bekal mu? Jika belum ada kau boleh membayar berapapun," Bibi Meta menerima amplop tersebut dan menghitungnya yang benar berjumlah tiga puluh dua Dolar.
"Saya sudah ada uang untuk keperluan lainnya. Tolong Bibi terima saja uangnya sekarang, karena Saya takut uangnya terpakai bila menyimpannya sendiri," tutur Aya yang sudah biasa menghemat uang saku dari papanya.
"Baiklah, Bibi terima, ya. Semoga kau betah tinggal di sini dan apabila ada sesuatu kasih tahu saja," akhirnya setelah menerima uang sewa selama satu bulan kedelapan. Wanita paruh baya itu pun pergi karena dia sedang menjaga cucunya.
"Bibi terima kasih buat makanannya juga," teriak Ayara lupa mengucapkan terima kasih karena diberi makanan.
"Mudah-mudahan aku selalu sehat agar bisa terus bekerja. Mungkin kebaikan yang aku terima ini, adalah balasan dari mama yang suka menolong orang lain di semasa hidupnya," ucap Aya sambil menutup pintu rumah tersebut.
Ya, Almarhum Jasmeen ibunya adalah orang yang sangat baik dan suka menolong orang lain. Begitu banyak orang yang bercerita pada Aya bahwa Almarhum ibunya orang yang sangat baik.
"Ayo sayang, kita lihat kamar tidurnya," Ayara berbicara sambil mengelus perutnya sendiri. Sebelum masuk kedalam kamar tidur nya. Dia tidak lupa membawa kardus yang ia bawa.
Ceklek!
"Ya Tuhan... terima kasih! Meskipun aku hanya mampu menyewa tempat seperti ini. Setidaknya kami tidak kehujanan dan kepanasan,"
Gumam Aya meneteskan air matanya. Dulu dia tinggal dirumah mewah dan semuanya dikerjakan oleh pembantu. Tapi sekarang dunianya seakan sudah berubah. Saat ini Ayara bisa bertahan hidup pun atas rasa belas kasihan dari Bibi Atika dan Lula.
"Mari kita mulai kehidupan baru kita, Nak. Inilah dunia kita yang sebenarnya. Aku akan berusaha menjadi ayah dan ibu untukmu. Kau adalah anakku, harta yang paling berharga yang ku miliki," ucapnya masih terisak kecil.
Sekarang tubuh Ayara sudah menyusut delapan kilo dari sebelumnya. Seharusnya jika tidak menanggung sakit hati berkepanjangan, berat badannya sudah bertambah seiring kehamilannya yang membesar. Bukan malah sebaliknya.
...BERSAMBUNG......