I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Kontraksi.



...HAPPY READING......


.


.


Malam hari pukul sembilan belas lewat lima waktu bagian dunia halu.


Tok!


Tok!


Suara pintu rumah Aya diketuk oleh Lula. Gadis itu sudah berjanji akan datang untuk mengambil dress yang akan dia pinjam untuk menonton konser besok malam.


Ceklek!


"Kenapa lama sekali?" tanya Lula mengikuti Aya berjalan masuk.


"Maaf, tadi aku lagi di kamar mandi," jawab Ayara membawa sahabatnya duduk di kursi kayu yang ada didalam rumahnya.


"Ara, apakah kau sedang sakit?" bertanya khawatir karena Aya terlihat agak pucat.


"Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin karena aku habis memasak, makanya aku terlihat agak aneh. Kau tahu sendiri terkadang aku masih muntah-muntah," dusta gadis itu karena tidak mau membuat Lula khawatir padanya.


"Jika ada apa-apa cepat beritahu aku, ya. Ingat kita saudara, jadi jangan pernah sungkan dan merasa tidak enak," Lula tersenyum manis seperti biasanya.


"Iya, kau tenang saja. Tunggu sebentar ya, biara aku ambilkan dress-nya," jawab Aya seraya berdiri masuk kedalam kamarnya.


Tidak lama karena dia hanya mengambil dress yang sudah ia setrika.


"Ini, kau pakai saja pasti pas ditubuhmu," Ayara menyerahkan nya pada Lula, yang langsung disambut riang oleh Lula. Sebab dress tersebut memang sangat bagus dan terlihat bahwa pakaian tersebut limited edition.


"Wah, ini sangat bagus Ara, bermimpi saja aku tidak pernah bisa memakainya," seru Lula berdiri untuk mensejajarkan dress tersebut pada tubuhnya.


"Ha... kau ini lucu sekali, Lula," tawa Aya merasa bahagia bisa menolong sahabatnya meminjamkan dress yang dibelikan oleh Alvian.


"Ara, eum... maaf, apa aku boleh bertanya? Tapi aku tidak ada maksud apa-apa, jadi kau jagan tersinggung, ya," kata Lula terlihat ragu-ragu. Takut bila pertanyaannya membuat Aya tersinggung.


"Tidak apa-apa, tanyakan saja, karena apapun itu aku tidak akan tersinggung," sudah sering mendapatkan hinaan dari keluarga Wilson dan ada beberapa tetangga yang tidak suka padanya juga. Membuat Aya menganggap setiap perkataan yang menyakitinya seperti angin lalu.


Gara-gara dia hamil tanpa suami sudah banyak para ibu-ibu ataupun gadis yang menghina dirinya mengandung anak haram. Meskipun hal itu benar, mereka semua tidak perlu menghakimi Ayara dengan keadaannya.


Sebab apabila bisa memilih tentu Aya tidak akan pernah menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Alvian.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin Aya mengembalikan kehormatannya yang sudah ternodai.


Untung saja dari awal dia datang ke kota B. Bibi Atika dan Lula membuat isu bahwa dia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Jadi tidak semuanya menghina gadis malang itu.


"Ara, tolong maafkan aku, ya," kembali meminta maaf sebelum bertanya yang menurut Lula sangat sensitif. "Ra, se--sebetul nya kau mendapatkan dress sebagus dan semahal ini dari ma--mana?" Lula selalu aktif di sosial media jadi tentu saja dia tahu barang yang asli ataupun KW begitu pula dengan harga-harganya.


Mendengar pertanyaan Lula membuat Ayara tersenyum lebar. Tadinya Aya mengira jika Lula akan bertanya siapakah orang tua dia yang sebenarnya. Namun, untungnya gadis itu cuma menanyakan tentang dress tersebut.


"Ara Kenapa kok malah tersenyum? dan tidak marah kepadaku?" tanya Lula heran. Tadinya dia mengira bahwa Ayara akan tersinggung, akan tetapi semua itu di luar dugaannya.


"Memangnya kenapa aku harus marah padamu," jawab Aya masih tersenyum karena rasa nyeri di perutnya sudah hilang. Ya, sejak satu jam lalu Aya merasakan perutnya sering terasa mules seperti Ingin BAB.


Untungnya ketika melakukan pemeriksaan beberapa kali semenjak dia berada di kota B. Sudah diberitahu oleh dokter ciri-ciri ketika seorang ibu hamil yang akan melahirkan. Atau disebut juga sebagai kontraksi awal.


"Kalau begitu ayo katakan bagaimana caranya kau bisa memiliki secantik ini?" melihat Aya tidak tersinggung dengan ucapannya. Malah membuat Lula mendesak agar sahabatnya itu segera memberitahu asal muasal dress yang ia dekap pada dada saat ini.


"Eum... dress itu sebetulnya hadiah dari seseorang. Dia adalah cinta pertama ku. Dia membelikan itu dari luar negeri, karena dia pergi liburan bersama keluarga besarnya," jawab Aya jujur meskipun hatinya terasa nyeri akibat luka yang ditinggalkan oleh Alvian.


Namun, untuk membuang dress itu terasa sayang. Aya hanya ingin menjadikan bukti untuk anaknya nanti. Apabila si buah hati bertanya kemana pergi ayahnya, maka Aya akan menunjukkan kenang-kenangan yang ia simpan.


"Dia bukanlah ayah baby mu, 'kan?" tanya Lula penuh selidik. Jika itu pemberian dari laki-laki yang sudah menyakiti sahabatnya. Maka Lula tidak sudi untuk memakai dress tersebut.


"Bukan, bukan dia! Ini orang lain, dia adalah cinta pertama ku. Jadi kau pakai saja, aku yakin akan terlihat cantik saat kau memakainya dan aku doakan semoga si Albar kekasih halumu. Benar-benar akan jatuh cinta pada sahabatku ini," Ayara sengaja menggoda Luna agar melupakan siapa pemberi dress itu sebenarnya.


"Agh, sayangku! Kau sangat baik, aku yakin si brengsek itu akan menyesal sudah membuang mu," seru Lula berjalan maju dan langsung memeluk Aya yang hanya bisa tersenyum kecil bila itu ada hubungannya dengan Alvian.


"Dia tidak akan pernah menyesal karena membuang kami. Mungkin dia lebih bersyukur karena aku dan anakku tidak hadir di kehidupannya lagi,"


Gumam Aya membalas pelukan hangat dari Lula. Gadis yang baru dia kenal beberapa bulan lalu. Akan tetapi baiknya melebihi saudara Aya sendiri.


"Dan... Maaf aku yang terpaksa berbohong padamu, karena aku hanya ingin melihat kau bahagia. Andai kau tahu, jika salah satu dari mereka adalah Ayah anakku. Mungkin kau tidak akan pernah mengidolakan ALV. Lagian Bara mungkin tidak akan sama seperti Alvin,"


Gumam Aya yang terus berbicara di dalam hatinya. Dia memang mengenal baik sahabat Alvian. Makanya Aya memangil Aldebaran dengan sebutan Bara.


"Aku juga yakin kalau kau tahu dress ini pemberian ayah anak yang aku kandung. Maka kau akan membakarnya sekarang juga,"


Ayara kembali bergumam sebelum melepaskan pelukan mereka karena ingin mengajak Lula kembali duduk.


"Sudah dulu ya, berpelukannya, karena aku merasa sesak," godaannya yang membuat Lula cepat-cepat melepas tubuhnya. Meskipun sahabatnya itu memeluk tidak terlalu erat, tetap saja Aya merasa sesak karena dia sedang hamil sembilan bulan.


"Ara maafkan aku," kata Lula merasa bersalah karena dia selalu mengulangi kesalahan yang sama.


"Sudah tidak apa-apa, jika aku tidak hamil. Maka kau boleh memelukku. Sekarang duduklah, aku akan mengambil martabak yang aku beli tadi," titahnya karena sesuai perkataannya tadi sore yang akan menyisakan martabak buat sahabat baiknya.


...BERSAMBUNG......


.


.


.


...Assalamualaikum Kakak Raeder semuanya. Marhaban ya Ramadhan bagi saudara seiman ku. Semoga ibadah puasa kita dilancarkan semuanya. Mak mau mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya bila ada salah dan kehilafan yang disengaja ataupun tidak disengajaπŸ™πŸ™πŸ™. Bagi yang sedang tidak menjalankan ibadah puasa, semoga selalu diberikan kesehatan dimanapun kalian berada ....


jangan lupa untuk selalu memberi dukungannya ya.


Like.


Vote.


Subscriber


Komen.


Bintang lima dan hadiah lainnya.


Terima kasih 😘😘😘