I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Tidak Ingin Terulang Kembali.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Cup, Muuuah! cantik sekali," seru Ayara mencium gemas pipi cantik sang putri. Gadis kecil yang sudah membuat Ayara mampu bertahan melewati semua kisah pilunya.


Jika bukan karena sang putri, mungkin sudah lama Ayara mengakhiri hidupnya. Meninggalkan Dunia yang begitu kejam padanya. Padahal dia sudah tidak memiliki ibu semenjak kecil.


Dunia yang sudah membuat dimana dia selalu diasingkan oleh keluarga besar sang ayah. Bahkan laki-laki yang sudah membuat dia berada di Dunia itu pun ikut mengusir dirinya.


"Muaach! Mama juga tantik," jawab si kecil balas mencium sang ibu. Wanita yang juga menjadi ayahnya selama hampir tiga tahun ini.


Terkadang apabila sedang bermain bersama anak para tetangga mereka. Vania seringkali diejek anak haram oleh teman yang umurnya lebih tua darinya. Hanya karena mereka belum pernah melihat ayah gadis itu pulang.


Anak-anak tersebut tidak akan mungkin berkata demikian. Apabila ibu mereka tidak mengajarkan berbicara kotor seperti itu.


Apalagi melihat kecantikan yang dimiliki Ayara. Membuat para wanita yang sebaya dengan Ayara membencinya dirinya tanpa sebab.


Namun, Ayara yang mengerti akan hal itu tidak pernah ambil pusing. Jika dia menyerah dan memilih pergi. Maka mau tinggal dimana lagi.


Setidaknya para tetangga mereka hanya sekedar berbicara menyakitkan. Tidak melakukan tindakan kejahatan padanya. Hanya saja dia yang marah bila sudah mengatai jika Vania anak haram.


Meskipun memang benar dia hamil diluar nikah. Bahkan akte kelahiran saja putrinya tidak punya. Pada surat dari rumah sakit tempat Ayara melahirkan. Vania anak tunggal dari NY Ayara saja. Tidak ada nama ayahnya di sana.


"Iya, iya! Mama juga cantik. Kita berdua sama-sama cantik," Aya akhirnya mengalah. Bila tidak seperti itu maka putrinya akan menangis.


Vania bagaikan sosok malaikat kecil yang menyerupai menjadi putrinya. Soalnya Vania seakan-akan tahu bahwa mamanya tidak memiliki siapapun selain dirinya. Sehingga saat dibilang cantik pun sang mama juga harus dipuji.


"Tita jadi tan pelgi nya?" tanya si kecil. Soalnya jam sudah pukul setengah dua siang. Namun, mereka belum juga pergi.


Berhubung lelah dan lagi libur. Jadi ibu muda itu sengaja mengajak putrinya bagun siang. Hitung-hitung menikmati kerasnya kehidupan setiap sudah membuka mata.


"Tentu saja jadi, inikan kita sudah bersiap-siap. Ayo pakai sepatunya. Biar kita berangkat sekarang," ajaknya pada si buah hati.


"Iya, tita jalan-jalan ke Taman tan?" si kecil kembali bertanya.


"Benar, kita akan ke Taman waktu itu lagi. Biar Mama bisa belanja keperluan kita saat mau pulangnya nanti," jelas ibu muda yang sambil menjawab pertanyaan sang putri. Dia sudah selesai memakaikan sepatu pada kaki mereka berdua.


Meskipun bukan barang mahal. Namun, sepatu ibu dan anak itu serupa. Soalnya Ayara selalu memberi barang yang sama. Makanya terkadang orang-orang yang belum kenal sering mengatakan bahwa Vania adalah adiknya. Apalagi tidak ada kemiripan seperti layaknya ibu dan anak.


"Tapi beli jajannya segini, ya?" Vania menatap keatas. Seraya menunjukkan sepuluh jari tangannya.


"Iya, tapi Vania tidak boleh minta barang lain, ya. Soalnya Mama tidak punya uang buat membelinya," jawab Ayara sambil mengelus kepala putrinya.



Ketahuilah setiap berpesan seperti itu pada sang putri. Hati Ayara terasa sakit. Ternyata tidak ada ubahnya nasib mereka berdua. Dulu saat Ayara masih kecil. Dia juga tidak bisa membeli barang semaunya.


Rose ibu tiri dan nenek kandungnya selalu berkata. Ini mahal! Padahal mereka orang kaya. Tidak kekurangan apa-apa. Namun, berbeda bila Arianti yang memintanya. Maka Tuan Edward sang ayah, maupun yang lainnya akan bertanya pada adik tirinya. Pilihlah sesuka hatimu, sayang. Kalau perlu kita beli dengan Toko-tokonya. Seperti itulah kisah pilu Ayara kecil.


Hal tersebut ternyata sama, yang sekarang menurun pada Vania putrinya. Akan tetapi dia berkata seperti itu karena benar-benar tidak memiliki uang.


"Tentu anakku, Mama memang akan membeli susu untukmu," Ayara sedikit berjongkok lalu langsung memeluk sang putri. Agar dia bisa kuat menahan sesak dihatinya.


"Muuuah! Ayo kita pergi," ajak Ayara mencium kedua pipi putrinya. Lalu kembali berdiri dan menuntun pelan tangan si kecil. Vania sudah jarang digendong. Dia lebih suka berjalan sendiri. Asalkan bersama dengan ibunya. Maka si cantik Vania mau-mau saja.


Namun, begitu melihat mereka lewat dengan tampilan mau pergi. Cibiran mulai mengiringi langkah ibu dan anak itu.


"Ibu, coba lihat Vania dan mamanya mau pergi. Mereka pakai baju bagus," ucap salah seorang anak yang seringkali menghina Vania yang tidak mempunyai Ayah.


"Biarkan saja, paling mereka hanya ke pasar yang ada di perempatan. Mau jalan-jalan kemana lagi. Buat makan saja susah," jawab si wanita tersebut. Mungkin umurnya hanya tuan empat tahun dari Ayara.


Wanita itu sangat tidak suka pada Aya karena suaminya sering memberikan makanan pada Vania. Dia cemburu karena takut Ayara merebut suaminya.


Padahal sedikitpun Ayara tidak pernah ingin mencari ayah untuk putrinya. Sakit hati pernah dikecewakan oleh Alvian. Membuat hati gadis itu seakan-akan mati rasa.


Andai dia mau, satu tahun lalu ada seorang pengusaha kaya raya yang mengajak dia menikah. Pria tersebut adalah pelanggan di Toko bunga. Sudah bertahun-tahun Ayara mengenalnya. Hanya saja laki-laki itu duda ditinggal mati oleh istrinya, yang sedang melahirkan anak pertama mereka.


Umurnya dan Ayara juga tidak berbeda jauh. Namun, Ayara langsung menolaknya. Aya tidak mau kisah ibunya yang dibenci oleh keluarga suaminya terulang kembali. Di mana Jasmeen si gadis yatim piatu. Menikah dengan Tuan Edward. Pria dari keturunan Wilson.


Belum lagi status Ayara yang mempunyai anak. Sudah cukup Vania tidak tahu ayah kandungnya. Jangan sampai dihina lagi.


"Tapi bagaimana jika Vania mau menemui papanya, Bu?" tanya anak laki-laki itu yang membicarakan Ayara dan Vania secara terang-terangan.


Sehingga ibu muda itu hanya mengepalkan tangannya. Untuk menahan dirinya agar tidak terbawa emosi atas hinaan tersebut.


"Mana mungkin dia akan menemui papanya. Ayara itu sudah ditinggal pergi, karena papa Vania sudah menikah lagi. Jika tidak mana mungkin ada laki-laki yang tega meninggalkan putrinya," kata wanita itu menjawab pertanyaan anaknya.


"Erdogan, sudahlah! Kau membuat suasana hati ibu menjadi rusak karena membicarakan sampah-sampah itu." ujarnya lagi. Sebelum menutup pintu rumahnya kasar. Seolah-olah sedang menunjukkan pada Ayara betapa dia membenci mereka berdua.


"Mama..." seru Vania berhenti menahan pergelangan tangan sang ibu. Sehingga membuat Ayara berhenti pada tempatnya berdiri.


"Ada apa sayang? Mama baik-baik saja, Nak," ucap Aya seakan tahu kenapa Vania memanggil dirinya. Sebab ini bukanlah hinaan untuk pertama kalinya bagi mereka berdua.


"Mama tidak boleh nangis," jawab si cantik Vania. Ketahuilah meskipun umur Vania belum genap tiga tahun. Tapi cara berpikirnya lebih dari anak-anak seperti dirinya.


Dia mengerti karena keadaan yang membuat dia tahu. Anak yang seharusnya hanya tahu tidur, makan dan bermain. Harus ikut ibunya bekerja banting tulang setiap hari. Harus melihat ibunya menangis ketika berada didalam rumah.


"Tidak! Mama tidak akan menagis, ada Vania bersama Mama," jawab Ayara langsung mengendong putrinya. Meskipun gadis itu ingin berjalan sendiri.


... BERSAMBUNG... ...


.


.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya, ya. Jika rame yang dukung nanti update lagi🤭


Like.


Vote.


Komen.


Bintang lima dan hadiah lainnya. Terima kasih 🥰🥰🥰