
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
...HAPPY READING.....
.
.
"Lula... Tolong jangan salah paham!" mohon Bara setelah menyadari kalau hal apa yang membuat istrinya terdiam membisu.
"Tidak, aku tidak salah paham, Bar." jawab wanita itu memaksakan diri untuk tetap tersenyum manis. "Ternyata kamu seperti anak perempuan saja. Selain rapi juga begitu banyak barang-barang unik di dalamnya."
"Ya, aku menyukai barang-barang lucu seperti yang ada di dalam bufet ini. Boleh dikatakan setiap melakukan konser di berbagai negara pulangnya Aku selalu membawa barang koleksi yang baru." jawab pria tersebut sambil menurunkan bingkai-bingkai fotonya bersama Ria.
Mantan kekasihnya yang masih berada diluar negeri untuk menuntut ilmu menjadi seorang dokter spesialis. Begitulah yang Bara ketahui. Padahal dari beberapa hari yang lalu Ria sudah kembali ke negara mereka dan memutuskan untuk pindah sekolah. Gadis cantik itu tidak bisa merelakan hubungannya kandas begitu saja.
Walaupun dia sendiri yang awalnya meminta putus karena mau mengejar mimpinya. Namun, entah mengapa Ria bisa berubah pikiran disaat sang mantan kekasih melabuhkan hatinya pada Lula.
"Bar, kau tidak perlu menyimpan foto-foto itu. Aku---"
"Diamlah! Maafkan aku yang lupa untuk membuangnya." sela Bara mengambil keranjang pakaian kotor dan menaruh semua bingkai beserta fotonya kedalam tempat tersebut.
"Ayo kita duduk, ada hal yang harus aku katakan juga. Walaupun belum pasti, tapi aku harus mengatakannya pada istriku. Begitulah Alvin menasehati ku. Agar hubungan diantara kita bisa terhindar dari salah paham."
"Wah, ternyata Alvin sudah menjadi guru mu?" Lula tergelak mendengarnya.
"Ya, anggap saja seperti itu." pria tersebut juga ikut tergelak. "Jika semuanya lancar, mungkin sekitar satu atau dua Minggu lagi para member ALV akan mulai melakukan konser. Staf Muzaki sudah menghubungi kami berlima."
"Iya, tidak apa-apa. Tapi... tolong biarkan aku tetap bekerja ya? Selain tidak enak pada Om Abidzar, aku juga tidak ada kegiatan bila kau tidak ada."
"Kau mau bekerja di perusahaan Om Abi lagi? Kenapa harus bekerja bila aku mampu memberikan segalanya untuk mu?"
"Iya, aku masih mau bekerja. Anggap saja aku mau mencari pengalaman selain menjadi penjual bunga. Kau tahu sendiri kan bahwa selama ini aku tidak pernah bekerja ditempat lain, apalagi perusahaan besar." jawab Lula merangkul mesra lengan suaminya.
"Aku mohon, Bar. Lagian apa yang bisa aku lakukan bila kau pergi dari negara ini dan ke negara lainnya. Aku sudah bilang pada Om Abidzar, jika kau ada dirumah maka aku mau meminta cuti. Supaya tidak menyita kebersamaan kita." lanjutnya lagi.
"Boleh ya, Bar. Suamiku yang tampan. Lagian aku hanya berangkat ke perusahaan untuk bekerja. Setelahnya pulang dan menjadi istrimu lagi."
"Akan aku pikirkan. Namun, jangan senang dulu karena mungkin saja aku tidak bisa memberimu izin. Aku hanya ingin kau menikmati hasil kerjaku, Lula."
"Iya, aku tahu kau bisa memberiku apapun itu. Tapi jika obat kesepian tanpamu, kau tetap tidak bisa memenuhinya, kan?"
"Semoga saja kau cepat hamil. Bila Aldebaran junior sudah ada disini, maka kau tidak akan kesepian lagi bila aku lagi tidak ada. Contohnya Aya, dia selalu dirumah karena ada Vania dan sekarang lagi menunggu kelahiran anak kedua mereka." Bara menyentuh perut Lula yang masih datar.
"Kau mau kan melahirkan anak untukku?"
"Bara, apa yang kau tanyakan? Tentu saja aku mau karena kau adalah laki-laki yang sangat aku cintai." seru Lula langsung memeluk erat tubuh suaminya.
"Syukurlah! Aku benar-benar ingin merasakan hidup seperti Alvin. Saat pulang ada istri dan anaknya yang menanti kedatangannya." Bara pun balas memeluk erat tubuh sang istri.
"Tapi, sayang... tentang foto itu tadi Tolong jangan salah paham, karena aku lupa membuangnya."
"Iya, tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk akhir-akhir ini." Lula yang tadinya sempat merasakan cemburu sekarang tidak lagi.
"Terima kasih karena sudah mau mengerti. Ria hanya sebagai mantan kekasihku, sedangkan kau adalah masa depanku. Mari kita bangun sebuah keluarga bahagia." Bara sengaja merenggangkan tubuh mereka. Supaya bisa menatap wajah sang istri.
"Aku sangat menyayangimu, Lula. Jadi mau sebesar apapun ujian dalam pernikahan ini, mari selesaikan baik-baik." ucapnya setelah mengecup pipi kiri-kanan dan bibir ranum Lula.
"Ya, aku juga maunya kita sama-sama berjuang." jawab Lula yang sama mau berjuang demi laki-laki yang dicintainya.
Lain halnya di kediaman keluarga Rafael. Alvin bersama istri dan anaknya lagi berada dirumah Tuan Abidzar. Ya, boleh dikatakan jika pasangan suami-istri tersebut selalu menghabiskan waktu dirumah orang tuanya.
"Alvin, jika kau ada waktu, tolong beri nasehat pada Bara." ucap Tuan Abidzar yang tengah bersantai diruang keluarga.
"Membicarakan hal apa, Pa? Apakah Papa juga merasakan jika Tante Marry tidak menyukai Lula?" tanya si member paling tampan pada ayahnya.
"Tidak ada apa-apa. Kau kan lebih berpengalaman daripada dia yang baru mulai berumah tangga. Jadi sebagai sahabat terkadang perkataan itu lebih didengar."
"Iya, Pa. Soal itu Papa tidak perlu khawatir. Alvin juga sudah menasehati Bara bagaimana caranya bersikap sebagai seorang suami."
"Wah-wah! Putra Mama ternyata memang sudah dewasa. Tidak salah jika sekarang kau dan Aya mau mempunyai anak yang kedua." sambung Nyonya Risa yang datang membawa cemilan buah-buahan segar untuk Ayara.
Sedangkan diatas meja ada berbagai macam makanan yang disukai oleh suami dan putranya.
"Haa... haaa... tentu saja Alvin sudah dewasa. Tapi semua itu karena Aya, Ma. Istriku ini sudah mengajarkan aku banyak hal." tawa Alvian mengelus kepala Ayara yang duduk disebelahnya.
"Al, kau salah! Justru akulah yang banyak belajar darimu." Aya pun ikut menimpali. "Ingatlah aku bisa seperti ini karena kau yang sabar mengingatkan aku banyak hal."
Kalian berdua sama-sama hebat, sayang. Sekarang keluarga Rafael benar-benar bahagia dengan bertambahnya anggota keluarga yang baru." nenek Alvian juga ikut memuji pasangan suami-istri tersebut.
"Apapun itu karena kalian memiliki cinta yang sangat kuat. Sehingga bisa bersama dengan si cantik kita." Nyonya Lili turun kebawah dan duduk bersama Vania pada karpet.
"Vania, setelah adikmu lahir, kau disini saja ya?" ucapnya pada sang cucu. Padahal tanpa bertanya tentu Vania langsung mau.
"Iya, Oma. Tapi... tanya Papa duyu." si gadis kecil berdiri karena mau mendekati papanya.
"Pa... boleh Tan? Via mau tama oma."
"Ya, boleh. Tapi tunggu adikmu lahir. Soalnya nanti bila Papa pergi bekerja, mama tidak ada temannya." jawab Alvian tersenyum bahagia.
"Tuhan, terima kasih sudah memberiku kebahagiaan keluarga yang bahagia. Aku hanya ingin membahagiakan keluargaku."
Ucap syukur Alvian didalam hatinya. Memiliki karier ditingkat paling atas. Ada keluarga yang selalu mendukungnya saat terkena masalah. Lalu hal apa lagi yang membuatnya tidak berterima kasih pada sang kuasa.
"Mau laki-laki atau perempuan yang penting anak kalian sehat, Al, Aya. Papa ingin kalian berdua menerimanya seperti mana Papa dan mama menyanyangi semua anak kami." Tuan Abidzar yang memiliki sikap bijak kembali memberi nasehat untuk anak dan menantunya.
"Soal itu Papa tidak perlu khawatir, mau laki-laki atau perempuan lagi kami berdua sudah siap." jawab Alvian dan diangguki oleh Ayara.
Setelahnya mereka kembali mengobrol sampai waktu makan malam. Berhubung rumah mereka bersebelahan, jadilah Alvian dan Aya lebih sering makan di sana daripada rumah mereka sendiri.
...BERSAMBUNG......
.
.
Untuk bab selanjutnya, akan banyak kisah Bara dan Lula yaβΊοΈ Jadi jangan heran karena Alvian dan Ayara sudah bahagia. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih ππππ