
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Dua hari kemudian.
Di rumah mewah keluarga Rafael. Alvian baru saja pulang ke rumah kedua orang tuanya. Setelah hampir tiga minggu tidak kembali ke sana.
Akan tetapi dia dan keluarganya masih berhubungan baik. Setiap hari pemuda itu selalu menelepon keluarganya walaupun hanya sebentar.
Sejak dulu Alvian memang sudah tidak tinggal bersama orang tuanya, karena cita-citanya dan keinginan tuan Abidzar ayahnya bertolak belakang.
Tuan Abidzar ingin sang putra menjadi seorang pengusaha yang akan menggantikan beliau di masa akan datang. Sedangkan Alvian sendiri bercita-cita menjadi seorang penyanyi terkenal dan akhirnya menjadi kenyataan.
Jadi karena perbedaan tersebut ayah dan anak itu sering beradu argumen sehingga membuat Alvian yang lelah dan menyadari kesalahannya. Memiliki untuk mengalah tinggal di Apartemen miliknya sendiri.
Akan tetapi sudah satu tahun belakangan ini Tuan Abidzar mulai menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri, karena yang menjalaninya kehidupan adalah putranya.
"Alvin, sayang!" sambut hangat wanita bernama Lili. Dia adalah ibu kandung Alvian. Seorang perempuan berdarah Inggris. sedangkan Tuan Abidzar sendiri adalah penduduk asli dari kota S.
"Mama, maafkan Alvin yang jarang bisa pulang kemari," ucap pemuda itu membalas pelukan ibunya. Lalu setelahnya mereka berdua berjalan masuk karena keluarga yang lain sudah menunggu di dalam. Termasuk nenek Alvian yang masih terlihat sehat meskipun sudah ditelan usia.
"Alvin, cucu nenek sudah pulang," tidak berbeda jauh dari sang ibu. Nenek Alvian pun juga menyambut hangat kepulangan sang cucu, yang sekarang sudah menjadi aset bagi negara mereka.
"Nenek! Maafin Alvin ya," kata si tampan merasa bersalah karena hanya memikirkan dirinya sendiri.
Alvian selalu meminta maaf, karena memang seperti itulah setiap kali dia kembali ke rumah kediaman keluarga Rafael.
"Iya, tidak apa-apa, sayang. Asalkan kau dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," jawab wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya dan menarik agar Alvian duduk bersamanya.
Namun, sebelum ikut duduk. Alvian mengapa keluarganya yang lain. Kebetulan hari ini mereka berkumpul di sana semua, karena ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Tuan Abidzar.
"Bagaimana dengan konsermu kali ini? Apakah semuanya berjalan baik?" tanya Nyonya Lili bertanya lebih dulu.
Ketahuilah kehidupan Alvian saat di dalam kediaman keluarga Rafael. Berbeda jauh saat dia berada di luar. Jika dirumah, pemuda itu tidak pernah membahas tentang pekerjaannya sebagai penyanyi.
Soalnya Tuan Abidzar tidak pernah menyukai hal tersebut. Menurutnya mau sesukses apapun Alvian di luar sana. Tidak ada yang lebih baik daripada bekerja sebagai pengusaha.
Makanya saat kuliah, Alvian mengambil jurus Manajemen. Semua itu demi menyenangkan hati ayahnya yang sudah telanjur dia kecewakan.
Soalnya adik Alvian hanya ada satu orang. Itupun dia bercita-cita menjadi seorang tentara sejak kecil. Akan tetapi karena kakaknya tidak mau menjadi pengusaha. Deri mengurungkan niatnya untuk menjadi tentara.
Saat ini Deri masih kuliah di jurusan perkantoran juga. Agar Perusahaan Evander ada yang meneruskan. Di saat Tuan Abidzar sudah tidak bekerja lagi.
"Huem, semuanya baik, Ma. Oya! Papa sama Deri mana? Apakah tidak ada di rumah?" tanya Alvian karena yang ada di sana hanya nenek, adik sepupu dan para bibinya.
"Adikmu ada di kamar. Dia baru saja pulang. Kalau papa mu lagi mengangkat telepon dari orang tuanya Alice," jawab Nyonya Lili sambil melihat kearah tangga. Mana tahu putra keduanya sudah turun.
"Kak Alvin, foto yang Kakak unggah itu lagi bersama anak siapa? Ada beberapa berita mengatakan bahwa itu anak seorang janda yang lagi dekat sama Kakak," tanya adik sepupu Alvian yang hampir seumuran dengannya.
Dia bernama Reikal, yang saat ini masih menjalani kuliah sebagai Dokter jantung. Kebetulan Di keluarga Rafael, hanya ada dua orang cucu perempuan.
Itupun mereka kembar dan lagi duduk di bangku sekolah menengah pertengahan. Akan tetapi rumah mereka jauh, jadi sangat jarang bisa berkumpul seperti saat ini.
Tuan Abidzar adalah anak paling tua. Dan anak laki-laki satu-satunya di keluarga Rafael. Jadi mereka masih tinggal di rumah utama. Soalnya bila mereka pindah, nenek Alvian tidak ada yang menemani, karena kakek Rafael sudah lama meninggal dunia.
"Namanya Vania Amara Jasmeen, dia bukan anak janda. Tapi anak---"
"Apakah selain menjual suara mu, kau mulai mengoleksi janda juga?" sela Tuan Abidzar yang sudah selesai menerima telepon dari ayahnya Alice.
"Apakah Papa benar? Kalau sekarang kau mengoleksi janda yang memiliki anak?" cibir Tuan Abidzar.
"Pa, dia bukan anak janda, tapi dia---"
"Alvin, Papa... sudah! Mau sampai kapan kalian berdebat setiap kali bertemu," sentak Nyonya Lili yang benar-benar tersiksa karena perdebatan antara anak dan suaminya.
"Papa, Mama mohon! Biarkan Alvin kembali ke rumah ini dengan tenang. Jangan seperti ini," pinta wanita setengah baya itu memohon sambil menagis.
Bagaimana tidak, meskipun katanya Tuan Abidzar sudah mengiklas kan Alvian memilih jalan hidupnya sendiri. Tetap saja setiap putra mereka pulang. Akan bertengkar seperti saat ini.
"Mama... maafin Alvin. Jika tahu seperti ini, maka Alvin tidak akan pulang." ucap Alvian menahan emosinya agar tidak melawan pada ayahnya lagi.
"Papa, Ma, Nenek dan semuanya. Pertama-tama Alvin pulang karena merindukan kalian semua dan yang kedua Alvin mau menyempaikan sesuatu hal yang sangat penting," lanjutnya lagi.
"Sayang, jangan ambil hati degan perkataan papamu. Sekarang ayo katakan, kau mau menyempaikan apa?" sahut nenek Alvian mengelus bahu cucunya.
"Eum... maaf karena Alvin sudah mengecewakan kalian semua. Sudah membuat keributan setiap pulang ke rumah ini," pemuda itu menarik nafas dalam-dalam karena setelah dia mengatakan tentang perbuatan bejatnya. Dia tidak yakin bahwa sang ayah hanya diam saja.
"Sebetulnya, Alvin sudah menghamili seorang gadis. Tapi kejadiannya tiga tahun lalu, tepatnya sebelum Alvin benar-benar menjadi idol." ucap Alvian yang langsung membuat Tuan Abidzar berdiri dari tempat duduknya dan.
Bugh!
Bugh!
"Jadi seperti ini kehidupan yang kau pilih? Jadi kau ingin menjadi penyanyi karena ingin hidup bebas dan bisa menghamili gadis mana saja?" maki lelaki setengah baya itu memukul putranya.
Tidak perduli jeritan ibu dan istrinya. Beliau terus melupakan emosi dan rasa kecewanya.
Bugh!
Bukan hanya mulutnya yang berbicara. Akan tetapi Tuan Abidzar memukul putranya berulangkali. Alvian yang tahu kesalahannya tidak membalas atau mengelak pukulan dari papanya.
"Dulu Aya juga merasakan hal yang sama. Dia di tampar oleh Tuan Edward, saat lagi sakit dan hamil anakku. Dia bahkan juga di usir dari rumah. Sakit ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan yang Aya rasakan."
Gumam Alvian di dalam hatinya. Sambil menahan rasa sakit karena pukulan ayahnya sangat keras. Dia hanya menyeka darah dari bibirnya saja.
"Anak tidak tahu diri! Kau benar-benar sudah mencoreng nama baik keluarganya kita," umpat Tuan Abidzar ingin memukul lagi. Namun, Nyonya Lili dan Deri sudah menjauhkan ayah dan anak itu.
"Katakan berapa banyak kau menghamili para gadis? Apakah setiap fans mu sudah kau hamili semuanya?" tanya beliau degan amarahnya.
"Alvin, tolong jelaskan, Nak! Be--berapa banyak kau menghamili wanita di luar sana? Tolong katakan pada Mama bahwa yang dikatakan papamu tidak benar, kan?" tanya Nyonya Lili terbata-bata.
Dia yang menagis sejak tadi tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya. Anak yang selama ini dia bela saat suaminya marah. Hari ini mengakui sudah menghamili gadis sejak tiga tahun lalu.
Orang tua mana yang akan baik-baik saja mendengar kenyataan pahit tersebut.
"Alvin, ayo jawab, sayang! Jawab pertanyaan mamamu. Nenek tidak yakin jika kau sebejat itu," tangis Nenek Alvian ikut meminta jawaban dari sang cucu.
"Alvin tidak akan berani menjawab pertanyaan kalian. Mungkin sepanjang kota ini sudah penuh oleh anaknya. Sudah pasti semua wanita yang tergila-gila padanya telah dihamili," seru Tuan Abidzar ingin maju untuk memukul Alvian. Akan tetapi tubuhnya sudah dipeluk oleh Deri, putra keduanya.
"Pa, jangan seperti ini. Papa sabar dulu, kita dengarkan penjelasan kakak," kata Deri menyuruh ayahnya tenang.
"Kak Abi, benar kata Deri. Kita dengarkan dulu penjelasan dari Alvin. Lihatlah, dia sudah Kakak pukul sampai seperti ini," sambung Tante Anis, wanita itu adik kedua Tuan Abidzar.
"Alvin, ayo duduk, Nak. Tolong jangan membuat papamu marah lagi. Ceritakan apa maksudmu sudah menghamili seorang gadis. " ucap Tante Anis juga ikut menangis melihat keponakannya sudah babak belur.
"Tante, maaf! Alvin sudah membuat kalian semua kecewa."
"Iya, iya! Sudah tidak apa-apa! Sekarang ayo ceritakan apa yang sudah terjadi," desak wanita itu karena melihat kakaknya masih emosi.
... BERSAMBUNG... ...