
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Aya," seru Bara dan Alvian melihat Ayara dan Vania sudah berjalan ke depan. Entah apa yang dia bicarakan dengan Lula. Sehingga hanya makan saja hampir satu jam lamanya.
Alvian dan Bara tidak ada yang berani menyusul ke dapur, karena takut menganggu Aya dan membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
"Bara... terima kasih, untuk makanannya," ucap Aya tidak mau menatap kearah Alvian yang terus menatap dia dengan rasa bersalahnya.
"Hei... kau tidak boleh sungkan seperti ini, kita sahabat, Aya. Jadi tolong jangan pernah menolak apapun yang akan aku lakukan untuk kedepannya," jawab Bara yang ternyata sudah berbicara dengan Alvian. Bahwa dia akan membawa Aya dan Vania kembali ke kota S.
Akan tetapi, semua itu tentu saja harus atas kemauan Ayara sendiri. Bara juga tidak bisa memaksa, bila wanita itu tidak mau.
"Huem," Aya mengangguk singkat. "Aku mau istirahat, kau bicara saja dengan sahabatku," setelah berkata demikian. Aya langsung masuk kedalam kamarnya bersama sang putri.
Soalnya badan Ayara tiba-tiba terasa meriang ingin meringkuk dibawah selimut. Meskipun tidur di kasur usang, itu sudah cukup baginya yang tidak memiliki sanak saudara ataupun uang seperti orang lain.
"Lula, apakah dia mengatakan sesuatu?" tanya Bara menarik agar Lula duduk di sampingnya.
Sehingga gadis itu gugup karena bau harum dari tubuh Bara benar-benar membuat Lula yang sudah mencintai sebagai fans berat. Menjadi traveling kesana-kemari.
"Di--dia tidak bicara apa-apa. Hanya bicara tentang Vania saja," jawab gadis itu terbata-bata.
"Apa yang dia katakan?" sahut Alvian cepat.
"Katanya tidak akan pernah memberikan Vania pada kau atau siapapun. Dia juga berkata tidak akan kembali ke kota S. Apapun yang terjadi." jelas Lula jujur.
Bila berbicara dengan Alvian, dia tidak terlalu gugup. Berbeda saat bicara dengan Bara. Mungkin karena dia menyukai idola nya.
"Huh!" Alvian menghela nafas panjang dan dia hembuskan kasar. "Lula... tolong katakan padanya, aku tidak mungkin merebut Vania darinya. Apa yang aku lakukan saat ini hanya karena ingin bertanggung jawab pada putriku. Sudah cukup Aya menderita, karena harus membesarkan Via sendirian," lanjutnya lagi.
"Iya, tadi aku sudah mengatakan padanya, tapi dia cuma diam saja. Mungkin dia butuh waktu untuk menerima kehadiran mu kembali. Walaupun tujuanmu baik, untuk bertanggung jawab pada Vania," jawab gadis itu karena meskipun Alvian tampan dan kekasih idaman bagi semua kaum hawa di seluruh dunia halu.
Tetap saja bagi seorang Ayara, Alvian hanya laki-laki brengsek. Pria yang hanya menidurinya saja. Setelah itu dia dibuang hanya karena ingin menjadi penyanyi terkenal.
"Iya, kau benar!" Alvian mengangguk setuju dengan perkataan Lula.
"Oya, eum... apakah dua hari lalu kau ada bertemu dengan nya? Jika iya, berarti karena itu Ara menagis semalam dan sampai matanya membengkak," tanya Lula yang sudah tahu bahwa Ayara membohonginya.
"Iya, keren pertemuan itulah aku mengetahui Vai,"
"Huem... dia memang tidak baik-baik saja karena dirimu. Jadi jangan terlalu menekannya, meskipun kau hanya ingin bertanggung jawab." nasehat sederhana dari Lula.
Akan tetapi semua perkataannya benar apa adanya. Sebab Lula sudah melihat sendiri seperti apa terpuruknya Aya. Padahal hanya bertemu dengan Alvian saja.
"Iya, aku juga besok siang harus kembali ke kota S. Jadi minta nomor ponsel mu, karena aku ingin tahu keadaan Aya dan anakku." Alvian menyerahkan ponselnya, agar Lula memberikan nomor ponselnya.
"Oke, sini aku masukan nomor ponselku," ucap Lula menerima ponsel mahal milik Alvian dan langsung menyimpan nomornya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bara, dia juga mengajak Lula bertukar nomor ponsel.
"Nanti kalian akan pergi ke hotel, atau bagaimana? Soalnya disini tidak ada tempat tidurnya," tanya Lula sambil melirik jam tangannya.
Sebetulnya, bukan ponsel yang dia lihat. Melainkan foto Vania yang dia ambil secara diam-diam.
"Alvian," seru Bara karena tidak ada sahutan dari sahabatnya.
"Apa?" menjawab singkat.
"Kita akan tidur dimana? Apakah mencari hotel di dekat sini?" ulang Bara yang juga sudah lelah ingin istrirhat.
"Kau pergi saja cari hotel bersama Lula. Agar bisa mengunakan identitasnya. Jika pakai kartu identitas kita, maka akan ketahuan." jawaban Alvian tentu membuat keduanya terkejut.
"Hei! Apa maksudmu, mana mungkin aku pergi bersama Lula tidur di hotel, Lalu apa kau akan berduaan sama Aya disini?" seru Bara penuh selidik.
"Ck, jangan berpikiran macam-macam. Kau pikir aku mau berbuat apa," decak Alvian sudah bisa menebak pikiran sahabatnya.
"Aku akan tidur di kursi ini saja, kan Lula sudah bilang kalau disini tidak ada tempat tidurnya." lanjut pemuda itu lagi.
"Ya sudah, kalau begitu aku juga akan tidur di sini saja," putus Bara yang tidak ingin pergi kemana-mana.
"Eh, tunggu sebentar! Aku mau memeriksa di dalam kamar Ara. Sepertinya ada beberapa selimut tebal. Jika kalian mau, bisa tidur diatasnya. Meskipun mungkin tidak akan nyam---"
"Ambilkan saja, kami akan tidur di sini," sela Bara karena dia malas bila harus pergi tanpa Alvian.
"Oke, aku ambil dulu," Lula pun pergi masuk kedalam kamar Ayara untuk mengambil beberapa selimut tebal.
Mama..." lirih Ayara dalam tidurnya. Sehingga membuat Lula berjalan mendekatinya.
"Mama," kembali memangil nama mamanya.
"Apakah dia mengigau?" tanya Lula mendekat. Melihat tubuh Ayara menggigil, Lula pun menempelkan punggung tangannya pada pelipis ibu muda itu.
Namun, begitu tangannya menempel, Lula sangat kaget. Soalnya tubuh Ayara panas dan dia lagi demam tinggi.
"Ara, Ra... apakah kau sakit?" tanya Lula mengoyakkan tubuh sang sahabat. "Ara, astaga! tubuhmu sangat panas. Kau demam tinggi," seru Lula khawatir.
"Tunggu sebentar ya, aku akan memberikan selimut untuk Ian dan Albar. Sekalian mau mengambil air panas untuk mengompres mu," ucapnya lagi meskipun tidak didengar oleh Ayara.
Klek!
"Lula, kau kenapa?" tanya Bara begitu melihat Lula yang berjalan tergesa-gesa.
"Badan Ara sangat panas dan dia terus mengigau menyebut nama mamanya. Ini kalian bentang saja sendiri. Aku mau menyiapkan air buat mengompres nya. Ara demam tinggi." jawab Lula langsung berjalan kearah dapur.
Gadis itu sampai mengabaikan pertanyaan Alvian dan Bara. Soalnya selama dia dan Ayara kenal, baru malam ini Lula melihat sahabatnya sakit parah.
"Al, kau mau kemana?" tanya Bara melihat Alvian sudah berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Aku mau melihatnya," Alvian langsung masuk ke kamar Ayara dan buah hatinya.
"Mama... Aya mau ikut mama." lirih wanita muda itu dalam tidurnya.
...BERSAMBUNG......