I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Cinta Alvian Dan Ayara.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Malam harinya. Alvian baru saja selesai menidurkan buah hatinya di kamar sebelah. Sedangkan Ayara hanya baring sejak tadi diatas tempat tidur.


Cup!


"Kau lagi memikirkan apa, huem?" ucap Alvian setelah mengecup lama kening Ayara yang tersenyum melihat kedatangan nya.


"Aku lagi memikirkan kau dan Via. Tadi kalian bercerita tentang apa sampai dia tertidur? Soalnya bila bersama ku, Via selalu minta diceritakan tentang mu," jawab Ayara ikut menatap suaminya.


"Dia hanya menanyakan berapa lama kita di sini. Kenapa mainnya tidak pulang-pulang juga,"


"Hanya itu saja? Tidak ada menanyakan hal yang lainnya?" Ayara kembali menyakinkan karena putrinya itu biasanya sangat bawel.



"Iya, hanya itu saja. Setelahnya aku menceritakan kisah cinta seorang ratu yang sangat cantik. Lalu bertemu seorang pangeran tampan. Mereka berpacaran dan memiliki seorang putri yang sangat cantik juga," Alvian yang lagi baring langsung tergelak.


Soalnya mata Ayara membola keluar menatapnya tajam. Gara-garanya apa yang Alvian ceritakan adalah kisah mereka berdua.


"Alvin... apa yang kau ceritakan pada anakku? Kau tidak serius, kan?" seru Ayara dengan tangan memegang hidung mancung suaminya.


"Dia bukan hanya anak mu. Tapi juga anakku, karena tanpa aku tentu Vania maupun yang ini tidak akan jadi," Alvian dengan sigap menangkap tangan Ayara dan dibawa menyentuh perut datar istrinya.


"Al, tapi---"


Cup!


"Berani membantah, maka jangan salahkan aku bila kembali mencium bibir mu," sela Alvian tersenyum tampan.


Sehingga mereka berdua akhirnya saling serang mengunakan bantal tidur. Hal yang selalu dulu mereka lakukan seperti mana anak kecil.


Lain yang Alvian dan Ayara lakukan. Maka lain pula yang sedang terjadi di Apartemen mewah di tengah-tengah pusat ibu kota S.


"Lula..." seru Bara tiba-tiba memeluk tubuh Lula dari belakang, yang lagi berdiri di balkon kamarnya. Sehingga membuat tubuh gadis itu menegang seketika.


Dia berdiri di sana karena ingin menjauhi Bara. Ya, setelah gurauan Bara yang mengajaknya menikah dua hari lalu. Gadis itu mulai merasa canggung apabila lagi berdekatan.


Soalnya Lula sudah mencintai Bara dari semenjak pemuda itu menjadi artis papan atas. Dulu memang dia mengira menyukai Bara sebagai sang idola. Namun, setelah bertemu secara langsung dan bukan sebagai artis bersama fansnya.


Perasaan yang dimiliki oleh gadis itu semakin besar. Soalnya Bara selalu menelepon Lula. Baik bercerita masalah pribadinya ataupun hanya ingin menanyakan kabar Lula.


Jadi jangan salahkan kenapa Lula bisa semakin mencintai pemuda tampan itu. Apalagi sekarang mereka malah terkurung di satu Apartemen.


Gara-gara Apartemen Lula hanya memiliki satu kamar. Jadinya mereka tidur berbagi ranjang. Lula tahu Bara bukanlah pemuda biasa. Mana mungkin dia membiarkan Bara tidur di atas sofa.


Berbeda saat mereka masih tinggal di kota B. Rumah Ayara memang tidak memiliki kamar dan juga tempat tidur. Jadinya harus tidur di atas lantai yang hanya beralaskan selimut tebal.


Sedangkan saat ini mereka lagi berada di Apartemen mewah. Hanya kamarnya cuma satu. Atas permintaan Lula sendiri karena dia tidak mau memberatkan Tuan Abidzar.


"Ba--bara! Apa... yang kau lakukan?" seru Lula tidak bergerak karena Bara memeluk tubuhnya cukup erat.


Untungnya saat ini sudah malam. Jadi tidak akan ada penghuni Apartemen yang melihat Bara ada di sana.


"Aku lagi memeluk mu," jawab pemuda itu tidak mengubah posisinya sama sekali. "Kenapa? Apakah jantung mu semakin berdebar-debar karena aku peluk?" tanyanya yang benar-benar membuat Lula seakan mati kutu.


Binggung apa yang harus ia jawab. Bara memang sangat pandai membuatnya seakan-akan mau pingsan. Bayangkan saja, seorang idola yang dulunya sangat di dambakan agar bisa bertemu bersama fans ALV.


Malam ini di bawah langit malam yang angin pun bertiup sepoi-sepoi. Sang idola memeluk tubuhnya begitu erat. Hembusan nafas Bara membuat tubuh Lula ingin terus berada di posisi mereka saat ini.


Padahal sebelumnya. Untuk bertemu Bara sekitar empat tahun Lalu. Gadis itu harus menguras uang tabungannya. Asalkan bisa bertemu Bara dan meminta tanda tangan pemuda itu.


Akan tetapi saat ini semuanya bagaikan mimpi indah. Mereka sudah tinggal bersama, berbagai makanan dan juga udara yang sama pula.


"Bara... tolong jagan seperti ini. Kau membuatku susah---"


"Susah bernafas?" sela Bara sudah merenggangkan pelukannya dan memutar tubuh gadis itu yang malam ini sudah memakai baju tidur setelan panjang.


"Lula, ada berita baik untuk kita semua. Aku sangat bahagia karena konferensi pers yang dilakukan oleh Paman Edward tadi siang. Nama member ALV dan Aya, sudah bersih. Semuanya kembali normal lagi. Bahkan segala kerusakan di dekat gedung Agensi AX Si. Akan diganti rugi oleh pemerintah," ungkap Bara tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya setelah mendapatkan kabar dari Staf Muzaki.


"Benarkah? Wah, selamat kalau begitu. Ternyata Paman Edward sudah melakukan hal yang benar," seru Lula juga bahagia mendengarnya.


"Iya, benar sekali. Tapi... aku masih harus menumpang di Apartemen mu. Belum bisa keluar dari sini karena musuh-musuh Paman Edward dan Paman abidzar pasti tidak akan tinggal diam," jawab Bara tersenyum sambil menarik kedua pinggang ramping Lula.


Perlakuannya yang tiba-tiba, membuat tangan gadis itu refleks menempel pada dada bidang Bara yang hanya memakai baju kaos putih berlengan pendek.


"Siapa yang akan melihat kita? Ini bukan hanya sudah malam. Tapi juga kita berada di lantai atas gedung ini. Coba kau lihat dari arah manapun, tidak ada yang berada di balkon,"


Perkataan Bara membuat Lula menatap pada muka pemuda itu. Sehingga tatapan mata mereka saling bertemu.


"Aku benar, kan?" Bara tersenyum jumawa. "Lula... kenapa jantung mu berdebar begitu kencang? Apakah kau gugup bila posisi kita seperti ini?" lagi-lagi Bara bertanya hal konyol.


Padahal tanpa dia bertanya pun. Pasti sudah tahu kenapa Lula bisa gugup bila berdekatan dengannya.


"Bara... to--tolong jangan seperti ini. Kau kenapa tidak pernah membuat ku hidup tenang? Jika masih mau menumpang, ya silahkan saja. Tapi tolong jangan---"


"Jangan apa? Huem!" untuk kesekian kalinya Bara kembali menyela. Mata hitam pekat pemuda itu menatap Lula begitu intens.


Namun, meskipun begitu. Kedua tangannya masih memegang kedua pinggang ramping Lula.


"Jangan membuatku semakin menyukaimu. Kita cukup menjadi teman karena aku tahu batasan antara kita," jawab Lula karena sudah tidak tahan untuk menyembunyikan semuanya.


"Jadi dugaanku benar, bahwa kau menyukaiku?" seru Bara semakin menatap mata Lula. "Kau menyukaiku sebagai apa?"


"A--apa maksudmu? Aku---"


"Lula... tolong jawab serius! Kau menyukaiku sebagai apa? Fans ALV yang menyukai idolanya? Atau kau menyukaiku lebih dari seorang artis?" Bara semakin mendesak Lula yang terjebak pada perkataannya.


"Bara... aku---"


"Apakah kau menyukaiku sebagai pasangan pada umumnya?" pemuda itu menyela perkataan Lula lagi. Namun, kali ini Lula tidak menjawab.


Gadis itu justru menatap Bara dengan air matanya yang menetes. Sehingga membuat tangan Bara langsung menyeka air matanya.


"Kenapa kau menagis?" tanyanya dengan suara lembut.


"Bara... kita cukup menjadi teman. Aku me--memang menyukaimu sebagai pasangan. Maka dari itu tolong jauhi aku," lirihnya menahan sesak karena Lula sangat yakin. Setelah ini Bara pasti tidak mau berteman dengannya lagi.


"Jika kau menyukaiku sebagai pasangan. Kenapa harus menjauh?"


"Karena jarak diantara kita bagaikan langit dan bumi. Aku tidak ingin serakah bisa memiliki mu. Bisa bersahabat bersama member ALV saja sudah merupakan sebuah anugrah besar bagiku," jawab Lula memaksakan untuk tersenyum getir.


"Apa kau lupa bahwa penduduk bumi bisa mendatangi langit kapanpun mereka mau? Jadi apa yang tidak mungkin jika hubungan diantara kita bisa lebih dari sahabat?"


"Tapi, Bar. Kau sudah memiliki kekasih bukan? Aku---"


"Aku dan Ria sudah lama putus dan itu atas kemauannya sendiri. Lalu apa salahnya bila aku mencari penggantinya?"


"Bara... tapi semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu banyak benteng yang---"


Cup!


Sebelum Lula meyelesaikan ucapnya. Bara sudah mengecup bibir perawan Lula yang lagi menganga.


"Semuanya akan terasa mudah. Bila kita bisa melaluinya bersama-sama. Kau tahu sendiri kan seperti apa perjuangan cinta Alvian dan Ayara. Apakah kau tidak mau memperjuangkan cinta mu?" tangan Bara menyentuh pipi Lula yang masih basah oleh air mata.


"Bara, apa maksudmu? Apakah kau---"


"Iya, aku menyukai mu, Lula. Tapi bukan sebagai seorang sahabat," ungkapan Bara membuat Lula semakin termangu dibuatnya.


Rasa manis bekas kecupan Bara belum hilang. Lalu bagaimana mungkin sekarang pemuda itu mengakui perasaannya.


"A--apakah kau sedang bercanda? Kau---"


"Aku serius dan tidak bercanda. Setelah kita tinggal bersama. Rasanya aku malas untuk kembali ke Apartemen ku sendiri," Bara tersenyum karena sebetulnya dia memang sudah lama mau mengungkapkan perasaannya pada Lula.


Gadis yang selalu ia anggap sahabat tempat menghilangkan jenuhnya. Namun, setelah mereka tidur bersama. Membuat Bara membayangkan bila mereka berdua menikah.


Melihat kebahagiaan Alvian saat menceritakan tentang istri dan anaknya. Membuat Bara iri ingin merasakan berumah tangga juga. Apalagi kedua orang tuanya memang sudah berulangkali menyuruhnya membawa calon istri ke rumah mereka.


"Tapi---"


Cup!


Kali ini Bara bukan hanya sekedar mengecup saja. Namun, juga tangannya yang berada di pipi Lula. Langsung berpindah ke tengkuk gadis itu. Guna memperdalam ciuman mereka.


"Bernafas Lula, kau bisa kehabisan oksigen bila menahannya," ucap Bara melepas ciumannya. Karena jika Lula hanya diam tidak memberikan reaksi apa-apa. Sebab gadis itu memang belum pernah berciuman.


Belum lagi Lula menjawab. Bara yang sudah merasakan manisnya bibir gadis itu. Kembali menempelkan bibir mereka. Namun, kali ini lebih dari tadi. Bara mulai berani memperdalam ciumannya.


Soalnya tidak ada penolakan dari Lula. Justru saat ini tangan gadis itu sudah melingkar indah pada leher Bara yang memiliki tubuh jauh lebih tinggi.


"Augh! Bara..." lenguh Lula saat Bara melepas pangutan bibir mereka sejenak. Sehingga membuat pemuda itu tersenyum mendengarnya.


...BERSAMBUNG......