I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Ingin Mencelakai.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Dua Minggu kemudian. Hari ini adalah pesta pernikahan Renata dan Ericson. Alvian beserta keluarga besar Rafael akan berangkat semuanya. Namun, mereka berangkat dengan mobilnya mobilnya masing-masing.


Alvian akan berangkat bersama Ayara dan Vania mengunakan mobilnya sendiri. Lalu serempak degan kedua orang tuanya dan Deri. Jika keluarga yang lain akan menyusul belakangan.


"Sayang, apakah sudah selesai?" tanya Alvian yang sudah siap sejak tadi dan baru kembali dari rumah utama yang terletak sebelah rumahnya.


Sekarang mereka bebas mau siang ataupun malam. Ralat mau kapan pun bebas mau pergi kesana. Apalagi si kecil Vania. Princess Rafael itu terkadang pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Untuk saja daerah rumah tersebut sudah dipenuhi oleh cctv. Jadi Alvian ataupun Ayara tinggal mengecek saja cctv yang mengarah ke rumah utama. Soalnya bila sang putri tidak ada. Sudah pasti Vania berada di sana.


Sebab jika keluarga dari pagar sangat tidak mungkin. Ada beberapa penjaga keamanan yang menjaga gerbang. Jadi mana mungkin si kecil bisa pergi jauh. Bila bukan kerumah kakek dan neneknya.


Semenjak malam itu, mereka memang langsung pindah. Sebuah kejutan yang sangat besar bagi Ayara. Rumah tersebut di desain seperti mana rumah impiannya.


"Iya, ini aku sudah selesai. Al, kemana Via?" tanya Aya yang tidak tahu jika si kecil Vania sudah minta diantarkan ke rumah utama.


"Kemana lagi jika bukan kerumah mama," jawab Alvian berjalan mendekati istrinya. "Kau kenapa semakin hari, malah semakin cantik? Membuatku malas untuk pergi keluar," keluh Alvian yang disertai pujian buat si ibu hamilnya.


"Jika aku bertambah jelek, nanti kau malah jatuh cinta pada fans ALV," cibir Aya yang membuat Alvian tertawa mendengarnya.


Cup!


Satu kecupan diberikan pada bibir yang sudah merah merona.


"Jika aku segampang itu jatuh cintanya. Pasti sejak dulu aku menyukai fans ALV. Namun, disini hanya ada nama Ayara seorang. Lalu aku harus apa," Alvian menuntun tangan Ayara agar menempel pada dada bidangnya yang sudah memakai baju kameja putih dilapisi oleh jas berwarna hitam di luarnya.


Jangan lupakan ada dasi juga. Walaupun hanya acara biasa dan itupun pernikahan Renata dan pengawal setia Tuan Abidzar. Tetap saja mereka menyambut baik hal tersebut.


"Apakah kau dapat merasakan seperti apa jantung ku berdetak apabila sedang bersama dirimu? Dan dia bisa saja berhenti berdetak apabila sampai kau menghilang lagi," lanjutnya degan tatapan begitu dalam.


Meskipun mereka sudah mau memiliki anak dua. Akan tetapi keromantisan Alvian dan Ayara tidak pernah hilang. Justru yang ada semakin romantis saja.


"Alvin... aku---"


"Tolong jangan pernah ragukan seberapa besar cintaku. Aku tidak akan pernah tertarik pada gadis manapun, jadi saat aku berangkat untuk konser. Jangan seperti kemarin lagi. Aku tidak mau bila kau dan bayi kita sampai kenapa-kenapa," sela Alvian karena dia baru mengetahui jika saat dia berangkat konser beberapa hari belakangan.


Ayara menangis hampir seharian. hanya gara-gara Alvian tidak membalas pesannya. Padahal bukan karena pemuda itu selingkuh. Melainkan karena ponselnya tertinggal di hotel.


"Alvin, aku... minta maaf. Tapi jujur aku hanya takut saja. Soalnya aku menonton film drama yang menunjukan suaminya selingkuh setelah istrinya hamil. Bagaimana bila kau juga seperti itu karena sekarang aku berubah jelek dan perutku mu---"


"Justru aku sangat menantikan perutmu besar. Soalnya saat kau mengandung Via, aku hanya melihatmu sekilas di pinggir jalan. Jadi tidak tahu dan sekarang aku ingin mengelus perut besar mu yang lagi mengandung buah cinta kita," tangan pemuda itu terangkat untuk mengelus pipi chubby istrinya.


"Kau ragu padaku?"


"Tidak! Aku percaya. Kemaren aku hanya lagi kesepian karena tidak ada teman. Soalnya Via selalu berada disebelah dan aku tidak memiliki teman," Ayara menjawab cepat.


"Huh!" menghela nafas panjang. "Aku sudah menduganya. Tiga hari lagi aku hanya konser di kota sebelah. Kau ikut saja, ya?"


"Benarkah aku boleh ikut?" gadis itu langsung tersenyum sumringah karena Ayara memang mau ikut suaminya.


"Tentu saja boleh. Tapi kau tidak boleh pergi kemana-mana apabila sendirian. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa,"


"Baiklah-baiklah! Aku tidak akan kemana-mana apabila tidak bersama suamiku," janji Ayara yang penting diizinkan untuk ikut.


Dia yang sudah biasa bekerja dan memiliki kegiatan. Namun, sekarang tidak ada kegiatan lain lagi. Jadi sudah pasti Ayara merasa bosan. Apalagi saat ini dia tengah berbadan dua.


"Oke, baiklah! Sekarang kita pergi ke rumah Papa Edward dan mampir ke sebelah lebih dulu untuk menjemput princess. Setelah acaranya nanti selesai. Baru kita bicarakan pada Papa Abi. Soalnya jika tanpa izin darinya, aku juga tidak berani," ajak pemuda itu menjauhkan tubuhnya.


Bila terus-terusan seperti saat ini. Bisa-bisa mereka tidak jadi berangkat karena selalu bermesraan.


"Iya, kita memang harus meminta izin dulu pada Papa Abi, karena aku juga tidak mau membuat papa khawatir," jawab Ayara yang sama seperti suaminya begitu menghormati sang mertua.


"Tuan Muda, apakah tidak mau Saya saja yang menjadi sopirnya?" tawar Denis sudah menunggu sejak tadi kedatangan Alvian.


"Tidak, terima kasih! Kau bawa mobil sendiri saja bersama yang lain, karena aku ingin berangkat bersama Nona muda saja," tolak Alvian cepat.


"Baiklah!" Denis menjawab singkat dan ikut menyusul masuk ke dalam mobilnya karena dia bertugas untuk melindungi Alvian bersama keluarganya.


Tidak jauh dari pagar rumah Alvian. Ada seseorang yang sejak tadi berdiri di sebrang jalan. Dia dengan sengaja berdiri di sana hanya untuk mencari tahu berita tentang keluarga Rafael.


Soalnya orang yang menyuruh pria itu tengah merencanakan sesuatu hal yang besar. Yaitu untuk mencelakai keluarga Rafael.


"Al, apakah kau tidak merasakan bahwa ada yang menatap ke arah kita?" tanya Aya begitu mobil mereka keluar dari pagar rumah mewah tersebut. Lalu masuk lagi ke pagar rumah utama yang berada di sebelahnya.


"Tidak! Memangnya siapa yang melihat kita kecuali para pengawal,"


"Bukan, ini berbeda. Bukan pengawal. Melainkan seperti seseorang yang memiliki niat tertentu," jawab Aya masih menatap ke arah belakang.


"Sayang, tidak ada siapa-siapa. Mana berani seseorang mendekati kediaman kita, karena pengawal papa selalu siaga dalam dua puluh empat jam nonstop,"


"Heum, iya. Ini kan hanya menurut perasaanku saja," Ayara akhirnya tidak membicarakan tentang apa yang ia rasakan.


Tin!


Tin!


Benar saja, tidak sampai tiga menit setelahnya Tuan Abidzar, Nyonya Lili, Deri dan si cantik Vania sudah keluar secara beriringan.


"Papa... Via tama opa," ucap Vania berjalan kearah mobil papanya.


"Lah, kok gitu? Bukankah tadi Vania sudah berjanji bahwa akan berangkat bersama mama dan Papa? Lalu kenapa sekarang mau naik mobil opa lagi?" protes Alvian karena ketampanan tidak membuat sang putri mau bersamanya.


Sebabnya Alvian memiliki saingan berat. Yaitu Tuan Abidzar sang ayah dan Deri adiknya. kedua laki-laki itu selalu bisa menculik Vania agar betah tinggal di rumah utama.


"Haa... ha... sudahlah Kak mengalah saja. Kakak berangkat bersama kakak ipar dan biarkan Via bersama kami," tawa Deri karena tadi dia dan Vania sudah membuat janji. Apabila keponakannya itu ikut bersama mobil mereka. Maka pulangnya nanti akan membeli es krim.


Jadilah Vania lebih memilih untuk ikut bersama sang Om dan juga Opa beserta oma nya.


"Princess, mau ikut mobil Om Deri atau bersama papa dan mamamu?" sekarang yang bertanya adalah Tuan Abidzar.


"Mau tama Opa," jawab Vania cepat dan sudah tidak bisa terbantahkan lagi.


"Oke, kalau begitu ayo masuk kedalam mobil," Tuan Abidzar mengendong Vania dan dimasukkan ke dalam mobil putra bungsunya. Soalnya mereka memang akan berangkat menggunakan mobil Deri. Sekaligus juga Deri sebagai sopirnya.


Sedangkan para pengawal hanya akan mengawasi dari depan dan belakang mobil mereka.


"Alvin, Aya... kalian berangkat berdua saja, karena Via maunya bersama kami," ucap beliau sebelum menyusul anak dan istrinya masuk ke dalam mobil.


"Iya, baiklah," jawab Alvian lesu.


"Hey... jangan seperti ini. Apabila Deri melihatnya dia akan semakin senang menggoda dirimu," Ayara tergelak karena suaminya bertingkah seperti mana anak kecil.


"Sayang, terkadang aku merasa bukan seperti papanya Via, melainkan kakak laki-lakinya. Kau lihat sendiri bukan seperti apa dia dekat dengan Deri," Alvian menghentikan ucapan sesat. Yaitu ketika mobil mereka mulai keluar dari pagar rumah tersebut.


Kali ini mobilnya berada di belakang mobil yang dikendarai oleh Deri. Sedangkan di belakang mobil mereka ada enam mobil yang menjadi pengawal sampai ke tempat tujuan.


"Benar apa yang dikatakan oleh Tante Anis dan nenek. Via malah seperti adik kami berdua, bukan seperti putriku," keluhnya lagi karena sebagai ayah tentu terkadang Alvian ingin menghabiskan waktu bersama anaknya.


"Tidak apa-apa, itu semua hanya perasaanmu, karena kau jarang di rumah. Jadinya Via lebih dekat dengan Om nya, dari pada degan mu. Namun, ketahuilah apabila kau sedang tidak ada. Dia selalu bertanya kapan papa akan pulang? Terkadang aku sampai bosan menjawabnya karena saking seringnya dia bertanya," ungkap Ayara hanya bisa tersenyum kecil untuk menenangkan hati suaminya.


"Ya, sepertinya aku harus mulai mengurangi jadwal konser. Agar lebih banyak menghabiskan waktu bersama Via. Tapi untuk beberapa bulan ini jadwalku begitu padat dan sudah tidak bisa dibatalkan lagi,"


"Tidak usah dibatalkan, kau kan bekerja sebagai publik figur. Hanya cukup dibagikan saja waktunya. Saat lagi di rumah kau ajak dia bermain ataupun sebagainya. Intinya luangkanlah waktumu untuk menemani via bermain,"


"Oke, aku akan mencoba saran darimu lebih dulu dan do'akan semoga berhasil," Alvian pun menyetujui perkataan istrinya. Lalu setelahnya pasangan suami istri tersebut terus mengobrol sampai mobil mereka tiba ke tempat tujuan.


"Ayo turun," ajak Alvian mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Ayara turun dari mobil, karena mereka sudah sampai di rumah Tuan Edward yang telah direnovasi dengan desain yang baru.


"Wah, Al... apakah kau tahu jika rumah ini sudah direnovasi?" seru Ayara karena terakhir kali mereka datang ke sana rumah tersebut belum seperti saat ini.


"Iya, tentu saja aku tahu karena Papa Abi dan aku lah yang membantu mendesainnya. Agar bentuknya sesuai dengan kesukaanmu, karena kata Papa Edward ingin membuatmu betah tinggal di sini,"


"Agh! Papa terlalu berlebihan aku akan datang ke sini apabila memiliki waktu senggang," Ayara semakin tersenyum lebar.


"Ma, mama pasti bahagia kan menyaksikan Ayara dan Papa bisa hidup rukun seperti ini? Sekarang hubungan kami benar-benar sudah baik seperti mana antara ayah dan anak pada umumnya, Ma. Rencananya minggu ini Ayara dan papa juga akan berkunjung ke mama untuk hari kematian mu."


Gumam Ayara di dalam hatinya sambil melangkah masuk ke dalam rumah mewah sang ayah.


"Wah, selamat datang putriku! Sudah sejak tadi Papa menunggu kedatangan kalian dan ternyata kalian datangnya agak siang, ya," sambutan Tuan Edward pada anak dan menantunya.


Sedangkan Tuan Abidzar, Nyonya Lili, Vania dan Deri sudah bersama yang lainnya. Acara ini bukan hanya keluarga Rafael saja yang diundang. Namun para member ALV atau keempat sahabat Alvian juga ikut hadir.


"Maaf, Pa, kami sengaja berangkat agak siang. Agar saat sampai acaranya sudah mau dimulai," jawab Ayara tersenyum.


"Iya, Papa mengerti. Tapi sekarang bagaimana? Apakah kau betah apabila berada lebih lama di rumah ini? Nanti bawalah suamimu melihat kamar kalian di atas, karena Papa juga sudah merenovasi semuanya," Tuan Edward yang sudah menduga apa penyebab sang putri malas berada di rumah itu. Hanya mengelus penuh kasih sayang kepala putrinya.


"Iya, sekarang Aya betah bila berada di sini lebih lama lagi. Terima kasih, Pa," jawab Ayara sudah merangkul kembali lengan suaminya.


"Tidak perlu berterima kasih, karena memang seharusnya seperti ini. Kau adalah putri Papa, Nak. Jadi apapun itu yang membuatmu tidak nyaman. Maka tolong katakan, karena Papa akan merubah semuanya,"


"Agh, tidak perlu, Pa. Ini saja sudah cukup,"


"Oke, kalau begitu ayo kita bergabung bersama yang lainya. Agar acaranya cepat dilaksanakan," ajak Tuan Edward berjalan lebih dulu.


"Ayo sayang," Alvian yang senang melihat senyum bahagia istrinya balas merangkul mesra Ayara. Lalu setelahnya acara pengucapan janji suci pernikahan pun langsung dilakukan.


Tuan Abidzar hadir sebagai saksi dari mempelai pria. Sedangkan Tuan Edward sebagai ayah angkat Renata. Dua orang besan yang sekarang memiliki hubungan begitu baik.


Walaupun tadinya Tuan Abidzar sangat kecewa pada sang besan yang telah menyia-nyiakan sahabat baiknya. Namun, demi kebahagiaan Ayara. Beliau rela mengalah karena mau seperti apapun mereka membuat Ayara melupakan Tuan Edward.


Tetap saja sang menantu akan selalu mengingatnya. Apalagi sekarang Tuan Edward tidak memiliki keluarga yang lain. Hanya Ayara keturunan Wilson.


Jadi sudah pasti dibalik kebahagiaan Ayara. Akan menyimpan sebuah luka besar karena melihat ayah kandungnya menderita.


"Kak Renata... selamat, aku sangat bahagia akhirnya kau bisa menemukan laki-laki yang bisa menerima dirimu apa adanya," ucap Ayara memberikan pelukan kepada Renata.


"Terima kasih, Aya. Ini semua tidak akan terjadi apabila bukan karena dirimu. Kau bagaikan malaikat bagi ku," jawab wanita itu balas memeluk Ayara disertai air matanya.


"Agh! Kakak terlalu berlebihan. Aku hanya menolong sebisa ku,"


"Iya, anggap saja seperti itu. Karena orang baik sepertimu tentu tidak akan pernah mau mengakui baik," Renata yang sudah mulai mengenal seperti apa baiknya Ayara. Memilih mengiyakan saja.


"Kau memang bidadari yang tak bersayap, Aya. Aku berjanji akan menjaga papamu seperti mana orang tuaku sendiri. Sebab hanya inilah yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan yang telah keluarga kalian lakukan." gumam Renata menatap Ayara penuh rasa haru.


Bahagia karena bisa menemukan orang-orang baik. Disaat dia tidak memiliki siapa-siapa.


...BERSAMBUNG......