
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Ma, bagiamana ini? Kakak pergi sendirian." ucap Dery merasa khawatir pada kakaknya. Walaupun disisi lain sudah tahu jika si penculik tidak boleh Alvian datang bersama siapapun.
"Hubungi Papa mu, Nak. Mama tidak mau kakak mu kenapa-kenapa lagi. Bagaimana bila ini hanya jebakan." titah Nyonya Lili yang lagi memeluk erat sang menantu. Disini beliau sebagai orang tua harus bisa bersikap bijak saat situasi seperti saat ini.
"Astaga! Kenapa Dery bisa lupa!" pemuda itu mengusap wajahnya sambil tangan satu menekan nomor papanya.
📱 Dery : "Pa, Kakak pergi menemui penculiknya. Orangnya tadi menelepon ke nomor Mama dan meminta kakak datang sendiri untuk menandatangani surat kontrak kerjasama." begitu sambungan terhubung Dery langsung menyampaikan apa yang sedang terjadi.
📱 Tuan Abidzar : "Ya, Papa sudah tahu dan sekarang Om Edward sudah berada di titik lokasi. Namun, kakak mu belum tiba di sana." jawab Tuan Abidzar sedikit lega bahwa cucunya masih hidup. Walaupun mereka membutuhkan proses untuk menyelamatkan si princess.
"Nak, tanyakan sekarang Papa mu ada dimana? Apakah mau menyusul Alvin atau tidak?" timpal Nyonya Lili tidak sabaran. Dery hanya mengagguk mengerti.
📱 Dery : "Sekarang Papa lagi dimana? Apakah mau menyusul Kakak?"
📱 Tuan Abidzar : "Papa lagi di dalam perjalanan menyusul kakakmu. Namun, demi keselamatan mereka berdua, Papa akan membiarkan kakak mu menandatangani apa yang mereka mau. Setelah Via dibawa keluar baru mulai menyerang."
📱 Dery : "Baiklah, jika begitu Papa harus hati-hati. Kami semua menunggu kepulangan Papa, Kakak dan Via." pemuda tampan itu menutup panggilan tersebut karena tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara banyak.
"Kakak ipar tenang ya, sekarang Om Edward sudah ada di titik lokasi. Papa bersama yang lainya juga menuju ke saja." ucap Dery menenangkan kakak ipar yang seperti kakak kandungnya sendiri.
"I--iya! Kakak hanya takut mereka menyakiti Via sampai Alvin datang." jawab Ayara yang matanya sudah membengkak karena terlalu banyak menangis.
Sementara di lain tempat. Si member ALV, yaitu Alvian baru saja tiba ke alamat yang dikirimkan oleh si penculik. Begitu melihat kedatangan Alvian, para orang-orang yang memakai jaket serba hitam menggeledahnya. Setelah tidak ditemukan senjata yang berbahaya barulah dibawa masuk kedalam rumah mewah tiga lantai.
Alvian tidak memiliki rasa takut sama sekali. Dia hanya ingin cepat bertemu putri sulungnya.
"Brengsek! Berani sekali mereka menyandra putriku."
Umpatnya melihat begitu banyak penjaga di dalam rumah tersebut. Namun, dia belum bertemu Vania.
Prok!
Prok!
Suara tepuk tangan dari seorang laki-laki setengah baya. Dia mungkin seumuran dengan Tuan Abidzar dan Tuan Edward.
"Putra Rafael!" ucapnya berdiri menyambut kedatangan Alvian. "Ternyata aset negara sepertimu tidak memiliki rasa takut. Saya kira kau akan memanggil polisi atau memberitahu Edward ayah mertuamu dan Abidzar." lanjutnya lagi tersenyum puas.
"Mana putriku?" hanya itu jawaban Alvian.
"Santai saja... Ian. Kau baru saja datang. Kita bisa menikmati segelas kopi dan mengobrol sebagai rekan kerja yang baru."
"Dimana putriku, Brengsek!" bentak pemuda itu yang tidak bisa lagi diajak bercanda. "Aku tidak akan membuat perjanjian apapun sebelum bertemu anakku." tegasnya dengan tatapan membunuh.
"Cepat bawa princess kecil itu kemari!" kata si bos penculikan tersebut. "Ternyata benar kata Alice, jika mau membuatmu takluk maka harus menyandra istri atau anak-anak mu." ucapnya lagi tersenyum penuh kemenangan. "Namun, sayang sekali untuk menculik Ayara tidak bisa, karena ada begitu banyak penjaganya."
"Jadi semua ini karena rencana kau dan Alice? Kemana wanita itu? Bukankah dia ada dipenjara sejak satu tahun lalu? Marpora Emmanuel, kau tidak ubahnya licik seperti Noah Norin." seru Alvian hanya bisa menahan geram.
"Dia sudah Saya bebaskan sejak tiga bulan belakangan dan sekarang lagi terlelap di kamarnya, karena baru saja melayani Saya sebagai budak ****." Pria yang bernama Marpora Emmanuel tersenyum. Mengigat seperti apa dia mendapatkan kepuasan bersama Alice.
"Sampah! Kalian semua benar-benar pengecut yang berani bermain curang." umpat Alvian lagi.
"Duduklah! Setelah itu tanda tangani surat kontrak dengan Agensi kami. Lalu kau boleh pulang bersama putrimu yang banyak sekali bicaranya."
Meskipun Alvian tahu akan berdampak besar pada member ALV dan Agensi AX Si. Dia tetap duduk di hadapan laki-laki dewasa tersebut dan membaca surat kontraknya.
"Papa..." teriak Vania begitu melihat kehadiran Alvian.
"Via, sayang. Syukurlah! kau baik-baik saja." Alvian ingin berdiri mendekati Vania, tapi senjata api sudah ditodongkan di kepala si princess.
"Tanda tangani dulu surat kontrak nya, baru kau boleh mendekati putrimu." ucap orang yang menodongkan senjata api pada Vania.
"Aku tidak ada pilihan demi menyelamatkan nyawa putriku."
Guman Alvian yang langsung memegang pulpen dan menandatangani surat kontrak kerjasama.
"Setelah keluar dari sini baru aku cari cara untuk membantu Agensi AX Si. Kalian pikir dengan ini bisa mengalahkan kami semua."
Gumam Alvian saat coretan tinta dia bubuhkan diatas beberapa lembar kertas.
"Papa!" Vania langsung berlari begitu dia dilepaskan.
"Sayang, Via baik-baik saja, kan?" Alvian pun langsung memeluk erat tubuh putrinya. Namun, pada saat itu juga langsung keluar berita dari televisi. Ternyata saat dia menandatangani surat kontrak tadi. Satu orang membuat live streaming. Sehingga langsung menggemparkan dunia hiburan dari berbagai negara.
"Brengsek! Jadi Anda langsung membuat pengumuman." maki pria itu yang langsung mengendong putrinya. Buat antisipasi bila terjadi sesuatu pada mereka.
"Ian, kau pikir Saya bodoh yang akan percaya pada sebuah tanda tangan. Jika sudah diumumkan seperti ini maka saham Agenci AX Si akan turun dalam hitungan jam. Kau bagaikan jantung di dalam member ALV. Melihat berita bahwa kau keluar dari sana dan bekerjasama dengan kami, maka tidak ada yang bisa menggagalkan rencana Saya." jawab Pria itu berdiri dari sofa.
"Ingatlah! Besok kau datang ke Angensi Marpora dan mulai melakukan persiapan untuk album solo terbaru. Sekarang kau boleh pulang dan bawa putrimu pergi dari sini." setelah berkata demikian pria tersebut menaiki tangga yang menuju lantai atas.
Sehingga dengan digiring oleh anak buah Marpora Emmanuel. Ayah dan anak itu keluar dari rumah tersebut. Alice yang berdiri dipinggir jendela tersenyum puasa melihatnya.
"Ini baru permulaan, Alvian. Setelah kau bekerjasama dengan Agensi Marpora, aku akan mendekatimu lagi dan merebut kau dari wanita sialan itu." ucap Alice yang tentunya memiliki tujuan lain. Jika tidak mana mungkin dia mau menjadi pemuas nafsu laki-laki tua seperti Marpora Emmanuel.
Cup!
"Tapi sebelum semua tujuan kita tercapai. Kau adalah milikku, Alice." Marpora Emmanuel datang memeluk pinggang Alice dari arah belakang. Tidak lupa dia juga memberikan kecupan pada leher jenjang gadis itu.
"Kenapa kau terkejut? Untuk merayakan kemenangan ini mari kita bersenang-senang. Saya berjanji akan membebaskan Noah papamu, apabila semuanya berjalan lancar." dengan penuh nafsu pria dewasa itu membopong tubuh Alice untuk pindah keatas ranjang tempat tidur.
Padahal tempat itu masih berantakan bekas pergumulan panas mereka beberapa jam yang lalu.
"Aaah! Om... eum!" desah Alice yang dia tahan agar tidak keluar.
"Keluarkan saja, Beby. Saya sangat menyukai suara mu yang melenguh." kata Marpora Emmanuel yang bagaikan hewan buas yang siap memangsa buruannya.
"Kurang ajar! Si tua bangka ini benar-benar tidak pernah puas mengerayagi tubuhku. Aku jijik harus melayaninya. Namun, aku tidak mau kembali ke penjara dan meratapi nasibku sebagai narapidana. Sedangkan Alvian dan Ayara hidup bahagia."
Gumam Alice yang disertai rasa kesal bercampur nikmat. Pikirannya memang merasa jijik untuk melayani orang tua seperti Marpora Emmanuel. Akan tetapi tubuhnya tidak bisa berbohong yang ikut menikmati setiap sentuhan pria itu.
Aaah!
Satu ******* lagi kembali keluar saat pria tersebut melahap habis gunung kembar Alice. Gadis cantik itu sudah setengah tela njang, karena baju bagian atasnya sudah diturunkan oleh Marpora Emmanuel.
"Om... tunggu dulu!" Alice menahan tangan laki-laki itu yang hendak melakukan gladi resik pada intinya.
"Ada apa?" pria tersebut menatap tidak suka karena dihentikan begitu saja.
"Setelah ini jadi kan memberikan Saya kartu black card?"
"Kau tidak percaya pada Saya, Beby?" jawabnya yang langsung melu mat habis bibir ranum Alice.
Hampir lima menit dia menikmati tubuh bagian atas Alice. Marpora Emmanuel mulai merambah ke bagian bawah untuk mulai menggarap atau bercocok tanam.
Tanpa ada yang jika diluar rumah tersebut pasukan Tuan Abidzar dan Tuan Edward lagi menelusuri tembok pagar. Satu persatu dari pasukan mereka mulai memanjat pembatas dan langsung melenyapkan penjaga dari Marpora Emmanuel.
"Aaah! Om..." Alice mengerang saat senjata tumpul milik laki-laki itu mulai digunakan. Tidak ada rasa ampun, Marpora Emmanuel terus menerus berpacu. Dia tidak memikirkan gadis cantik dibawah Kungkungan nya, yang dia inginkan adalah kepuasan diri sendiri. Maka dari itu Alice lebih banyak tersiksa daripada menikmati setiap melakukan hubungan intim.
Dooor!
Dooor!
Suara tembakan membuat kedua terkejut. Lalu tidak mau sia-sia atas kerja kerasnya saat ini. Marpora Emmanuel memberikan hentakan keras agar dia segera mendapatkan pelepasan dan tidak sampai dua menit dia pun menyemburkan semua bibit kecebongnya.
Aaaghhk!
Erang laki-laki itu yang membuat Alice menahan kesal. Soalnya bila sudah begitu dia hanya dijadikan tempat pembuangan saja. Marpora Emmanuel telah mendapatkan ******* seperti biasanya.
"Nanti kita lanjutkan, Saya mau mengecek keadaan diluar." ucapnya memakai pakaiannya kembali.
"Selalu saja mengerang sendiri. Apa gunanya aku berkeringat seperti ini bila hanya memuaskan dirinya saja."
Rutuk gadis itu menatap kepergian Marpora Emmanuel. Tidak bisa hanya seperti sekarang. Dia memunguti pakainya dan dibawa masuk kedalam kamar mandi. Alice akan memuaskan dirinya sendiri dengan cara menuntaskan didalam kamar mandi. Hal itu sudah dia lakukan semenjak bekerjasama dengan pria dewasa itu.
"Ha... Haa... Emanuel, kita bertemu lagi." tawa Tuan Edward karena beliau memang mengenal pria itu.
"Wah, ternyata ada tamu-tamu penting yang tidak diundang." seru Marpora Emmanuel menahan amarahnya. Namun, dia tetap harus terlihat santai.
"Menyerah lah! Semua pasukan mu sudah kami lumpuhkan." perintah Tuan Abidzar yang sudah duduk diatas sofa. Antara besan itu melakukan kerjasama yang baik untuk menyelamatkan cucu kesayangan mereka.
"Hah!" tawa mengejek Marpora Emmanuel. "Apakah kalian pikir setelah menyuruhku menyerah bisa membuat Alvian terlepas dari perjanjian yang sudah dia tanda tangani? Itu tidak mungkin terjadi Edward, Abidzar." lanjutnya tetap terlihat tenang. Padahal lagi memikirkan cara untuk bebas.
"Sekarang seluruh ibukota bahkan negara tahu jika Ian ALV mengkhianati agensinya. Jadi lebih baik kalian pulang karena anak kecil itu sudah dibawa pulang."
Braaak!
Tuan Abidzar langsung menendang guci besar yang ada disampingnya. Dia menatap tajam Marpora Emmanuel.
"Kau pikir aku takut hancur atas tanda tangan yang dilakukan putraku? Manuel, kau salah mencari lawan." kata Tuan Abidzar.
"Gio, apakah anak dan istrinya sudah kalian dudukkan di kursi kematian?" ucap Tuan Edward pada orang kepercayaannya.
"Sudah, Tuan. Mereka tinggal menunggu perintah dari sini. Maka semuanya akan mati dalam hitungan menit." jawab pengawal bernama Gio. "Apakah perlu diperlihatkan rekaman di sana, Tuan?" tanyanya seraya mengarahkan layar ponselnya pada Marpora Emmanuel.
"Apa! Jadi kalian---"
"Ya, kami hanya mengikuti cara bermain mu. Buat pengumuman saat ini juga bahwa menantuku menandatanganinya karena dibawah paksaan. Atau istri dan ketiga anakmu akan dihabisi dengan cara yang sadis." ancam Tuan Edward.
Beliau sudah berjanji pada dirinya sendiri dan mendiang Jasmeen. Akan melakukan hal apapun demi kebahagiaan putri satu-satunya. Yaitu Ayara Eveline Jasmeen.
"Bedebah! Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini. Bodoh! Seharusnya aku berhati-hati."
Umpat Marpora Emmanuel didalam hatinya.
"Tidak usah banyak berpikir dan mengumpat. Alvin tidak ada memberitahu kami. Namun, saat kau menghubungi nomor ponsel istriku, kami sudah berhasil menyadap pembicaraan kalian dan... melacak tempat ini." Tuan Abidzar berdiri dari sofa. Beliau melangkah mendekati Marpora Emmanuel.
Bug!
Bug!
"Ini hanya pemanasan karena ulah mu, sudah membuat cucuku trauma." ucap Tuan Abidzar menendang kaki pria yang telah menculik Vania.
"Seret dia dan hadapkan di depan kamera. Jika tidak mau membuat klarifikasi, maka siksa semua keluarganya." kata Tuan Edward mulai serius tidak berbasa-basi lagi.
Seperti apa yang dilakukan pada Alvian beberapa saat lalu. Sekarang berita tentang penandatanganan kontrak kerja sama pun kembali dibatalkan langsung oleh Marpora Emmanuel. Setelah siaran televisi berjalan lancar. Anak buah Tuan Abidzar menyiksanya sebelum diserahkan ke kantor polisi.
"Alvin, coba kau lihat beritanya." tunjuk Nyonya Lili. Alvian sudah tiba di rumah sejak setengah jam yang lalu. Vania langsung dibersihkan tubuhnya oleh Ayara. Setelah disuapi makan, gadis kecil itu dibawa oleh Ayara duduk diatas pangkuannya.
"Iya, Ma. Tadi saat Alvin membawa Vania keluar dari sana. Papa Edward dan Papa Abi langsung bertindak. Namun, tidak tahu jika mereka akan menyelesaikan masalahnya malam ini juga." jawab Alvian yang sudah selesai membersihkan tubuhnya juga. Sekarang mereka semua lagi berkumpul diruang keluarga.
Namun, disampingnya ada Baby Arka dan si cantik Vania. Hanya saja Vania duduk diatas pangkuan mamanya. Dia masih merasakan ketakutan atas penculikan tadi. Maka dari itu untuk menenangkan putrinya, Aya selalu mendekap gadis kecil itu penuh kasih sayang.
... BERSAMBUNG... ...