I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Hari Valentine.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


.


.


Dua bulan kemudian.



"Eum... cantik sekali," Ayara tersenyum gemas melihat Vania yang sudah selesai ia mandikan. Hari ini mereka berdua akan kembali ke kota S. Ayara ingin mengunjungi makam Almarhumah mamanya. Wanita yang ia anggap keluar satu-satunya.


Ya, pedih karena kekejaman sang ayah yang tega mengusir dirinya dalam keadaan sakit dan hamil. Membuat Aya sangat kecewa dan memutuskan tidak akan menganggap Tuan Edward sebagai ayahnya lagi.


"Nanti Vania tidak ada boleh rewel ya, takutnya penumpang yang lain akan marah pada kita," Ayara mengajak putrinya berbicara sambil mengendong Vania dan membawa tas mengunakan tangan sebelah nya.


Sekarang Ayara bukanlah Aya yang bergantung pada orang lain. Dia menjadi sosok yang sangat tangguh. Sebagai ayah dan ibu untuk sang putri. Setelah melahirkan hanya tiga Minggu dia beristirahat. Setelah itu Aya memaksa untuk bekerja membawa bayinya.


Sebab bila dia tidak bekerja, dari mana membayar sewa rumah dan kebutuhan lainnya. Lagian dia bekerja hanya merangkai bunga. Jadi tidak terlalu lelah. Sedangkan pekerjaan yang lain diambil alih oleh Lula. Sahabat yang melebihi saudarinya sendiri.


Hari ini adalah hari Valentine. Jadi Ayara mendapatkan bonus dari anak Bibi Atika. Soalnya wanita paruh baya itu tidak bekerja lagi sejak satu bulan lalu.


Berhubung Ayara mendapatkan uang bonus dan gaji lebih. Jadi ia gunakan untuk berkunjung ke makam ibunya. Ingin berkunjung ke sanak saudara. Dia tidak memiliki siapapun, selain si buah hati.


"Ara, kau mau berangkat sekarang?" tanya tetangga yang melihat mereka lewat sambil membawa tas tempat perlengkapan bayinya.


"Iya Bibi, agar cepat sampai, karena besok pagi kami akan pulang ke sini lagi," jawabnya tersenyum. Meskipun ada beberapa orang yang tidak suka dengan keberadaannya dan si buah hati. Ayara tidak pernah ambil pusing. Selagi tidak menyakiti pisiknya, dia tidak menjadi masalah.


"Oh, baiklah! Kau hati-hati ya, dan jaga putrimu dengan baik," pesan wanita tersebut yang sedang menyapu dihalaman rumahnya.


"Iya, Bibi," sahut Aya terus berjalan. Tidak lama menunggu di pinggir jalan. Mobil bus yang akan ke kota S singgah di halte tempat naik dan turunnya para penumpang.


"Hari ini kita akan bertemu dengan Oma Jasmeen. Dia pasti senang melihat kedatangan kita," Ayara mengelus sayang putrinya yang hanya tersenyum bila diajak bicara.


Selama dalam perjalanan. Vania tidak rewel sama sekali. Gadis kecil itu sangat mengerti keadaan ibunya. Dia bayi yang anteng, tidak pernah rewel, bila tidak sakit.


Ayara yang sudah membawa perlengkapan air minum dan juga sedikit makanan untuk di mobil. Tidak turun seperti penumpang lainnya. Sama saat dia meninggalkan kota S satu tahun lalu. Ayara hanya bertahan dengan air mineral dan dua potong roti saja.


"Nona, Anda akan turun di halte mana?" tanya kernet bus begitu mereka mulai memasuki ibukota S.


"Saya di halte dekat kompleks pemakaman Grammar, Paman," jawab Ayara yang ingin langsung ke makam ibunya. Dia tidak mau membuang-buang waktu. Tujuannya ke kota tersebut hanya ingin mengunjungi makam ibunya.


"Baiklah," jawab si kernet kembali maju ke depan. Sekitar tiga puluh menit setelah itu Ayara dan putrinya turun di halte yang tidak jauh dari pintu masuk ke area pemakaman.


Meskipun lelah duduk di dalam mobil selama lima jam kurang lebih. Dia tetap semangat karena akan segera sampai pada makam sang ibu.


"Selamat siang, Pak, Saya mau membeli bunga Lili nya," ucap Ayara pada penjual bunga sekaligus penjaga makam.


"Iya, Nona," jawab si bapak penjual bunga. Lalu Ayara membayar bunga tersebut dengan beberapa dolar. Tidak lupa dia juga menitipkan tas bayi nya.


"Mama... Ayara datang, Aya datang, Ma," Gumamnya semakin mendekap sang putri yang diam seperti anak sudah besar.


"Ternyata Tuan Edward tidak datang ke makam mama lagi," Ayara tersenyum getir melihat tidak ada satu tangkai bunga pun di atas makam ibunya. Berbeda dengan makam di sekitarnya. Mungkin mereka memiliki banyak keluarga. Sedangkan Jasmeen hanya memiki satu orang putri yang tinggal jauh di rantau orang.


"Maafkan Ayara, Ma," air mata Ayara jatuh beriringan dengan tubuhnya. Dia bersimpuh di depan gundukan batu nisan sang ibu, bersama Vania dalam gendongan nya.


"Sayang, ayo sapa Oma Jasmeen," meskipun sambil menagis. Saat berbicara dengan putrinya dia tetap tersenyum. Mau mengerti atau tidak, dia tetap berbicara seolah-olah Vania mengerti dan bisa melakukan apa yang ia katakan.


"Hai Oma, kenalkan ini Vania, cucu cantik, Oma," dia menyuruh anaknya. Maka Ayara sendiri juga yang berbicara.


...BERSAMBUNG......