I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Kesalahan Fatal.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING... ...


.


.


"Om... Saya minta maaf!" ucap Bara menundukkan pandangan matanya. "Saya sudah keterlaluan menyakiti Lula padahal mama Saya yang bersalah."


"Jadi kau menyadari dan meminta maaf pada Lula karena sudah tahu jika yang bersalah adalah mama mu?" suara Tuan Abidzar terdengar santai, tapi membuat Bara takut mendengarnya.


"Lula dinikahi bukan untuk kau sakiti, Bara. Apakah kau pikir ada wanita yang tidak mau memiliki anak dengan laki-laki yang dia cintai?" lanjut beliau yang membuat Bara terhenyak dibuatnya.


"Jika tahu akan seperti ini, maka menangis sekalipun Lula, maka Saya tidak akan pernah membiarkan kau menikahinya."


"Tapi Om, Saya pada saat itu hanya kecewa karena dia meminum obat pencegah kehamilan." jawab Bara.


"Tapi dia tidak melakukannya bukan? Hanya karena yang menuduhnya adalah mamamu, lalu kau berhak menghakiminya? Kau salah besar Bara, setiap pasangan harus saling percaya. Ibu nomor dua setelah kau menikah." cecar pria setengah baya itu.


"Saya benar-benar kecewa padamu, Bar. Sebagai suami kau tidak bisa melindungi istrimu dari fitnah dan sebagai laki-laki kau juga tidak tegas."


"Ma--maksudnya tidak tegas bagaimana, Om?" tanya Bara tidak paham.


"Apakah semenjak Alvin menikah kau pernah melihat dia makan malam dengan seorang gadis! Jawabannya adalah tidak, karena dia begitu menjaga perasaan Ayara." kata beliau yang langsung dia jawab sendiri.


"Kau memiliki masalah bersama Lula, tapi kau makan malam romantis bersama Ria. Mantan kekasih mu. Jika itu semua adalah rencana mamamu, maka apabila kau memiliki pendirian tidak akan pernah melakukannya." tidak ada yang disembunyikan, Tuan Abidzar mengatakan semua yang dia ketahui.


"Saya akui bersalah Om, tapi Saya mohon maaf dan tolong izinkanlah Saya bertemu Lula." pinta Bara karena mau seperti apapun, dia baru menyadari bahwa kesalahannya begitu fatal.


"Saya sudah mengatakan jika kau tidak bersalah kepada kami semua. Namun, kau bersalah pada Lula. Akan tetapi buat apa kata maaf, yang tidak mungkin mengembalikan keadaan seperti semula."


"Iya, maka dari itu tolong izinkanlah Saya menemui Lula. Saya mau meminta maaf padanya."


"Setelah itu? Bara, Lula mandul tidak akan bisa memberimu keturunan mau sampai kapanpun. Jadi lepaskan dia, agar kau bisa mencari gadis lain lagi. Bukannya Ria masih mencintaimu. Lagian mamamu juga merestui hubungan kalian."


"Tidak Om! Saya tidak mau melepaskan Lula. Tidak peduli dia mandul seumur hidupnya. Setelah Saya minta maaf, Saya mau membawanya kembali ke rumah kami." jawab pria itu penuh keyakinan.


"Bara, berumah tangga itu bukan hanya sehari. Tapi sampai menua bersama. Sekarang kau bisa saja bicara seperti itu. Namun, saat melihat para sahabatmu atau orang lain memiliki anak, pasti kau juga mau menjadi orang tua."


"Saya tidak akan pernah meminta hal itu karena Saya tahu mungkin memang kami ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan." Bara masih terus meyakinkan Tuan Abidzar atas keseriusannya.


"Bara!" seru Alvian membuat kedua sahabat itu saling tatap.


"Alvin, maaf!" walaupun dia yang kena pukulan, tapi Bara yang merasa bersalah langsung meminta maaf.


"Huem, aku juga." jawab Alvian ikut duduk dihadapan papanya dan Bara. "Apakah kau mau mencari Lula?" tebaknya sedikit acuh.


"Iya, selain mau minta maaf, aku juga mau mengajaknya pulang."


"Haa... ha... setelah mukanya memar bekas tamparan mu, lalu kau mau mengajaknya pulang begitu saja. Bara-Bara, aku rasa dia tidak akan mau. Terlebih saatnya sakit sudah menyuruhmu pulang. Namun, apa yang kau lakukan? Kau malah berkencan buta bersama Ria." tawa Alvian karena jika bukan mereka masih berteman, dia akan menghajar habis-habisan sahabatnya itu.


"Aku khilaf, karena percaya pada ucapan mamaku."


"Bukannya aku sudah seringkali bilang kepadamu, harus menomorsatukan istri. Kau sudah aku peringatkan agar menjauhi Ria, apapun alasannya karena tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Terlebih lagi apabila sudah menikah. Lebih parahnya Ria adalah mantan kekasih mu." cecar Alvian karena dia memang sudah berulangkali menasehati sahabatnya.


... BERSAMBUNG.... ...