
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Hai... ayo duduk sama Papa," Alvian kembali berjongkok di samping kursi kayu yang diduduki oleh Bara dan putrinya.
"Via tidak usah takut, Papa hanya ingin memelukmu. Bukan ingin menyakiti Via," lanjutnya lagi menahan rasa sesak karena Alvian benar-benar tidak menyangka. Bahwa setelah bertemu, Vania tidak mau padanya.
Si gadis kecil seperti takut padanya. Akan tetapi tidak pada Bara sahabatnya. Sangat terlihat jelas bahwa Vania seakan menjaga jarak diantara mereka.
"Via mau ya sama papa Alvian, dia teman Om Albar, tidak jahat," Bara yang merasa kasihan pada sahabatnya ikut membujuk Vania. Agar mau di peluk oleh papanya sendiri.
Namun, lagi-lagi si cantik kembali mengelengkan kepalanya. Dia malah semakin memeluk tubuh Bara.
"Via titak mau, Om," jawab Vania sambil menoleh kearah Alvian.
"Baiklah, jika tidak mau. Jangan menangis ya," jawab Alvian tersenyum kecil. Agar Vania tidak takut padanya. Lalu dia kembali berdiri sambil mengelus kepala sang putri.
"Ya Tuhan... aku sangat ingin memeluknya. Andai aku tahu Aya hamil. Maka pasti Vania tidak takut seperti ini. Aku pasti sudah mengelus kepalanya dari dia lahir ke dunia ini." Alvian kembali bergumam di dalam hatinya.
Begitu menyentuh kepala sang putri. Tangan Alvian bergetar, sama seperti hatinya yang tiba-tiba menghangatkan.
"Al, kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Bara yang tidak bisa membantu sahabatnya juga. Ternyata uang bukanlah segalanya. Terbukti untuk mendapatkan pelukan dari putrinya saja Alvian tidak bisa. Apalagi panggilan sebagai papa.
Vania takut melihatnya. Dia memangil Alvian Om. Padahal sudah mereka ajarkan supaya menyebut papa.
"Iya, aku baik-baik saja. Meskipun dia belum mau padaku, setidaknya aku bisa melihatnya saja sudah bersyukur." jawab Alvian duduk di kursi yang kosong.
Sedangkan Lula sudah duduk sejak tadi. Gadis itu bingung mau bicara apa. Dia memang ngefans pada ALV. Tapi saat berhadapan secara langsung seperti ini lidahnya seakan kelu.
Bahkan untuk meminta foto bersama saja dia tidak berani mengatakannya. Entahlah! Yang jelas nyalinya tiba-tiba ciut.
"Sabar, mungkin dia takut karena wajah kalian begitu mirip. Tapi tidak mungkin dia ikut membencimu seperti mamanya, kan?" tanya Bara menatap sahabatnya.
"Entahlah! Mungkin dia tahu, jika penderitaan mereka karena diriku," sambil berbicara dengan Bara. Mata Alvian terus menatap putrinya yang sudah bermain dengan boneka kecil.
Namun, dia masih tetap duduk di pangkuan Bara. Entah si kecil mengerti atau tidak, apa yang dibicarakan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.
"Tapi... aku rasa Vania tidak membencimu. Betul kata Albar, dia hanya merasa takut karena wajah kalian sama." Lula terdiam sejenak, lalu setelahnya bicara lagi.
"Soalnya selama ini bila aku menonton berita tentang kalian. Dia juga ikut melihatnya dan terkadang ikut berjanji meskipun tidak jelas. Dan... sejak kecil bajunya yang kau tanda tangani juga menjadi temannya tidur. Bahkan sampai sekarang," tutur Lula setelah mendengar saja sejak tadi.
Mendengar perkataan Lula. Membuat Alvian tersenyum menatap putrinya penuh cinta. Hatinya yang tadinya sedih, menjadi sedikit terobati.
"Semoga saja iya, dia takut padaku karena wajah kami yang mirip," jawab pemuda itu hanya bisa berharap.
"Aku rasa saat Aya mengajakku makan di restoran yang aku tunjukkan waktu itu. Dia sudah ngidam Vania. Soalnya sebelum kami putus dia selalu mengajakku makan yang aneh-aneh. Bahkan jika tidak aku suapi dia tidak mau makan," paparnya degan rasa sesak bila mengigat bahwa dia dan Ayara adalah pasangan paling romantis.
Namun, siapa sangka jika hubungan tersebut. Kandas karena pilihan Alvian sendiri.
"A--apa Aya seperti itu?" seru Lula menelan Saliva nya sendiri. Tidak tahu posisi beruntung seperti apa yang Ayara dapatkan. Bisa berpacaran dengan Alvian, bahkan sangat disayang oleh para member ALV lainnya.
"Coba kau lihat foto gadis ini. Dia adalah Aya. Aku mengambil foto ini saat dia menemani kami latihan. Jadi saat itu dia dan Alvian adalah pasangan yang sangat meresahkan. Jika hanya sekedar disuapi itu adalah hal biasa bagi mereka," ucap Bara menunjukkan foto Aya yang masih tersimpan di akun Instagram lamanya.
"Wah, ternyata dia memang sangat cantik. Tapi waktu pertama kali kami bertemu dengannya. Kedua pipinya memar karena bekas tamparan ayahnya," ucap Lula yang masih mengigat saat pertama kali kenal dengan Ayara.
"Apa! Dia tidak hanya diusir saja," seru Alvian dan Bara secara bersamaan.
"Iya, pipinya memar. Tapi dia mengunakan masker penutup wajahnya yang bengkak. Dia juga lagi demam," jawab Lula mulai menceritakan seperti apa awal mula Ayara bisa tinggal di sana.
"Astaga! Kenapa Tuan Edward kejam sekali," keluh Bara begitu mendengar fakta tentang Ayara yang diusir.
Soalnya jika dari laporan Denis tidak menyebutkan bahwa Ayara kena tampar juga. Mungkin karena gadis itu mengunakan masker, jadi penjaga keamanan di kediaman Wilson juga tidak tahu.
Sampai pada saat Aya keluar dari kamar, barulah mereka diam tidak berani bicara apa-apa lagi.
"Vania, ayo kita tidur," ajaknya pada sang putri. Akan tetapi Ayara tidak mau melihat kearah Alvian yang menatapnya dengan perasaan tidak menentu.
Mendengar cerita dari Lula, tingkat rasa bersalah Alvian semakin tinggi. Dia benar-benar terluka sendiri mendengar nasib Ayara begitu menderita karena dirinya.
"Ara, kau harus makan malam, bukannya kau hanya makan tadi siang saja," ucap Lula mendekati sahabatnya.
"Aya, makanlah dulu, setelah itu baru kau tidur. Tadi aku sudah membeli untuk makan malam kita semua." sambung Bara karena takut Aya jatuh sakit.
"Terima kasih! Tapi aku tidak lapar," jawab Aya tetap pada pendiriannya.
"Tapi Vania juga tidak mau makan. Padahal aku sudah menyuapinya. Dia pasti ingin makan bersamamu," Lula menyentuh bahu Ayara agar sahabatnya mau mendengarkan perkataan mereka.
"Kau lebih paham putrimu seperti apa kan, jadi ayo makanlah! Itu yang makanannya sudah aku siapkan. Ayo makanlah, biar aku temani kebelakang," ucap Lula tidak mau menyerah buat membujuk sahabatnya.
"Tapi---"
"Makanlah! Nanti kau bisa sakit, lalu siapa yang akan menjaga Vania." sela Alvian cepat.
"Aya... jangan karena pertemuan kita, kau menghukum dirimu seperti ini. Aku datang bukan untuk menyakitimu. Tapi untuk memperbaiki semuanya." degan langkah pelan Alvian berjalan mendekati ke-dua wanita itu yang ada didalam hatinya.
"Via, ayo sama Papa," pemuda itu mengulurkan tangannya untuk mengendong si buah hati. Namun, Vania langsung mengelengkan kepalanya dan semakin memeluk erat leher sang mama.
"Coba kau lihat, dia tidak mau padaku. Jadi bagaimana mungkin aku bisa membawanya pergi darimu. Sekedar digendong saja dia tidak mau. Padahal aku sangat ingin memeluknya," Alvian menjeda ucapnya sesaat. Lalu kembali bicara lagi.
"Jika pun aku membawa Vania kembali ke kota S bersamaku. Maka kau juga akan ikut bersama ku. Karena bagiku, kalian berdua sama berharganya." ucapan Alvian langsung membuat Aya menatap pada pemuda itu beberapa detik.
Namun, setelahnya Ayara sudah mengalihkan pandangan matanya kearah Vania sambil bertanya.
"Vania lapar?"
"Iya, Via mau matan," jawab si kecil jujur. Sehingga membuat Ayara semakin mengeratkan pelukannya.
Cup, cup! Muaach!
"Maafkan Mama, Mama tidak ingat jika Vania belum makan," ucapnya pada sang putri.
"Ayo cepat bawa anakmu makan, selagi makanannya belum terlalu dingin," seru Lula menyeka air disudut matanya.
Gara-gara merasa terharu pada Ayara yang sangat kuat melewati semuanya. Hari ini Lula baru mengetahui siapa gadis yang menjadi sahabatnya selama ini. Ternyata Aya bukan hanya mantan kekasih Ian ALV. Tapi juga putri dari seorang pengusaha.
"Ian, jika kau mau mandi, pergi saja ke kamar Aya. Aku akan menemani mereka, untuk memastikan dia makan atau hanya menyuapi Vania." ucap Lula setengah berbisik karena takut Ayara mendengar percakapan mereka.
"Iya, terima kasih! Tolong bujuk dia agar mau makan, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya." jawab Alvian tersenyum kecil dan diiyakan oleh Lula.
"Huh! Bara... aku sangat menyesal," seru Alvian mengusap wajahnya kasar. Dia sudah kembali duduk pada kursi kayu yang ada di belakangnya.
"Huem... aku tahu! Jangan kan kau, aku saja menyesal. Jika aku tahu dibalik kesuksesan kita. Aya dan putrimu menderita seperti ini. Maka aku lebih baik mengantikan papi ku mejadi pengusaha." jawab Bara juga menyesali semuanya.
"Sekarang kau mandi saja di kamar Aya. Biar aku ambilkan pakaianmu di mobil. Tadi aku juga sudah mandi di sana." titah Bara memakai maskernya karena dia langsung pergi keluar untuk mengambil baju ganti Alvian.
Kleeek!
"Al, ini, cepatlah mandi. Selagi Aya dibelakang. Jika dia melihatmu masuk ke kamarnya bisa-bisa kau ditendang keluar," Bara tergelak diikuti oleh Alvian yang juga tersenyum kecil.
"Thanks, maaf aku jadi banyak merepotkan mu," Alvian menerima bajunya, karena mereka memang tidak akan pergi kemana-mana sebelum masalahnya dan Ayara selesai.
"Kau tidak perlu berterima kasih. Aku senang bisa melakukannya. Sehingga bisa ketemu keponakan ku lebih dulu. Apa kau tahu jika Hanan menyesal tidak bisa ikut mencari Aya. Bukan hanya dia, Naufal dan Sandy juga sama,"
"Apa kau sudah bilang jika kita menemukan tempat Aya?" tanya Alvian masih berdiri belum jadi membersihkan tubuhnya.
"Sudah! Aku bahkan membuat video pendek tentang keadaan di sini lalu aku kirimkan pada mereka."
"Lalu mereka bilang apa?"
"Kata Hanan setelah kita kembali dari konser Minggu ini. Dia akan datang ke sini untuk menemui Aya dan putrimu,"
"Eum... baiklah! Aku mandi dulu," karena takut jika Ayara sudah kembali ke depan. Alvian cepat-cepat saja masuk ke kamar mantan kekasihnya. Akan tetapi begitu masuk, dia termangu di tempatnya berdiri.
"Ya Tuhan... jadi ini kamarnya," Alvian hanya bisa mengepalkan tangannya erat. "Laki-laki seperti apa aku ini. Setelah menikmati tubuh Aya, aku meninggalkannya begitu saja. Bahkan aku tidak pernah berniat mencari tahu tentangnya." dengan langkah berat Alvian melangkah masuk kedalam kamar mandi.
"Maafkan papa Via... papa berjanji akan menebus semuanya." sambil mandi mengunakan gayung kecil Alvian masih juga berbicara di dalam hatinya.
Tidak lama, hanya beberapa menit kemudian dia sudah selesai dan menganti pakaiannya dengan yang baru. Soalnya takut bila Ayara kembali ke kamarnya.
"Al, kau sudah selesai," kata Bara menatap pada sahabatnya.
"Iya, mana kunci mobilnya. Aku mau menyimpan ini,"
"Itu di gantung dekat pintu." Bara menunjuk dengan tangannya. Lalu Alvian pun pergi keluar buat menyimpan baju kotornya.
...BERSAMBUNG......