I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Aku Mencintaimu. ( Alvian )



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Papa," ucap Vania menatap muka Alvian yang tersenyum seraya menyeka air disudut matanya.


"Iya, sayang! Ini Papa. Maafkan Papa sudah membuat Via dan mama menderita," kata Alvian terus meminta maaf pada putrinya. Meskipun Vania belum mengerti semua, tentang apa yang dia ucapkan.


"Papa Via," ulang si cantik ikut memeluk Alvian setelah memberikan botol susunya yang tinggal setengah lagi.


"Iya, Papa adalah papanya Via. Mulai sekarang Papa tidak akan pernah membiarkan Via dan mama berjuang sendirian lagi," Alvian dan Via terus berbicara.. Sehingga tidak tahu bahwa Ayara terisak kecil di balik tembok yang mengarah ke dapur


"Mulai sekarang Via tidak boleh manggil Om lagi, ya. Harus manggil Papa," pinta pemuda tersebut yang hatinya sedang merasa tidak karuan.


Mendengar kata yang tersemat untuknya membuat hatinya berbunga-bunga dan sekaligus sakit. Tadi Lula sudah menceritakan padanya, bahwa selama ini Ayara selalu dihina oleh beberapa orang tetangganya yang tidak suka pada Ayara, karena dia tidak memiliki suami.


Begitu pula dengan Vania, sang putri ternyata juga dihina hanya karena tidak memiliki papa. Andai Alvian tidak mengakhiri hubungannya dan Ayara, maka sudah pasti mereka hidup bahagia sejak dulu.


Tanpa harus menyakiti hatinya sendiri dan juga Ayara. Sehingga berimbas pada putri kecilnya juga.


"Via kenapa diam? Apakah tidak mau punya papa?" tanya Alvian karena Vania cuma diam seperti lagi berpikir sesuatu.


"Butan, Via mau puna Papa. Tapi tanti mama tangis lagi," jawab Vania yang ingat perkataan mamanya sebelum mereka tidur tadi.


Ayara mengatakan pada putrinya agar tidak meninggalkan dia, karena Vania sudah memiliki papa dan Vania berpikir mamanya menangis karena hal itu.


Walaupun benar, tapi apa yang ada dipikiran Vania tidak sama dengan hal yang sudah terjadi.


"Tidak! Mama tidak akan menangis lagi kalau Papa tidak membawa Via pergi dari mama. Jadi Vania jangan takut mama menangis," mungkin karena mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Sehingga Alvian tidak sulit mengerti perkataan putrinya.


"Bagaimana, Via mau kan?" Alvian kembali bertanya sambil ia dekap tubuh Vania yang duduk diatas pangkuannya.


"Ma--mau!" jawab Via masih ragu-ragu yang dimaklumi oleh Alvian. Putrinya dibesarkan oleh Ayara sendiri, jadi dia tahu jika Vania sangat sulit percaya padanya, yang tiba-tiba datang mengaku sebagai ayah Vania.


Cup, cup Muuuah!


Alvian memberikan ciuman pada wajah cantik sang putri.


"Terima kasih, Papa tidak akan membawa Via kemana-mana jika bukan sama mama. Jadi jangan khawatir mama akan menagis. Hanya karena Via memangil Papa dengan sebutan papa," dengan sabarnya Alvian menjelaskan yang sedikit membuat Vania mengangguk saja.


"Apakah aku memang harus memberi Alvin kesempatan untuk bertanggung jawab pada Vania? Jika aku tetap pada pendirian ku, aku takut dia malah merebut Vania dariku. Dia memiliki banyak uang, pasti akan menang." lirih Ayara masih menangis dibalik tembok sambil mendengarkan Alvian meminta putrinya memangil papa.


"Tapi hatiku sakit setiap kali melihatnya di televisi maupun seperti sekarang. Aku sudah sangat kecewa pada keputusannya.Dia sudah membohongi ku. Sangat sulit untuk percaya padanya. Walaupun dia sudah berkata tidak akan merebut Vania dariku."


Ayara terus menangis, tubuhnya yang berdiri sekarang sudah duduk dibawah dinding tempat dia menyaksikan Vania memanggil Alvian dengan sebutan papa.


Kalimat kata yang sederhana bagi orang lain, tapi sangat sakral baginya. Selama ini Ayara tidak pernah berpikiran jika suatu saat Vania bisa memanggil Alvian degan sebutan papa.


Jagan kan memiliki pikiran seperti itu, terpikirkan jika bisa bertemu langsung saja tidak pernah. Alvian sudah seperti bintang bersinar diatas langit.


Ayara dan putrinya hanya bisa memandang dari jarak jauh. Tidak mungkin sebagai penduduk bumi yang tidak memiliki apa-apa. Bisa datang ke angkasa hanya untuk mendatangi bintang tersebut.


Akan tetapi ternyata takdir orang, tidak ada manusia yang tahu. Dikarenakan pertemuan yang tidak disengaja mereka dua hari lalu. Membuat Alvian sendiri yang datang pada mereka dan meminta agar Vania memangilnya papa.


"Mama... tolong bantu putrimu agar tidak salah mengambil keputusan. Mama bilang selalu menemaniku kan. Jadi tolong Ayara, Ma. Aya benar-benar bingung harus mengambil keputusan seperti apa." gumam Ayara kembali berdiri karena dia akan kembali ke kamar. Takutnya jika Alvian dan Vania melihat dirinya.


Benar saja, tidak lama setelah dia kembali ke kamar dan baring diatas ranjang tempat tidur. Alvian sudah menyusul bersama putrinya.


"Via bobo ya, ini masih malam," ucap Alvian yang masih didengar oleh Ayara. Si ibu muda itu hanya berpura-pura tidur dengan posisi membelakangi Alvian.


"Papa mau bobo duga?" tanya Vania masih memeluk leher ayahnya.


"Iya, tapi papa akan tidur di kursi saja sambil menjaga mama," jawabnya tersenyum menatap Vania penuh cinta dan kasih sayang.


Dapat Alvian rasakan, bahagia saat mendapatkan tawaran dari Agensi untuk pertama kalinya. Tidak sebanding dengan rasa bahagia mendengar Vania memangilnya papa, bukan Om dan tidak takut padanya.


"Tidak bobo tama Via,"


"Tidak! Karena tempat tidurnya kecil, nanti tunggu kita pindah dari sini dan kita akan membeli tempat tidur yang besar," jawab ayah muda itu sambil membaringkan Vania diatas tempat tidur.


"Bobo ya, Papa tidak mau Via juga sakit seperti mama," lanjutnya lagi yang dianguki oleh Vania karena mata gadis kecil itu memang sudah mengantuk. Apalagi Vania habis minum susu satu botol besar.


"Iya, tapi puk-puk, Via," pinta si kecil membawa tangan ayahnya agar mengelus bahunya. Tentu saja dengan senang hati Alvian melakukannya, karena ini adalah pertama kalinya dia menidurkan sang putri.


"Kenapa dia seperti aku masih kecil, bila tidur bahunya harus dielus sama mama atau papa. Jika tidak, maka aku tidak akan tidur semalaman." gumam Alvian degan tersenyum kecil, karena dia dan putrinya begitu banyak kemiripan.


Setelah itu tidak lama, mungkin sekitar lima belas menit. Vania sudah tertidur lagi dengan nyenyak. Disamping mamanya yang hanya berpura-pura tidur.


Cup!


"Tidurlah! Papa akan menjagamu." ucap Alvian mencium kening Vania dan menyelimuti buah hatinya. Lalu dia menempelkan lagi punggung tangannya pada kening Ayara. Untuk mengecek suhu tubuh wanita itu.


"Syukurlah, panasnya sudah turun." ucap Alvian kembali duduk pada kursi yang sudah dia dekatkan sejak tadi.


"Huh!" pemuda itu menghembuskan nafas dalam-dalam. "Aya, maafkan aku, aku sangat menyesal," ucapnya lagi.


Lama Alvian hanya diam sambil memikirkan hal apa yang akan dia lakukan setelah ini. Akan tetapi beberapa menit kemudian, Ayara yang sama tidak bisa tidur. Akhirnya bangun dari posisi baringnya.


Dia duduk dengan helaan nafas berat dan berpikir, bahwa dia tidak bisa menghindari masalah mereka berdua. Ayara dan Alvian harus bicara karena ada Vania yang mengikat mereka.


"Apa kau mau minum? Atau mau---"


"Aku mau bicara padamu," sela Aya cepat. Mendapatkan perhatian dari Alvian, dia bukannya senang. Melainkan hatinya bertambah sakit.


Sebab saat mereka pacaran, Alvian selalu memberi perhatian yang sama. Akan tetapi semua itu tidak ada arti apa-apa, kala Alvian menemui kehidupan barunya. Jadi Ayara merasa hanya dipermainkan dan di beri harapan palsu.


"Bicara apa? Lebih baik besok saja. Kau masih demam," jawab Alvian yang tidak tahu jika tadi Ayara sudah mengetahui jika Vania memangilnya papa.


"Tidak! Aku tidak bisa menunggu besok," Ayara turun dari atas tempat tidur dan duduk di kursi yang hanya berjarak dua meter dari ranjang.


"Baiklah! Kita memang harus bicara dengan kepala dingin," imbuh Alvian pindah tempat duduk dihadapan Ayara. "Bicaralah! Aku akan mendengarkan kau bicara lebih dulu, karena di sini aku yang bersalah," titahnya mempersilahkan Ayara bicara lebih dulu.


Ayara tidak langsung bicara, dia hanya diam karena lagi menyusun kata-kata yang tepat.


"Apakah kau benar-benar menyayangi Vania? Apa kau melakukannya dengan tulus, atau hanya cuma penasaran karena wajah kalian yang mirip?" tanya Ayara sudah siap untuk mendengarkan jawaban Alvian, meskipun sangat menyakitkan untuk dirinya.


"Aya, aku sangat menyayangi Vania, mana mungkin hanya karena aku penasaran karena wajah kami yang mirip," jawab Alvian tanpa berbohong sedikit pun.


Bahkan mendengar pertanyaan Aya seperti itu, hatinya sakit sendiri. Alvian tahu Ayara bertanya seperti itu karena sudah tidak percaya padanya lagi.


"Mana aku tahu! Hati seseorang tidak ada yang bisa menebaknya." Ayara mengedikkan bahunya.


"Aku takutnya kau datang hanya ingin menyakiti putriku. Hanya ingin memberikan harapan palsu padanya. Jika memang kau melakukan ini karena rasa penasaran padanya dan kebetulan dia putriku. Maka aku mohon, pergilah dari kehidupan kami," lanjut Ayara lagi.


Dia berbicara tanpa menjatuhkan air matanya. Meskipun dadanya bagaikan dihantam batu besar. Dia harus kuat agar bisa menyelesaikan semuanya malam ini juga.


"Aya, aku tahu aku salah karena lebih memilih karierku daripada hubungan kita. Tapi aku sangat menyesal setelah melakukannya, bahkan itu jauh sebelum aku mengetahui tentang Vania." seru Alvian berusaha menjelaskan semuanya.


"Mana mungkin aku tega melakukan hal seperti itu pada putriku sendiri. Aku memang pernah memberikan harapan palsu padamu. Tapi aku tidak mungkin memberikan harapan palsu pada darah daging ku sendiri. Dia hadir karena hubungan terlarang kita. Aku benar-benar menyayangi Vania,"


Saat Alvian menyebutkan hubungan diantara mereka berdua. Ayara membuang arah pandangan matanya. Agar tidak menagis karena sakit hati. Hubungan dulunya dunia bagaikan miliki berdua, harus kandas dan itu bukanlah pilihan dirinya. Melainkan kemauan Alvian sendiri.


"Huem!" Aya berdehem untuk menenangkan hatinya. Lalu setelah itu dia kembali berbicara lagi.


"Kau sudah memiliki kehidupan mu sendiri, Alvin. Begitu pula dengan kami. Jika karena Vania darah daging mu. Banyak orang di dunia ini yang tidak harus saling mengenal, meskipun memiliki hubungan darah. Salah satunya adalah aku. Aku yang dibesarkan oleh Tuan Edward, bisa menjadi orang lain karena dia membuang ku," ucap Ayara tersenyum getir.


Namun, Alvian yang mendengarnya menahan sesak dihatinya. Dia sangat sakit mendengar perkataan Ayara. Akan tetapi dia tidak menyela perkataan wanita itu.


"Kau bisa memiliki anak dengan gadis lain, jadi biarkan Vania tetap menjadi putriku sendiri. Agar semuanya berjalan dengan baik-baik saja seperti mana semulanya. Kau dengan dunia mu, dan kami akan tetap seperti ini,"


"Aya, apa maksudmu? Apakah kau ingin bicara agar aku melupakan putriku sendiri? Jangan gila! Karena mana mungkin aku bisa melakukannya," seru Alvian menatap Ayara degan tatapan yang tidak bisa ditebak.


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu. Sehingga dia meninggikan nada suaranya. Setelah mendengar perkataan Ayara yang seolah-olah menyuruh dia membuat anak baru lagi dengan wanita lain.


"Alvin, kau jangan egois, kau hanya terobsesi karena wajah kalian mirip." seru Ayara balas menatap Alvian nyalang.


"Aku berkata seperti ini karena demi kebaikan kita semua. Agar tidak saling menyakiti, agar Vania tidak sakit hati kala dia hanya bisa memiliki papa seperti mana khayalan."


"Khayalan seperti apa maksudmu? Aku tidak pernah ingin menyakiti hati anakku sendiri, Aya. Aku sangat menyayanginya, apapun akan aku lakukan demi membahagiakan Vania."


Mendengar ucapan Alvian, langsung membuat Ayara tertawa sumbang. Hatinya geli sendiri mendengar semuanya.


"Apa kau berani membawa anakku pergi keluar dengan tidak memakai penutup wajah? Apa kau berani mengendong Vania di depan orang lain, atau keluargamu? Tidak! Kau mana bisa melakukannya karena ada jarak diantara kalian, Alvin. Bila seperti itu, apa kau pikir Vania akan baik-baik saja? Aku rasa tidak! Meskipun kau memberinya harta berlimpah." Ayara terdiam beberapa saat sebelum kembali berkata.


"Vania akan tetap tersakiti. Jadi daripada setelah dia besar dan mengerti, lebih baik dia merasakannya sekarang. Agar setelah besar, dia sudah kebal dengan kehidupan yang keras. Aku memang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuknya. Tapi setidaknya, aku tidak akan membuatnya merasa tidak dianggap," jelas Ayara yang sudah memikirkan selama dia berpura-pura tidur tadi.


"Siapa bilang aku tidak bisa melakukannya? Aku bisa mengedong Vania dan mengumumkan pada dunia, bahwa dia adalah putriku., asalkan kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," Alvian menjeda ucapnya sesaat lalu kembali bicara lagi.


"Apa kau pikir aku akan menyembunyikan Vania dari keluarga Rafael? Tidak Aya, aku akan membawa kalian ke keluargaku. Aku akan menepati janjiku dulu yang akan menjadikan mu, menantu dari keluarga Rafaela," jawab Alvian degan lantang.


Sampai-sampai Bara dan Lula terbangun mendengar suara mereka berdua. Namun, Bara dan Lula hanya duduk mendengarkan saja.


Deg!


Jantung Ayara berdegup kencang saat mendengar perkataan Alvian. Akan tetapi hanya seperkian detik kemudian dia sudah berbicara lagi.


"Apa maksudmu? Kau jagan gila dan asal bicara," seru Aya dengan wajah masamnya.


"Aku tidak bermaksud apa-apa dan aku memang sudah gila karena sampai saat ini masih mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Aya. Ayo kembalilah bersamaku ke kota S dan setelah tiba disana, baru kita menikah. Biarkan aku bertanggung jawab padamu maupun putri kita," jawab Alvian yang langsung mengungkapkan perasaannya.


Ya, perasaan! Setelah empat tahun berpisah, ternyata Alvian bukannya bisa melupakan Ayara. Namun, rasa cintanya justru semakin besar. Itulah alasannya yang tidak pernah tertarik pada gadis manapun, karena didalam relung hatinya sudah di tempati oleh satu nama.


Yaitu Ayara Febriani Jasmeen. Gadis yang menjadi cinta pertamanya sampai saat ini. Apalagi sekarang Alvian sudah memiliki buah hati bersama Ayara. Tentu rasa cintanya akan bertambah besar.


"Astaga! Albar, Ian mengungkapkan perasaannya pada Aya," seru Lula mengigit pinggir selimut yang ia pegang.


"Huem... aku sudah tahu jika hal ini akan dia ungkapkan. Kami semua tahu jika Alvian sangat mencintai Aya. Meskipun pada saat ditanya, dia selalu mengelak dan mengatakan baik-baik saja." jawab Bara tersenyum kecil, karena dia sangat senang bila Ayara dan Alvian kembali bersama.


"Tapi, jika Ian masih mencintai Aya, kenapa dia berpacaran dengan Alice? Bukannya menurut berita bahwa mereka akan segera menikah?" tanya Lula degan serius.


"Alvian dan Alice tidak pernah berpacaran. Berita tersebut karena kebetulan mereka berdua memiliki hubungan dekat dan gara-gara kalung yang Alvian pakai." jelas Bara sambil menguap karena matanya masih mengantuk.


"A--apakah kalung itu inisial nama Ara?" Lula semakin terbata-bata. Akan tetapi dia masih penasaran.


"Menurutmu? Kau sudah menderanya sendiri kan, bahwa Alvian sangat mencintai Aya dari dulu sampai sekarang," jawab Bara merebahkan lagi tubuhnya pada bantal tidur dan diikuti oleh Lula.


"Kalung itu adalah milik Aya yang dibeli oleh Alvian. Dari uang hasil konser pertama kami. Namun, saat memberikan kalung tersebut, hubungan mereka juga berakhir. Jadinya Aya mengembalikan hadiahnya." tutur pemuda itu karena dia sendiri yang menemani Alvian memesan kalung tersebut.


... BERSAMBUNG......