
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Setelah pembicaraan tadi siang. Ayara dan Alvian lebih banyak saling diam. Aya diam karena tidak ingin merasakan hal yang akan menyakiti hatinya lagi.
Sedangkan Alvian diam karena rasa bersalahnya. Alvian mengerti apa maksud perkataan ibu dari putrinya. Maka dari itu dia tidak banyak bicara karena tidak ingin memperkeruh suasana hati Ayara.
Saat makan siang juga mereka hanya saling diam. Bagaikan dua orang asing yang tidak saling kenal. Es-krim yang dibeli oleh Alvian tidak dimakan oleh Ayara. Dia hanya menyuapi Vania tanpa berniat untuk mencicipinya.
Begitu juga dengan barang-barang miliknya yang dibeli oleh Alvian. Wanita itu tidak menyentuhnya sama sekali. Seperti yang sudah dia katakan pada Alvian tadi siang. Bahwa Ayara tidak ingin bergantung pada kebaikan pria itu lagi, karena takutnya nanti akan kecewa untuk kedua kalinya.
"Papa pulang ya, Via tidak boleh nakal. Harus menurut sama mama," ucap Alvian yang sudah bersiap-siap mau kembali ke kota S. Sekarang mereka lagi berada di ruang tamu sederhana yang ada di dalam rumah itu.
"Papa pulang dagi, tan?" tanya si kecil dengan wajah sendunya. Sehingga hati Alvian sangat berat untuk pergi.
Andai saja Ayara mau pulang bersamanya. Maka Alvian sudah membawa mereka berdua. Akan tetapi untuk saat ini Alvian tidak bisa berbuat banyak. Apalagi tadi setelah mendengar ungkapan Ayara. Membuat Alvian takut perkataannya, menyinggung mantan kekasihnya itu.
"Tentu saja Papa akan kembali lagi. Namun, kapan pastinya Papa belum tahu," jawab Alvian tersenyum kecil.
"Tanti puyang nya bawa es tlim dagi," jawab Vania menyebutkan keinginannya.
"Tentu, nanti saat pulang Papa akan membawa es-krim yang banyak. Papa pergi sekarang ya," meskipun berat untuk berpisah. Akan tetapi Alvian tetap harus pulang karena ada pekerjaan penting yang harus dia lakukan.
Cup, Cup, Muuuah!
Pemuda itu mencium pipi putrinya berulang kali. Rasanya kaki Alvian tidak mau melangkah keluar dari rumah tersebut. Padahal Bara sudah menunggunya di dekat mobil.
"Papa sangat menyayangi mu, Papa berjanji akan cepat pulang ke sini lagi." ucap Alvian setelah memeluk erat putrinya.
Lalu dia berdiri menatap Ayara yang hanya diam melihat apa yang dia lakukan pada putri mereka.
"Aya, aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik. Jika semua urusanku sudah selesai, maka aku berjanji---"
"Pergilah! Kau tidak perlu berjanji akan kembali lagi atau tidak, karena dulu kau juga berjanji akan kembali untukku. Namun, setelah satu Minggu aku menunggumu. Kau datang hanya untuk mengucapkan perpisahan." sela Ayara sebelum mengedong Vania yang mulai menangis karena tiba-tiba saja gadis kecil itu tidak mau papanya pergi.
Deg!
"Aku sangat mencintaimu, bersabarlah! Perpisahan ini hanya untuk sementara. Setelah konsernya selesai, maka aku akan kembali untukmu." begitulah perkataan Alvian sebelum berpisah dengan Ayara di bandara. Tepatnya satu Minggu sebelum kandasnya hubungan mereka berdua.
Ternyata bukan hanya Ayara yang mengigat janji tersebut. Alvian pun juga masih mengingatnya.
Mendengar ucapan sang mantan kekasihnya. Membuat pemuda itu berjalan mendekati Ayara yang mengendong putrinya.
"Maafkan aku, aku tahu kata maaf ku tidak akan merubah apapun yang sudah terjadi diantara kita. Tapi kali ini nyawaku sendiri sebagai taruhannya." jawab Alvian menatap Ayara lekat.
"Apabila aku mengingkari janjiku pada putriku sendiri. Maka aku lebih baik mati daripada harus menyakiti kalian berdua lagi." Alvian berkata penuh keyakinan.
"Alvin," seru Ayara yang suaranya tercekat di dalam tenggorokan nya.
"Aya, aku tahu jika kesalahanku tidak bisa di maafkan. Tapi tolong beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis karena hal yang sama." ucap Alvian benar-benar serasa mau gila bila terus memikirkan kesalahan yang dia lakukan.
Di saat Ayara masih termangu degan pikirannya. Alvian langsung saja memeluk kedua wanita yang sangat dia cintai.
Cup!
"Tunggu aku kembali, aku akan membawamu dan putri kita pergi dari sini." sebelum melepaskan pelukannya. Alvian mengecup kening Ayara yang tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia sedang menggendong Vania.
Setelah berkata demikian. Alvian cepat-cepat keluar dari rumah tersebut. Sambil memasang masker penutup wajahnya. Soalnya bila tidak seperti itu, maka dia tidak akan jadi pulang ke kota S.
Sedangkan lusa dia beserta member ALV yang lainnya. Harus terbang ke luar negeri untuk melakukan konser mereka di sana.
"Mama, ayo liat papa," tunjuk Vania pada arah pintu yang masih terbuka lebar. Sehingga Ayara pun menuruti kemauan sang putri, agar berhenti menangis.
Begitu mereka berdiri di depan pintu masuk. Bara mulai menjalankan kendaraan mewahnya.
Tiiiin!
Tiiin!
"Mama, mau papa," ucap Vania menangis mengajak mamanya mengikuti mobil sang ayah yang pastinya sudah sangat jauh.
"Kita tunggu ya, Vania ingatkan pesan papa tadi. Dia akan datang sambil membawa es krim yang banyak," bujuk Ayara berusaha menenangkan putrinya yang masih ia gendong.
"Tapi lama, Via mau cekalang," si kecil tetap tidak bisa di bujuk meskipun sudah lebih dari sepuluh menit.
Sehingga benar-benar membuat Ayara kesusahan. Soalnya selama ini Vania tidak pernah menangis sampai seperti saat ini. Ingin meminta bantuan Lula, gadis itu tidak ada. Setelah makan siang tadi, dia ditelepon oleh orangtuanya dan disuruh kembali pada saat itu juga.
"Mama, mau papa. Tita tejal papa, ya," ajak Vania semakin menagis. Dua hari bersama membuat si cantik mulai terbiasa dengan kehadiran Alvian.
"Iya, nanti kita akan menyusulnya. Setelah Om Bara datang menjemput kita. Jadi sekarang Vania bermain bersama Boneka besar dulu, ya. Nanti jika melihat Vania menangis, dia juga ikut menangis." si ibu muda itu kembali membujuk putrinya.
"Boteka becal nya mana?" tanya Vania yang masih tersedu-sedu.
"Boneka besarnya ada di dalam kamar. Ayo kita lihat dulu. Mama khawatir dia menangis juga, sedangkan dia tidak memiliki ibu dan ayah." ajak Ayara, karena Vania percaya pada ucapan mamanya.
"Iya, tita liat boteka becal," Vania mulai melupakan papanya karena dia baru ingat jika sudah memiliki boneka besar.
Setibanya di dalam kamar. Vania minta di turunkan dan langsung mengajak bonekanya berbicara.
"Momo tama Asa tidak boleh tangis. Ada Via tama mama duga." ucap Vania memeluk bonekanya secara bergantian.
"Huh!" Ayara menghembuskan nafas kasar. Dia merasa lega karena akhirnya Vania bisa di bujuk juga.
"Alvin, jika satu kali ini kau berbohong lagi dan tidak menepati janjimu pada Vania. Maka aku akan membawa putri kita pergi jauh dari sini. Yaitu ke tempat yang tidak pernah bisa kau temukan lagi." gumam Ayara sambil memperhatikan Vania bermain.
*
*
Sementara itu di dalam mobil.
"Al, apa yang terjadi? Apakah kau dan Ayara bertengkar lagi?" tanya Bara sambil mengendarai mobilnya membelah jalanan ibukota yang sudah sore.
"Tidak! Hanya saja aku rasa tadi siang dia lagi cemburu." jawab Alvian melepas masker yang ia pakai, karena mereka sudah berada di dalam mobil.
Tidak akan ada yang bisa mengenali mereka berdua lagi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Aldebaran.
"Cemburu kenapa? Apakah karena kau berbicara dengan Alice?"
"Huem, sepertinya iya. Aku sangat mengenalnya. Jadi meskipun dia berbohong dan berkata jika tidak mencintaiku lagi. Tapi aku sangat yakin bahwa dia masih memiliki perasaan yang sama sepertiku." jawab pemuda itu sedikit tersenyum.
Agar bisa melupakan kesedihannya yang harus berpisah bersama si buah hati.
"CK, tidak mengenal bagaimana. Dia saja sampai kau buat hamil." decak Bara degan cibiran.
"Haa... ha... kau bicara apa. Itu kan dulu. Aku melakukannya karena takut kehilangan Aya. Tau-taunya aku sendirilah yang membuat aku harus kehilangan gadis yang aku cintai." Alvian tertawa sumbang.
Untuk menghilangkan kejenuhan. Mereka berdua terus bercerita.
"Lalu setelah pulang dari konser ini. Apa yang akan kau lakukan? Jika kau ingin memperjuangkan Aya, lalu bagaimana dengan hubungan mu dan Alice? Bukannya katamu, orang tua kalian juga berteman baik?"
"Entahlah! Aku tidak peduli tentang Alice. Dia dan aku tidak pernah memiliki hubungan apapun. Kami hanya berteman biasa, sama seperti kalian dengannya," jujur Alvian karena dia memang tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap wanita itu.
"Jika begitu, mulai sekarang kau jaga jarak dengan Alice. Jangan memberikan harapan palsu yang nantinya akan menyakiti putrimu dan Ayara. Mereka sudah cukup menderita, kita berdua sudah tahu sendiri seperti apa susahnya Ayara membesarkan Vania tanpa suami dan sanak saudara." Nasehat Bara yang tidak mau jika Alvian kembali menyakiti Ayara.
"Huem... kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku lagi memikirkan cara untuk bisa mendapatkan hati Aya lagi." jawab Alvian mengangguk setuju.
"Baguslah! Aku sangat berharap semoga kalian bisa menjadi sebuah keluarga. Jujur meskipun kau menelantarkan Aya dan putrimu. Aku sangat iri melihatnya," kata Bara baru menceritakan hal itu sekarang.
"Iri? Iri kenapa?" seru Alvian sampai memutar tubuhnya menghadap sahabatnya yang lagi mengendarai mobil.
"Ya, iri karena kau sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Vania sangat lucu dan menggemaskan. Melihat dia memeluk lehermu dan berkata papa Via mau ini. Aku merasa ingin seperti itu juga," ucap Bara tertawa memikirkan kekonyolannya.
"Mungkin itu semua karena kita tidak memiliki adik atau kakak perempuan. Soalnya aku juga merasa seperti itu." jawab Alvian ikut tersenyum.
"Al, bila kau berhasil mendapatkan hati Ayara dan menikahinya. Maka sudah pasti hidupmu akan semakin bahagia," imbuh Bara dan dibenarkan oleh Alvian.
"Jika kau ingin memiliki anak, maka ajak Ria menikah. Setelah itu dia kan masih bisa melanjutkan kuliahnya," usul Alvian.
"Agh, jika dia mau maka sudah dari dulu aku menikahinya. Tapi Ria menolak saat aku mengajaknya menikah. Soalnya dia mau menyelesaikan studinya lebih dulu." keluh Bara mulai goyah tentang hubungannya dan kekasihnya.
... BERSAMBUNG......