
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Setelah mengurus semuanya tadi siang Lula dibawa keluar dari rumah sakit. Namun, Tuan Abidzar sengaja tidak membawa wanita malang itu pulang ke kediaman Rafael. Tujuannya tentu saja supaya Bara tidak bisa menemuinya.
Bukan maksud mereka mau memisahkan pasangan suami-istri tersebut. Namun, hanya mau Bara memperjuangkan Lula apa adanya. Jadi kehamilan Lula juga disembunyikan.
Alvian berserta anak dan istrinya pulang ke rumah mereka sendiri. Namun, tidak dengan Nyonya Lili. Beliau bersama neneknya Alvian ikut ke rumah Lula yang baru. Ya, Tuan Abidzar membawa Lula ke salah satu rumahnya yang ada di dalam kota itu juga.
Jadi menjelang gadis itu sembuh dari rasa trauma maupun sakit. Nyonya Lili yang akan menjaganya. Seluruh keluarga Rafael mengecam keras tindakan Bara yang sampai hatinya menampar Lula.
Bahkan setelah melakukan kekerasan sudah berhari-hari tidak pulang. Padahal Lula dengan merendahkan diri memintanya pulang untuk menyelesaikan permasalah rumah tangga mereka.
Malam harinya Bara melakukan makan malam romantis bersama Ria. Atas permintaan Nyonya Marry. Wanita itu semakin menjadi-jadi untuk menyatukan putranya dan Ria.
Tanpa mereka ketahui dari satu sudut restoran, ada anak buah Tuan Abidzar yang telah memotret lalu foto tersebut dikirimkan pada Tuan Abidzar. Membuat beliau semakin bertekad untuk menyembunyikan Lula.
"Bara... terima kasih untuk dinner malam ini." ucap Ria begitu mereka duduk didalam mobil.
"Berterima kasih pada mamaku karena dia yang melakukannya." jawab Bara yang tidak pernah banyak bicara karena pikirannya masih terngiang-ngiang pesan dari sang istri yang mengatakan jika lagi sakit dan memintanya untuk pulang.
"Huem, iya. Aku tahu jika Tante Marry yang mengaturnya. Namun, aku tetap mau berterima kasih karena kau sudah mau datang."
"Ria, jangan berharap apapun dari hubungan kita karena aku sudah beristri." Bara langsung mengatakannya karena memang begitulah kenyataan yang sudah terjadi.
Dia sudah memiliki istri dan jika pun akan bercerai tentu harus melalui proses. Sebab mereka menikah sah secara hukum agama.
"Mau sampai kapan kau membohongi dirimu sendiri, Bar. Aku tahu kau masih mencintaiku, kan?" Ria menyebut lembut tangan Bara yang sedang menyetir mobilnya.
Pemuda itu tidak melarangnya dan hanya fokus pada jalan menuju rumah Ria. Sang mantan kekasih yang terus mengajak kembali bersama.
"Lagian setelah apa yang Lula lakukan padamu selama ini, kau masih mau juga bersamanya? Ingatlah Bar, jika dia benar-benar mencintaimu maka tidak akan meminum obat pencegah kehamilan." Bara mengegam erat stir mobil. Pertanda jika dirinya masih marah pada sang istri yang dianggap bersalah.
"Ayolah! Jangan bodoh! Kau adalah salah satu aset negara. Tidak sepatutnya Lula bersikap demikian padamu. Diluar sana puluhan ribu, bahkan jutaan para gadis terhormat yang mau menjadi istrimu. Namun, kau menikahinya secara diam-diam. Akan tetapi dia tidak ada menghargai dirimu." ucap Ria berusaha untuk menjadi benalu dalam pernikahan Bara dan Lula.
"Ria, kita sudah sampai, turunlah!" hanya itulah jawaban Bara. Akan tetapi dari suara maupun raut wajahnya siapapun tahu bahwa pemuda itu sedang marah.
"Oke! Aku turun dulu dan... terima kasih." kata Ria bersiap mau turun. Namun, setelah pintunya terbuka.
Cup!
Ria mencium pipi Bara sekilas. Hal yang sering dia lakukan saat mereka masih berpacaran dulu. Gadis itu tersenyum kecil sambil berjalan masuk ke rumahnya. Melihat Bara hanya diam membuat harapan Ria semakin besar.
Bara yang pikirannya kembali kacau memutar arah setir mobilnya menuju rumahnya dan Lula. Akan tetapi begitu sampai rumah tersebut terlihat gelap.
"Tumben sekali lampunya dimatikan?" ucap Bara turun dari mobilnya. Dia masuk mengunakan kunci serep dan tidak bertanya pada kedua penjaga rumahnya.
Ceklek!
Suara pintu dia buka dan tutup lagi. Mengunakan penerangan dari luar rumah Bara menyalakan lampu di dalam rumah tersebut. Dia melihat kearah meja kaca yang sudah dia tendang beberapa hari lalu. Namun, pecahan kacanya sudah dibereskan.
"Huh!" Bara menghembuskan nafas dalam-dalam. "Jadi dia membohongiku lagi? Berpura-pura sakit supaya aku pulang." tebaknya penuh emosi.
Dengan langkah tergesa-gesa Bara menaiki lantai atas. Yaitu untuk ke kamar mereka. Akan tetapi pintu kamar terbuka lebar dan lampunya juga mati.
"Lula!" panggil Bara karena merasa ada yang aneh. Tidak biasanya sang istri tidur dalam keadaan gelap dan pintu kamar tidak ditutup. Setelah dia menyalakan lampu kamar barulah tidak terlihat ada penghuninya.
"Lula kemana?" mencoba menghubungi sang istri. Akan tetapi nomornya sudah tidak aktif.
"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak digunakan. Silahkan hubungi lagi nanti atau tinggalkan pesan."
Begitulah bunyi pesan dari operator saat Bara mencoba menghubungi istrinya berulang kali.
"Lula pergi kemana?" mulai merasa was-was dan cepat-cepat berlari turun untuk bertanya pada penjaga rumah.
"Tuan Muda, ada yang bisa kami bantu?" tanya Bara cepat.
"Nona Lula pergi tadi pagi mengunakan mobil taksi." jawab si penjaga yang sudah di temui oleh anak buah Tuan Abidzar.
"A--apa? Pergi kemana? Bersama siapa?" seru Bara terbata-bata.
"Nona pergi sendiri dan kami tidak tahu juga karena nona hanya menitipkan kunci rumah. Katanya nona lagi sakit," dusta pengawal satunya sesuai instruksi dari Tuan Abidzar.
"Oh, baiklah! Kira-kira jam berapa dia pergi dari rumah. Arahnya ke mana?"
"Kira-kira jam setengah tujuh pagi dan arahnya ke sana. Mungkin ke rumah sakit terdekat, Tuan." kedua pengawal itu silih berganti menyampaikan berita bohong.
"Kalian tutup pintunya karena aku mau melihat nona di rumah sakit." kata Bara berjalan kearah mobil. Rasa khawatir menyelimuti hati pemuda tampan itu.
"Lula... kau sakit apa? Maafkan aku!"
Gumamnya menjalankan kendaraan tersebut semakin kencang. Agar cepat sampai dan mencari tahu keberadaan sang istri.
Akan tetapi setelah dia bertanya di rumah sakit istrinya tidak ada datang. Padahal sudah jelas Lula keluar dari sana siang tadi.
"Aya, ya pasti Lula ada disana." akhirnya Bara masuk lagi ke mobil dan pergi kerumah sahabatnya. Baru saja sampai dan handak menanyakan Lula. Alvian langsung memukuli wajah Bara.
Bug!
Bug!
Bogem mentah terus diberikan Alvian pada wajah tampan Bara. Ayara yang melihatnya tidak berniat untuk memisahkan. Pasangan suami-istri itu semakin marah setelah tahu jika malam ini Bara makan malam romantis bersama Ria.
"Laki-laki seperti apa kau yang beraninya menyakiti seorang perempuan?" seru Alvian menarik kerah baju Bara.
"Alvin, kau tidak tahu apa yang sudah terjadi. Kau pun akan marah bila ibumu disalahkan begitu saja."
"Jika mamaku memang bersalah kenapa aku harus membelanya. Kenapa aku harus marah dan berpihak pada kesalahan." jawab Alvian tersenyum mengejek.
"Apa maksudmu? Aku---"
"Kau salah karena berpihak satu orang dan membiarkan satu pihak tersakiti." sela Alvian lagi. Dia sengaja berkata seperti itu supaya Bara sadar akan kesalahannya.
"Aku---"
"Aku kecewa padamu, Bar. Kau membiarkan Lula sakit dan menghabiskan waktumu bersama Ria." kata Alvian.
"Lula tidak ada disini, jadi pergilah!" lanjutnya lagi.
"Kemana dia? Apaka---"
"Dia pergi untuk menenangkan hatinya. Lagian untuk apa Kakak mencarinya jika sudah ada penganti Lula," Ayara ikut berbicara.
Tahu jika mungkin waktunya tidak tepat. Bara akhirnya memilih pergi. Dia memang tidak membalas pukulan dari Alvian. Sebab tahu dia sudah keterlaluan.
... BERSAMBUNG... ...