
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Baiklah! Tapi tolong temani Aya sampai ke tempat persiapan," ucap Kak Mauza karena dia masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan.
"Aku penasaran, apa yang ingin mereka lakukan padaku. Kenapa begitu ngotot mau menemani ku." gumam Ayara yang berpura-pura sok polos.
"Alice, Rima, ayo jika kalian mau kebelakang panggung juga," ajak Ayara degan wajah seimut mungkin. Sehingga Alice dan Rima langsung mengiyakan.
Lalu mereka bertiga berjalan secara beriringan. Namun, setelah hampir sampai kebelakang tempat member ALV istirahat. Alice menarik pergelangan tangan Ayara. sehingga membuat ibu muda itu berhenti pada tempatnya berdiri.
"Ayara, tunggu!" serunya tiba-tiba.
"Huem, iya. Ada apa?" tanya Ayara yang sudah sangat yakin jika Alice pasti ingin melakukan sesuatu padanya.
"Apakah kau tidak penasaran seperti apa hubungan aku dan Ian selama ini?" ucap Alice dan dianguki oleh Rima.
"Hubungan yang mana? Bukannya kau dan suamiku berteman satu agensi?" Aya balik bertanya dengan menyugikkan senyum kecil disudut bibir atasnya.
"Hubungan kami yang bukan diatas panggung ataupun hubungan sebagai teman satu panggung saja," jawab Alice yang mengira akan sangat mudah untuk mempengaruhi Ayara.
"Apakah hubungan pribadi kalian maksudmu?" tebak Ayara yang langsung dianguki oleh Alice.
"Iya, tebakan mu benar sekali," sahut wanita itu yang belum tahu apa maksudnya ingin memberitahu hubungan dia dan Alvian. Namun, Aya tetap seakan-akan dia hanya gadis bodoh.
"Apakah kau ingin bilang jika hubungan kalian seperti yang diberitakan itu adalah benar?" Aya kembali menebaknya.
"Iya benar sekali. Ayara, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menceritakan perbuatan kami selama ini. Namun, setiap kali melihat wajahmu aku merasa bersalah, karena jujur. Jika bukan Alvian lebih dulu merayuku, maka aku tidak akan mungkin mau melakukan... Agh! Sudahlah!" seru Alice seperti mana orang menyesali perbuatannya. Sehingga merasa berdosa.
"Apakah hubunganmu dan suamiku sampai sejauh itu?" si ibu muda tersebut kembali bertanya.
"Ayara, tolong maafkan aku. Bukannya aku wanita murahan mengganggu pria beristri. Namun, aku tidak tahu bahwa Alvian sudah menikah denganmu. Sehingga di saat dia mengajak aku berpacaran dan menjalin hubungan seperti mana pasangan suami istri. Aku mau saja karena tidak bisa menolaknya," ucap wanita itu semakin mengada-ngada akan ucapannya.
"Apa? Wah! Alice, Alvin ku telah berbuat sejauh ini padamu? Brengsek! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa dia tega berkhianat seperti ini," seru Ayara yang sudah menampilkan wajah dinginnya.
"Ayara, tolong maafkanlah kesalahan sahabatku. Dia hanya korban dari rayuan gombal suamimu," ujar Rima yang telah merencanakan hal tersebut dengan sangat matang.
"Agh! Tidak apa-apa. Kau hanyalah korban dari perbuatan suamiku. Jadi tidak perlu merasa bersalah," imbuh Aya kembali bicara tenang. Seperti mana Alice bersandiwara, maka hal itu jugalah yang ia lakukan saat ini.
"Ayara, kau mau kan memaafkan aku yang telah menjadi selingkuhan suamimu? Walaupun itu dulu sebelum hubungan kalian di publish kan. Tetap saja aku merasa sangat berdosa kepadamu karena kita adalah sesama wanita," ucap Alice semakin pandai bermain drama. Yaitu untuk membuat fitnah yang sedang dia ciptakan agar hubungan Ayara dan Alvian bermasalah.
"Iya, aku sudah memaafkan mu. Kau tidak bersalah begitu pula dengan suamiku. Aku bisa memaklumi kenapa dia seperti itu," jawab Ayara tersenyum menyeringai karena dia tahu bahwa Alice hanya ingin memfitnah Alvian.
"Tapi---"
"Tenanglah! Aku sudah memaafkan mu dan juga sangat mengerti posisi kalian. Suamiku sangat sempurna. Jadi bukan salahmu bila menyukai suamiku, kan?" sela si ibu muda itu degan tenang nya.
"Tapi sekarang kau sudah tahu bahwa Alvian telah memiliki istri dan juga seorang putri. Jadi mulai dari sekarang tolong jauhi suamiku. Apa yang sudah terjadi di antara kalian di masa lalu, aku sudah memaafkannya. Mari kita sama-sama memulai semuanya dari awal," setelah berkata seperti itu Ayara langsung berjalan kearah tempat yang dia tuju dan mingalkan Alice dalam keadaan menahan amarah.
"Brengsek! Rima, apa ini? Bagaimana kau menyuruhku berkata seperti itu? Ini sama saja aku menunjukan bahwa aku sudah menyukai Ian," umpat Alice menatap kesal pada sahabatnya.
"Ais, tenanglah! Aku mana tahu bahwa dia tidak akan marah. Seharusnya Ayara akan marah pada Alvian kan. Tapi ini kenapa dia malah degan santainya menyuruh kau menjauhi suaminya," Rima yang membuat usul seperti itu ikut mengusap wajahnya kasar.
"Ini semua salahmu. Awas ya, jika sampai dia mengadu pada Ian dan malah membuatku semakin sulit mendapatkan pemuda yang aku cintai," seru Alice yang ikut menyusul Ayara keluar dari lorong khusus untuk dilewati oleh para staf dan kru serta bodyguard saja.
"Alice, tenanglah! Kita masih ada cara lain. Bukannya besok malam masih ada acara peresmian acara yang akan diisi oleh Ayara dan Ian. Kau suruh seseorang agar bisa mempermalukan wanita murahan itu," ucap Rima yang terus saja memprovokasi Alice agar terus memusuhi Aya.
"Iya, aku tidak akan kalah bila hanya seperti ini saja. Aku harus melakukan sesuatu agar bisa mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku," putus Alice setuju pada ucapan sahabatnya.
Sementara itu di tempat khusus untuk member ALV bersiap-siap. Alvian baru saja turun dari panggung dan langsung mendekati istrinya.
"Sayang, maaf sudah membuatmu menunggu," ucap si tampan memberikan pelukan untuk sang istri.
"Iya, tidak apa-apa. Kau keren sekali," puji Ayara tersenyum bahagia. Bukannya marah seperti yang diinginkan oleh Alice.
"Aku keren karena ada istriku yang menonton," bukan Alvian namanya bila tidak bisa membuat Ayara tersenyum semakin lebar setelah mendengar ucapnya.
"Benarkah? Wah kalau begitu aku ini keberuntungan bagi para fans ALV," jawab Ayara yang sudah kembali duduk bersama Alvian didampinginya.
"Aya, bagiamana? Apakah kau sudah melihat dan mendengar seperti apa suamimu diteriaki oleh para gadis dan istri orang," ucap Sandy yang langsung dilempar oleh Alvian mengunakan bantal sofa.
"Apa yang kau bicarakan. Mereka bukan hanya berteriak memanggil namaku saja. Tapi semua member," seru Alvian yang tidak ingin membuat Aya cemburu dan marah.
Walaupun dia tahu Ayara tidak akan cemburu buta seperti itu. Namun, rasa cintanya pada sang istri. Membuat Alvian mencoba untuk menjaga hati istrinya agar tidak terluka lagi.
"Haa... ha... kau takut juga rupanya," tawa Bara diikuti oleh para member ALV yang lainnya.
"Al," ucap Ayara degan suara manjanya karena melihat kedatangan Alice bersama dengan Kak Mauza.
"Iya, apa sayang? Kita akan kembali ke hotel sebentar lagi,"
"Aku... ingin kita hanya menghabiskan waktu di hotel saja setelah ini. Kau tidak ada acara lain lagi, kan?"
Cup!
"Tentu saja tidak ada lagi. Setelah ini aku juga hanya ingin menghabiskan waktu di dalam kamar hotel bersama mu," jawab Alvian setelah mengecup bibir Ayara dihadapan Alice dan teman-temannya.
"Alice, kau ingin merebut suamiku, kan. Mari aku tunjukan bahwa Alvin hanya milikku. Akan aku buat kau menyesal karena telah mencari gara-gara padaku." Ayara tersenyum menyeringai kearah Alice yang malah menatapnya tajam.
"Agh, kalian ini selalu membuat orang lain iri," ucap Kak Mauza mulai tidak heran lagi melihat keromantisan Alvian dan Ayara.
Sebab dinegara mereka berciuman adalah hal biasa. Apalagi jika sudah pasangan suami istri. Malah pasangan seperti itu menjadi idaman para anak muda yang belum menikah. Agar bisa memiliki pasangan romantis juga.
... BERSAMBUNG... ...