I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Seperti Negeri Dongeng.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Ceklek!


Suara pintu kamar mandi dibuka pelan oleh Ayara yang baru selesai membersihkan tubuhnya. Jam sudah pukul empat lewat tiga menit. Sudah saatnya mereka bersiap-siap meninggalkan hotel.


Soalnya penerbangan seluruh member dan para Staf berserta kru adalah jam setengah lima. Untungnya dari hotel ke bandara hanya lima belas menit sudah sampai. Karena jalan untuk mereka lewat sudah dikosongkan satu jalur khusus.


Hari ini keamanan pun semakin ditingkatkan. Staf Muzaki yang tahu jika Alice memiliki masalah pribadi dengan Alvian dan Ayara pun langsung memutuskan tidak akan pulang bersama.


Bukan hanya itu, Agenci AX Si langsung mengajukan pemutusan kerjasama dengan Agenci yang dinaungi oleh Alice karena mereka memang diibaratkan menumpang ketenaran dari Agenci AX Si, yang terkenal karena member ALV.


Jadi sudah pasti Agensi AX Si tidak mau ambil resiko yang dikira kacang lupa kulitnya. Daripada mempertahankan Alice yang hanya butiran debu. Lebih baik mereka menjaga permata berharga seperti member ALV.


Terutama Alvian. Apabila tidak cocok pada peraturan manggungnya saja. Maka dia berani menutut orang yang mengundang mereka. Intinya Alvian tidak suka dengan hal yang membuatnya tidak nyaman.


Tidak bisa dipungkiri. Selain anak pengusaha kaya raya. Walaupun tidak bernaung di Agensi AX Si. Alvian masih tetap menjadi aset negara. Jadi siapa yang akan rugi bila berani macam-macam pada member ALV.


Alvian dan keempat sahabatnya bertahan pada group boyband ALV hanya karena mereka sangat mencintai fans ALV. Seperti mana mereka dicintai dan diberikan dukungan setiap kali ada heater yang mengisukan berita miring tentang mereka semua.


Jika ada yang berani mengusik kelima pemuda tampan tersebut. Maka jangan salahkan bila itu pengusaha maupun dari Agensi lain. Akan berhadapan dengan fans ALV. Bukan pada member nya. Aneh? Tapi itulah kenyataannya.


Seperti saat ini semua orang sudah tahu jika Ayara tengah hamil muda. Bak lagi mengandung calon pewaris kerajaan besar. Segala bentuk kesehatan saat di pesawat nanti, juga telah disiapkan oleh pihak Agensi AX Si.


Pihak mereka memang tidak tahu bahwa kehamilan Ayara adalah berita yang sengaja dibuat oleh Alvian. Soalnya entah apa yang terjadi sehingga dia membuat sebuah lelucon seperti saat ini.


"Sayang, ini pakaianmu," ucap Alvian malah sebaliknya sudah menyiapkan pakaian untuk istrinya. Termasuk Bra dan CD Ayara juga ia siapkan.


Sungguh kesabaran Ayara saat diberikan ujian hamil luar nikah, di usir dari rumah dan harus hidup tanpa suami, sambil membesarkan anaknya seorang diri. Kini tinggal menikmati kebahagiaan saja dari kesedihannya selama ini.


"Alvin, kenapa kau malah menyiapkan semuanya? Aku bisa sendi---"


"Shuuit! Tidak apa-apa. Ayo pakailah. Setelah kau bersiap-siap kita akan menyusul yang lainnya karena saat ini mereka sudah menunggu di Lobby," sela Alvian berdiri dari tempat duduknya dan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ayara yang terlihat begitu menggoda.


Namun, untuk saat ini Alvian tidak boleh egois karena dia tidak mau Ayara sampai sakit dan lagi pula mereka mau pulang ke kota S.


"Ayo pakai," titahnya membantu Ayara memakai semuanya. Setelah itu ia tuntun agar Ayara duduk di depan meja rias dan dia langsung mengeringkan rambut panjang Aya mengunakan alat pengering rambut.


"Al..." ucap Ayara sambil menatap wajah tampan suaminya yang begitu sempurna.


"Huem, iya sayang?" jawab pemuda itu tanpa menoleh karena lagi fokus pad pekerjanya.


"Terima kasih!"


"Terima kasih buat apa?" Alvian balik bertanya dan dia menyimpan kembali alat tersebut pada tempatnya.


"Terima kasih karena kamu begitu baik padaku. Terima kasih karena dirimu sudah mencintaiku sejak dulu sampai saat ini," jawab Aya terus menatap pantulan suaminya.


"Jujur, dulu saat sebelum kita dipertemukan kembali, aku tidak pernah berani untuk berandai-andai bila Vania mengetahui siapa ayah kandungnya. Aku tidak berani melihat wajahmu di manapun tempatnya. Karena aku selalu merasakan sakit bila sudah melihat mu. Aku---"


Cup!


"Kita sudah sepakat bukan bahwa tidak akan membahas hal ini lagi. Jadi tolong jangan diingat walaupun sangat tidak mungkin untuk dilupakan. Namun, aku tidak mau kau bersedih karena masa lalu kita," sela si tampan Alvian mengecup bibir ranum ayara.


Agar gadis itu tidak bicara hal yang membuat mereka sama-sama terluka karenanya.


"Bukan hanya dirimu saja yang merasakan hal itu. Aku seperti mana sudah membunuh seseorang. Setiap malam tidak pernah bisa tidur nyenyak karena ingat dirimu dan setiap aku pergi konser juga merasakan hal yang sama," lanjut Alvian yang mulai menyisir rambut istrinya.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Apabila sudah sukses akan membawamu kemanapun aku konser. Nyatanya semua itu aku hancurkan sendiri dengan sebuah tanda tangan kontrak. Jadi aku mohon jangan diingat lagi, ya," Alvian berjongkok dihadapan Ayara menatap lekat wajah cantik istrinya.


"Alvin," seru Ayara langsung memeluk suaminya. Sehingga Alvian pun ikut membalas pelukan tersebut.


"Sudah ya, jangan bersedih dan membahas sesuatu yang kita tahu sangat menyakitkan. Sekarang selesaikan bersiap-siap mu karena kita akan berangkat," ucap pemuda itu kembali berdiri.


Ayara hanya mengangguk dan memoleskan sedikit bedak pada wajahnya. Tidak lupa Ayara juga memakai lipstik pada bibirnya.


"Sudah, Al. Ayo kita berangkat sekarang," ajak Ayara yang tidak pernah berdandan menor seperti wanita feminim lainya.


"Iya, ayo," Alvian yang sudah bersiap-siap sejak tadi langsung mengandeng tangan sang istri keluar dari kamar hotel dan begitu mereka keluar tentu ada Manejer yang akan membawa barang-barang milik keduanya.


Setibanya di lobby. Berhubung hanya tinggal menunggu mereka berdua. Jadinya semuanya langsung check out meninggalkan hotel tersebut.


Selama dalam perjalanan. Ayara terus berada dalam dalam pelukan suaminya. Tidak banyak bicara karena Ayara hanya mendengarkan Alvian dan sahabatnya bercerita saja.


Tidak lama dan tak sampai lima belas menit nyatanya mereka sudah sampai, karena tidak ada hambatan saat berangkat dari hotel maupun dalam perjalanan. Karena sebelumnya sudah dilakukan gladi resik. Yaitu pembersihan jalur yang akan dilewati member ALV.


"Ayo," seperti biasanya. Alvian membantu Ayara turun dari mobil. Sehingga keromantisan mereka semakin membuat iri dunia halu.


Sekarang saja Alvian begitu memanjakan Ayara. Lalu akan seperti apa bila ibu satu anak itu benar-benar mengandung benih Alvian yang kedua kalinya.


Sudah pasti Ayara lebih dimanjakan lagi. Soalnya apa yang Alvian lakukan saat ini untuk membahagiakan istrinya. Agar waktu empat tahun lalu bisa dilupakan oleh Ayara.


"Ian... Nona Ayara! Tolong terimalah ini untuk calon anak kalian. Aku mohon," teriak seorang wanita hamil besar yang merupakan fans ALV juga.


Sehingga membuat Ayara menahan pergelangan tangan suaminya dan berkata. "Alvin tolong terimalah pemberian kakak itu. Aku mohon,"


"Tapi---"


"Aku tahu rasanya hamil dan mengidam itu seperti apa. Jadi bagaimana bila dia lagi mengidam ingin memberimu hadiah," sela Ayara menatap suaminya yang pasti tidak mungkin Alvian bisa menolaknya.


"Baiklah! Apa yang tidak untuk istriku," Alvian tersenyum sambil mengelus kepala istrinya. Lalu dia menatap pada Denis. Si bodyguard pribadinya dan berkata.


"Denis, tolong bawa kakak itu kemari. Aku ingin dia bertemu Aya secara langsung," ucapnya lagi berhenti di depan bandara karena wanita hamil itu berteriak memanggil namanya yang disertai tangisan bahagianya.


Sehingga membuat Ayara menoleh kearah wanita itu. Bila dia hanya berteriak kecil seperti fans lainnya tentu tidak akan membuat Ayara melihatnya.


"Baik Tuan Muda," jawab Denis langsung berjalan mendekati wanita hamil yang umurnya mungkin sekitar tiga puluh dua tahunan.


Tidak jauh dari posisi Alvian dan Ayara saat ini. Namun, pengawalan yang sangat ketat tentu tidak bisa membuat siapapun mendekati sang artis. Melihat Alvian dan Ayara berhenti, tentu member ALV yang lainya ikut berhenti juga.


"Nona Ayara, maukah kau menerima hadiah dariku? Ini memang tidak ada harganya. Namun, aku membelinya dengan uang tabungan karena setelah mendengar dirimu juga hamil, aku tiba-tiba ingin memberimu hadiah ini," ucap wanita hamil itu yang tidak bisa bicara dengan benar karena begitu merasakan bahagia. Bisa bertemu dengan jarak hanya sekitar setengah meter dari sang idola beserta istrinya.


"Tentu saja aku mau. Seharusnya Kakak tidak perlu memberiku hadiah ini. Oya, tadi Kakak bilang membeli hadiah ini dengan uang tabungan. Apakah Kakak tidak memiliki suami?" tebak Ayara degan suara lembutnya.


Apalagi digurat wajah wanita itu terlihat memiliki begitu banyak kesedihan pada batinnya.


"Nona bisa menebaknya?" seru wanita itu menunduk sedih. Dapat Ayara lihat bahwa ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.


"Tentu saja. Kita adalah sama-sama seorang wanita yang memiliki hati. Ayo kita masuk saja dan berbicara didalam ruang tunggu," ajak Ayara menyentuh bahu wanita itu.


Sehingga membuat semuanya terbengong merasa heran. Untuk apa juga membawa wanita yang terlihat miskin itu masuk kedalam. Apabila mau menerima hadiahnya, maka tinggal ambil saja. Begitulah kira-kira yang ada dibenak semua orang. Termasuk Alvian sendiri juga berpikiran seperti itu.


"Tapi Nona---"


"Saya mohon, ayolah kita bicara di dalam karena ini mungkin kemauan bayi yang Saya kandung," dusta Ayara demi si ibu hamil mau mengikutinya masuk kedalam.


"I--iya, baiklah," jawab wanita itu tersenyum canggung.


"Ayo kita masuk. Aku sangat lelah bila berdiri terlalu lama," ajaknya pada sang suami yang hanya mengangguk tidak protes apapun.


"Bara, ayo," ajak Hanan karena Bara masih diam menatap kepergian Ayara yang berjalan lebih dulu daripada mereka.


"Iya," pemuda itu menjawab singkat.


"Kau kenapa? Apa ada yang kau takutkan?" Hanan kembali bertanya karena dia dan Bara berjalan saling beriringan dengan pengawalan sama-sama ketat dari member ALV yang lainya.


"Tidak ada apa-apa. Aku rasa Aya benar-benar lagi hamil," bisik Bara takut ada yang mendengar ucapan mereka.


"Baguslah jika memang benar. Ayo cepat jalan. Aku penasaran apa yang ingin dia lakukan pada wanita itu," sambil mengobrol kedua pemuda itu terus saja mengobrol.


Begitu mereka masuk kedalam ruang tunggu sebelum melakukan penerbangan karena untuk umum sedang di tutup. Ayara sudah duduk disebelah suaminya. Sedangkan di hadapan mereka ada si ibu hamil tadi.


"Suami Kakak kemana?" hal pertama yang Ayara tanyakan.


Sebelum menjawabnya wanita itu menatap pada Ayara dengan perasaan tidak menentu.


"Jika Kakak tidak mau bercerita tidak apa-apa. Saya tidak akan memak---"


"Dia sudah menikah lagi. Setelah tahu Saya hamil," jawab wanita itu cepat.


Deg!


"Jadi tebakan ku benar bahwa kakak ini memiliki begitu banyak masalah." gumam Ayara seakan ikut merasakan sakit seperti perasaan wanita itu.


"Apakah dia sudah menceraikan Kakak?" Aya kembali bertanya.


"I--iya, pada hari itu juga dia sudah menceraikan Saya, karena orang tuanya tidak pernah merestui hubungan kami. Jadi karena tidak mau memiliki keturunan dari wanita miskin. Makanya dia membuang Saya," wanita hamil itu tadinya hanya diam tidak menangis. Akan tetapi sekarang dia terisak kecil.


Untungnya kamera wartawan tidak ada yang boleh masuk kedalam bandara. Jadi hanya ada para member ALV beserta pasukan dari Agensi AX Si saja yang tahu. Akan tetapi mereka hanya diam tidak ikut campur apa yang akan istri Alvian lakukan.


Jangankan orang lain. Alvian saja tidak berani ikut campur apa yang akan istirnya lakukan.


"Apakah ini hamil anak pertama Kakak dan apakah Kakak memiliki keluarga lainya?" Ayara kembali bertanya.


"Tidak! Saya hanya sendiri karena kedua orang tua Saya sudah meninggal dunia. Anda benar sekali, ini adalah hamil anak pertama Saya," meskipun sambil menagis wanita itu terus saja menjawab pertanyaan Ayara.


"Jagan menangis. Kakak berhak bahagia dan jangan pernah menangisi laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab pada dirimu yang lagi hamil," Ayara berdiri dari tempat duduknya.


Lalu dia sedikit menundukkan tubuhnya dan langsung memeluk wanita hamil itu tanpa ada rasa jijik ataupun sebagainya.


"Ayo ikutlah bersama kami. Nanti semuanya biarkan orang-orang suami Saya yang mengurusnya. Kakak mau kan?" tanya gadis itu merenggangkan pelukan mereka dan menatap pada wanita hamil itu penuh rasa kasihan.


"Tapi... Nona, Saya tidak mau merepotkan, Anda. Saya datang kemari benar-benar ingin---"


"Sekarang tolong Kakak jawab dengan jujur. Apakah Kakak tidak mau ikut bersama Saya? Apakah tidak ingin memulai hidup baru dan melupakan semua kenangan pahit ini?" Aya kembali menyakinkan si ibu hamil agar memiliki keputusan untuk hidup wanita itu sendiri.


"Saya sangat mau melupakan semuanya. Tapi Saya tidak mau menyusahkan kalian," wanita itu melihat kearah Alvian yang selalu dia idolakan selama ini.


Sudah lama ingin bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu para member ALV secara langsung dan hari ini dia malah dipeluk oleh Ayara, si ratu ALV. Wanita paling beruntung di dunia halu.


"Kalau begitu ayo ikutlah bersama kami. Mulailah hidup baru di kota S. Jangan takut karena Saya tidak akan menyakiti, Kakak," Ayara ikut melihat kearah Alvian dan pemuda itu hanya tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya.


"Ya Tuhan... pantas saja Alvian bisa tergila-gila pada Nona Ayara. Ternyata inilah malaikat tak bersayap seperti cerita di dongeng. Tidak mengenal wanita ini, tapi begitu mendengar kisahnya dia langsung mengambil keputusan untuk membantunya." gumam Staf Muzaki yang sejak tadi ikut mendengar karena panggil keberangkatan mereka belum ada.


"A--apakah Saya tidak akan menyusahkan ka---"


"Kak, ayo ikutlah bersama kami. Anggap saja sebagai hadiah atas kehamilan istri Saya," sela Alvian yang sangat mengerti bahwa istrinya pasti menyamakan dengan kehidupannya yang hamil tidak memiliki suami dan harta apapun.


"Iya-iya! Saya mau ikut kalian," seru wanita hamil itu semakin menagis. Bagiamana mungkin dia bisa berbicara dengan idolanya seperti pada orang biasa.


"Oya, nama Kakak siapa? Kenalkan namaku Ayara," ucap Ayara yang semakin tersenyum lebar karena Alvian mengikuti keinginannya untuk membawa wanita itu bersama mereka.


"Nama Saya Renata, Terima kasih sebelumnya, Nona Ayara. Ternyata Anda bukan hanya cantik wajahnya. Namun, hati Anda jauh lebih baik lagi," jawab wanita itu seraya menerima uluran tangan Ayara.


"Kita semua sama-sama cantik karena sama-sama perempuan," Ayara tersenyum seraya menatap kearah suaminya dan handak berkata.


"Sayang, terima---"


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah mau menjadi istriku," Alvian tersenyum menatap Ayara penuh cinta.


"Aku benar-benar sangat beruntung bisa memiliki istri seperti dirimu, sayang." gumam Alvian didalam hatinya.


"Smith, semuanya sudah siap. Kita sudah diminta menaiki pesawat sekarang," ucap salah seorang Staf yang mengurus semua jenis alat transportasi keberangkatan mereka kemanapun itu. Baik menaiki mobil, maupun penerbangan.


"Iya, jika begitu ayo kita ambil antrian dan mulai menaiki pesawat," jawab Staf Muzaki yang langsung dipatuhi oleh mereka semua. Termasuk juga Alvian dan Ayara.


Namun, sebelum berjalan meninggalkan tempat tersebut. Alvian sudah memberikan perintah pada Denis agar mengurus wanita bernama Renata itu. Supaya bisa ikut terbang bersama mereka.


"Ya Tuhan! Tolong berikan kebahagiaan untuk Nona Ayara bersama Ian idola ku. Ternyata mereka adalah orang-orang baik." do'a wanita tersebut sambil berjalan ditemani oleh Denis karena mereka harus membuat data untuk penerbangan sebagai ganti tiket pesawat.


Soalnya Alvian dan para Agenci AX Si tidak mengunakan tiket pesawat seperti penerbangan ke luar negeri.


"Sayang, apakah kau menolongnya karena---"


"Iya, kasihan sekali dia. Apakah kau tahu, saat aku meninggalkan kota S dan memutuskan untuk hidup di kota B. Aku bertemu orang baik yang tidak mau aku bayar ongkos mobilnya," sela Ayara menceritakan kisahnya pada sang suami.


Selama ini Ayara mana pernah menceritakan seperti apa proses dia sampai ke kota B. Kecuali saat dia sudah sampai di kota itu saja. Kota yang begitu banyaknya mengukir kebahagiaan maupun kesedihan. Yaitu selama Ayara tinggal di sana. Sebagai ayah sekaligus ibu untuk Vania.


Gadis kecil yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan ke-dua orang tuanya. Namun, hanya menunggu di kediaman keluarga Rafael saja. Tidak menjemput sampai bandara.


...BERSAMBUNG......