I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Menjadi Istriku.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING... ...


.


.


Dua hari kemudian.


Skandal member ALV kian menjadi sorotan. Apalagi setelah Tuan Edward Wilson mengatakan akan mengadakan konferensi pers di perusahaan Wilson. Yaitu hari ini tepatnya jam dua siang.


Ayara dan Alvian pun masih berada di rumah beliau. Tidak bisa pergi dari sana karena bukan hanya sekedar fans ALV atau wartawan saja yang mengincar mereka. Akan tetapi juga musuh-musuh Tuan Abidzar dan Tuan Edward.


Selama dua hari itu pula. Alvian dan keempat sahabatnya tidak bisa pergi kemana-mana. Termasuk Bara yang terjebak di Apartemen Lula. Gara-garanya dia mengantar gadis itu pulang setelah menghadiri pernikahan Renata dan Ericson.


"Pa, apa Papa yakin akan melakukan semua ini? Bagaimana bila Papa menjadi hujatan masyarakat dan perusahaan Wilson terkena dampaknya?" tanya Ayara untuk kesekian kalinya.


Saat ini mereka lagi berada di ruang keluarga. Setelah makan siang dan Tuan Edward akan berangkat ke perusahaan dengan pengawalnya sendiri dan juga pengawal Tuan Abidzar.


Bahkan polisi setempat pun juga ikut menjaga beliau. Untuk masalah Agenci AX Si. Sudah bisa dikendalikan karena member ALV memiliki kekuatan begitu dahsyat. Yaitu siapa lagi kalau bukan fans setia mereka.


Walaupun heater sudah melakukan penyerangan bertubi-tubi. Namun, ternyata tetap tidak bisa menggoyahkan kekuatan member ALV.


Saat ini yang menjadi permasalahan publik hanyalah tentang siapa orang tua kandung Ayara. Karena saat melakukan konferensi pers beberapa waktu lalu. Kelima member tersebut memberikan klarifikasi bahwa Aya adalah anak seorang pembantu.


Sehingga membuat kelima bujangan itu dicap sebagai pembohong. Akan tetapi bila masalahnya itu selesai. Maka semuanya akan kembali seperti semula dan tinggal Tuan Abidzar dan Tuan Edward membereskan musuh mereka yang telah bekerja sama.


Oleh karena itulah Tuan Edward memutuskan untuk melakukan konferensi pers di perusahaan Wilson. Agar nama baik member ALV dan Ayara bisa dibersihkan kembali. Sebab semua masalahnya ada pada Tuan Edward sendiri.


"Lebih baik Papa yang dihujat, Nak. Saat kau mengandung Via, tidak memiliki keluarga dan suami. Entah seperti apa nasib mu diluar sana. Lalu untuk apa Papa takut kena hujatan masyarakat atas perbuatan Papa sendiri," jawab Tuan Edward tersenyum seraya mengelus kepala Ayara.


"Jika masalah perusahaan Wilson. Papa tidak peduli karena yang terpenting adalah kebahagiaan kalian,"


"Tapi---"


"Shuuit! Percayalah bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kau hanya perlu berbahagia dan tak usah memikirkan masalah ini," sela beliau sudah menempelkan jari telunjuknya pada bibir sang putri yang duduk bersebelahan dengannya.


"Biarkan Papa melakukan tugas seorang ayah. Selama ini, Papa tidak pernah berbuat baik untuk melindungi mu, sayang. Padahal kau adalah putri kandung Papa. Jangankan sesuatu yang bisa dikenang, akte kelahiran mu saja harus diakui oleh tukang kebun kita," lanjut beliau merasa inilah kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


Sebab beliau akan mengumumkan pada semua orang bahwa Aya bukanlah anak seorang pembantu. Melainkan keturunan dari keluarga Wilson. Salah satu keturunan keluarga kaya raya yang ada di kota tersebut.


Agar tidak ada lagi yang menghina putrinya. Jadi karena itulah Tuan Abidzar juga mendukung keputusan beliau. Agar semua orang tahu bahwa Ayara Febriani Jasmeen keturunan dari keluarga terpandang.


"Papa..." seru Ayara langsung masuk kedalam pelukan Tuan Edward. Sedangkan Alvian duduk memangku Vania. Gadis kecil itu sekarang mulai rewel dan selalu ingin berada dalam gendongan papanya.


Entah itu bawaan karena mamanya hamil lagi. Atau memang karena sudah terbiasa dua hari ini hanya bersama kedua orang tuanya. Jadinya Vania sedikit rewel dan manja, maunya dia diperhatikan.


"Sudah ya, Papa mau berangkat sekarang. Semua orang sudah menunggu di luar. Kau istirahat saja," ucap Tuan Edward melepaskan pelukannya dan menoleh kearah menantunya.


"Alvin, terima kasih, Nak. Kau sudah menjadi tempat Aya mengeluh selama ini. Papa sangat bersyukur karena putri cantik Papa, bisa bertemu pemuda seperti dirimu," kata beliau degan sangat tulus.


"Via, Kakek pergi kerja dulu, ya," pamitnya pada sang cucu.


"Iya, tapi puyang nya bawa es klim lasa stobeli tama tokat," jawab Via tersenyum lebar. Semenjak dua hari mereka menginap di sana. Vania menjadi dekat juga degan kakek dari mamanya itu.


"Baiklah, nanti pulangnya kakek akan membelikan es krim untuk Via dan juga buat mama Aya, ya," imbuh Tuan Edward juga tak kalah tersenyum lebarnya.


Vania hanya mengangguk dan ikut menyalami tangan sang kakek seperti mana yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


Berbeda degan keluarga Alvian dan Ayara.


Di Apartemen mewah milik Lula. Gadis itu baru saja selesai masak.


Gara-gara skandal yang sedang terjadi. Lula juga menjadi ikut-ikutan terjebak tidak bisa kemana-mana. Selama dua hari ini dia dilarang oleh Tuan Abidzar untuk berangkat bekerja.


Jadi kerjaannya hanya menonton televisi. Bermain game bersama Bara. Nanti ya kalah, akan bertugas memasak. Sederhana sekali, tapi sangat membahagiakan bagi Bara.


Tap!


Tap!


Suara alas kaki yang terdengar begitu nyaring. Yaitu langkah kaki Bara menyusul Lula ke dapur Apartemen.


"Hai istriku, kau masak apa?" goda Bara yang sejak kemarin sore menyebut Lula istriku. Sebab mereka seperti mana pasangan suami istri yang lagi berbulan madu.


Bukan hanya tinggal satu Apartemen saja. Mereka juga berbagi tempat tidur dan makanan. Jika pakaiannya ada bodyguard pribadi Bara yang mengantar secara diam-diam.


"Ck, kau jangan mulai lagi, ini masih pagi dan aku belum sarapan," decak Lula yang sebetulnya sangat malu mendengar candaan Bara.


Namun, karena tidak mau Bara mengetahui jika dia sangat mencintai pemuda itu. Jadinya Lula berpura-pura biasa saja.


"Ini sarapannya sudah siap, jadi kita tinggal sarapan sambil menikmati momen bulan madu kita yang terkurung di sini," Bara langsung tergelak karena dia sangat menikmati rona merah di pipi Lula.


Akan tetapi gadis itu tidak tahu bahwa wajahnya yang bersemu merah bisa diketahui oleh idola nya itu.


"Bara, berhentilah menggoda ku. Ayo cepat sarapan! Rasa nasi gorengnya mungkin memang agak aneh. Jadi jangan komentar yang membuatku bisa terbang melayang," imbuh Lula mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apapun yang dimasaki oleh seorang istri. Sudah pasti selalu enak. Soalnya aku sering mendengar Alvin memuji masakan Aya. Padahal saat aku cicipi rasanya sedikit asin," jawab Bara masih juga membahas istriku.


"Astaga! Aldebaran... jika kau selalu berkata seperti ini. Jangan salahkan aku bila mengusir mu dari sini, ya," ancam Lula yang membuat Bara semakin tersenyum mendengarnya.


"Lula... apakah kau tidak mau menjadi istriku yang sesungguhnya?" tanya Bara yang disertai menahan kedua tangan Lula diatas meja makan.


Sehingga membuat gadis itu menatap pada Bara dan pandangan mata keduanya pun menjadi saling tatap.


Deg!


Jantung Lula langsung berdegup kencang. Seakan-akan mau keluar dari tempatnya.


... BERSAMBUNG... ...