
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Satu jam kemudian. setelah menikmati sarapan di pagi hari untuk pertama kalinya dengan status baru. Bara dan Lula pun kembali naik ke lantai atas untuk bersantai.
Di sinilah mereka saat ini. Yaitu di balkon yang terhubung dengan kamar mereka. Kebetulan di tempat tersebut ada sebuah ayunan yang seperti mana sebuah tempat tidur mini. Sehingga pasangan suami istri tersebut bisa bersantai dengan posisi baring.
"Lula..." panggil Bara yang sejak tadi menahan dirinya agar tidak terpancing untuk menyentuh Lula lebih dari sekedar ciuman.
Dia adalah laki-laki normal jadi sudah pasti bila antara kulitnya dan Lula selalu bersentuhan akan menimbulkan reaksi pada kelelakiannya.
Hanya saja karena ini masih siang pemuda tersebut mencoba menahan dirinya agar tidak melakukan siang pertama bersama sang istri. Tidak lucu bukan mereka malah melakukannya pada siang hari.
"Huem! Apa?" tanya gadis itu sedikit mendongak keatas karena saat ini posisinya berbantal pada lengan si member ALV.
"Eum... tidak ada apa-apa," Bara yang gugup pun mengurungkan niatnya untuk membicarakan perihal anak.
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku begitu bahagia kita akhirnya bisa menikah. Walaupun belum bisa diumumkan di depan publik." lanjutnya setelah menemukan pembicaraan yang lainnya.
"Tidak apa-apa orang lain tidak mengetahui pernikahan kita, yang penting hubungan di antara kita selalu seperti ini." jawab Lula tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Tentu! Hubungan kita akan selalu bahagia seperti ini. Aku berjanji akan membahagiakanmu seperti mana Alvin membuat Ayara bahagia."
"Aldebaran, terima kasih! Aku percaya bahwa kau akan membuatku bahagia," imbuh gadis itu semakin merasa nyaman mendengar perkataan suaminya.
"Hanya ucapan terima kasih saja? Apakah kau tidak berniat untuk memberiku hadiah atau hal lainnya?"
Cup!
Sebelum Lula menyelesaikan ucapannya. Bara sudah menyambar bibir gadis itu dengan sangat lembut. Sehingga membuat Lula langsung terbuai oleh ciuman mereka.
Satu kata yang mau gadis itu ucapkan. Yaitu dia menyukai hal tersebut. Begitulah pula dengan Bara. Pemuda itu juga mulai ketagihan pada rasa manis dari bibir ranum istrinya.
Augh!
Lenguh Lula saat Bara dengan berani mengecup lehernya dan meninggalkan jejak pada leher jenjangnya.
Setelah itu Bara menjauhkan sedikit tubuh mereka. Lalu ia tatap leher gadis itu yang diberikan tanda Kiss Mark. Sangat terlihat jelas karena Lula memiliki kulit putih mulus.
"Kau sangat cantik," pujinya dengan mengelus pelan pipi mulus Lula. Sebelum tangan tersebut ke belakang untuk menahan tengkuk Lula. Agar bisa memperdalam ciuman mereka.
Belum sempat istrinya protes. Bara sudah kembali lagi menyatukan bibir mereka. Namun, kali ini bukanlah silaturahmi biasa melainkan penuh tuntutan agar lebih dari itu.
Lula yang tadinya diam saja. Sekarang juga sudah ikut membalas apa yang suaminya lakukan. Begitulah seterusnya ke-dua pasangan suami-istri itu bercumbu dibawah langit mendung mau hujan besar.
Seakan-akan lagi mendukung agar keduanya bisa menikmati momen pernikahan mereka. Untungnya tidak ada yang melihat apa yang keduanya lakukan. Sebab ada pun penjaga keamanan jauh di pos dekat gerbang.
"Aaahhh! Bara..." dengan nafas terengah-engah. Lula mendorong pelan dada suaminya.
"Kenapa? Apakah kau tidak mau melakukannya bersama ku?" tanya Bara dengan sedikit kecewa bila sampai benar Lula menolak memberikan haknya.
"Ti--tidak! Aku bukan tidak mau. Hanya saja ini masih diluar," kata gadis itu disertai rona merah diwajahnya. Malu, itulah yang Lula rasakan.
"Oke, kalau begitu ayo kita pindah ke kamar. Aku ingin meminta hak ku, Lula," ucap Bara sudah mengendong gadis tersebut ala bridal style untuk pindah ke kamar.
...BERSAMBUNG......