I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Cukup Satu Macam.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Cup!


Alvian mengecup lama kening Vania yang masih tidur. Saat ini dia baru saja membaringkan putrinya di kamar gadis kecil itu sendiri.


"Sehat selalu ya, princess papa. Mungkinkah Via menjadi manja seperti ini karena sudah mau punya adik lagi? Jadi dia takut bila tidak di sayang."


Gumam pemuda itu seraya menyelipkan anak rambut sang putri yang tidur begitu nyenyak. Padahal jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


"Alvin..." panggil Ayara pelan berdiri di depan pintu kamar Vania. Sehingga membuat papa muda itu turun dari ranjang putrinya dan berjalan mendekati sang istri.


"Huem, apa? Ayo kita kembali ke kamar," ajaknya dengan suara lembutnya.


"Tidak ada apa-apa. Tadi aku kira Vania terbangun. Makanya kau lama sekali," jawab Aya melangkah masuk kamar mereka yang berada disebelah kamar Vania.


Ya, rumah baru mereka. Posisi kamar Vania dan orang tuanya masih tetap bersebelahan. Ada kamera cctv yang terhubung langsung ke kamar Ayara dan Alvin. Sama seperti rumah sebelumnya.


Begitu Aya duduk di pinggir ranjang. Alvian malah langsung membantu melepaskan jaket yang ia pakai. "Al, aku bukan orang sakit dan bisa melakukannya sendiri," protes si ibu hamil karena Alvian sangat memanjakan dia dari segi apapun itu.


"Sudah, tidak boleh protes. Kau cukup duduk saja, karena selagi aku ada dirumah. Maka aku yang akan melayani mu,"


"Aku bisa sendiri, kau tidak per---"


Cup!


"Dulu, saat kau hamil Via. Aku tidak ada dan semuanya kau tanggung sendiri. Jadi biarkan anak kedua kita, aku yang bertanggung jawab sebagai papa mereka. Kau paham kan seperti apa aku merasa bersalah karena tidak bisa berada di samping mu," sela Alvian mengecup bibir ranum istrinya.


Sehingga Ayara pun hanya mengagguk dan tersenyum bahagia. Sungguh suaminya itu pintar sekali membuat dia tidak bisa membantah lagi.


"Pintar!" pemuda itu ikut juga tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang tidak memakai make up ataupun alas bedak yang lainnya.


"Ganti baju dulu atau mau makan malam lagi? Kalau mau sesuatu biar aku siapkan. Setelah itu aku mau turun menunggu kedatangan anak-anak,"


"Aku mau istirahat. Ganti bajunya nanti saja. Aku mau mandi dulu sebelum tidur dan tidak mau makanan apapun.. Bukannya kita sudah makan sebelum pulang," jawab Aya karena kebiasaannya mandi sebelum tidur memang tidak bisa ia rubah.


"Alvin, kau ini kenapa cabul sekali. Kau sudah mau memiliki anak dua. Sedangkan sahabat mu belum ada yang menikah,"


"Aku cabul padamu saja. Mereka tidak memiliki gadis yang dicintai, makanya tidak memiliki anak. Kalau aku kan sejak sekolah menengah atas sudah memiliki dirimu," jawab Alvian membanggakan diri dengan tersenyum jumawa.


"Haa... ha... iya-iya! Kau sudah memiliki gadis yang dicintai. Awas saja jika berani macam-macam! Akan aku buat kau---"


"Mana mungkin aku berani macam-macam. Cukup satu macam saja. Asalkan bersamamu," sela pemuda itu sambil tertawa dan berlari kearah pintu kamar, karena mendengar klakson mobil yang datang.


"Sayang, nanti kita lanjutkan, ya. Aku kebawah duluan. Nanti kau menyusul saja, tapi tunggu babysitter Via datang. Untuk menunggunya kalau terbangun saat kita tidak ada,"


"Iya, pergilah! Aku juga mau istirahat dulu," jawab Aya melambaikan tangannya dan Alvian pun juga melakukan hal yang sama.


Lalu setelahnya dengan bersenandung kecil Alvian pun turun menuruni tangga dan langsung pergi ke ruang tengah, rumah mewah mereka.


"Wah-wah! Papa muda baru datang. Mana Aya dan princess?" ucap Sandy yang masuk lebih dulu.


"Princess lagi tidur, kalau mamanya mau istirahat dulu," jawab Alvian menyambut kedatangan sahabatnya. "Ayu duduklah! Mana yang lainnya?"


"Mereka lagi di luar. Kami ke sininya membawa mobil sendiri-sendiri. Tapi berangkatnya iring-iringan karena satu pengawalan saja,"


"Oh, pantas saja. Tapi itu jauh lebih baik. Nanti Lula juga akan datang ke sini. Sekarang dia lagi berada di sebelah karena mamaku ingin dia makan malam di sana," papar Alvian karena keluarga Rafael memang sudah menganggap Lula seperti mana keluarga mereka.


"Selamat malam, papa muda," ucap Bara tersenyum mengejek sahabatnya.


"Ck, jika kau menikah juga akan memiliki anak dan akan menjadi papa. Jadi jangan mengejekku," decak Alvian yang juga ikut tersenyum.


"Bara, saat kau menginap di Apartemen Lula. Kalian berdua tidak melakukan apapun, kan?" tanya si papa muda membuat Bara yang baru duduk menoleh cepat kepadanya.



"Aku tidak melakukan apapun. Namun, karena tinggal bersamanya beberapa hari membuat ku ingin merasakan berumah tangga seperti dirimu," jawab Bara membuat Alvian tergelak mendengar.


"Ya, tinggal bersama seseorang itu memang membuat kita ingin berumah tangga juga dan---"


"Siapa yang mau berumah tangga?"


Mendengar suara yang baru datang membuat kelima member ALV menoleh serempak ke sumber suara.


... BERSAMBUNG... ...