
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
"Hei... kenapa kau---" ucap Bara karena tiba-tiba tangan Lula mendekati wajahnya.
"Diam sebentar!" seru Lula memasangkan masker penutup wajah Bara. Pemuda itu lupa bahwa dia sedang berada di pemukiman warga di tengah-tengah ibu kota. Bukan di Apartemen yang bebas meskipun tidak memakai penutup wajah.
"Astaga! Aku hampir lupa," ucap Bara menyesali kecerobohannya.
"Sudah, tidak akan terlihat lagi. Sepertinya Ara sangat mengenal kalian. Sehingga meskipun tertutup topi dan masker wajah dia tetap tahu." Lula terus berbicara sambil membukakan pintu Toko tersebut.
"Tentu saja," jawab Bara singkat. "Apakah rumahnya jauh? Mobil kami ada di sana dan kuncinya pada Alvian," tanya pemuda itu lagi.
"Tidak jauh, lewat gang sana, jika ke rumah Ara," jawab gadis itu berhenti saat mereka sudah menutup pintunya kembali. "Apakah tidak apa-apa meninggalkan sahabatku bersama Ian? Bagaimana jika mereka bertengkar hebat?" merasa khawatir karena menurut Novel yang Lula baca.
Jika dua orang pasangan dewasa bertengkar maka sering terjadinya kekerasan. Makanya dia merasa khawatir meninggalkan Ayara bersama Alvian.
"Sudah, ayo jalan! Mereka bertengkar tidak mungkin saling bunuh-bunuhan yang ada malah membuat adik untuk princess Vania." seloroh Bara mencium gemas pipi Vania yang seperti sudah kenal lama.
Padahal mereka baru bertemu hari ini. Akan tetapi gadis kecil itu tidak takut dan memeluk leher Bara karena takut jatuh.
"Benarkah mereka akan membuat adik untuk Vania?" otak Lula kembali loading beberapa saat.
"Entahlah! Aku juga belum tahu pasti." Bara dan Lula terus berjalan beriringan. Namun, baru saja mereka tiba di gang yang mengarah ke rumah Aya.
Zinet wanita yang sering memusuhi Ayara. Langsung menanyakan siapa pemuda yang menggendong Vania.
"Hei, Lula! Siapa laki-laki ini? Apakah dia papanya Vania?" tanya Zinet yang sebetulnya hampir seumuran dengan Aya maupun Lula.
"Ckckck! Kau ini kepo sekali dengan urusan orang lain. Dia ini sahabat Ara dari kota S." meskipun sempat mengejek tapi Lula tetap menjawab pertanyaan wanita itu.
"Aku bukan ingin tahu. Hanya penasaran saja, sebetulnya Ara memiliki suami atau tidak? Walaupun ayah Vania sudah meninggal dunia. Seharusnya ada kerabatnya yang lain kan yang membantu merawat Vania." Zinet pun tidak mau kalah saat adu mulut.
"Apa maksud Anda berbi---"
"Hei, sudah! Tidak usah didengar ucapannya. Ayo kita cepat jalan lagi. Itu rumah Ara sudah terlihat." sebelum Bara sempat menjawab. Lula sudah lebih dulu menarik tangan pria itu agar tidak terjadi pertengkaran.
"Lula, apakah wanita itu anda memiliki masalah dengan Aya? Kenapa bicaranya pedas sekali?" tanya Bara menurut saja saat tangannya di tarik.
"Sebetulnya yang memiliki masalah itu adalah Zinet. dia tidak pernah menyukai Ara, karena takut apabila suaminya menyukai mamanya Vania," jelas Lula yang sudah berbelok karena mereka telah tiba di rumah sewa milik Ayara.
"Apakah ini tempatnya?" seru Bara yang matanya sampai membola keluar.
"Iya, ini rumahnya! Memangnya kau pikir Ara tinggal di hotel bintang lima, atau Apartemen mewah?" jawab Lula sedikit mengejek sambil tangannya memutar membuka kunci rumah tersebut.
"Tidak-tidak! Bukan begitu maksudku. Aku kira dia bukan tinggal di tempat seperti ini. Ya Tuhan... betapa menderitanya Aya dan keponakanku selama ini," seru Bara sudah ikut masuk kedalam.
Namun, pandangan matanya terus menelusuri seisi rumah tersebut. Dia berjalan melihat kursi kayu yang sudah tua dan ada perabot-perabot usang lainnya. Itu pun tidak banyak, jadi tanpa dijelaskan. Bara bisa menebak bahwa barang-barang tersebut adalah milik orang yang mempunyai rumah itu.
"Duduklah jika kau tidak jijik pada tempat tinggal kami. Dan kau boleh membuka maskernya, karena pintunya sudah aku kunci. Di sini mulut tetangganya memang sangat cerewet. Tapi mereka tidak pernah mendatangi rumah ini." ucap Lula yang suka ceplas-ceplos.
Apalagi dia tahu bahwa Bara bukan pemuda biasa. Melainkan seorang member ALV yang sudah jelas seperti apa kekayaannya. Maka dari itu, dia sampai menawarkan tempat duduk bila tidak merasa jijik.
"Apa maksudmu? Mana mungkin aku jijik hanya untuk duduk di tempat seperti ini. Kau ini terlalu berlebihan sekali," jawab Bara duduk di kursi kayu bersama Vania masih dalam gendongannya.
"Vania sayang, mau ya nanti pulang bersama Om Albar?" ucap Bara yang hatinya cabik-cabik setelah mengetahui seperti apa tempat tinggal Ayara dan Vania selama ini.
"Tidak, Via mau tama Mama," jawab Vania langsung mengelengkan kepalanya berulang kali.
"Lula, apakah nama panggilan Vania adalah Via?" Bara melihat ke arah Lula yang baru saja keluar dari dalam dapur.
Terlihat gadis itu membawakan termos air hangat. Untuk memandikan Vania karena ini sudah malam jadi dia takut gadis kecil itu masuk angin bila dimandikan menggunakan air dingin.
"Iya, itu dia sendiri yang menyebut namanya Via. Padahal kami semua memanggilnya Vania." jawab Lula langsung masuk kedalam kamar tidur Ayara.
Soalnya kamar di rumah itupun memang hanya ada satu. Itupun ukurannya saja hanya tiga kali, tiga meter.
"Jadi nama panggilan Vania adalah Via," Bara tersenyum menatap lekat wajah keponakannya. Ya, begitu mengetahui Alvian sudah memiliki anak. Keempat sahabatnya pun langsung mengatakan bahwa Vania adalah keponakan mereka.
"Iya, Om Abal." Vania tersenyum yang membuat Bara ingin menggigit pipi chubby nya.
"Via tahu nama Om Albar dari siapa?" rasanya Bara benar-benar ingin tertawa lucu mendengar namanya yang dipanggil Abal. Oleh si cantik Vania.
"Dali Tante Lula," jawan Vania jujur.
"Oh, iya baiklah! Kau san---"
"Vania, ayo Tante mandikan," ajak Lula keluar lagi dari kamar Karena begini sudah menyiapkan air mandi buat si kecil.
Selama ini Lula memang sudah biasa memandikan Vania apabila Ayara sedang sibuk ataupun lagi demam. Jadi dia sudah sangat hapal cara memandikan anak kecil.
"Mama Via," sahut Vania yang melihat ke arah pintu masuk. Mana tahu ibunya sudah datang.
"Mama lagi membereskan Toko bersama papamu. Jadi Vania mandi sama Tante saja, ya?" bujuknya yang dianguki oleh Vania.
Si cantik Vania langsung merentangkan kedua tangannya keatas. Agar Lula menggendongnya.
"Augh sayang nya Tante. Akhirnya kau bisa bertemu papamu juga," Lula mendekap sayang tubuh Vania yang sudah berada dalam gendongannya.
Lalu sebelum membawa Vania masuk ke dalam kamar. Lula menoleh ke arah Bara dan berkata.
"Jika kau ingin minum cari saja di dapur. Jika makanan aku tidak tahu ada atau tidaknya. Soalnya tadi pagi Ara tidak masak, sudah dua hari ini dia menangis tanpa sebab,"
"Iya, pergilah mandikan Vania. Nanti kita bisa pergi mencari makanan," jawab Bara memaksakan senyum kecil.
"Jika aku sudah mandi bisa memasak buat makan malam, karena jika pergi membeli makanan di luar---"
Sehingga membuat gadis itu tidak berbicara lagi dan langsung menggendong Vania masuk ke dalam kamar.
"Ya Tuhan! Ternyata Aya sangat menderita. Aku tidak akan membiarkan mereka seperti ini. Meskipun Alvian tidak membawanya kembali ke kota S. Aku tetap akan membawa Aya dan Vania pulang." gumam Bara sambil berjalan kearah dapur.
"Jika tahu akan membuat Ayara menderita karena hamil tanpa Alvian. Maka aku lebih baik tidak menandatangani surat kontrak waktu itu," sesal Bara melihat dapur Aya yang sangat rapi.
Namun, stok makanannya sangat terbatas. Selain roti, bahan buat masakan ada sedikit dan yang paling banyak malah stok susu buat Vania."
"Ayara... ternyata meskipun kesusahan. Kau mementingkan susu untuk Vania." seru Bara berbicara sendiri lalu dia merogoh ponselnya. Buat merekam video dan langsung ia kirimkan pada ketiga sahabatnya, yang sudah lebih dulu pulang ke kota S.
"Coba kalian lihat, sekarang aku lagi berada di rumah Aya. Dia benar-benar hidup susah dan... sampai-sampai stok buat makanan pun tidak punya." ucap Bara sambil merekam video tersebut.
Lain yang dilakukan oleh Bara, maka lain hal pula yang terjadi di Toko bunga milik Kak Regina.
*
*
Setelah kepergian Lula dan Bara.
"Aya, tolong maafkan aku," lirih Alvian menatap Ayara penuh penyesalan yang sangat mendalam.
"Aku sudah memaafkan mu!" jawab Ayara menjeda ucapnya sebentar guna menahan rasa sesak di dadanya. "Sekarang cepat katakan, kau ingin bicara apa?" lanjutnya tidak mau menatap kearah pemuda yang tega meninggalkannya.
Padahal hari itu Ayara sudah memeluk tubuh Alvian dari belakang. Dia menagis agar tidak diputuskan pada saat itu. Ayara bersedia mereka berpacaran tanpa adanya komunikasi melalui sambungan telepon ataupun yang lainnya.
Ayara juga sudah mengatakan, kapanpun Alvian sempat menemuinya. Dia tidak menjadi masalah akan hal itu. Asalkan mereka tidak putus.
Akan tetapi Alvian menolak keras karena tidak ingin jadwalnya terganggu. Sebab dia benar-benar ingin fokus pada karier nya.
"Aku... ingin kau memberiku kesempatan buat menebus semua kesalahanku. Aku sudah melakukan pemeriksaan dan hasilnya Vania memang putri kandungku. Jadi kau tidak bisa mengelak pada kenyataan ini," jawab pemuda itu terpaksa harus berkata demikian.
Deg!
"Jadi dia sudah tahu jika Vania adalah putrinya," gumam Ayara mencoba menahan air matanya agar tidak keluar bertambah banyak.
"Aya, aku tahu seperti apapun aku meminta maaf, tetap tidak akan bisa mengobati luka hatimu yang sudah aku goreskan. Tapi... aku benar-benar menyayangi Vania. Makanya begitu melihat kalian dua hari lalu. Aku langsung menyuruh seseorang untuk menyelidiki di kediaman Wilson, karena setahuku kau pergi kuliah di luar negeri. Lalu bagaimana caranya bisa ada di kota ini dan memiliki seorang putri yang begitu mirip denganku." tutur Alvian panjang kali lebar.
Sedangkan Aya hanya diam saja. Dia tidak berbicara sepatah kata pun. Namun, dia membuang arah pandangan matanya.
"Tolong berikan aku kesempatan demi putri kita. Dia hanya ikut menjadi korban karena pilihan ku untuk menjadi penyanyi terkenal. Aku sangat menyesal pada keputusanku," ungkap pemuda itu tidak mengalihkan arah pandangan matanya dari Aya.
"Kesempatan seperti apa yang kau maksud?"
"Kesempatan untuk mengurus nya, aku ak---"
"Apa maksudmu? Vania hanya putriku, kau tidak ada hak atas dirinya. Aku tidak akan membiarkan kau membawanya pergi dariku." sentak Ayara sebelum Alvian menyelesaikan perkataannya.
"Aya, kau jagan salah paham dulu, maksudku bukan seperti itu. Ak---"
"Jangan mentang-mentang kau kaya, memiliki segalanya. Maka ingin merebutnya dariku, Alvin. Mati sekalipun, aku tidak akan pernah menyerahkan putriku pada laki-laki sepertimu," mungkin karena saat ini hanya tinggal mereka berdua. Jadi Aya memaki Alvian sumaunya.
"Ayara, aku tidak mungkin merebut Vania darimu. Kau tahu sediri seperti apa aku. Mana---"
"Tidak, aku tidak mengenalmu. Alvin yang aku kenal dulu, sudah lama mati bersama dengan impiannya." air mata Ayara kembali menetes deras.
"Ayara, maafkan aku," entah untuk sekian puluh kalinya Alvian mengucapkan kata maaf. Meskipun dia tahu itu semua tidak ada gunanya.
"Aku sangat membencimu, Alvin. Apa kau tahu seperti apa aku menderita setelah hari itu? Sedangkan kau hidup enak menikmati kehidupan barumu," teriak histeris Ayara.
Untungnya diluar malah turun hujan besar. Jadi tidak ada warga sekitar yang mengetahui bahwa di dalam Toko bunga tersebut. Ada sepasang mantan kekasih yang sedang membahas masa lalu mereka.
Mendengar ungkapan Ayara. Membuat Alvian yang tadinya menunduk langsung menoleh kearahnya.
"Aya... jika aku tahu kau hamil, aku tidak akan meninggalkan mu," jawab Alvian yang bukan untuk membela dirinya.
"Haa... ha... kau hanya pembohong, Al. Kau laki-laki pengecut yang untuk berpacaran tanpa saling menghubungi saja tidak mau. Kau takut jika kehadiran ku akan mengganggu perjalanan karirmu kan? Lalu bagaimana mungkin kau bisa bertanggung jawab atas kehamilanku," tawa sumbang wanita itu.
"Namun, aku bersyukur karena hari dimana kau meninggalkan aku, aku menyadari bahwa aku memang tidak berarti apa-apa untukmu. Selama kita berpacaran kau baik karena menginginkan tubuhku, lalu setelah kau mendapatkan semuanya dan puas. Baru kau membuang ku," Ayara terus memaki semaunya.
Emosi yang selama ini dia tahan-tahan, akhirnya hari ini Aya luapkan juga. Meskipun bukan di waktu yang tepat, karena saat ini mereka sedang membahas masalah Vania.
"Ayara, Aku tidak pernah memiliki pikiran sepicik itu. Apa yang kulakukan dulu memang karena aku mencintaimu. Andai pada saat itu aku mengetahui jika kau lagi mengandung Vania. Maka aku akan memilih kalian," bentak pemuda tersebut, dia tersulut emosi dengan tuduhan Ayara terhadapnya.
"Aku akan memilih untuk menikahi mu dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sudah aku lakukan, Ay. Aku tidak segila itu pada karier ku. Sehingga membuat darah daging ku menderita." lanjutnya tidak terima dengan tuduhan yang dikatakan oleh Ayara
Sebab dia menyentuh Ayara juga karena mencintai gadis itu. Bukan hanya untuk memanfaatkan tubuhnya saja.
"Aku datang ke sini karena ingin bertanggung jawab. Bukan untuk merebut Vania darimu. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Cukup izinkan aku menjadi papanya. Aku akan memenuhi tugasku sebagai seorang ayah. Meskipun sudah terlambat, karena aku tahu seperti apa penderita mu selama ini," ungkap Alvian berjalan memutari meja yang menjadi penghalang mereka.
Lalu setibanya di hadapan Ayara. Dia langsung memeluk tubuh kecil gadis yang dulu selalu ia manjakan.
"Maafkan aku," lirih Alvian ikut menangis.
Dia menahan dadanya yang dipukul oleh Ayara. Gadis itu tidak hanya diam saja, tapi dia menangis sambil memukul semaunya. Hal itu dibiarkan oleh Alvian, karena dia tahu rasa sakit yang dirasakannya. Tidak sebanding dengan penderitaan Ayara selama ini.
"Kau pembohong, kau jahat. Kau menipuku," maki gadis itu tidak mau diam.
"Iya, kau benar, aku adalah pembohong. Maka dari itu biarkan aku menebus semuanya. Tolong izinkan aku bertanggung jawab pada anak kita. Aku sangat menyayangi Vania," ucap Alvian yang tidak melepaskan pelukannya.
...BERSAMBUNG......