I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Menunggu Kabar Baik.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit. Alvian sudah tiba lagi dirumah orang tuanya. Ya, dalam keadaan seperti saat ini mana mereka pulang ke rumah sendiri.


"Alvin, kau sudah pulang, Nak? Apaka---"


"Mama... Via diculik oleh gurunya sendiri. Saat ini Papa dan Om lagi pergi menemui para mafia yang biasanya menjual organ tubuh manusia." Alvian yang berusaha tegar akhirnya menangis dalam pelukan ibunya. "Alvin takut, Ma. Alvin takut mereka menyakiti Via atau---"


"Shuuit! Jangan berbicara seperti itu. Via akan baik-baik saja. Mama rela kehilangan seluruh harta kita. Asalkan kalian semua baik-baik saja." Nyonya Lili menaruh jari telunjuknya dibibir Alvian. "Sabar ya, Mama tahu kau dan Aya khawatir. Bukan hanya kalian yang khawatir pada Via. Tapi kita semuanya khawatir pada putrimu." lanjutnya berusaha menenangkan putranya.


"Kau tidak boleh terlihat seperti ini dihadapan Aya, sayang. Jika dia mendegarnya maka sudah pasti istrimu semakin shock."


"Aya kemana, Ma?" Alvian menatap sekeliling dan hanya ada ibunya sendiri.


"Aya lagi memandikan Arka. Mungkin putramu tahu bahwa kakaknya dalam bahaya. Jadi rewel tidak mau diasuh oleh Babysitter." jawab Nyonya Lili dengan nafas beratnya. Pertanda jika beliau lelah hati dan pikiran.


"Apakah Aya pulang ke sebelah, Ma?"


"Tidak, mana mungkin Mama membiarkan istrimu pulang ke rumah kalian. Aya ada di kamar mu di atas."


"Baiklah, jika begitu Alvin mau menemuinya." pamit pemuda itu setengah berlari menuju lantai atas.


"Ya Tuhan, tolong lindungilah putriku. Jangan biarkan mereka melukainya."


Alvian berdo'a lagi di dalam hatinya yang sangat mengkhawatirkan keadaan Vania.


Kleeek!


"Alvin!" seru Aya menoleh kearah pintu kamar yang terbuka lebar.


"Papa..." dengan suara cadelnya Baby Arka berjalan mendekati Alvian.


"Apa sayang, Arka sudah mandi ya." si member ALV langsung mengendong putranya dan memberikan ciuman bertubi-tubi pada Baby Arka.


"Vin, bagaimana? Apakah Via sudah di---"


"Belum, sayang. Maafkan aku." dengan satu tangan Alvian menarik Ayara kedalam pelukannya. "Anak buah Papa Edward dan Papa Abi sudah berpencar keberbagai tempat. Semoga kita segera mendapatkan kabar baik." ucapnya bisa merasakan baju kamejanya basah oleh air mata sang istri.


"Vin, ayo kita mencarinya sendiri! Aku tidak bisa hanya diam saja seperti ini. Kita harus menemukan Via secepatnya. Bagaimana bila---"


"Aya, Ayara... dengarkan aku. Sekarang semua anak buah papa sudah menyebar ke berbagai tempat. Kita tunggu disini saja dan semoga sebelum malam sudah ada kabar baiknya." ujar Alvian menyentuh wajah istrinya yang basah oleh air mata.


"Tapi---"


"Aku juga disuruh oleh papa untuk pulang. Lalu bagaimana aku membawamu pergi mencari putri kita." sela Alvian benar-benar tidak tega melihat wanita yang dicintai mengetes air mata.


Berkata bujuk rayunya. Ayara pun bisa tenang dan mereka pun turun lagi kelantai bawah untuk menunggu kabar baik. Namun, sampai jam sembilan malam. Belum juga ada kabar tentang si cantik Vania.


Tttddd!


Tttddd!


"Nomor baru?" ucap wanita itu menatap kearah Alvian, Ayara dan Dery. Kebetulan mereka lagi duduk di ruang keluarga. Jika Tuan Abidzar, jangan tanyakan karena beliau belum pulang sejak tadi siang.


"Angkat, Kak. Mana tahu ada kabar baik tentang princess." ucap Dery yang baru pulang tadi sore. Putra kedua keluarga Rafael tersebut lagi mengambil jurusan S2 dia luar negeri. Dia kembali karena mendapatkan kabar jika keponakannya menjadi korban penculikan.


"Ini, Nak. Angkatlah! Benar kats Dery, mana tahu ada kabar tentang Via." wanita setengah bayi itupun memberikan ponselnya kepada si putra sulung.


πŸ“± Alvian : "Iya, halo... ini siapa?" tanya Alvian setelah mengeser tombol hijau di layar ponsel.


πŸ“± Vania : "Papa... tolong jemput Via. Via mau Puyang." suara si cantik Vania yang terdengar lagi menangis.


πŸ“± Alvian : "Nak, Via! Kau baik-baik saja, sayang?"seru Alvian dengan jantung berdebar kencang.


πŸ“± Vania : "Via mau puyang, Pa. Via takut di sini." si cantik semakin menagis karena seumur hidupnya belum pernah terpisah dari keluarga yang menyanyanginya.


πŸ“±.... : "Haa... ha... ternyata kalian sudah menduga bahwa kami akan menelepon." tawa orang yang menculik Vania.


πŸ“± Alvian : "Brengsek! Apa yang kau inginkan?" umpat Alvian menahan emosinya karena tidak tahan mendengar suara Vania yang menagis ketakutan.


πŸ“± ... : "Wah-wah! Kau salah paham, Ian. Kami tidak membutuhkan uang. Tapi membutuhkan kerjasama. Selagi kau mau menandatangani surat kontrak selama sepuluh tahun ke depan. Maka putri cantik mu akan selamat."


πŸ“± Alvian : "Cepat katakan? Surat kontrak apa?" Alvian berdiri dari tempat duduknya sambil bertolak pinggang.


πŸ“± ... : "Sabar! Sebagai aset negara kau tidak boleh bertindak dengan emosi." si penculik tersenyum dibalik maskernya.


πŸ“±... "Saya ingin kita bekerjasama untuk menghancurkan Agenci AX Si. Kau keluar dari sana dan bergabunglah dengan kami. Namun, hanya kau seorang tidak usah dengan keempat sahabat mu." lanjut pria itu lagi.


πŸ“± Alvian : "Kurang ajar! Jadi hanya karena hal ini kau menculik putriku. Biadab! Jika kau berani menyentuhnya, aku bersumpah tidak akan membiarkan anak dan keturunan mu selamat dari kematian."


πŸ“±Vania : "Aaaaa... takit! Papa... tolong Via. Via takut, Pa." setelah ancaman Alvian. Langsung terdengar suara putrinya menjerit kesakitan. Entah apa yang terjadi di sana. Sehingga membuat Vania terus berteriak histeris. Membuat Ayara dan Nyonya Lili juga ikut menangis mendengar gadis kecil mereka kesakitan.


πŸ“±... "Ian, kau mau mengancam ku? Kau tahu kan apa yang bisa kulakukan pada putri kesayangan mu. Malam ini juga datanglah ke alamat yang Saya kirim kan. Tapi kau tidak boleh membawa teman. Kau datang sendiri untuk menandatangani surat kontraknya, lalu saat pulang boleh membawa anakmu." ucap pria tersebut yang langsung memutuskan sambungan telepon.


πŸ“± Alvian : "Hallo... Hallo?" seru pemuda itu mengusap wajahnya kasar setelah tahu sambungan sudah terputus.


"Kak, siapa mereka? Tanda tangan kontrak seperti apa yang membuat mereka menukarnya dengan keselamatan Via?" tanya Dery semakin khawatir.


"Entahlah, Kakak juga tidak tahu, Der. Kau tolong jaga mama dan kakak ipar. Kakak mau pergi menyelamatkan Via." jawab Alvian menatap kasihan pada mama dan istrinya yang terus menangis.


"Alvin, kau jangan datang sendirian, Nak. Kau beritahu mereka, mau uang berapapun asalkan mengembalikan Via dalam keadaan selamat." cegah Nyonya Lili.


"Tidak, Ma. Alvin tidak mau membahayakan nyawa Via. Mama mendengar sendiri kan jika mereka tidak membutuhkan uang. Tapi tanda tangan kontrak. Alvin rasa ini adalah orang-orang politik yang melakukan."


"Alvin... Via..." lirih Ayara yang hanya ingin putrinya selamat.


"Iya, Sayang. Aku pergi untuk membawanya pulang. Kau tenang ya, mereka hanya membutuhkan aku. Jadi tidak akan semudah itu mencelakai putri kita " pamit Alvian yang memilih langsung pergi.


Mendengar suara tangisan sang putri membuat pemuda itu tidak bisa berpikir jernih. Tidak perduli keselamatannya sendiri. Dia pergi seorang diri tanpa ada bodyguard yang menjaganya.


... BERSAMBUNG... ...