I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Oleng Kiri-kanan.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Apakah sudah tidur?" tanya Alvian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Saat ini malam sudah kembali menyapa. Pasangan suami-istri itu baru saja pulang dari rumah utama karena Via tadi siang mengajak kedua orang tuanya pergi ke sana lagi.


Alhasil Alvian yang masih lelah pun mengikuti kemauan sang putri dan saat sore harinya saat mau pulang ke rumah mereka. Nyonya Lili mamanya yang tidak boleh.


Agar anak dan menantunya pulang setelah makan malam bersama. Makanya sekarang Alvian dan Ayara baru tiba di rumah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


"Sudah! Kau temani Via ya, aku mau mandi juga." jawab Ayara yang sudah turun dari tempat tidur. Malam ini Vania memang tidur bersama mereka.


Selain karena si princess masih kurang sehat. Alvian juga ingin tidur bersama putrinya. Lagian Ayara juga tidak mau membiarkan putrinya tidur sendiri karena takutnya akan kembali demam.


"Tentu saja aku akan menjaganya. Bukankah dia juga putriku." jawab Alvin yang tidak sama dengan ucapannya. Karena kedua tangan kekarnya sudah memeluk tubuh Ayara dari belakang.


"Aya, aku menginginkan dirimu," ucapnya degan suara berat yang tanpa dijelaskan tentu Ayara tahu apa penyebabnya.


"Lalu," jawab wanita itu karena ada Vania di kamar mereka. Jadi berpura-pura saja tidak tahu.


"Jadi kita bisa mandi bersama lagi." Alvian membalikkan tubuhnya Ayara agar menghadap padanya.


"Alvin, jangan sekarang. Via lagi tid---"


Cup!


Sebelum Ayara menyelesaikan ucapannya. Bibir tipis Alvian sudah bersilahturahmi dengan bibirnya. Sehingga refleks kedua tanya Aya menempel pada tubuh Alvian yang bertelanjang dada karena dia memang belum memakai baju.


Ayara yang juga sudah hampir satu Minggu tidak pernah disentuh oleh suaminya. Tentu tidak menolak cumbuan dari Alvian yang selalu bisa membuat dia terbuai.


Kamar tidur yang memiliki AC itu pun mendadak terasa panas karena mereka berdua sama-sama menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


Augh!


Lenguh Ayara ketika Alvian mulai memberikan jejak kepemilikan pada leher jenjangnya. Hal yang membuat pemuda itu semakin menginginkan lebih dari apa yang dia lakukan saat ini.


"Al, ada Via," cegah Aya mendorong pelan dada bidang suaminya agar menjauh dari tubuhnya. Walaupun dia juga menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Namun, Ayara juga tidak bisa egois karena ada sang putri di kamar mereka.


"Biarkan saja, kita bisa ke kamar mandi." jawab pemuda itu sudah mengendong Aya ala bridal style dan dibawa masuk kedalam kamar mandi.


Padahal baru beberapa menit lalu dia keluar dari sana. Mungkinkah Alvian mau mandi lagi? Entahlah! Ayara juga tidak tahu.


Untungnya pintu kamar mandi memang tidak di tutup oleh Alvian, karena dia memang tahu jika kebiasaan Aya sebelum tidur akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


"Aku ingin sekarang, jika menunggu besok takutnya jalanku akan oleng kiri dan oleng kanan." ucap Alvian tersenyum setelah mendudukkan Aya pada meja di dalam kamar mandi.


"Kau ini, pintar sekali mencari alasan." jawab Ayara tersenyum.


"Aku sangat merindukanmu dan juga menginginkan tubuhmu, sayang. Apakah kau tahu gara-gara merindukan kalian berdua. Setiap malam aku susah tidur." ungkap Alvian sebelum kembali lagi melanjutkan aksinya dan Ayara pun membalas sentuhan dari laki-laki yang dia cintai.


Namun, disaat mereka lagi bercumbu. Televisi yang ada di dalam kamar mandi malah memberitakan tentang hubungan Alvian dan Alice. Sehingga membuat mereka berdua sama-sama menoleh kearah televisi yang menggantung pada dinding kamar mandi.


Sebetulnya dia hanya merenovasi saja, jika rumah tersebut tentu hadiah pernikahan mereka dari Tuan Abidzar yang merupakan pengusaha kaya raya.


"Jadi apakah berita tentang pernikahan kalian benar adanya, Nona Alice?" tanya seorang artis lokal yang mewawancarai Alice di sebuah stasiun televisi.



"Alvin, itu kanapa mereka membahas pernikahan dirimu dan Alice?'" tanya Aya menjauhkan tubuh mereka berdua.


"Bukan apa-apa, hal seperti ini sudah biasa terjadi. Mungkin mereka bertanya karena aku yang mengucapkan kata cinta padamu Minggu lalu. Mereka tidak tahu siapa gadis yang berenisial huruf A." jawab Alvian ingin mematikan televisi yang tadi saat dia mandi sengaja dia hidupkan karena Alvian berendam di dalam Bathtub hampir setengah jam.


Tubuhnya sangat lelah. Maka bila dibawa berendam aroma terapi bisa mengurangi rasa lelahnya. Namun, saat keluar Alvian malah lupa mematikannya.


"Tunggu! Jangan dimatikan! Aku ingin mendengar apa jawabannya atas pertanyaan pembawa acara itu." cegah Aya mencekal tangan suaminya yang sudah memegang remote control untuk memastikan dari tempat mereka saat ini.


"Baiklah! Tapi apapun jawabanya, kau jangan pernah mengambil hati karena semua itu tidak benar." Alvian akhirnya menaruh kembali remote tersebut dan dia hanya menarik Aya agar bisa ia peluk dari samping dan wanita itupun membiarkan saja.


Ayara tidak marah pada Alvian. Tapi hanya penasaran apa yang akan di jawab oleh Alice atas hubungan dia dengan Alvian suaminya.


"Jika tentang itu kalian akan tahu sendiri jawabanya nanti. Akan tetapi apa yang diberitakan memang benar, jika kami memiliki hubungan khusus." itulah jawaban Alice atas pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang padanya.


Selama ini Alice tidak pernah mengklarifikasi tentang pertanyaan seperti itu. Namun, degan pengakuan Alvian yang telah memiliki kekasih dan sangat mencintainya. Membuat Alice terpaksa berbohong.


"Wah... jadi ini seperti teka-teki yang bisa di tebak oleh para fans ALV dan fans mu. Mereka semua ingin kalian berdua bisa bersatu." seru wanita dan laki-laki yang tadi bertanya mewakili fans ALV dan fans Alice.


"Sayang, jangan dengarkan ucapannya. Ini tidak benar! Aku tidak tahu kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Nanti aku akan menelepon nya." jelas Alvian karena dia sampai kaget mendengar jawaban wanita itu tidak sama seperti biasanya.


"Apakah saat di sana kau ada berbicara dengannya. Tetang siapa kekasihmu?" tanya Ayara mencoba menahan hatinya agar tidak langsung cemburu pada sesuatu yang tidak pasti.


"Eum... malam itu, malam aku mengungkapkan cinta di depan kamera. Saat kami bersiap-siap untuk manggung yang ke dua. Dia menemui aku dan bertanya apakah aku sudah memiliki kekasih." jawab pemuda itu jujur.


"Tapi setelah itu kami tidak ada berbicara apa-apa lagi. Sama dengan acara kemarin malam. Aku dan Alice tidak berbi---"


Cup!


"Aku percaya padamu," Ayara tiba-tiba mengecup bibir Alvian lebih dulu. Diluar ekspektasi pemuda itu karena dia mengira akan mendapat amukan dari Ayara.


"Benarkah kau percaya padaku? Terima kasih!" seru Alvian mengelus pipi mulus Ayara yang ikut tersenyum kecil.


"Aya, percayalah padaku, aku tidak mungkin berbohong padamu. Kau lebih menge---"


"Aku percaya, Alvin. Aku percaya padamu, karena jika kau berbohong tentang hubungan kalian. Aku rasa kau tidak mungkin mencari ku dan Via." lagi-lagi Ayara memotong ucapan suaminya.


"Oke, karena kau sudah percaya padaku. Maka ayo kita lanjutkan membuat adik untuk Via." Alvian langsung mematikan televisi karena tidak ingin ada yang mengaggu nya lagi.


Entah siapa yang memulainya lebih dulu. Sehingga kedua bibir mereka sudah kembali menyatu.


"Alvin adalah milikku, bukan milik kau Alice. Jika pendukung kalian ingin hubungan kau dan suamiku bisa bersatu. Maka aku tidak membutuhkan itu, karena ada keluarga Rafael yang mendukung hubungan kami."


Gumam Ayara sambil menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.


"Aaaagh! Alvin,"


... BERSAMBUNG...🤣🤭...