I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Ungkapan Ayara.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit. Alvian dan putrinya sudah tiba di depan rumah sewa Ayara. Para tetangga yang biasanya mengejek Ayara tidak ada yang berani berkutik setelah melihat mobil mahal yang terparkir di depan rumah tersebut.


Apalagi setelah mengetahui bahwa rumah tersebut sudah dibeli oleh kakak Ayara. Seperti itulah rumor yang beredar. Mereka semua tidak ada yang tahu bahwa yang melakukan semua itu adalah Alvian.


Ayah dari gadis kecil yang selalu mereka hina sebagai anak haram. Untungnya Alvian sadar diri jika semua itu karena kesalahannya yang meninggalkan Ayara.


Intinya dia introspeksi diri. Tidak menyalahkan orang lain atas apa yang sudah terjadi. Buktinya meskipun dia diam, mereka semua tidak ada yang bertanya perihal Alvian dan Bara.


"Astaga! Alvin apa yang kau lakukan? Apa kau mau membuat rumahku menjadi gudang," seru Ayara begitu melihat banyaknya barang-barang yang diangkut oleh Lula dan Bara.


"Tidak! Aku hanya lagi ingin berbelanja saja, iya kan sayang!" berbicara pada putrinya yang menempel pada dadanya karena si kecil mengantuk ingin tidur.


"Iya, tita tuma belanja, Ma," jawab Vania yang membenarkan.


"Tu... kamu mendengar sendiri, kan," kata Alvian tersenyum tampan. Dia tidak perduli meskipun Aya menatapnya tajam.


"Kau---"


"Shuuit! Jangan berisik! Via mau tidur. Ayo kita ke kamar. Biar aku gendong dia dan kau perbaiki tempat tidurnya," ajak Alvian yang dianguki saja oleh Ayara karena si buah hati mereka benar-benar sudah memejamkan matanya mau tidur siang.


Mungkin juga si cantik Vania kelelahan pergi berbelanja cukup lama. Walaupun dia digendong oleh papanya dan sesekali dia minta jalan sendiri. Tapi namanya juga anak kecil, jadi sudah pasti akan lelah juga


"Bara, Lula! Aku mau membereskan tempat tidur Vania," pamit Ayara takut kedua sahabatnya mencari dia dan Alvian.


"Pergilah! Kasihan Vania, Sepertinya dia dan papanya mau memindahkan seisi Mall ke rumah mu," jawab Lula sambil berjalan keluar lagi.


"Huem," Aya hanya memaksakan untuk tersenyum canggung. Dia merasa malu jika Lula berpikiran dia mengambil kesempatan karena adanya Alvian.


Padahal itu semua hanya perasaan dia saja. Lula mana mungkin memiliki pemikiran jelek terhadap dirinya.


"Aya, tolong buka pintunya," panggil Alvian yang tidak bisa mengunakan satu tangannya. Mungkin jika kunci kamar tersebut seperti di Apartemen tentu dia bisa melakukannya sendiri.


Akan tetapi ini berbeda karena kunci jaman dahulu yang masih awet sampai saat ini. Meskipun ada rasa malasnya masuk ke kamar bersama Alvian. Tetap saja Aya paksakan karena tidak mungkin putrinya tidur dalam gendongan Alvian.


Cup!


Pemuda itu mencium kening putrinya cukup lama. Setelah membaringkan Vania di atas tempat tidur seadaanya.


"Nanti Papa akan pulang dan pasti Papa sangat merindukanmu. Rasanya Papa sangat malas untuk kembali ke kota S." ucap Alvian yang masih bisa didengar oleh Ayara karena wanita itu berdiri dibelakang Alvian.


"Huh! Syukurlah jika dia benar-benar tulus menyayangi Vania. Aku hanya takut kehadirannya hanya ingin menyakiti hati putriku saja." gumam Ayara di dalam hatinya dengan helaan nafas panjang.


Melihat perhatian yang diberikan Alvian saat ini membuatnya merasa lega. Meskipun rasa was-was takut Alvian pergi dan tidak akan kembali lagi masih tetap ada di relung hatinya paling dalam.


Akan tetapi demi Vania, Ayara mencoba mengalah. Benar kata Alvian tadi malam, Aya memang mampu untuk membesarkan Vania walaupun dalam keadaan kekurangan. Namun, Ayara tidak bisa mengisi data pada akte kelahiran putri mereka.


Lalu bagaimana mungkin Vania bisa masuk sekolah. Soalnya jika pun ayahnya sudah meninggal dunia. Tetap saja data tersebut harus diisi dan Ayara tidak bisa membuat surat tersebut karena dia harus memiliki uang banyak. Baru bisa melakukanya tanpa kehadiran Alvian sekalipun.


"Kau lagi memikirkan apa? Apa kau lagi berpikir jika aku tidak akan kembali ke sini lagi?" tebak Alvian karena sejak tadi dia berbicara. Namun, Ayara tidak menyahuti karena ibu muda itu lagi larut dengan pikirannya.


"A--apa! Aku... aku hanya lagi berpikir kapan kau akan pergi dari rumah ku? Aku tidak ingin orang-orang berpikiran aneh karena kehadiran kalian," elak Ayara yang membuat Alvian tersenyum.


"Biarkan saja mereka berpikiran aneh, agar mereka menikahkan kita," seloroh Alvian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ayara.


"Kau jagan---"


"Sebentar! Aku mau mengangkat panggilan telepon," sela Alvian karena sudah sejak pagi ponselnya bergetar. Akan tetapi karena dia sibuk bersama putrinya. Jadi Alvian mengabaikan panggilan tersebut.


Ayara tidak bicara sepatah katapun. Dia hanya diam saja karena Alvian juga langsung mengangkat panggilan dari ponselnya.


📱 Alvian : "Iya, Alice! Maaf tadi aku lagi pergi jalan-jalan. Ada apa?" tanya Alvian mengangkat panggilan itu dihadapan Ayara.


Sehingga Aya tahu bahwa yang menelepon Alvian adalah seorang wanita.


📱 Alice : "Kapan kau kembali? Bukannya kau sudah berjanji akan mengajakku jalan-jalan setelah selesai konser di kota B?" tanya wanita itu yang terdengar kecewa.


📱 Alvian : "Malam ini aku sudah kembali ke kota S. Eum... besok pagi kita bisa jalan-jalan. Aku akan menemanimu kemanapun yang kau mau," ucap Alvian sambil melihat kearah Ayara.


Deg!


Jantung Ayara tiba-tiba berdegup kencang. Namun, bukan karena dia merasakan jatuh cinta lagi. Melainkan rasa sakit karena harus mendengar ucapan Alvian degan wanita lain.


"Ingat Aya, jangan pernah memiliki mimpi yang tinggi. Nanti kau akan terjatuh dan rasa sakitnya akan lebih dari sebelumnya."


Gumam Ayara seraya berjalan keluar dari kamarnya. Dia tidak ingin menguping pembicaraan Alvian bersama kekasihnya. Begitulah pemikiran Ayara.


"Ya Tuhan! Tolong lindungi aku bersama Vania. Agar hati ini tidak lagi merasakan sakit yang sama. Jika bisa, tolong bawa aku dan putriku pergi dari sini. Di mana hanya ada kami berdua saja. Aku tidak membutuhkan semua kemewahan dan tanggung jawab dari Alvin. Aku hanya ingin bahagia meskipun hidup serba kekurangan."


Dengan rasa hatinya yang terasa dihujam sembilu. Ayara menutup pelan pintu kamarnya, karena takut membangunkan sang putri.


"Aya..." panggilan dari Alvian tidak dihiraukan olehnya. Ayara benar-benar meninggalkan kamarnya.


"Empat tahun aku berusaha menghilangkan rasa ini.. Ternyata masih juga ada. Ada apa denganmu Aya, sadarlah! Jagan seperti ini. Kau hanya akan menyakiti hatimu sendiri." karena Ayara tidak kuat menahan rasa sesak di hatinya. Dia pergi ke belakang rumah tersebut.


Saat keluar dari dapur, Ayara juga menutup pintunya. Agar Lula tidak tahu jika dia berada di sana. Saat ini Ayara hanya ingin sendiri.


"Hick.. hick.." Ayara mulai menangis sambil memukul dadanya yang terasa sakit.


"Mama... kenapa Aya harus bertemu dengannya lagi " tangis Ayara yang entah mau marah pada siapa.


Dia benci pada hatinya sendiri, setelah rasa sakit pernah dibuang oleh Alvian. Namun, perasaan tersebut masih juga ada. Ayara ingin melupakan semuanya. Akan tetapi keinginan tidak sesuai dengan kenyataan.


Bodoh! Ya, jelas saja Ayara bodoh, begitulah pemikiran bagi orang yang tidak pernah berada di posisinya. Andai kan bisa, tentu sudah sejak dulu dia membenci Alvian. Akan tetapi semua tidak semudah itu.


Semakin dia berusaha, maka hatinya semakin tersakiti sendiri. Itulah makanya Ayara tidak pernah mau melihat berita tentang Alvian. Namun, sekarang pemuda itu datang dengan sendirinya dan mengatakan bahwa dia masih mencintai Ayara.


Akan tetapi ternyata Alvian memiliki hubungan dengan wanita lain. Jadi sudah jelas Ayara merasa jika dirinya hanya sedang dipermainkan. Apalagi Ayara ingat waktu itu Lula pernah mengatakan bahwa kekasih Alvian bernama Alice.


Wanita yang sangat cantik dan satu profesi degan Alvian. Makanya tadi Ayara memilih pergi dari kamarnya. Tidak peduli Alvian memanggil namanya.


"Apakah aku harus menikah dengan laki-laki lain dulu baru bisa melupakannya? Tapi aku tidak bisa hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri." lirih Ayara menyadarkan tubuhnya pada pokok pohon kayu.


"Tidak, Tidak! Aku harus membuang semua perasaan ini. Aku tidak boleh percaya padanya. Mau apapun alasannya, Alvin tetaplah seorang pembohong." Ayara terus saja berbicara sambil menagis.


Tanpa dia sadari jika di dalam rumah Alvian sibuk mencari-cari keberadaannya. Begitu pula dengan Bara dan Lula.


"Bukannya tadi dia bersamamu di dalam kamar? Kenapa bisa tidak ada?" tanya Bara karena dia baru selesai membawa barang-barang yang dibeli oleh Alvian masuk kedalam rumah tersebut.


Tadi saat Ayara keluar dari dalam kamar. Bara dan Lula juga sedang keluar dari rumah untuk mengambil barang dari mobil.


"Iya, tapi saat aku mengangkat telepon dari Alice. Dia langsung keluar dan aku kira Aya ada di sini," jawab Alvian yang sudah lebih dari lima kali mencari Ayara di dalam kamar mandi dan juga dapur.


"Kemana dia? Apakah Aya lagi di..." Lula tidak melanjutkan lagi ucapannya. Akan tetapi dia berjalan mendekati jendela kecil yang mengarah pada belakang rumah.


Lalu dia singkap tirai nya dan dari sana terlihat ada Ayara. Wanita itu sedang duduk sambil kepalanya menunduk dan dia sandarkan pada kedua celah kakinya yang ia tekuk.


"Itu Ara, dia jika mau menenangkan hatinya pasti lari ke sana. Hanya saja selama ini aku yang berpura-pura tidak tahu karena aku tidak ingin membuat dia bertambah sedih bila aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya." jelas Lula sangat kasihan pada nasib sahabatnya.


Ternyata keberuntungan Ayara bisa menjadi ibu dari anak salah satu member ALV. Ada rasa sakit yang harus ia pikul sendiri. Dan itu semua hanya Ayara sendiri yang merasa betapa sakitnya berada di posisinya.


"Bukannya tadi dia baik-baik saja? Ada Apalagi? Apakah dia sedang cemburu karena aku mengangkat telepon dari Alice? Atau ada hal lainnya?" gumam Alvian yang tidak tahu kenapa Ayara bisa pergi menyendiri lagi.


"Jika benar karena telepon dari Alice. Maka aku harus menjelaskan padanya. Agar Aya tidak salah paham. Astaga, Alvin! Kau ini benar-benar bodoh! Menyembuhkan hatinya yang kau sakiti saja belum bisa. Lalu bagaimana mungkin kau melukainya lagi,"


Tidak banyak berbicara. Alvian berjalan ke arah dapur dan membuka pintunya. Lalu dia tutup lagi seperti semula. Dengan langkah pelan Alvian berjalan mendekat. Agar dia tahu apa yang membuat Ayara seperti sekarang.


"Tidak terdengar suara apapun. Dia juga tidak menangis." batin Alvian sudah berada di hadapan Ayara.


"Aya, apa yang kau lakukan di sini?" berpura-pura bertanya padahal Alvian menebak jika Ayara lagi cemburu padanya.


"Huem... Ti--tidak ada, aku hanya lagi menikmati angin," jawabnya memaksakan untuk tersenyum.


Untungnya Ayara sudah berhenti menagis, akan tetapi dia tidak bisa berbohong karena matanya masih terlihat sembab karena menangis cukup lama.


"Apa kau menangis?" Alvian duduk di samping Ayara karena bangkunya cukup untuk berdua.


"Tidak! Aku hanya lagi ingin sendiri," dusta Ayara berusaha agar terlihat baik-baik saja.


"Aya, maaf soal tadi. Dia---"


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu menjelaskan apapun, karena kita bukan siapa-siapa lagi. Kau ada disini juga karena Vania. Jadi jangan pernah memiliki perasaan tak enak padaku," sela Ayara tetap tersenyum meskipun di dalam hatinya ingin menjerit karena tidak tahan menahan rasa sakitnya.


"Aya, berapa kali harus aku katakan padamu. Aku disini bukan hanya untuk anak kita, tapi juga untuk dirimu," ungkap Alvian berusaha untuk menjelaskan.


Akan tetapi hati yang sudah rapuh. Tentu tidak bisa menerima alasan apapun lagi. Benci, cinta, kecewa dan segalanya sudah menjadi satu. Begitulah yang Ayara rasakan.


Namun, semua itu harus dia sembunyikan. Demi berlangsungnya kehidupan yang sangat kejam dan tidak adil padanya.


"Huem... terima kasih atas niat baikmu. Lain kali jika kau mau membeli sesuatu, beli saja untuk Vania. Kau tidak perlu membeli barang apapun untuk diriku, karena aku tidak mau berhutang budi padamu." ucap Ayara untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aya, aku tidak pernah meminta balasan apapun. Aku sendiri ingin melakukannya, kenapa kau bisa berpikiran seperti itu. Aku---"


"Karena aku tidak mau bergantung pada siapapun lagi, Alvin. Apa kau tahu seperti apa saat aku pergi meninggalkan rumah keluarga Wilson. Aku hanya membawa uang seratus lima puluh Dolar. Untungnya Hatiku tergerak untuk menaiki bus yang mengarah ke kota ini," jawab Ayara cepat sebelum Alvian menyelesaikan ucapannya.


"Aku pergi dalam keadaan demam karena saat pulang dari bertemu dengan mu. Aku sengaja menangis dalam hujan. Agar tidak ada orang yang tahu bahwa aku lagi menangis." lanjutnya menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


"Aku pergi tidak tahu arah akan kemana, tidak tahu akan bekerja apa. Karena aku tidak bisa bekerja apapun. Untungnya aku bertemu orang baik, saat menaiki bus aku juga tidak membayarnya. Paman itu memberiku tumpangan gratis." mendengar cerita Ayara.


Membuat Alvian menatap mantan kekasihnya lekat. Sebab Alvian memang tidak tahu semuanya. Dia hanya tahu jika Ayara di usir dalam keadaan demam dan hamil. Bagaimana proses Ayara bisa sampai ke kota B. Tentu saja dia tidak tahu karena Lula juga tidak bercerita padanya.


"Apa kau tahu apa yang paling membuatku menyesal saat itu? Aku menyesal karena selama hidupku hanya bergantung pada orang lain. Sebelum mengenalmu, aku bergantung pada para asisten di rumah Tuan Edward. Lalu setelah mengenalmu aku benar-benar bergantung padamu, karena dulu aku mengira jika kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan sebagai penganti mamaku yang telah dia ambil." ucap Ayara yang tidak di sela oleh Alvian.


Pemuda itu hanya diam mendengarkan curhatan hati Ayara.


"Aku menjadikan bahu mu sebagai sandaran, karena kebodohanku bergantung pada manusia. Padahal sudah jelas hati manusia tidak ada yang tahu kapan berubahnya. Andai aku bergantung pada Tuhan, mungkin aku tidak akan merasa kecewa yang berlebihan." sambil bicara Ayara masih bisa tersenyum kecil.


"Intinya aku tidak ingin karena kebaikan mu, harus merasakan hal yang sama lagi. Padaku, maupun Vania. Jadi jika kau ingin memenuhi kewajibanmu. Tolong jangan berlebihan, kedepannya kita tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Kau memiliki kehidupan mu sendiri. Begitu pula dengan kami, jadi aku harap kau bisa mengerti permintaan ku,"


Setelah meluapkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya. Ayara berjalan masuk dan meninggalkan Alvian sendirian.


Sekarang Ayara tidak mau memikirkan perasaan orang lain, karena dia hanya ingin bisa hidup tenang. Biarkan tubuhnya lelah, karena harus bekerja.


...BERSAMBUNG......