I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Masuk Ruang UGD.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Sudah satu Minggu. Tapi Bara belum juga pulang untuk menyelesaikan masalahnya dan Lula. Padahal saat ini istrinya jatuh sakit sejak kemarin malam.


Namun, meskipun begitu tidak ada salah satu dari sahabat Bara yang mengetahui masalah rumah tangganya.


💌 Lula : "Bara... pulanglah! Aku lagi sakit dan sangat membutuhkan dirimu. Mari kita bicarakan masalah rumah tangga kita. Jangan seperti ini karena tidak akan menyelesaikan masalah. Aku mohon padamu!"


Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Lula. Semenjak pertengkaran mereka pagi itu, sudah puluhan kali Lula mengirim pesan agar Bara pulang. Namun, pemuda itu tidak membalas satupun.


Padahal nomornya aktif dan semua pesan Lula juga dibukanya. Akan tetapi jika Lula menelepon pasti langsung dirijek tidak diangkat.


💌 Lula : "Aku lagi sakit sudah dua hari sekarang. Tolong pulanglah!" melihat pesanannya sudah dibaca Lula kembali mengirimkan pesan. Tapi kali ini pesanannya tidak dibuka lagi.


"Jadi kau benar-benar kecewa padaku? Jika begini sikapmu, aku juga kecewa padamu, Bar. Tidakkah kau percaya sedikit saja pada diriku? Aku memang bukan siapa-siapa bagimu. Selain hanya wanita miskin yang bermimpi terlalu tinggi."


Lirih Lula sebelum tertidur karena jam sudah menjukkan pukul setengah satu malam. Semenjak mereka bertengkar Lula tidak pernah tidur tepat waktu. Dia juga tidak pernah menghubungi siapapun bahwa lagi sakit. Lula takut jika orang lain melihat luka dan memar pada pipi kirinya.


Ya, sampai saat ini bekas tamparan Bara masih belum hilang seratus persen. Begitu juga dengan lukanya yang dia obati sendiri. Kebetulan sekali dirumah itu hanya ada dia dan Bara saja. Karena Lula yang tidak mau memiliki asisten rumah tangga.


"Lula..."


Sayup-sayup Lula mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Lula, ayo bangunlah! Jangan membuatku khawatir." suara tersebut semakin jelas. Akan tetapi mata Lula tidak bisa untuk dibukanya.


"Lula... ayo bangunlah! Tolong bangunlah!" tangis Ayara yang datang untuk melihat keadaan sahabatnya pagi ini.


"Ba--bara." jawab Lula berusaha membuka matanya. "Bara, kau sudah pulang?" ucapnya lagi membuat Ayara semakin menagis melihat keadaan sahabat melebihi saudari baginya.


"Alvin, ayo kita bawa Lula ke rumah sakit. Tubuhnya panas sekali." Ayara yang khawatir langsung mengambil keputusan.


Dengan kecepatan sedang pasangan suami-istri itu menuju rumah sakit terdekat. Aya juga sudah menelepon Tuan Abidzar untuk memberitahu keadaan Lula saat ini.


Setibanya di rumah sakit yang tidak jauh dari kediaman Bara dan Lula. Ternyata para orang-orang Tuan Abidzar sudah menunggu di sana bersama beberapa orang dokter.


Lula yang terlihat begitu pucat langsung dilarikan ke UGD. Ayara dan Alvian saling berpelukan di depan ruangan tersebut.


"Tenanglah! Lula pasti baik-baik saja," ucap pemuda tampan itu menenangkan istrinya.


"Apa yang terjadi, Al? Kenapa Lula bisa seperti ini?"


"Entahlah! Aku juga tidak tahu sayang. Aku hanya taunya Bara mengatakan dia dan Lula bertengkar, itu saja." jawab Alvian yang baru mengetahui hal itu tadi malam.


"Alvin, Aya... bagaimana keadaan Lula?" tanya Tuan Abidzar langsung berangkat ke rumah sakit.


"Dia masih diperiksa, Pa." Alvian yang menjawabnya.


"Sayang, tenanglah! Lula akan baik-baik saja." kata Tuan Abidzar pada menantunya.


"Lula, Pa. Dia bukan hanya demam, tapi pipinya juga ada bekas memar. Pada tangan dan kakinya juga ada bekas luka."


"Apa?" seru Tuan Abidzar kaget. Beliau menatap pada Alvian dan berkata. "Alvin, apakah Bara tahu kalian datang ke rumahnya?"


"Ti--tidak, Pa,"


"Jika begitu jangan beritahu dia."


"Tapi Bara suaminya Lula, Pa."


"Turuti saja perintah Papa! Suami seperti apa yang membiarkan istrinya sakit tidak dibawa ke rumah sakit." Tuan Abidzar sampai membentak putranya. Beliau benar-benar tidak bisa terima bila benar Bara penyebab Lula sampai seperti saat ini.


Padahal sejak awal beliau sudah berpesan pada Bara maupun orang tuanya. Jika menyakiti Lula, maka sama saja menyakiti putri dari keluarga Rafael.


... BERSAMBUNG... ...