
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Enam bulan kemudian.
"Ara, Ara akhirnya impian ku untuk bertemu group boyband ALV akan segera terwujud. Aku sudah membeli tiket untuk menonton konser mereka malam Minggu ini," teriak Lula yang baru saja datang dari luar.
Tadi siang gadis itu sudah minta Izin pada Bibi Atika karena dia mau memastikan tiket yang dia beli sudah keluar atau belum.
"A--apa! Me--mereka akan konser di kota ini?" seru Aya tergagap. Jantungnya seakan kembali teriris sembilu yang begitu perih.
"Iya, Albar kekasih halu ku akan konser disini dan aku berkesempatan menonton konsernya secara langsung," terlihat begitu jelas kebahagiaan di wajah cantik Lula. Dia sangat tergila-gila pada salah satu member ALV. Yaitu group boyband Alvian dan keempat sahabatnya.
Albar adalah nama panggilan Aldebaran oleh para fansnya. Sedangkan Alvian nama panggilannya adalah Ian. Mereka semua memiliki nama panggilan tersendiri.
Group boyband ALV benar-benar sudah mendunia. Semuanya kaum hawa sangat tergila-gila pada suara dan ketampanan mereka. Satu-satunya wanita yang tidak tertarik hanyalah Ayara. Gadis yang menjadi korban rayuan gombal dari salah satu vokalis inti dari group boyband tersebut.
"Oh! Aku... kira ada hal apa," jawab Ayara memaksakan tersenyum. "Selamat kalau begitu, akhirnya kau bisa menonton konser mereka," Aya tersenyum getir menahan sesak di hatinya.
Di tengah susahnya perjuangan hidup yang ia rasakan. Ayah dari bayi yang ia kandung malah sedang dibanjiri job konser ke berbagai belahan dunia.
Alvian sangat menikmati kehidupan barunya tanpa Ayara. Itulah yang sering gadis itu dengar dari Lula.
"Aya, kau kenapa bersedih ? Apakah kau mau menonton juga? Maafkan aku, aku bukannya tidak mau membawamu. Tapi aku takut kau melahirkan di kerumunan para penonton," ucap Lula langsung memeluk Aya yang akhirnya menangis juga.
Dia tidak sanggup menahan sesak di dadanya. Hati Aya benar-benar sakit sekali, sudah delapan bulan kurang lebih Alvian memutuskan hubungan mereka. Maka selama itulah Aya berjuang melawan rasa kecewa, sakit dan tidak berdaya karena harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ada apa? Apa kau ada masalah? Ayo ceritakan padaku, jika perlu aku tidak akan pergi menonton." tanya Lula yang tidak tahu jika Ayara menangis karena mengigat mantan kekasihnya.
"Tidak, tidak! Kau harus menonton konser mereka. Aku tidak ada masalah, hanya saja aku merasa bahagia karena akhirnya kau bisa menonton konser ALV secara langsung," dusta Aya melepaskan pelukan mereka sambil tersenyum dan menyeka air matanya.
"Benarkah? Kau tidak lagi berbohong, 'kan?" Lula kembali memastikan.
"Benar, aku hanya merasa bahagia. Andai aku tidak sedang hamil besar, maka aku juga akan menonton konser mereka," untuk mengalihkan perhatian Lula padanya. Aya berjalan memperbaiki bunga-bunga di dalam Toko tersebut.
"Huem, iya. Tapi... aku sebetulnya sedih juga," keluh Lula dengan suara sendunya.
"Sedih kenapa lagi? Bukannya seharusnya kau senang bisa melihat Albar pujaan hatimu secara langsung," goda Aya setelah bisa menguasai kesedihannya.
"Ha... ha... Lula, kau membuatku sesak," tawa Aya karena dia merasa lucu mendengar tangisan sahabat.
"Ara, apakah kau tahu kenapa aku menangis?" tanya Lula sudah melepaskan pelukannya.
"Tidak tahu, karena kau belum memberitahuku,"
"Gara-gara membeli tiket untuk menonton mereka. Semua uang tabungan ku habis tidak tersisa," jawabnya kembali bersedih.
"Benarkah? Apakah tiketnya sangat mahal?" selain tidak memiliki ponsel. Aya juga tidak pernah mencari tahu tentang berita mantan kekasihnya ataupun hal yang lain.
Gadis itu benar-benar tidak ingin mengetahui lagi tentang dunia luar yang sudah banyak memberikan luka pada dirinya. Kesehariannya, Aya hanya sibuk merangkai bunga untuk mengumpulkan uang dikit demi sedikit, karena bulan ini adalah kelahiran calon si buah hati yang sudah ia nantikan.
Berbeda dengan Lula sahabatnya. Gadis itu memiliki ponsel Android dan sangat gemar menonton setiap grup ALV live ataupun konser di negara manapun melalui berita para artis terkenal.
"Ara sayang, makanya kau lupakan pria brengsek itu dan lihatlah Dunia luar. Hidupmu belum berakhir sahabatku," oceh Lula yang selama ini mengira Aya tidak mau diajak menonton dari ponselnya gara-gara mengingat ayah bayi yang dia kandung.
"Aku hanya mampu membeli tiket paling belakang. Itupun harga tiketnya seratus lima puluh Dolar," lanjut Lula sudah membantu Aya merangkai bunga seperti biasanya.
"Apa... ma--mahal sekali," seru Aya menelan Saliva nya. Berarti untuk menonton konser mantan kekasihnya. Lula harus rela menghabiskan hasil tiga bulan dia bekerja di Toko bunga milik Bibi Atika.
"Iya, memang sangat mahal. Belum lagi buat beli jajan dan minumannya. Sama photo card dan stik ALV. Aah! Jika tidak ingin bertemu Albar, maka aku tidak akan datang ke konser mereka," keluh Lula benar-benar merasa rugi harus mengeluarkan uang banyak.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Mana tahu kau bisa bertemu dengan nya dan meminta tanda tangan. Biar setelah itu kau semakin rajin bekerja agar mengembalikan uang tabungan mu," kata Ayara memberikan semangat.
"Iya sih, tapi... aku tidak punya baju yang bagus untuk pergi ke sana. Kau kan tahu sendiri aku cuma punya baju kaos biasa,"
"Soal itu kau tidak perlu khawatir, jika kau mau aku punya dress yang hanya beberapa kali aku pakai. Jadi kau boleh meminjamnya," saat meninggalkan rumah orang tuanya. Aya memang membawa dua lembar dress yang bukan dibeli oleh Tuan Edward.
Tapi dress tersebut adalah yang dibeli oleh Alvian saat pergi liburan bersama keluarganya. Begitu pula baju yang Aya pakai saat itu. Selembar benar saja dia tidak ada membawa yang dibelikan oleh ayah yang sudah tega membuang dirinya dalam keadaan sakit dan hamil.
"Benarkah! Wah, kalau begitu aku sedang dalam mode beruntung. Aku pinjam ya, aku berjanji akan membelikan hadiah untuk mu," seru Lula tersenyum bahagia lagi. Gara-gara mau menonton konser ALV dia menjadi seperti orang gila, sebentar menangis dan setelahnya tersenyum.
"Aya, kata Bibi Atika tadi, kita menutup tokonya jam empat. Ini sudah saatnya, Lula melihat jam tangannya dan sudah saatnya mereka pulang kerumahnya masing-masing.
"Huem, iya benar! Kalau begitu mari kita tutup. Sebelum pulang aku ingin membeli martabak di depan. Apa kau mau membelinya juga, biar aku belikan?"
"Tidak, aku masih kenyang. Kau beli saja, mumpung masih sore," sambil membereskan Toko tersebut mereka berdua mengobrol hal lainnya.
*BERSAMBUNG*...