
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
... HAPPY READING... ...
.
.
Tiga hari sudah berlalu setelah kejadian penculikan si cantik Vania. Maka sudah tiga hari pula gadis kecil itu bertemu psikiater. Memang Vania keadaannya baik-baik saja. Namun, dia masih takut pada orang asing dan berpakaian rapi seperti para pengawal kedua kakeknya.
Sejauh ini Alvian dan Ayara selalu menemaninya. Agar si princess Rafael tidak ketakutan. Jika masalah bersama Agensi AX Si sudah selesai malam itu juga. Sebab Tuan Abidzar dan Tuan Edward memaksa agar Marpora Emmanuel mengklarifikasi tentang berita yang sudah beredar.
Marpora Emmanuel saat ini juga sudah berada dipenjara. Namun, yang pasti dia tidak bisa bebas begitu saja. Soalnya Tuan Edward mengeluarkan uang besar untuk membayar jaksa penuntut umum. Supaya si penculik cucunya dihukum paling sedikit lima belas tahun penjara.
Namun, tidak dengan Alice. Saat penangkapan Marpora Emmanuel. Gadis itu sembunyi di dalam kamar mandi. Sehingga tidak ikut serta diseret ke kantor polisi. Begitu semuanya pergi dia pergi dari rumah tersebut.
Sehingga untuk saat ini belum tahu keberadaan gadis cantik itu. Tidak ada bukti juga bahwa dia ikut terlibat dalam penculikan Vania.
Tttddd!
Tttddd!
Suara ponsel milik Alvian bergetar.
"Via, Papa mau mengangkat panggilan telepon dulu ya?" ucap Alvian lembut. Sejak setengah jam yang lalu dia menemani putrinya bermain.
"Mau ikut!" jawab Via merentangkan kedua tangannya minta digendong.
"Baiklah! Ayo!" pemuda itu hanya tersenyum dan langsung menggendong putrinya. "Sayang, kami ke balkon ya." bisik nya pada Ayara yang tengah menidurkan Baby Arka. Ibu muda itu tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil.
"Besok pagi kita ke rumah Kakek Edward mau?" tanyanya pada sang putri sambil membuka pintu ke arah balkon kamarnya.
"Via takut."
"Oke! Kalau begitu tidak usah." lagi-lagi Alvian hanya tersenyum menatap putrinya penuh kasih sayang. "Duduk ya, Papa mau bicara sama Om Muzaki sebentar." ucapnya dan Via didudukan diatas pangkuannya.
π± Alvian : "Iya, Staf? Bagaimana?" tanya begitu menelepon balik Staf Muzaki.
π±Staf Muzaki : "Bagaimana keadaan Via? Apakah masih takut bertemu orang-orang yang belum dikenalnya?"
π± Alvian : "Masih! Untuk saat ini dia belum bisa aku tinggal. Apakah ada perubahan pada konsernya?"
π± Staf Muzaki : "Ya, tapi jadwalnya dimajukan besok. Namun, untuk penyelesaian kontrak juga dipercepat. Kita mencari aman dulu untuk menghindari tindakan seperti yang kau alami. Soal putrimu jika bisa ditinggal dua hari saja.
π± Alvian : "Akan aku bicarakan pada Aya dulu. Jika dia bisa menjaganya dibantu oleh orang tuaku, berarti bisa. Namun, bila tidak, kirimkan saja jumlah kerugiannya." jawab Alvian mengelus kepala Vania yang terus memeluknya.
π± Staf Muzaki : "Ya, kau bicarakan saja pada Ayara. Semoga kau bisa ikut serta untuk konser terakhir kita. Setelah ini member ALV bebas kontrak dari Agensi AX Si. Hanya saja kita masih tetap bekerja sama." setelah mengobrol beberapa saat kemudian Alvian pun menutup ponselnya.
"Pekerjaan tidak seberapa. Tapi ketenangan keluargaku adalah segalanya."
Gumamnya yang masih tetap bersantai di balkon kamarnya. Gara-gara si cantik Vania menjadi korban penculikan Alvian dan Ayara memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya. Tidak pulang ke rumah mereka yang berada disebelah.
"Vi, jika Papa pergi bekerja selama dua hari apa boleh?" lama Vania terdiam sebelum menjawabnya. "Jika tidak boleh maka Via tinggal bilang. Maka Papa tidak akan pergi dan akan terus menemani Via."
"Mama?"
"Mama mu ada dirumah dan menemani Via sama Arka. Papa berjanji setelah dua hari tidak akan pergi lagi sampai Via tidak takut pada orang asing." Alvian dan Vania sudah biasa berbicara layaknya orang dewasa. Soalnya Vania memang sangat dekat dengannya ketimbang Baby Arka.
"Iya, Papa boleh pelgi. Tapi pulang nya bawa boneka yang besal." jawab si cantik tersenyum lebar.
Cup, cup Muaach!
"Tidak akan Papa biarkan ada yang menyakiti kalian semua, Nak. Sudah cukup kau dan mamamu menderita selama ini."
Pemuda itu kembali bergumam. Dia terus menjawab setiap Vania bertanya banyak hal. Salah satu cara juga yang dianjurkan oleh psikiater. Agar gadis kecil itu bisa melupakan kejadian buruk yang menimpanya.
"Vin, Via tidur?" tanya Ayara menyusul suami dan anaknya.
"Iya, dia baru saja tidur. Ayo kita pindah ke kamar. Biar Arka tidak sendirian." dengan bantuan Ayara, pemuda itu berdiri dari sofa dan masuk kedalam kamar bersama istrinya.
Cup!
"Tidurlah, princess! Papa tidak akan meninggalkan mu." Alvian mencium kening Vania dan Arka secara bergantian. Lalu dia menoleh kearah Ayara dan berkata.
"Ayo kita duduk di sofa. Aku mau membicarakan sesuatu." ajaknya yang menarik lembut tangan Ayara.
"Bicara tentang apa, Vin?"
"Apakah boleh aku pergi konser selama dua hari?"
"Kapan?"
"Minggu ini. Tapi jika kau bisa menjaga anak-anak sendirian. Jika tidak aku akan membatalkan semuanya." jawab pemuda itu sudah mengenggam tangan Ayara.
"Tidak apa-apa, pergilah! Lula juga akan menginap disini jika Bara pergi. Soalnya dia tidak berani sendirian karena takut bila sewaktu-waktu Tante Marry datang."
"Jadi kau sudah tahu jika kami ada konser yang dimajukan?" seru Alvian merasa bahagia karena mendapatkan izin dari istrinya.
"Tentu saja aku sudah tahu, karena Lula memberitahuku lewat pesan. Tapi setelah ini kalian kan bebas tidak terikat seperti saat ini."
"Iya, setelah ini kami semua bebas tidak terikat kontrak."
"Jadi bila waktunya tiba kau harus menghabiskan waktu mu untuk menemani kami. Hanya menjadi Alvin ku, bukan Ian milik fans ALV." imbuh Ayara yang membuat Alvian langsung mengecup bibir ranumnya.
"Jangan sekarang! Ini masih siang, takutnya kau tidak bisa menahannya." Aya sedikit berbisik.
"Kau nakal ya." Alvian yang tidak tahan digoda pun menggelitik pinggang ramping Ayara. "Tapi sayang, dulu saat membuat Via, kita juga melakukan pada siang hari." seloroh Alvian yang membuat keduanya tersenyum.
Berbeda dengan Alice. Gadis itu saat ini lagi menangis di Apartemen milik sahabatnya. Ya, Alice memang tidak kembali ke rumahnya sendiri karena mau menghindari kejaran polisi.
"Seharusnya kau jangan berulah lagi, Ai. Jadi semakin rumit kan." kata wanita yang merupakan sahabat baik Alice.
"Jika aku tahu akan seperti ini maka aku juga tidak mau menjadi budak laki-laki brengsek itu. Tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Aku malah hamil anaknya." tangis Alice yang baru mengetahui jika dirinya hamil.
"Kau juga bodoh sekali. Berhubungan intim tapi tidak memakai kontrasepsi."
"Saat aku dibebaskan dari penjara, dia langsung membawaku ke rumah itu. Aku kan tahu jika Marpora Emmanuel adalah seorang pemilik Agensi lumayan besar. Jadi percaya saja." tutur Alice merasa sudah tertipu oleh laki-laki yang menjadi ayah kandung calon anaknya.
"Namun, begitu tiba dirumah besar itu, dia langsung memaksaku untuk melayaninya. Sampai-sampai aku kesulitan berjalan setelah berhubungan dengannya. Aku rasa pada saat itu langsung membuatku hamil. Jadi tidak ada reaksi lagi walaupun aku meminum obat pencegah kehamilan." keluh si mantan artis papan atas tersebut.
"Kalau begitu kau terima saja takdirmu. Lahir kan lah anak ini karena dia tidak bersalah. Lagian kau kan sudah memiliki uang banyak dari Marpora Emmanuel."
"Agh... karena anak ini aku tidak bisa mendapatkan Alvian. Itu yang membuatku kesal." jawab Alice.
"Sudahlah! Kau menyerah saja, tidak usah mengejar sesuatu yang sangat sulit untuk digapai. Dulu ketika kau masih memiliki hubungan baik dan merupakan artis terkenal, Alvian tidak suka padamu. Apalagi sekarang kau telah melakukan banyak kejahatan dan yang terakhir menculik putrinya. Dia tidak akan mau padamu, Alice. Jadi pergunakan sisa hidupmu biar menjadi manfaat untuk dirimu sendiri." nasehat wanita itu karena dia prihatin akan masalah hidup Alice.
"Akan aku pikirkan." jawab Alice pergi masuk kedalam kamarnya.
... BERSAMBUNG... ...