I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Masih Mau.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Al, bagiamana bila kita kembali ke hotel sekarang?" usul Hanan sambil melirik jam pada tangannya yang telah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Ide bagus! Menurutku juga lebih baik seperti itu," jawab Alvian yang masih memeluk tubuh istrinya dari samping.


"Oke, kalau begitu aku mau memberi tahu Smith dulu," ujar Staf Marlin karena dia memang Staf member ALV. Bukan artis lainya.


"Sayang, kita kembali ke hotel dulu, ya," tanya Alvian yang dasar tukang kompor. Padahal sudah jelas jika Ayara akan ikut kemanapun dia pergi.


"Iya, Pa, Mama juga ingin cepat-cepat istirahat," jawaban Ayara tentu saja membuat mata Alice seakan-akan mau loncat keluar. Benar-benar si ibu muda yang sangat pintar. Sangat cocok dengan Alvian yang suka menjadi kompor untuk membuat jiwa jomblo iri ingin memiliki pasangan juga.


"Apakah Mama Vania ingin tidur siang?" goda Alvian mengelus pipi mulus istrinya yang sama seperti gadis-gadis ABG yang belum pernah pacaran.


Padahal telah memiliki seorang putri yang umurnya hampir tiga tahun. Hanya tinggal dua bula kurang.


"Huem, anggap saja seperti itu," Aya yang sangat senang Alvian mengikuti keinginannya untuk membuat Alice cemburu. Tentu semakin tersenyum bahagia.


"Gadis nakal, awas kau ya," gumam Alvian tersenyum didalam hatinya karena gemas pada tingkah Ayara.


"Kak Mauza, Alice. Pokoknya siapa aja, tolong jangan tersinggung. Jika kita yang mengontrak memang seperti ini. Dunia halu ini sudah dibayar oleh Alvin dan Aya," ucap Sandy sudah berdiri karena sudah mau pulang ke hotel tempat mereka menginap selama dua malam berada di kota XX.


"Tidak apa-apa, San. Anggap saja mereka berdua adalah pengantin baru yang lagi tour sekalian berbulan madu," jawab Kak Mauza yang sama sudah bersiap-siap mau kembali ke hotel juga.


"Haa... ha... benar, Kak. Mereka berdua adalah pengantin baru. Tapi stok lama," tawa Bara ikut-ikutan menggoda Alvian dan Ayara yang hanya saling tersenyum.


"Ayo, kita pulang sekarang. Smith masih ada urusan. Kita akan kembali ke hotel lebih dulu," ucap Staf Marlin telah memberikan laporan pada Staf Muzaki sebagai penanggung jawab penuh tentang member ALV.


"Baiklah! Itu tidak masalah," Alvian berdiri sambil menarik tangan istrinya.


"Alice, Rima. Kami duluan, ya. Soalnya aku sangat lelah mau istirahat. Ini semua gara-gara Papanya Via. Dia tidak membiarkan aku tidur hampir semalaman," ucap Aya membuat Alvian meyergit sampai satu alisnya naik ke atas.


"I--iya, pergilah! Kami masih ada gladi resik juga," jawab Alice memaksakan untuk tetap tersenyum paksa. Padahal dia ingin menangis disertai jeritan patah hatinya.


"Ayo, Pa," ajak Ayara setelah melihat para member ALV yang lainya mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut. Diikuti oleh beberapa staf dan bodyguard.


"Iya sayang, ayo," jawab Alvian tidak berpamitan pada Alice lagi. Sebab dia tahu jika Ayara lagi tidak suka pada wanita itu.


Sementara itu. Di dalam mobil yang dinaiki oleh Hanan, Sandy dan juga Naufal.


"Apakah kalian melihat bahwa Ayara sekarang berubah menjadi posesif?" tanya Sandy begitu mobil yang mereka tumpangi mulai meninggalkan gedung tempat acara tersebut.


"Iya, tentu saja. Tapi Aya bukannya posesif, melainkan sedang berusaha mempertahankan miliknya. Kau lihat sendiri seperti apa Alice yang selalu merendahkan dirinya," jawab Hanan karena selalu memperhatikan pergerakan Alice yang ingin dekat dengan Alvian.


"Iya, aku juga sependapat dengan mu, Han. Ayara bersikap posesif hanya karena ingin mempertahankan miliknya. jujur aku sangat suka melihat dia berani melawan orang-orang yang akan menindasnya," timpal Naufal yang membuat mereka bertiga membicarakan Ayara dan Alvian selama dalam perjalanan.


Berbeda dengan Alvian, Ayara dan Bara. Mereka bertiga justru lagi membahas tempat-tempat indah yang akan mereka datangi.


Walaupun sebetulnya Alvian sudah tidak tahan untuk berbicara langsung dengan Ayara. Namun, karena waktu dan tempat yang tidak mendukung. Jadi dia hanya bisa bersabar sampai mereka tiba di hotel.


Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit kemudian. Mobil mewah yang beriring-iringan dan memberi keamanan khusus pada mereka sudah tiba di depan hotel bintang lima yang ada di pusat kota tersebut.


"Ayo sayang," ajak Alvian seperti biasanya yang selalu mengandeng lembut tangan Ayara. Sehingga di manapun tempat mereka berdua selalu membuat orang-orang iri akan keromantisan dan perhatian yang diberikan oleh Alvian untuk gadis yang ia cintai.


Ternyata begitu banyak para fans ALV dan juga pencari berita artis papan atas yang sudah standby di tempat tersebut. Semua kamera menyoroti mereka berlima dan enam degan Ayara.


"Al, aku kira disini sepi," ucap Ayara setengah berbisik pada suaminya yang lagi berdiri menghadap kamera dan kerumunan fans ALV sebagai sapaan. Walaupun tidak bisa mewawancarai Alvian dan sahabatnya.


Apabila sudah diberikan sapaan hangat seperti itu saja sudah membuat hati orang-orang yang telah antri di sana merasakan bahagia.


"Memang sudah seperti ini, sayang," jawab Alvian yang melambaikan tangannya sebelum berjalan masuk kedalam gedung.


"Oh," Ayara hanya mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi.


"Ian, kau dan Bara akan bersebelahan kamarnya. Lantai paling atas ini hanya kita yang menempati," ucap Staf Marlin yang mewakili Staf Muzaki.


"Iya, Kak, terima kasih," jawab Alvian membawa istrinya masuk kedalam kamar tempat mereka istirahat. Sedangkan Bara dan member lainnya masuk ke kamarnya masing-masing.


"Sayang, apakah kau mau mandi?" tanya Alvian kerena melihat Aya langsung melepas jaket milik Alvian yang dengan sengaja dipasangkan oleh pemuda itu.


"Tidak! Tunggulah sebentar lagi," setelah melepaskan jaket tersebut Ayara duduk diatas sofa dan diikuti oleh Alvian yang malah baring diatas pengakuannya.


"Tadi Alice berbicara apa? Kenapa kau sangat kesal padanya?" dari raut wajah Ayara menatap tidak suka pada Alice dan selalu membuat wanita itu terbakar api cemburu. Alvian sudah tahu pasti telah terjadi sesuatu saat dia masih melakukan gladi resik.


"Huh!" sebelum menjawab Ayara menghela nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan kasar. "Dia meminta maaf, karena dulu sudah menjalin hubungan dengan mu dan melakukan hubungan yang melebihi orang pacaran," tutur Aya jujur seperti apa perkataan Alice tadi.


"Lalu kau percaya padanya?" Alvian langsung duduk dan mengenggam kedua tangan istrinya.


"Jika aku percaya pada ucapannya, tentu aku sudah pulang ke kota S sejak tadi dan akan bilang pada papa," jawab Ayara memanyunkan bibirnya.


Cup!


Satu kecupan pada bibir Ayara langsung diberikan oleh Alvian. Baru setelahnya dia berbicara.


"Tidak usah percaya padanya karena kau tahu sendiri apa kata mama dan nenek, kan. Jadi percayalah bahwa aku hanya menganggap nya teman satu profesi saja. Kami agak dekat karena papinya adalah teman papa. Hanya itu, tidak lebih." papar Alvian yang entah untuk keberapa kalinya menjelaskan tentang hubungannya dan Alice.


"Iya, aku percaya padamu," Ayara tentu langsung tersenyum karena dia tahu bahwa Alvian tidak berbohong.


"Aku sangat senang karena kau percaya padaku dan berani melawan orang-orang yang akan mengusik kebahagiaan kita," seru Alvian kembali lagi baring diatas pangkuan istrinya.


"Aku tahu dia berbohong karena sejak pertama kali kami bertemu. Dia selalu mencari cara untuk menghinaku sebagai anak pembantu,"


"Tidak apa-apa dia mau bicara apapun. Asalkan kau harus tetap percaya padaku," ucap Alvian tidak bisa juga melakukan sesuatu karena Ayara sendiri mengakui bahwa dia hanya anak seorang pembantu.


"Iya, kau harus buat mama Jasmeen bangga memiliki putri hebat sepertimu. Aku dengar kata papa tadi malam. Tuan Edward dan keluarga Wilson dalam kehancuran karena putra tirinya adalah seorang tukang judi dan rumah yang mereka tempati itu sudah digadai pada seorang rentenir,"


"Apa? Benarkah? Sampai separah itu," seru Aya tidak memiliki rasa kasihan lagi pada orang-orang yang telah membuangnya.


"Iya, rumah mereka telah digadai. Jika sampai tanggal delapan, bulan ini tidak bisa menebusnya. Maka mereka harus angkat kaki dari rumah itu,"


"Alvin! Eum..."


"Apapun akan aku lakukan asalkan kau bahagia. Kau mau kita menebus rumah itu?" tebak Alvian yang langsung dianguki oleh Ayara.


"Tapi tunggu mereka bertindak. Apakah nenek Arianti itu mampu membayar untuk menebus perbuatan dari cucu kesayangannya, atau tidak. Bila mereka---"


"Tidak mampu menembusnya. Maka Nona Ayara yang akan menembus rumah itu dan kau akan bisa membuat mereka menyesal telah menyia-nyiakan istriku?" sela Alvian tersenyum karena Tuan Abidzar dan dia juga akan melakukan hal itu.


"Agh! Ternyata Papa Via sangat pandai menebak," Ayara kembali menggoda Alvian degan menyematkan kata papa. Pada ucapannya.


"Jika buat Mama nya Via, tentu sebagai Papanya. Aku akan bisa menebak apa yang diinginkan oleh ratuku," jawab Alvian yang kembali duduk lagi dan langsung menyambar bibir ranum istrinya.


Sehingga yang tadinya ciuman biasa. Sekarang malah penuh tuntutan untuk lebih dari itu.


"Agh!" Ayara mengeluarkan suara indahnya saat Alvian mulai memberikan tanda kepemilikan pada leher jenjangnya. Saat ini mereka berdua masih berada di atas sofa dalam kamar hotel mewah tersebut.


"Agh! Al..." seru Ayara mendorong pelan dada suaminya yang hari ini terlihat sangat tampan. Alvian hanya memakai baju kameja putih yang lengannya dia gulung sebatas siku dan celana dari bahan kain yang berwarna putih juga.


"Sayang, aku ingin kita melakukannya sekarang," bisik Alvian di tepi telinga gadis itu degan suara beratnya.


"Tapi ini siang dan kau ada---"


"Konser bersamamu jauh lebih penting," sela pemuda itu tersenyum mengelus pipi Ayara sebelum kembali melakukan silaturahmi bibir lagi.


Perlahan tapi pasti tangan Alvian mulai masuk kedalam pakaian istrinya. Alvian sudah tidak bisa menahannya lagi. Walaupun tadi malam mereka telah melakukanya. Tetap saja dia tidak pernah bosan dan malah semakin candu.


"Alvin, kita belum mandi," ucap Ayara disela ciuman panas mereka.


"Kalau begitu kita akan sekalian mandi dan setelah itu barulah kita istirahat," sebelum Ayara menjawab Alvian sudah mengedong tubuhnya kecil istrinya masuk kedalam kamar mandi.


Lalu ia dudukan diatas meja keramik yang ada didalamnya. Ayara yang tahu jika Alvian benar-benar tidak bisa menahan hastranya. Langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher pemuda itu.


Cup!


"Aku sangat mencintaimu, Ayara ku. Jadi apakah ini pertanda baik?" si tampan Alvian kembali mengecup sekilas bibir ranum istrinya.


"Karena mama menyuruhku ikut untuk menikmati kebersamaan kita. Maka mari kita bersenang-senang," jawab Ayara yang membuat mereka berdua sama-sama tersenyum bahagia.


"Baiklah! Memang harusnya seperti ini," Alvian dan Ayara kembali melakukan silaturahmi bibir sebelum sampai ke tahap penanaman bibit kecebong Alvian.


Sambil berciuman mereka saling melepaskan pakaian masing-masing. Sampai tak tersisa sehelai benangpun.


Hampir sepuluh menit kemudian. Dibawah guyuran air shower. Kedua pasangan suami-istri itu sedang memberikan kenikmatan satu sama lain.


"Aaahh! Eum... aku mencintaimu, sayang," ucap Elvian begitu si Lele tunggal masuk pada sarangnya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Al," jawab Aya tersenyum sambil merasakan sensasi pada penyatuan tubuh mereka.


Hal yang selalu membuat dia dan Alvian selalu ingin terus melakukannya. Padahal benar kata Bara dan teman Alvian yang lain. Mereka adalah pasangan pengantin baru stok lama.


Aaaah!


Suara merdu keduanya menghiasi kamar mandi mewah tersebut. Andai saja dinding bisa berbicara seperti mahluk hidup. Maka mereka akan katakan pada dunia betapa indahnya percintaan seorang member ALV saat bersama istrinya.


Pemuda itu benar-benar sangat mencintai Ayara. Jadi setiap sentuhan dan tindakannya selalu membuat orang lain iri.


"Aku mencintaimu," Alvian kembali berbisik tepi telinga Ayara. Tubuh mereka sudah sama-sama basah oleh air shower yang sengaja Alvian nyalakan. Sehingga suara gemericik air tersebut beradu dengan suara ******* mereka berdua.


Aaagh!


Aaagh!


Semakin cepat Alvian mengerakkan pinggulnya. Maka suara merdu Ayara semakin keras pula. Tidak ada yang paling membahagiakan. Selain bisa menghabiskan waktu bersama sang pujaan hati.


Cinta sejati yang pernah terpisahkan oleh keadaan. Sekarang dipersatukan lagi dengan status yang berbeda. Namun, degan rasa cinta yang jauh lebih besar lagi.


"Alvin, aku... Aaaaghkkk!" erang Ayara saat merasakan pelepasan bersamaan dengan Alvian. Pemuda itu juga telah mendapatkan pelepasan secara bersamaan.


Cup!


"Terima kasih! Aku mencintaimu," bukan Alvian namanya bila sampai lupa untuk mengucapkan kata-kata cintanya. Ayara yang mendengarnya hanya tersenyum degan nafas terengah-engah.


Padahal mereka berada dibawah guyuran air shower. Namun, tubuh mereka masih merasakan panas akibat penyatuan yang dilakukan.


"Sayang,"


"Huem?" jawab Ayara menatap pada muka suaminya yang juga sedang menatap padanya.


"Aku ingin kau segera hamil lagi,"


"Jika sudah saatnya, maka pasti akan hamil. Bukannya aku tidak memakai alat kontrasepsi," imbuh ibu muda itu yang sudah siap meskipun diumur nya yang masih muda harus memiliki anak lagi.


Soalnya Ayara ingin membalas kebaikan keluar Rafael degan cara memenuhi impian mertuanya yang ingin Alvian memiliki keturunan lagi. Lagian Vania juga sudah besar dan sudah jarang tinggal bersamanya. Jadi Ayara juga kesepian bila Alvian tidak ada.


"Semoga secepatnya. Aku ingin merasakan menjadi ayah yang sesungguhnya. Ayah yang tahu seperti apa rasanya melayani seorang ibu hamil ingin ini dan itu,"


"Iya, semoga saja. Tapi cepat menjauhlah! Aku mau mandi," ucap Aya karena Alvian belum juga menarik si Lele tunggal dari sarangnya.


"Tapi aku masih mau, sayang. Dia belum tidur," Alvian tergelak karena si Lele tunggal masih berdiri menantang pada kenikmatan atas penyatuan tubuh mereka.


... BERSAMBUNG... ...