I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Bertemu Keluarga Kecil.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Keesokan harinya.


Jam setengah tujuh pagi. Para member ALV sudah bersiap-siap mau meninggalkan hotel tempat mereka menginap selama dua hari belakangan. Hari yang sangat dinantikan oleh Alvian untuk segera bertemu istri dan anaknya.


Berbeda dengan Aldebaran. Pemuda itu kembali membawa hati yang kecewa atas keputusan sang kekasih yang tidak bisa mengerti akan dirinya. Alhasil Bara pun mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan bersama Ria.


Hubungan yang sudah terjalin selama kurang lebih dua tahun. Sekarang harus berakhir sia-sia.


"Bar, apakah kau baik-baik saja?" tanya Alvian yang lagi memakai jam tangan mewahnya. Kali ini Bara sudah bersiap-siap lebih awal. Entah mengapa pemuda itu ingin secepatnya meninggalkan negara tersebut.


Apakah itu karena di negara itu dia merasakan putus cinta? Atau ada hal lain yang membuat dia ingin cepat-cepat kembali ke negara mereka? Entahlah! Hanya Bara yang mengetahui hal tersebut.


"Tentu aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa," jawab Bara sedikit menyugikkan senyumannya.


"Aku kan tidak tahu karena semenjak menemui Ria, Kau sangat jarang berbicara seperti biasanya."


"Ck, memangnya aku harus berbicara terus. Aku baik-baik saja, Al. Sebenarnya aku dan Ria sudah putus. Dia sendiri yang berkata jika aku memaksanya untuk segera menikah. Maka dia lebih baik putus." ungkap Bara karena kemaren siang. Setelah menemui Ria, pemuda itu langsung ikut membeli oleh-oleh dan tidak bicara apa-apa.


Jadi keempat sahabatnya tidak ada yang mengetahui apa yang sudah terjadi pada hubungannya dan Ria.


Soalnya mereka semua tahu bahwa Bara orangnya tidak seperti Alvian. Dia lebih tertutup apabila itu masalah perasaan. Akan tetapi nanti setelah Moodnya baik-baik saja. Maka Bara akan bercerita sendiri.


Jika Alvian dia suka curhat pada Hanan atau Bara, karena Alvian bila lagi ada masalah akan langsung terlihat murung.


"Benarkah?" Alvian menoleh pada Bara menunggu jawaban.


"Iya, benar! Jadi ya sudah, aku putuskan saja. Buat apa juga aku teruskan. Bila kenyataannya aku sudah tidak dianggap sebagai masa depan untuknya." jawab Bara tanpa ada yang dia sembunyikan.


"Itu lebih baik! Daripada memiliki hubungan yang tidak jelas. Jujur, aku kasihan pada kisah cintamu dan juga kisah cintaku sendiri." ungkap Alvian masih tetap berdiri karena mereka sudah mau berangkat.


"Kasihan kenapa? Kau sudah bahagia dengan keluarga kecilmu dan kisah cintaku tidak separah itu yang harus dikasihani."


"Kehidupan kita di depan kamera dan di belakang sangat jauh berbeda, Bar. Kau tahu sendiri bahwa kita adalah idola para gadis cantik dari berbagai kalangan. Namun, cintamu tidak ada harganya bagi Ria." pemuda itu terdiam sesaat sebelum kembali melanjutkan lagi.


"Sedangkan aku, bagi fans ALV adalah pemuda yang baik dan yang sempurna. Tapi mereka tidak tahu, bejatnya aku telah menghamili seorang gadis yang membuatnya di usir oleh keluarganya." lanjut Alvian sembari mengambil ponsel dan juga headset untuk dia membunyikan music saat di perjalanan.


"Sudah, ayo! Aku sudah tidak sabar ingin bertemu si princess dan mamanya." ajak Alvian langsung berjalan kearah pintu keluar kamar hotel mereka dan diikuti oleh Bara.


"Al, apakah kau jadi mau ikut liburan ke Villa Naufal?" tanya Bara yang ingin pergi menenangkan hatinya.


Sebelum memulai semuanya dari awal lagi. Dia harus menata hatinya untuk gadis lain karena tidak mungkin harus kembali pada Ria. Gadis yang sudah membuat Bara kecewa berulangkali.


"Entahlah! Aku belum bisa memutuskan sendiri. Nanti malam aku akan putuskan, ikut atau tidaknya. Soalnya aku akan bertanya pada kedua wanitaku. Mereka mau jalan-jalan kemana." jawab Alvian sedikit menyugikkan senyuman tampannya.


"Baiklah! Nanti kabari saja, soalnya jika aku akan ikut. Aku butuh suasana baru untuk memulai semuanya dari awal. Seperti mana SPBU." canda Bara sambil berjalan beriringan masuk ke dalam lift menuju lantai dasar hotel bintang lima tersebut.


"Tenang saja, Om-om yang tua saja masih mendapatkan pasangan. Tidak mungkin seorang member ALV yang sangat pandai ngerap malah tidak ada yang mau." Alvian pun ikut bercanda.


"Hei... kalian berdua kenapa tidak memangil kami." seru Hanan berlari masuk lift diikuti oleh kedua sahabatnya yang lain.


"Tumben sekali kalian belum keluar kamar. Biasanya selalu menunggu bersama Smith dan Staf yang lainya." ucap Alvian menggeser tubuhnya kearah kiri.


"Ck, inikan kita mau pulang, bukan mau debut. Jadi ya santai saja." decak Sandy yang membuat mereka tersenyum.


"Aku, apakah jantungmu baik-baik saja? Aku lihat penampilanmu berbeda sekali. Mentang-mentang mau bertemu Aya." kali ini Naufal yang bertanya sekalian menggoda Alvian.


"Sedikit tidak tenang, karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya." jawab Alvian tersenyum jumawa.


"Dasar kau!" Hanan menendang kaki Alvian. Sehingga mereka tertawa sampai keluar dari lift.


"Sudah siap semuanya? Tidak ada yang ketinggalan lagi? Kita berangkat sekarang." ucap Staf Muzaki yang selalu mengingatkan setiap mereka mau check-out dari hotel mewah tempat mereka menginap.


"Sudah semua Smith," jawab mereka serempak. Soalnya mereka tidak pernah membawa barang apapun lagi. Semua itu sudah diurus oleh Manejer masing-masing.


"Oke, kita pulang sekarang." ucap laki-laki itu lagi berjalan lebih dulu ke mobil yang akan mengantar ke bandara.


Lalu dengan pengawalan sangat ketat. Para member juga keluar dari hotel satu persatu. Lalu masuk ke mobil mereka yang sudah di kawal bagian depan dan belakangnya.


"Nanti kau mau langsung ke rumah orang tua mu atau ke Apartemen, San?" tanya Bara yang duduk bersebelahan dengan Sandy.


"Sepertinya langsung pulang ke Apartemen saja. Aku malas pulang ke rumah mamaku akan bertanya kapan aku membawa seorang gadis." jawab Bara ikut memasang headset seperti mana Alvian dan sahabatnya yang lain.


Setibanya di bandara meskipun begitu banyak para fans ALV dan wartawan. Perjalanan mereka tidak terhambat sama sekali, karena bodyguard sangat banyak. Soalnya sudah mengantisipasi hal seperti ini akan terjadi.


"Yuar, kalian bawa Alvian dan member yang lainya jalan masuk duluan. Ini tidak akan aman untuk kita." perintah Staf Muzaki pada bodyguard karena para fans ALV semakin maju hanya untuk bisa lebih dekat dengan para idola mereka.


"Baik Smit," jawab Bodyguard melindungi setiap member. Setiap mereka melakukan konser di negara tersebut. Pasti pulangnya pengawalannya harus benar-benar sangat ketat.


Sebab para fansnya sangat nekad. Mereka berani melawan petugas bandara dan juga para bodyguard maupun Staf sekalipun. Soalnya alasannya hanya ingin bisa menyapa secara langsung sang idola.



Bak seperti anak kecil. Alvian pun juga di tuntun seperti mana seorang anak kecil. Para member di bawa masuk kedalam ruang tempat biasanya melakukan check-in. Namun, ini keempat member tersebut langsung saja di bawa masuk ke pesawat.


Melewati pintu keluar yang terhubung langsung dengan keberadaan pesawat yang akan mengantar mereka pulang. Soalnya ini khusus, tidak ada penumpang lain selain para rombongan.


Semua yang dilakukan oleh Staf Muzaki tentunya agar lebih aman, soalnya akan kacau bila ada satu fans saja yang bisa menjangkau Alvian maupun keempat sahabatnya.


"Huh! Lega sekali bila sudah naik pesawat."Hanan menghembuskan nafas leganya.


"Aku mau tidur saja, nanti bila kita sudah sampai. Bangunkan aku, ya." ucap Sandy langsung meluruskan kakinya karena dia mau tidur.


Hampir satu Minggu full, mereka kurang istirahat. Siang nya latihan, malamnya tampil. Belum lagi harus bertemu para fans ALV juga. Jadi sudah pasti sangat melelahkan bagi mereka semuanya.


Namun, yang namanya setiap pekerjaan tentu ada konsuensi nya. Jadi tinggal kita yang menjalaninya, mau mengangap berat atau cukup jalani saja. Agar tidak pernah merasakan bahwa pekerjaan tersebut sangat berat.


Tidak ada yang menjawab perkataan Sandy, karena mereka semua juga mau tidur dan ada juga yang menghabiskan waktunya untuk bermain game yang tidak mengunakan data seluler. Jadi akan tetap aman, tidak ada larangan.


Sedangkan Alvian tentu seperti biasanya. Dia akan menghidupkan music dan memakai headset pada telinganya. Pemuda tampan itu juga mau tidur. Soalnya nanti saat dirumah, tidak mungkin dia akan tidur cepat. Alvian mau menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya yang sudah dia tinggalkan berhari-hari.


Mungkin karena kelelahan beraktifitas selama hampir satu pekan. Jadinya mereka semua mengunakan waktu penerbangan yang menghabiskan waktu lima jam lewat dua belas menit itu untuk istirahat.


Hal yang sama juga dilakukan oleh para Staf dan kru rombongan tersebut. Hanya saja kepulangan hari ini Alice bersama Staf dan Manejer nya belum pulang. Mereka akan kembali besok pagi.


"Al, Alvian! Ayo bangun. Pesawatnya sudah mendarat." ucap Hanan membangunkan Alvian karena dia sendiri sudah beberapa kali bangun dan tidur lagi.


'Eum... houm! Apakah kita sudah sampai?" dengan sangat malas Alvian membuka matanya.


"Sudah! Jadi ayo bangun. Kenapa kalian jika tidur sudah seperti orang mati saja." jawab Hanan tertawa, dan tawanya itu membuat Bara juga ikut terbangun.


"Kepalaku pusing sekali." ucap Bara memijit pelipisnya sendiri.


"Bangunannya jangan sekaligus duduk dengan tergesa-gesa seperti itu. Aku juga kadang suka pusing kalau bagun sepertimu." timpal Sandy masih menguap berulang kali.


"Sudah, waktunya turun. Atau kalian masih mau tidur di pesawat? Kalau iya, tidak apa-apa. Biar kami saja yang turun." kata Kak Mauza yang duduk di belakang para member ALV.


"Eh, tidak-tidak! Aku sudah merindukan istr---"


Alvian langsung berhenti tidak melanjutkan lagi ucapannya. Dia hampir saja salah bicara karena sudah tidak sabar untuk bertemu sang istri.


"Bertemu siapa, Al?" tanya Kak Mauza berhenti ketika melangkah.


"Aku sangat merindukan rumahku. Jadi ayo kita turun sekarang." tidak ingin ada yang bertanya lagi. Selain keempat sahabatnya. Alvian langsung saja berjalan keluar dari pesawat lebih dulu, karena suara pramugari sudah mengatakan jika mereka sudah boleh keluar dari sana.


"Al, tunggu dulu, kenapa harus buru-buru sekali." Bara yang masih merasakan pusing juga ikutan turun lebih dulu.


"Kau ini kenapa banyak bertanya, tentu saja karena aku ingin segera bertemu keluargaku." jawab si tampan Alvian berjalan di dampingi oleh bodyguard pribadinya.


"Apakah Denis sudah datang?" tanya Alvian pada laki-laki tersebut.


"Sudah Tuan, ada di luar. Mobilnya bersama para mobil rimbunan."


"Oke, kita langsung pulang saja. Aku tidak akan ke Agensi dulu." lalu Alvian menoleh kearah Bara dan berkata.


"Bar, jika kau masih galau, datang saja ke rumahku. Ada Lula juga di sana,"


"Lula? Apakah dia sudah datang ke kota ini? Kenapa tidak memberitahuku. Padahal setiap malam kami bertukar kabar." seru Bara yang memang tidak mengetahui jika Lula ada dirumah sahabatnya.


"Wah-wah! Apa yang terjadi? Kenapa kalian seperti orang pacaran saja?" tanya Alvian penuh selidik. Sedangkan Aldebaran langsung terdiam karena dia tidak sengaja mengatakan hal tersebut.



"Aku... hanya berteman dengannya." jawab Bara menunduk dan tidak mau menatap mata Alvian.


"Mungkin!" sahut Alvian tersenyum kecil karena dia menangkap raut malu di wajah Bara.


"Sudah, ayo jalan." ajak Alvian lagi dan langsung menuju mobil pribadinya yang dibawa oleh Denis. Namun, begitu masuk kedalam mobil tersebut. Tentu pemuda itu dibuat kaget, karena anak dan istrinya duduk di dalam mobil.


Ternyata Ayara dan putrinya ikut bersama Denis menjemput suaminya di bandara. Namun, karena status mereka yang belum bisa diumumkan pada publik. Jadinya hanya duduk didalam mobil.


... BERSAMBUNG ... ...