I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Permaisuri Dan Putri.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Para wartawan yang tadinya hanya berdiri di dalam gerbang. Sekarang sudah berdiri di depan pintu lokal tempat kelas Via berada. Bukannya penjaga keamanan tidak menghentikan mereka.


Namun, karena jumlah ibu-ibu yang putra-putrinya sekolah disana ikut membantu para wartawan. Jadinya hal tersebut tidak bisa ditahan lagi.


Denis masih sibuk mencoba menghubungi Tuan Abidzar. Namun, sialnya tidak bisa tersambung karena beliau apabila lagi rapat selalu mematikan ponselnya.


Bodyguard itu juga berusaha menghubungi siapa saja untuk membantu dia membawa Ayara keluar dari sana.


"Mama, Via mau tama papa," Vania yang mulai menyadari ada bahaya yang mengancam mereka mulai menangis ketakutan saat mendengar para ibu-ibu berteriak menyuruh mereka keluar dari sana.


Mereka sebetulnya bukan untuk menyakiti Ayara. Namun, caranya yang seperti orang mau demo. Membuat Denis antisipasi bila keadaan tersebut memburuk. Soalnya sudah pasti tujuan mereka semua agar Ayara mengklarifikasi tentang berita yang dituduhkan bahwa dia adalah simpanan Ian ALV.


Bisa saja Ayara keluar dan mengaku bahwa dia adalah istri dari Alvian. Bukan simpanan dan semua tuduhan yang diteriaki padanya tidak benar. Namun, masalahnya tidak sesederhana itu.


"Sabar ya, papa lagi dalam perjalanan," jawab Ayara memeluk sambil menenangkan putrinya.


"Nona, Saya sudah berusaha menghubungi Tuan Muda Alvian. Namun, tidak bisa tersambung." kata Denis yang masih sibuk menghubungi para bodyguard dari Agensi.


"Iya, tidak apa-apa," jawab pasrah Aya.


Lalu degan tangan bergetar Ayara mengeluarkan ponselnya degan sejuta harapan agar Alvian bisa mengangkat panggilan darinya. Namun, belum juga dia mencari kontak suaminya.


Pemuda itu sudah menghubunginya lebih dulu. Tidak peduli jika lagi live streaming di depan kamera. Setelah mengecek ponselnya dan membaca pesan dari Denis yang mengatakan bahwa didepan pagar sekolahan putrinya ada wartawan.


Pemuda itu langsung saja menelepon Ayara. Untuk memastikan apakah anak dan istrinya baik-baik saja. Soalnya saat Alvian mencoba menghubungi Denis, nomornya lagi sibuk. Jadi tidak bisa tersambung yang membuat kekhawatirannya semakin besar.


📱 Alvian : "Sayang, apa yang terjadi?" tanya Alvian langsung bertanya dan perkataannya yang mengucapakan kata sayang. Langsung menjadi sorotan para artis lainya yang ikut hadir dia acara tersebut.


📱 Ayara : "A--alvin! To--tolong bawa aku dan Via pe--pergi dari sini? Ka--kami tidak bisa pulang. Didepan banyak wartawan," jawab Ayara terbata-bata.


📱 Alvian : "Apa! Mana Denis, cepat berikan ponsel padanya," seru pemuda itu sudah berdiri dari tempat duduknya.


Ayara langsung memberi ponselnya pada Denis dan tidak menjawab lagi karena Via semakin menagis setelah mendengar suara papanya.


📱 Denis : "Iya Tuan Muda," jawab Denis berbicara pada sang bos.


📱 Alvian : "Kalian dimana?" tanyanya singkat.


Alvian yang tidak mungkin asal pergi begitu saja, bila belum mengetahui dimana lokasi istri dan anaknya saat ini.


Soalnya saat berbicara Alvian sambil melihat jam pada pergelangan tangannya. Seharusnya sekarang Ayara sudah ada dirumah utama atau di kediaman mereka sendiri. Jadi bila sudah ada dirumah, mana mungkin para wartawan berani mengusik kehidupan pribadinya.


📱 Denis : "Kami masih berada di sekolahan Nona kecil, Tuan. Namun, saat ini posisi kami bertiga lagi didalam kelas karena di depan pintu masuk, sudah dipenuhi wartawan dan juga orang tua dari wali murid sekolahan ini."


📱 Alvian : "Kau lindungi istri dan anakku, aku akan kesana sekarang dan jangan biarkan mereka menyentuh rambut Aya dan Via sedikitpun." ucap Alvian langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Al, apa yang terjadi?" tanya ke-empat sahabtanya ikut khawatir.


"Sepertinya ada yang membocorkan status Aya dan Vania. Aku harus pergi sekarang karena mereka membutuhkan aku," Alvian sudah berjalan beberapa langkah.


"Alvian, apa yang terjadi?"


Namun, suara Staf Muzaki menghentikannya. Melihat Alvian lagi membahas hal pribadi. Staf Muzaki langsung menutup siaran televisi yang lagi berlangsung.


"Smith, aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang karena istri dan anakku lagi dihadang oleh para wartawan di sekolahan putriku." jawab Alvian jujur karena sekarang tidak ada gunanya menyembunyikan apapun lagi.


"Huem, pergilah! Bodyguard sudah menunggu diluar." imbuh Staf Muzaki yang ternyata hanya ingin mengatakan itu saja. Tadinya Alvian mengira pria itu akan mengamuk padanya, karena sekarang bukan hanya karier member ALV saja yang akan terancam bermasalah.


Akan tetapi juga Agensi besar yang telah menjadi mendunia karena ketenaran Alvian dan keempat sahabatnya.


"Smith... terima kasih," seru Alvian langsung berlari kecil keluar dari tempat acara bergengsi yang baru kurang lebih setengah jam mereka bintangi.


"Smith, nanti kami---"


"Sudah tidak apa-apa, semuanya sudah terjadi. Sekarang kita kembali ke Agensi untuk melakukan jumpa pers dan mengklarifikasi acara hari ini yang batal." sela pria itu yang tidak mungkin harus marah-marah tidak karuan.


"Oke, terima kasih," jawab Hanan mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh Staf mereka.


Sementara itu Alvian yang sudah berada didalam mobil dan dikawal ketat oleh pengamanan dari Agenci. Duduk gelisah memikirkan takut istri dan anaknya kenapa-kenapa.


Apalagi tadi dia dapat mendengar suara Vania menangis memangil papa. Hati pemuda tampan itu terasa teriris sembilu karena tidak ada bersama ke-dua wanita yang ia cintai disaat mereka kesusahan seperti sekarang.


"Apakah ada berita terbaru?" tanya Alvian pada bodyguard pribadinya.


"Belum Tuan Muda, tapi Saya sudah menghubungi orang-orang Tuan Abidzar." jawab laki-laki itu sambil mengotak-atik ponselnya karena jika membawa mobil sudah ada yang menjalankannya.


"Oh, baiklah! Semoga mereka tidak kenapa-kenapa," Alvian berulangkali menghembus nafas kasarnya.


Setelah kurang lebih dua puluh menit. Mobil mewah yang iring-iringan itu sudah tiba di sekolahan Vania. Sehingga para ibu-ibu muda dan wartawan menoleh kearah mobil tersebut.


Namun, merek tidak tahu jika di salah satu mobil itu ada Alvian yang belum diizinkan keluar karena para bodyguard lagi membuat pagar keamanan untuk Alvian masuk.


Pemuda itu merupakan aset negara, jadi meskipun telah membuat skandal besar. Mana mungkin Staf Muzaki lepas tangan untuk keamanannya.


Justru para bodyguard yang mengawal Alvian lebih banyak daripada keempat sahabatnya yang saat ini masih di tempat acara.


"Tuan Muda, itu orang-orang Rafael juga sudah datang," ucap bodyguard pribadi Alvian melihat ada enam mobil mewah berwarna hitam berhenti juga di halaman sekolah yang hanya berjarak sekitar tiga puluh meter dari mobil yang membawa Alvian.


"Baguslah! Berarti papa sudah mengetahui hal ini," jawab Alvian sedikit lega.


Ternyata sehebat dan seberapa banyak pun uang yang dia punya. Tetap saja masih membutuhkan bantuan dari papanya.


Kleeek!


Suara pintu mobil yang dibuka dari luar oleh bodyguard Agenci. Lalu pria berkepala plontos itu berkata.


"Anda sudah bisa keluar Tuan," ucapnya mempersilahkan karena Tim meraka telah berhasil membuat jalan untuk Alvian lewati.


"Wah, sepertinya ini memang Ian ALV yang datang. Apakah dia akan menyeret Ayara karena sudah membuat berita ini atau dia ingin membawa wanita itu keluar?"


"Entahlah! Tapi mungkin saja dia ingin menolong ibunya Vania. Jika tidak buat apa dia datang. Tapi yang jelas kita bisa melihatnya secara langsung." berbagai macam dugaan yang dikira-kira oleh para wartawan dan ibu-ibu itu mulai bersahutan satu sama lainnya.


Para wartawan yang tadinya belum menyalakan kamera buat merekam berita panas tentang salah satu member ALV. Kini sudah membuatkan siaran langsung. Tepatnya setelah melihat mobil-mobil mewah yang berdatangan.


"Baiklah! Saya akan turun sekarang," jawab Alvian langsung turun dari mobil mewah yang membawanya. Sehingga bidikan kamera langsung mengarah padanya.


Namun, Alvian tidak menghiraukan hal tersebut. Dia fokus berjalan dengan wajah khawatirnya. Diikuti oleh beberapa bodyguard dibelakangnya.



"Via, Papa datang, Nak! Maaf sudah membuatmu dan mama ketakutan," gumam Alvian yang berjalan kearah kelas putrinya mengikuti ada beberapa pengawal dari Agensi dan pengawal yang dikirim oleh Tuan Abidzar untuk membawa menantu dan cucunya keluar dari sekolahan tersebut.


Soalnya beliau tahu jika saat ini Alvian putranya lagi berada di sebuah acara penting, yang kemungkinan saja tidak tahu bahwa Ayara dan Vania lagi dalam masalah besar.


"Ian, tolong beri sedikit informasi tentang wanita yang ada di dalam. Apakah benar dia wanita simpanan mu?" para wartawan sibuk berteriak dengan berbagai bentuk pertanyaan yang tidak dijawab oleh Alvian. Maupun Bodyguard yang memberi keamanan.


"Wah, dia benar Ian ALV." teriak histeris para ibu-ibu yang ikut membantu para wartawan masuk kedalam gerbang.


"Alvian, mohon klarifikasi tentang Nona Ayara. Apakah betul dia wanita yang menjadi simpanan, Anda," ucap wartawan yang tidak pernah menyerah begitu saja.


Meskipun mereka tidak akan mungkin bisa mewawancarai Alvian secara langsung, karena saat ini jarak antara mereka pun sudah ada sekitar tiga meter.


Para bodyguard itu sangat tegas dan tidak ada yang bisa mendekati Alvian ataupun para member ALV yang mereka kawal.


Tok!


Tok!


"Denis, buka pintunya, sekarang Tuan Alvian sudah datang," ucap bodyguard pribadi pemuda itu menyuruh Denis untuk segera membuka pintunya.


Ceklek!


Tidak menjawab apa-apa, tapi Denis langsung membuka pintu tersebut. Namun, hanya sedikit saja tidak keseluruhan, karena dia masih menjaga kedua Nona muda nya.


Akan tetapi jika untuk satu orang bisa masuk, karena Alvian lah yang berjalanan ke dalam ruangan tersebut.


"Sayang," serunya yang langsung memeluk tubuh Ayara sekaligus putrinya yang masih terisak kecil.


"Al, aku..." Ayara yang tadinya berusaha untuk tidak menangis karena tidak mau membuat putrinya semakin takut. Setelah ada suaminya barulah dia menangis dalam pelukan laki-laki tersebut.


"Sudah tidak apa-apa, kalian sudah aman," jawab Alvian mengelus penuh kasih sayang punggung Aya yang bergetar karena menahan tangisnya.


Cup!


"Maafkan aku yang terlambat datang," ucapnya lagi setelah mengecup kening istrinya. Ayara yang sudah merasa lebih baik hanya mengangguk kecil.


Cup, cup, Muuuah!


"Maaf ya, Papa datangnya terlambat," sekarang bergantian Alvian mengecup kening dan pipi putrinya. Mata di cantik princess sudah tambah sipit karena terlalu lama menangis.


"Papa, Via tatut," adu si cantik langsung berhamburan kedalam pelukan sang ayah. Tadi dia hanya berada dalam pelukan ke-dua orang tuanya. Namun, sekarang hanya dia sendirian saja karena Ayara mamanya sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak usah takut, ada Om Denis yang akan melindungi kalian disaat Papa tidak ada. Sekarang sudah ada Papa, jadi via jangan menangis lagi, ya. Kita akan keluar dari sini dan akan pulang ke rumah." ucap Alvian menyeka air mata sang putri.


"Puyang telumah opa, Via mau bilang opa,"


"Iya, kita memang akan pulang kerumah opa," Alvian berdiri sambil mengendong Vania. "Sayang kita keluar sekarang, ya. Jangan takut tidak akan terjadi apa-apa karena pengawal papa dan bodyguard ku ada yang membuat keamanan." ucapnya pada Ayara dan ibu muda itu kembali mengangguk.


"Huh!" sebelum berjalan membawa istri dan anaknya untuk tersorot oleh kamera. Alvian menghirup nafas dalam-dalam.


"Denis, tolong bawa tas sekolah nona," perintahnya pada sang bodyguard karena tas putrinya masih ada di meja.


"Baik Tuan," jawab Denis singkat. Lalu Alvian mengenggam tangan Ayara untuk dia bawa berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Begitu melihat mereka keluar diikuti oleh Denis. Semua kamera menyorot kearah mereka. Ayara hanya menunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Namun, tetap saja wajah cantiknya telah dapat direkam oleh kamera ponsel ataupun kamera milik para wartawan, walaupun hanya sekilas.


Bisik-bisik dari pada ibu-ibu tadi mulai bungkam. Mulut mereka seakan bisu tidak mampu mengucapkan sepatah katapun karena melihat pemandangan indah.


Yaitu dimana Ian ALV yang mereka idolakan datang bak seorang pahlawan untuk menyelamatkan nyawa permaisuri dan putrinya.


Meskipun pemuda tampan itu tidak mengklarifikasi kan tentang siapa Ayara. Namun, semua orang tahu bahwa wanita itu sangat berharga bagi member ALV yang mereka cintai selama ini.


Apalagi memang sudah banyak yang mengatakan bahwa wajah Vania begitu mirip seperti wajah sang idola. Namun, mereka menebak itu semua karena mungkin saat Ayara hamil mengidam mau bertemu artis terkenal.


Akan tetapi semua dugaan mereka salah besar, karena nyatanya Vania memanglah putri Alvian. Darah daging dari keturunan kekurangan Rafael.


Hari ini seluruh siaran televisi memberitakan hal tersebut. Semua orang yang menonton dari sosial media maupun dari berita lainnya.


Melihat sendiri seperti apa Alvian berjalan sambil mengenggam tangan seorang wanita muda dan dalam gendongannya ada seorang gadis kecil yang wajahnya adalah Versi Alvian jika dia perempuan.


Benar-benar tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Vania adalah gen dari Ian ALV sang idola. Soalnya saat melewati para wartawan dan orang-orang yang menatap pada mereka. Si cantik Vania tidak menyembunyikan wajahnya seperti sang mama.


Akan tetapi Vania menatap degan sangat jelas pada semua kamera yang menyorot untuk dijadikan berita. Namun, tangan kecilnya melingkar indah pada leher papanya.


Braaak!


Suara pintu mobil di tutup oleh bodyguard begitu Alvian beserta anak dan istrinya sudah masuk kedalam mobil. Begitu pula dengan Denis. Pemuda itu juga ikut pulang dengan menaiki mobil yang sama.


"Langsung ke rumah utama," ucap Alvian pada sopir yang membawa mobil.


"Baik, Tuan," jawab singkat dari sang sopir.


"Al, ba--bagaima dengan kariermu. Sekarang mereka semua sudah ta---"


"Shuuit! Tidak usah dipikirkan. Aku tidak perduli pada karierku karena yang terpenting buatku adalah kalian." Alvian menaruh telunjuknya pada bibir sang istri.


Sehingga perkataannya membuat Ayara langsung masuk keadaan pelukan pemuda itu. Sungguh Aya tidak menyangka jika Alvian akan mempertaruhkan kariernya demi istri dan si buah hati mereka.


"Kau dan anak kita jauh lebih berharga daripada karier ku, Aya. Jadi jangan pikirkan hal itu. Jika aku tidak menjadi artis lagi, itu tidak masalah karena aku masih bisa bekerja sebagai Cleaning Servis di perusahaan Evander." goda Alvian untuk mencairkan suasana yang membuat istrinya merasa tegang.


... BERSAMBUNG......