
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
...HAPPY READING......
.
.
Setelah pembicaraan tadi sore. Ayara sudah merasa lebih baik dan bisa menghilangkan rasa tidak percaya dirinya bersanding dengan Alvian. Soalnya pemuda itu telah berulangkali mengatakan bahwa dia tetap Alvin nya Ayara.
Mau seperti apapun orang-orang memujanya di luar sana. Tetap saja Alvian adalah suaminya dan ayah dari Vania putri mereka.
"Sayang, kalian pulang saja ke Apartemen. Via biarkan di sini karena Mama ingin tidur bersama anak kalian." ucap Nyonya Lili sambil menikmati makan malam mereka.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian! Mama hanya ingin bersama Via. Jadi malam ini kalian pulanglah ke Apartemen. Nikmatilah pernikahan kalian." sela wanita setengah baya itu karena dia sudah menyiapkan malam pertama yang sangat indah untuk Aya dan Alvian.
"Apakah nantinya tidak akan merepotkan Mama? Soalnya setiap tengah malam Via selalu meminta susu." jawab Ayara karena selama ini dia belum pernah berpisah bersama sang putri. Jadi takutnya Vania rewel juga.
"Tentu saja tidak, Nak. Via adalah princess Rafael. Siapa bilang dia akan merepotkan. Lagian sejak dia dalam kandungan, kau sudah merawatnya seorang diri. Jadi biarkan sekarang Mama yang membantu menjaganya." imbuh Nyonya Lili yang sudah tidak bisa dibantahkan lagi.
"Sayang, sudahlah! Biarkan Via di sini. Nanti jika dia menangis, kita tinggal pulang ke sini." ucap Alvian yang sudah selesai menghabiskan makanan miliknya.
"Eum," Ayara akhirnya mengangguk setuju karena sejatinya dia memang tidak tahu seperti apa Apartemen suaminya dirias oleh orang suruhan ibu mertuanya.
Meskipun tadi siang saat mereka di pelaminan Alvian sudah mengatakan padanya. Namun, karena malam pertama mereka sudah di habiskan empat tahun lalu. Jadi Ayara tidak pernah memikirkan hal tersebut.
Padahal alasan ibu mertuanya membuat malam pertama mereka di Apartemen adalah, karena tidak mungkin Alvian bisa bebas keluar masuk hotel.
Takutnya ada paparazi yang akan mengambil kesempatan untuk dijadikan berita. Soalnya sekarang bukanlah waktunya hubungan mereka di ketahui oleh publik. Semuanya butuh proses dan Tuan Abidzar sedang menyelesaikan masalah tersebut.
Agar tidak ada orang yang mengatakan jika Vania adalah anak haram. Bagaimana pun yang salah adalah kedua orang tuanya.
"Via, nanti mama sama Papa biarkan pulang ke Apartemen, ya? Via di sini saja..Sama Oma," kata Nyonya Lili setelah mereka semua selesai menghabiskan makanan di piring masing-masing.
"Iya, Via di sini aja, tama Om Deli juga." jawab si cantik yang sangat menyukai adik ayahnya.
"Muuuah! Anak pintar," ucap Tuan Abidzar mencium pipi sang cucu yang duduk di sampingnya.
"Tu, kalian sudah mendengarnya kan, jadi jangan khawatirkan Via," sambung nenek Alvian.
Sekarang gara-gara keluarga suaminya memanggil Vania dengan sebutan Via. Ayara pun berubah panggilannya terhadap sang putri.
Akan terasa aneh saja bila dia sendiri memangil Vania. Sedangkan yang lain memangil sang putri Via, dan Aya baru mengetahui sekarang jika Alvian juga menyebutkan namanya sendiri Alvin.
Sehingga panggilan tersebut disematkan oleh keluarga besar Rafael. Termasuk Ayara sendiri juga memangil demikian.
"Iya, Nek, kami akan kembali ke Apartemen karena tahu jika Via sendiri yang mau tinggal di sini." jawab Alvian mengikuti keluarganya pindah ke ruang tengah. Termasuk Ayara juga ikut bersamanya.
Soalnya di rumah tersebut ada puluhan orang pelayan yang bekerja. Jadi Aya dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun.
"Aya, bagaimana jika kita pulang sekarang saja. sepertinya akan turun hujan besar." tanya pemuda itu setelah mendengar suara gemuruh mau hujan.
"Eum, tapi ponselku ada di kamarmu,"
"Kamar kita, bukan kamarku." Alvian meluruskan perkataan sang istri.
"Iya, dikamar." Aya hanya mengiyakan agar masalahnya cepat selesai.
"Tunggu di sini, biar aku yang mengambilnya." tidak menunggu jawaban dari sang istri. Pemuda itupun langsung pergi menuju tangga yang mengarah ke lantai atas.
"Mama, papa kemana?" tanya Vania menatap kepergian sang ayah.
"Papamu lagi mengambil ponsel Mama. Via tidak mau ikut bersamanya Mama? Nanti malah menangis setelah bangun tidur Mama tidak ada," jawab Aya yang kembali menyakinkan sang putri.
"Tidak, Via tama Oma di cini." jawab si cantik masih tetap sama.. Sehingga neneknya Alvian dan mamanya hanya tersenyum saja, karena mereka begitu tersentuh melihat betapa Ayara menyanyangi keturunan Rafael. Padahal dulu sudah jelas jika Alvian telah menyakitinya.
"Biarkan saja dia di sini, Nak. Mama berjanji jika Via menangis, Mama akan segera menelpon mu atau Alvin." ucap Nyonya Lili degan tersenyum.
Sekarang Aya memang memiliki ponsel Android sendiri yang dibelikan oleh Tuan Abidzar waktu mereka jalan-jalan di ibu kota B.
"Iya, Ma. Semoga saja dia tidak rewel," jawab Ayara balas tersenyum kecil. Soalnya wanita itu masih merasa sungkan dengan mereka semua. Merasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Rafael.
"Sayang, ayo kita pulang sekarang," ajak Alvian yang sudah kembali turun dengan ponsel Ayara dan juga kunci mobilnya.
"Iya," jawab Ayara singkat dan mendengarkan Alvian bicara dengan putri mereka.
"Via sayang, Papa sama mama pulang ke Apartemen kita, ya? Besok pagi Papa akan menjemput Via." ucap Alvian pada sang putri yang lagi bermain di atas karpet di ruang keluarga.
Setelah kehadiran Vania. Mendadak di rumah tersebut di penuhi oleh berbagai macam permainan. Tuan Abidzar tidak tanggung-tanggung untuk kebahagiaan sang cucu. Beliau membelikan permainan yang di sukai oleh anak perempuan yang seumuran dengan Vania.
"Iya, Via mau tama Oma, tama opa, tama Om Deli dan tama... Nani duga." jawab Vania yang menyebutkan nenek papanya Nani.
"Baiklah! Jika begitu Papa sama mama pulang sekarang. Jika nanti takutnya hujan," Alvian tersenyum sambil memberikan ciuman pada kedua pipi putrinya.
Setelah itu barulah dia dan Ayara berpamitan pada keluarga yang lainnya. Soalnya pemuda itu takut hujan sehingga rencana mamanya yang mempersiapkan malam pertama mereka menjadi gagal.
"Sepertinya memang mau hujan," ucap Ayara begitu mobil mereka meninggalkan kediaman Rafael.
"Iya, bukan sepertinya lagi, tapi di sini sudah mulai gerimis." jawab pemuda itu melihat kearah jalanan yang terlihat agak sepi. Mungkin karena mau hujan, jadinya orang-orang juga malas mau pergi keluar rumah.
"Aya," panggil Alvian saat mobil mereka berhenti di lampu mereka.
"Huem, iya?"
"Apakah hari itu kau pulang dalam hujan? Makanya bisa demam?" tanpa dijelaskan oleh suaminya. Tentu Ayara tahu kemana arah pertanyaan Alvian.
"Iya, aku pulang dalam hujan. Sambil menikmati air yang jatuh dari langit dan... agar orang lain tidak tahu jika aku sedang menangis." jawab jujur Ayara dengan helaan nafas panjang.
"Maafkan aku! Aku bertanya karena aku ingin kau benar-benar melupakan tentang kenangan buruk diantar kita." imbuh pemuda itu karena pada dasarnya dia sudah tahu dari laporan Denis.
"Huem, aku juga sedang berusaha melupakannya, karena sekarang kita juga sudah bersama," Ayara tersenyum kecil.
Agar Alvian tidak merasa bersalah padanya lagi. Meskipun sebetulnya tentu tidak mudah untuk Aya melupakan kenangan tersebut. Namun, karena dia sudah memutuskan mau kembali bersama Alvian dan memberikan pemuda itu kesempatan kedua.
Maka Ayara pun akan berusaha buat melupakan semuanya. Supaya mereka hanya hidup dengan kenangan indah saja.
"Benar, karena aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Terima kasih untuk semuanya." sahut Alvian langsung menggenggam tangan istrinya dan dia kecup berulangkali.
"Oya, besok kita akan menjemput Via untuk pergi Ziarah ke makam Mama Jasmeen dan sekalian melihat rumah baru untuk kita tinggal." lanjut pemuda itu lagi.
"Benarkah kau akan mengantarku ke makam mama?" seru Ayara langsung tersenyum bahagia dan berkata. "Kau tidak perlu membeli rumah baru. Dimanapun itu asalkan bersamamu, maka bagiku tidak akan jadi masalah."
"Huem, benar! Kita akan ke makam mama bersama-sama, karena sekarang dia bukan lagi Tante Jasmeen seperti biasanya. Melainkan ibu mertuaku." jawab Alvian yang membuat senyum Ayara semakin mengembang.
"Bukan aku yang membeli rumah baru, tapi ini hadiah dari Papa. Lagian jika kita tinggal di Apartemen, Via tidak bisa bermain dengan bebas. Kata Deri rumahnya sangat Asri dan ada Taman bermainnya."
"Ya sudah! aku ikut mana baiknya saja." Aya pun akhirnya kembali menyerahkan keputusan pada Alvian.
"Tidak apa-apa, ini kita sudah sampai," Alvian sudah membelokkan mobilnya kearah Gedung Apartemen mewah yang dia tinggali.
Di sana hanya orang-orang kelas atas saja yang mampu tinggal di tempat tersebut. Orang-orangnya pun cuek-cuek dan tidak pernah ikut campur dengan urusan orang lain.
Apalagi tidak begitu banyak juga yang mengetahui bahwa Alvian tinggal di sana, karena setiap kali masuk dan keluar. Alvian selalu mengenakan Masker penutup wajah dan juga topi.
"Ayo," Alvian mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun dari mobil. Meskipun terlihat sepi tidak ada orang, pemuda tersebut tetap saja mengunakan masker penutup wajah dan topinya.
Buat berjaga-jaga dari pengemar ALV. Soalnya sudah terbiasa walaupun hanya sendirian Alvian dan teman-temannya yang lain juga seperti itu.
Ayara yang takut karena mereka langsung ke parkiran bawah tanah. Tentunya merangkul erat tangan sang suami.
"Alvin,"
"Huem?"
"Jika hujan besar seperti sekarang, apakah tempat ini jadi sepi?" tanya Ayara saat mereka berjalan kearah lift dari tempat parkiran bawah tanah. Menuju lantai tempat Apartemen Alvian berada.
"Iya, akan sepi seperti ini. Makanya lebih baik kita tinggal di rumah yang papa hadiahkan sebagai hadiah pernikahan kita." jawab pemuda itu tersenyum kecil karena tahu bahwa Aya seperti ketakutan.
"Iya, aku juga merasa takut bila sepi seperti ini," selama berada didalam kotak besi menunju ke tempat yang dituju. Pasangan suami-istri baru itupun terus mengobrol.
"Baguslah, jika kau setuju kita tinggal di rumah pemberian papa. Lagian setelah minggu ini, jadwal ALV akan kembali sibuk seperti biasanya. Aku tidak tenang meninggalkan kau dan putri kita bila masih tinggal di sini."
"Apakah itu artinya kita akan jarang bertemu?"
"Tidak juga, mungkin paling lama satu Minggu, karena semuanya tergantung jadwal kami akan konser di mana." sambil berbicara pemuda itu mengandeng tangan sang istri keluar dari dalam lift dan berjalan kearah pintu Apartemen mereka.
"Huem, iya tidak apa-apa jika hanya selama itu."
"Maafkan aku, karena ini resiko yang harus kami terima. Dibalik kesuksesan ALV, kami berlima harus bisa konsisten pada waktu." ucap si tampan Alvian membuka pintu Apartemen mengunakan tanggal lahir istrinya.
"Ayo masuk," ajaknya begitu pintu berhasil dibuka.
"Semua pekerjaan itu ada resikonya. Jadi jika ingin enak, maka tinggal nikmat saja. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya." jawab ibu muda itu yang sekaligus memberikan nasehat agar Alvian mensyukuri pekerjaan yang dia pilih sendiri.
"Kau benar sekali, sekarang aku hanya akan jalani saja yang penting aku bisa membahagiakan istri dan anakku" ujar Alvian begitu membuka pintu kamar mereka.
"Alvin, si--siapa yang membuat Tempatnya. menjadi se--sebagus ini?" seru Ayara sampai tergagap tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Soalnya kemarin pagi ketika dia dan Vania ke sana. Tempat itu belum dirias sama sekali.
"Ini mama yang melakukannya, maka dari itu mama begitu memaksa agar kita kembali ke Apartemen dan tidak boleh membawa Via." jawab Alvian membawa Ayara masuk kedalam kamar tersebut dan langsung mengunci pintu.
"Apa kau suka?" tanyanya setelah tiba di dekat ranjang tempat tidur.
"Eum... sebetulnya suka," jawab Ayara tertunduk. "Tapi---"
"Shuuit!" Alvian langsung menaruh jari telunjuknya pada bibir ranum Ayara dan berkata.
"Mama hanya ingin kau merasakan kebahagiaan sama seperti gadis lain. Begitupun dengan ku. Meskipun mama tidak menyiapkan semua ini. Maka aku pun akan tetap melakukan hal yang sama.
"Aya, ini tetap malam pertama kita, sebagai pasangan suami-istri. Aku yang sudah mengambilnya lebih dulu. Jadi ini sebagai konsuensi yang harus aku terima." sela Alvian karena bisa menebak pikiran sang istri.
"Lagian aku tidak pernah menyesal atas apa yang pernah kita lakukan dulu. Justru aku benar-benar merasa bersyukur karena aku merenggut kesucian mu, makanya kita memiliki Vania. Jika tidak, darimana adanya putri kita."
"Alvin, aku hanya takut kau kecewa," lirih Aya menatap muka suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Ayara tidak menyesal atas apa yang pernah mereka lakukan dulu. Hanya saja ketika melihat tempat malam pertama yang begitu indah. Membuat dirinya merasa tidak pantas menerima semuanya.
Seakan-akan malu pada sang suami karena dia sudah tidak perawan lagi. Padahal kan yang merenggut kesucian Ayara adalah Alvian sendiri.
Mendengar pengakuan dari mulut sang istri Alvian pun tersenyum dan berkata. "Kenapa aku harus kecewa sayang. Aku sendiri yang merenggut kesucian mu. Seperti yang aku katakan tadi. Aku justru bahagia karena itu kita memiliki seorang putri."
"Alvin, terima kasih! Tadinya aku---"
Cup!
Sebelum Ayara kembali berbicara yang tidak-tidak. Alvian sudah menyambar bibir istrinya dengan menuntut. Sehingga wanita itu pun langsung membalas ciuman dari suaminya.
Lalu persilatan lidah pun terjadi di dalam mulut mereka berdua. Lama mereka melakukannya. Sampai bibir seksi Alvian turun pada leher jenjang sang istri dan memberikan tanda Kiss Mark di beberapa tempat. Sehingga Ayara yang tidak tahan pun langsung memegang kepala suaminya.
Augh!
Satu lenguhan terdengar karena Alvian tidak hanya pandai saat bernyanyi di atas panggung. Namun, juga pakarnya membuat Ayara ketagihan setiap sentuhan yang dia berikan.
Jika Alvian tidak pandai, mana mungkin mereka melakukannya berulang-kali. Sehingga menurut perkiraan Ayara. Setelah mereka melakukan untuk yang pertama kali. Vania sudah hadir di rahimnya.
Hanya saja baik dia ataupun Alvian tidak sadar akan hal itu. Sehingga terus saja berhubungan dan memberikan kepuasan satu sama lain. Tanpa memikirkan resikonya perbuatan mereka yang ternyata benar, membuat Ayara hamil di luar nikah.
"Aya, aku sangat mencintaimu," ucap pemuda itu yang mulai mengiring tubuh istrinya berjalan beberapa langkah kebelakang. Untuk sampai keranjang tempat tidur.
Aroma dari lilin-lilin yang baru saja dihidupkan oleh orang suruhan Nyonya Lili. Begitu anak dan menantunya meninggalkan kediaman keluarga Rafael. Jadi sangat tepat waktu ketika Alvian dan Ayara datang. Mereka meninggalkan Apartemen tersebut.
Aaah!
Ayara kembali mendesah kala mereka berdua sudah sama-sama duduk diatas tempat tidur dan tangan Alvian yang biasanya memegang microphone. Malam ini kembali lagi menyentuh gunung kembar Ayara, yang dulu adalah tempat dia berpetualang.
Dalam cumbuan tersebut, pemuda itu pun berhasil menurunkan dress sang istri. Sehingga bongkahan daging kenyal milik Ayara terlihat begitu menggoda, yang ternyata masih sama seperti dulu.
"Sayang, apakah kau tidak menyusui Via?" tanya pemuda itu yang langsung membuat Ayara mengelengkan kepalanya pelan dan menjawab.
"Aku menyusuinya hanya dua hari, karena dia tidak mau. Maka dari itu Vania sangat bergantung pada susu formula. Tapi untuk menghindari ejekan para tetangga ku. Aku masih sesekali mencoba memberi Vania ASI ku." jawab Ayara jujur, tidak ada yang dia tutup-tutupi karena memang seperti itulah kenyataannya.
"Mungkin putirku tahu, jika papanya akan malam pertama lagi," seloroh Alvian yang kembali lagi menyambar bibir ranum Ayara. Padahal bibir wanita itu sudah terlihat tebal gara-gara ulahnya.
...BERSAMBUNG......
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya, yaβΊοΈ Ini memang hanya satu bab. Akan tetapi jumlah katanya adalah untuk tiga BAb. Sama ada peringatan buat kalian para Raeder tercintaku. Tidak boleh ngintip di pojokan. Biarkan bbg Alvian berbuka puasa.π€£π€£π€ Dah ah, jangan lupa buat. π
Like.
Vote.
Subscriber.
Komen yang bermanfaat.
Hadiah dan bintang limanya, agar Mak Author semagat buat nulis ππ Terima kasih ππ€π€π€