I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Menunggu Tes DNA.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Silahkan Tuan, tidak usah malu untuk menjelaskan. Di sini hanya ada kita berempat." lanjut Dokter Erina melepas kacamatanya.


"Dokter... Saya adalah Ayah kandungan Vania. Makanya ingin meminta data lengkap karena Saya mengetahui Ayara memiliki anak baru dua hari lalu," jelas Alvian sudah melupakan rasa malunya dan harus mengakui semuanya agar bisa mendapatkan data sang putri.


"Maaf sebelumnya, Saya hanya menyimpulkan sendiri. Jadi apakah Anda mantan kekasihnya?" si dokter yang menjaga perasaan seorang ayah tidak mengatakan bahwa Vania anak diluar nikah.


"Iya Dok, Saya adalah mantan kekasihnya. Namun, Saya meninggalkan Aya karena terpaksa." jawab Alvian sudah mulai tenang. Tidak gugup seperti sebelum dia mengakui semuanya tadi.


"Agh! Ternyata dugaan Saya benar!" Dokter Erina menghembuskan nafas kasar.


"Pantas saja saat melahirkan dia datang kerumah sakit sendirian. Apa Anda tahu, Saya sampai menangis melihatnya. Dan bila mengigat penderita Nona Ayara saat melahirkan Vania. Saya pasti akan kembali bersedih," seru si dokter yang ingin marah dan kembali bersedih.


Terlihat Dokter Erlina menyeka air disudut matanya agar tidak menetes.


"Saya... benar-benar tidak tahu jika saat kami putus dia lagi mengandung anak kami, Dok." hati Alvian terasa teriris mendengar cerita pahit gadis yang dia cintai.


Ternyata Ayara datang ke rumah sakit seorang diri. Pada tanggal yang sama dengan konser mereka di kota tersebut.


"Maaf Dokter, apa yang dikatakan oleh sahabat Saya memang benar. Dia dan Ayara putus karena pekerjaan kami saat itu yang tidak boleh berpacaran," ucap Aldebaran ikut memberikan penjelasan.


"Huh! Sudahlah! Saya hanya terlalu merasa simpatik padanya." jawab Dokter Erlina sebelum berkata pada Jessie.


"Jes, tolong cari data Nona Ayara dan Vania." ucapnya sopan. Meskipun pada bawahannya sendiri.


Tidak banyak bertanya, wanita bernama Jessie pergi mencari data Ayara dan putrinya. Ternyata tidak sampai lima menit dia sudah membawakan sebuah Map berwarna hijau. Lalu diserahkan pada Dokter Erina.


"Ini, Dok,"


"Huem, iya terima kasih." kata si dokter tersenyum dan berkata pada Alvian.


"Anda boleh berterima kasihlah padanya, karena malam itu dialah yang menjaga Nona Ayara. Sampai saudari Nona Ayara datang besok paginya." papar si dokter itu lagi.


"Benarkah! Kalau begitu terima kasih banyak karena kalian semua sudah membantunya." Alvian menundukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasihnya yang tulus.


"Berterima kasihlah pada Dokter Erina, Tuan. Soalnya malam itu Saya dibayar olehnya." jawab Jessie jujur.


"Ha... haa! Jes, apa yang kau katakan. Itu bukan bayaran karena kau sudah menjaga Nona Ayara. Akan tetapi uang tiket Saya yang tidak bisa menonton secara langsung Ian ALV." tawa Dokter Erina renyah.


Meskipun dia sempat sempat kecewa, karena tidak bisa datang ke konser pertama ALV. Namun, semua rasa kecewa itu hilang Setelah dia melihat keadaan Ayara yang sangat menyedihkan.


"Eum.. Maaf apakah Dokter menyukai Ian ALV?" tanya Bara tersenyum dibalik masker yang ia pakai.


"Bukan hanya dia, tapi semua member ALV. Hanya saja Saya sangat ngefans pada Ian." jawab Dokter Erina dengan mata berbinar bahagia.


"Apa Anda tahu tuan, gara-gara Saya begitu ngefansnya pada Ian ALV. Wajah putri Anda sangat mirip dengannya." seru si dokter itu lagi, karena tidak tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah Ian ALV.


"Huem, iya! Dua hari lalu Saya juga sudah melihat wajahnya," jawab Alvian tersenyum. Dia sangat bahagia karena wajah Vania begitu mirip dengannya.


"Mungkin itu karena Tuhan tahu bahwa Anda ngefans pada Ian ALV, Dok. Jadi wajah Vania begitu mirip dengan Ian ALV." Bara semakin tersenyum lebar.


Ternyata bukan hanya mereka saja yang mengatakan bahwa Vania begitu mirip dengan Alvian. Namun, juga Dokter yang menolong pada saat Ayara melahirkan.


"Haa... ha.. anggap saja begitu," tawa si dokter mulai membuka berkas yang sudah dia pegang sejak tadi.


"Golongan darah saya AB, jika Aya dia golongan darahnya O." jawab Alvian yang sudah sangat hapal bila bersangkutan dengan mantan kekasihnya.


Mendengar jawaban Alvian. Membuat Dokter Erina tersenyum lebar dan berkata. "Ternyata Vania mengikuti golongan darah ayahnya,"


"Apa... benarkah seperti itu?" seru Alvian sambil membaca data putrinya.


"Benar sekali Tuan, karena sekitar empat bulan lalu kami melakukan pemeriksaan darah Vania. Soalnya dia sering sakit akhir-akhir ini," jawab Dokter Erina yang sampai saat sekarang selalu membantu meringankan biaya setiap kali Vania sakit.


Soalnya dia tahu bahwa Ayara hanya memiliki saudara perempuan saja, dan itupun kehidupan mereka sama-sama susah.


"Ya Tuhan! Terima kasih karena tanpa melakukan tes DNA pun Vania memanglah putriku," seru Alvian begitu bahagia karena sang putri bukan hanya mewarisi wajah tampannya. Namun, juga darahnya.


"Tapi jika Anda ingin melakukan tes DNA juga tidak apa-apa, Tuan. Kebetulan Saya masih menyimpan rambut Vania, karena kami takut dia memiliki penyakit serius. Jadi saya meminta rambut Putri anda untuk melakukan pemeriksaan juga," papar dokter itu berdiri kearah sebuah lemari kaca untuk mengambil rambut Vania yang dia simpan pada tempat khusus.


"Al, bagaimana? Apakah Kau juga akan melakukan tes DNA?" tanya bara pada sahabatnya.


"Entahlah! Tapi tanpa melakukan tes DNA. Aku sangat yakin bahwa dia memanglah putriku," jawab Alvian bingung, karena yang penting baginya sudah mendapatkan data dari rumah sakit.


"Tapi jika saran dari Saya lebih baik Anda melakukan tes DNA sekalian, Tuan. Selagi kita masih di rumah sakit. Agar Anda memiliki bukti yang kuat." sarana dokter tersebut.


"Apakah sudah bisa melakukan Tes DNA dengan rambutnya saja?" tanya Alvian yang dia kira tadi harus ada darah putrinya juga.


"Iya, sekarang tinggal berikan rambut Anda, maka sekitar tiga jam lagi. Anda sudah mendapatkan hasilnya."


"Al, menurutku lebih baik kamu lakukan tes DNA sekalian. Agar nanti bisa ditunjukkan pada Ayara, bahwa Vania memanglah putri kandungmu." usul Aldebaran yang rela menemani Alvian menunggu hasil lab keluar.


"Kau sendiri yang bilang bahwa Aya mengatakan, jika Vania adalah anak dari mantan suaminya." lanjut Bara mengingatkan.


"Eum... Baiklah! Nanti sambil menunggu hasil lab nya keluar. Kita bisa mencari makan siang terlebih dahulu," akhirnya setelah mempertimbangkan kembali. Alvian pun setuju untuk melakukan tes DNA bersama putrinya.


Tujuannya hanya untuk mendapatkan surat resmi saja, karena Dokter Erina pun mengakui. Jika Vania memanglah Putri kandungnya.


"Baiklah Dokter, Saya setuju untuk melakukan tes DNA. Eum... tapi bisakah ini dilakukan oleh dokter sendiri yang mengurusnya. Nanti Saya akan membayar berapapun biayanya." ucap Alvian. Sekaligus meminta bantuan dokter tersebut.


"Anda tidak perlu membayar Saya, karena mendengar Vania ternyata memiliki ayah saja. Saya sangat merasa bahagia." jawab Dokter Erina, karena dia tahu setelah ini kehidupan Vania dan Ayara pasti akan lebih baik lagi.


Soalnya dapat Dokter Erina tebak, bahwa Alvian adalah orang kaya. Terlihat dari penampilannya, maupun perawakan yang sangat terawat.


"Oke! Kalau begitu Saya akan membayar Anda dengan hal lain, bukan dengan uang," Alvian berdiri dari duduknya untuk mengambil gunting yang berada di atas meja.


Lalu dia berikan pada Aldebaran sambil berkata. "Bara, tolong kau ambil sedikit rambutku. Agar semuanya cepat selesai, karena aku sudah tidak sabar ingin menemui Ayara dan putriku."


"Baiklah!" jawab singkat Bara. Lalu pemuda itupun memotong sedikit rambut Alvian buat melakukan uji kecocokan dengan rambut Vania.


"Dok, ini rambut Saya. Tolong Dokter saja yang melakukannya. Saya akan memberikan bayaran, tapi bukan uang. Namun, sebelum itu perkenalkan nama kami." Alvian memberikan rambutnya yang langsung diterima oleh Dokter Erina.


"Haa... ha... oke, oke! Saya tunggu hadiah besarnya," tawa dokter tersebut karena dia tidak tahu hadiah seperti apa yang dimaksud oleh Alvian.


"Kenalkan Dok, nama Saya Alvin dan ini Bara sahabat Saya," kata pemuda itu memperkenalkan dirinya dengan sebutan lain.


"Wah, ternyata nama Anda dan Vania juga memiliki kemiripan," seru Dokter Erina, menerima baik uluran tangan Alvian dan Bara secara berganti. Hal serupa juga dilakukan oleh Jessie.


Setelah mengobrol sebentar, karena menunggu hasil lab keluar cukup lama. Jadi Alvian dan Bara memilih pergi dari rumah sakit. Mereka akan mencari Restoran mewah, agar bisa sekalian beristirahat di sana.


Bukan mereka tidak mau mencari hotel saja. Namun, karena takut dimintai kartu identitas saat melakukan check out. Jadinya cari yang aman-aman saja.


...BERSAMBUNG......