
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
...HAPPY READING......
.
.
Tiga hari sudah berlalu. maka selama itu pulalah Alvian ataupun Vania saling menahan rasa rindu mereka. Meskipun dalam satu hari Alvian sudah melakukan panggilan video call bersama putrinya. Tetap saja rasa rindu yang dia rasakan tak kunjung hilang, yang ada malah semakin ingin bertemu buah hatinya.
Malam ini adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh para fansnya member ALV. Alvian dan keempat sahabatnya akan kembali debut yang selalu berhasil memecahkan rekor di manapun mereka tampil.
"Al, kau lagi apa?" tanya Hanan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar tempat Alvian menginap. Selama mereka berada di negara tersebut.
"Aku mau menelepon putriku dulu. Duduklah!" jawab Alvian menggeser tubuhnya kearah kanan. Soalnya di dalam kamar itu hanya ada satu sofa panjang saja.
Sekarang mereka tinggal keluar dari hotel tempat mereka menginap dan menuju tempat stadion dimana acaranya berlangsung yang hanya perlu berjalan kaki saja.
"Benarkah! Kalau begitu ayo cepat telepon lah, aku ingin melihat dan mendengar saat Via berbicara langsung. Sejak kemarin kita selalu latihan. Jadinya aku lupa untuk menyuruhmu menelpon Via." ujar Hanan penuh semangat.
Ya, seluruh member ALV, ikut-ikutan memanggil Vania dengan sebutan Via. Sama seperti Alvian menyebut nama buah hatinya.
"Heum, kau benar! Kemarin begitu pulang dari kota B. Aku juga sibuk karena harus menepati janjiku menemani Alice pergi jalan-jalan. Setelahnya kita mulai latihan koreo buat malam ini." jawab Alvian membenarkan.
"Al, apakah kau dan Alice serius? Kenapa kau pergi bersamanya lagi?" tanya Hanan yang tidak ada waktu bertanya pada Alvian, karena kesibukan mereka.
"Apa yang kau katakan? Tentu saja tidak! Aku hanya menepati janjiku untuk menemaninya jalan-jalan." jawab Alvian tidak mungkin melanjutkan hubungannya dengan Alice.
Jangankan sekarang, dulu saja saat belum mengetahui sudah memiliki putri bersama Ayara saja dia tetap tidak mau. Jadi sudah tahu kan apa jawaban Alvian tentang hubungannya dengan Alice.
"Aku kira kau hanya ingin bertanggung jawab pada Via dan akan mencari ibu baru buat putrimu," kata Hanan menebak sendiri.
"Daripada mencari Ibu baru untuk anakku, lebih baik aku menikahi ibunya saja. Agar sekalian, kenapa harus repot-repot. Jika Aya sudah jelas aku sangat mencintainya," Alvian tergelak dan mulai melakukan panggilan Video call.
"Kalau begitu, mulai saat ini kau jaga jarak dari wanita manapun. Jangan sampai Ayara salah paham akan hubungan mu dengan mereka yang tergila-gila padamu," nasehat serupa yang dikatakan oleh Hanan. Sama seperti perkataan Bara beberapa hari lalu.
"Iya, kalian tenang saja karena aku tidak segila itu. Aku juga melakukannya hanya karena telah berjanji pada Alice. Ini bukan karena dia teman kita saja. Akan tetapi dia juga anak dari sahabat orang tuaku," tutur Alvian yang memiliki pemikiran sama seperti keempat sahabatnya.
Ttttddd!
Ttttddd!
"Kenapa tidak diangkat juga---"
Baru saja Alvian mau bertanya pada dirinya sendiri. Panggilan tersebut sudah diangkat oleh Ayara.
Namun, dia tidak melihat kearah Alvian. Apalagi setelah berita heboh tentang ayah dari putrinya bersama wanita lain. Meskipun Ayara tidak mau tahu akan berita tentang Alvian.
Tetap saja dia memiliki mata dan telinga untuk melihat berita dari berbagai televisi dan bisa mendengar kekecewaan maupun dukungan dari fans ALV.
Soalnya tidak semuanya setuju jika Alvian menikah dengan Alice yang menurut mereka bukanlah wanita baik-baik. Akan tetapi tidak sedikit pula yang memberikan dukungan agar keduanya bersatu.
π± Alvian : "Hai cantiknya Papa," sapa Alvian tersenyum melihat wajah putrinya memenuhi layar ponselnya.
π± Vania : "Papa tapan puyang? Via mau Papa," jawab Vania yang tetap sama ingin papanya segera pulang.
π± Alvian : "Eum... mungkin tinggal beberapa hari lagi. Sabar, ya! Via kenapa? Apakah lagi sakit? Kenapa harus digendong sama mama?" tanya Alvian khawatir karena melihat Vania berada dalam pelukan Ayara.
Disa memang belum mengetahui bahwa Ayara yang sengaja ingin menghindar darinya.
π± Vania : "Via tidak takit, tapi mama yang tatit." jawab si cantik membuat Alvian termenung.
π± Alvian : "Mama sakit apa? Huem! Lalu kenapa dari kemarin mama tidak mau bicara sama papa?" tanya pria itu penasaran. Soalnya saat Alvian melakukan beberapa kali panggilan saat dia baru tiba di kota S. Ayara masih mau bicara padanya.
Hanya saja sejak dua hari lalu, Ayara tidak mau bertatap muka dengan mantan kekasihnya. Walaupun hanya lewat panggilan video call.
π± Vania : "Mama tangis, Via tidak tau mama takit apa," Vania terus menjawab karena dia mengerti apa yang ditanyakan oleh papanya.
π± Alvian : "Oh, begitu! Jadi Via tidak tahu mama sakit apa? Apa Via tahu kenapa mama menangis?" pemuda tampan itu kembali bertanya sambil mengembangkan pipinya seperti lagi meniup sesuatu.
Padahal dia lagi berpikir keras sampai membuat Hanan tersenyum karena pemikiran mereka pasti sama. Baru setelah itu Alvian ikut tersenyum.
π± Vania : "Via tidak tau, tapi mama tangis telus," si cantik kembali mengelengkan kepalanya.
Selama ini dia mengetahui mamanya menangis karena sakit. Atau karena terlalu bahagia. Begitulah Ayara menyembunyikan luka hatinya. Dia memang sakit, tapi sakit hati karena terluka oleh orang-orang terdekatnya.
π± Alvian : "Sayang, katakan pada mama. Jika sakitnya karena Papa, maka mama harus sembuh. Soalnya Papa hanya mencintai mama mu," Alvian tersenyum karena sepertinya dia mengerti kenapa Ayara tidak mau berbicara padanya lagi.
"Haa... ha..." tawa Hanan yang tidak bisa dia tahan lagi. Apalagi rasa gemasnya pada Vania. "Baru saja aku katakan, tapi kau terlalu santai," ucap Hanan yang mengejek Alvian yang hanya ikut tersenyum melihat punggung gadis yang dia cintai.
"Aku bukannya santai, tapi aku merasa tidak melakukan apapun." jawab Alvian membela dirinya.
"Bersabarlah Aya, setelah pulang dari sini, maka aku akan datang untuk membawa kalian bersamaku." gumamnya gemas pada tingkah Ayara yang tidak bisa membohonginya.
"Al, geser sana! Aku ingin menyapa keponakan cantikku," Hanan mendorong tubuh Alvian. Padahal dia tinggal menggeser ponselnya saja.
"Huem," Alvian mengangguk saja. Soalnya bila ada para sahabatnya, pasti waktu dia untuk berbicara bersama sang putri akan terganggu.
Mereka semua juga ingin menyapa Vania. Hanya Hanan yang belum berbicara pada Ayara ataupun pada Vania.
π± Alvian : "Sayang ini Om Hanan ingin berbicara denganmu dan mama," ucap pemuda itu pada putrinya.
π±Hanan : "Hallo... Via sayang! Ini Om Hanan yang tampan," sapa Hanan tersenyum melihat wajah imut Vania.
π± Vania : "Om tanan, ini Via," jawab Vania yang membuat Hanan semakin tersenyum. Bagaimana dia tidak tersenyum setelah namanya dibilang om tanan.
"Al, pantas saja Bara ingin membawa putrimu, dia sangat menggemaskan. Aku ingin mengigit pipinya," seloroh Alvian yang membuat Alvian ingin menimpuk kepalanya mengunakan bantal sofa.
"Kau pikir putirku paha ayam. Mana boleh kalian mengigitnya." imbuh Alvian yang tidak mau ada yang menyakiti si buah hati. Padahal sudah jelas para sahabatnya hanya meremas gemas saja.
"Aiiis! Kau ini," Hanan tidak mempedulikan Alvian karena dia masih ingin berbicara dengan Vania dan Ayara sahabatnya.
π± Hanan : "Via, nanti jika Om Hanan jemput, mau ya, ikut ke kota S." tanya Hanan karena mereka semua sudah tahu bahwa sekarang Ayara hidup menderita.
Jadi meskipun Alvian tidak membawa Ayara dan Vania kembali. Maka keempat sahabatnya akan melakukannya.
...BERSAMBUNG....