I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Tidak Rela, Ayara Bahagia.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Aaaaghkkk! Brengsek! Apa yang membuat Ian menjadi milik mu, Ayara." maki Arianti sambil berteriak dan membuang semua barang mahal yang ada di dalam kamarnya.


"Aku akan merebut Alvian darimu karena kau tidak pantas menjadi istri dari seorang member ALV. Akulah yang pantas menjadi istri Ian. Hanya akulah yang pantas, bukan dirimu." Arianti semakin tidak terkendali lagi.


Mungkin apabila Ayara ada di hadapannya, sudah dia habisi nyawa kakak tirinya itu. Arianti benar-benar tidak bisa menerima kenyataan jika sang idola sudah menikah. Apalagi yang menjadi Alvian adalah orang yang paling dia benci.


Praaank!


"Kurang ajar! Aku membencimu Ayara! Aku benar-benar sangat membencimu. Kenapa kau tidak mati saja," terikat gadis itu yang membuat mamanya langsung berlari masuk ke dalam kamar sang putri.


"Arianti! Apa yang kau lakukan," bentak Nyonya Rose pada putrinya yang baru pulang dua hari lalu dari Amerika.


"Mama masih bertanya ada apa? Apakah Mama bodoh tidak bisa melihat berita bahwa Ayara ternyata menjadi istrinya Ian ALV," gadis itu berteriak seperti orang gila.


Kamarnya yang luas dan rapi sudah berantakan seperti mana rumah yang terkena boom. Belum lagi rambutnya yang panjang sudah seperti para gelandangan dipinggir jalan.


"A--apa? Jangan asal bicara kau? Mana mungkin dia masih hidup. Mama sangat yakin jika anak sialan itu sudah mati gara-gara menjadi gelandangan," seru wanita itu juga ikut berteriak.


Seharusnya setelah sekian lama tidak ada kabar tentang Ayara. mereka senang begitu melihat jika putri sulung keluarga Edward masih hidup dan menjadi istri dari artis terkenal.


Namun, karena rasa iri dengki mereka terhadap Ayara. Jadinya malah berteriak menahan kesal.


"Aku tidak berbohong, Ma. Tunggu sebentar, aku akan memutar perkataan Ian." Arianti yang tadinya juga ikut menonton Alvian live langsung memutar ulang siaran tersebut.


Tadinya sebelum mendengar nama yang diucapkan oleh Alvian. Gadis itu masih menyangkal bahwa wajah wanita yang disebutkan sebagai pemenang hati Ian ALV itu hanya mirip dan bukan Ayara kakak tirinya.


Akan tetapi saat live Alvian menyebutkan sendiri nama istrinya, karena ada yang bertanya siapa nama gadis paling beruntung itu. Lalu Alvian menyebutkan bahwa nama istrinya adalah Ayara Febriani Jasmeen Rafael.


Pada saat itu juga jantung Arianti terasa mendidih panas, karena tidak terima sang kakak yang masih mengalir darah Tuan Edward memiliki kehidupan yang sangat baik dari yang dia pikirkan selama ini.


"Ini Ma, cepat Mama buka mata dan telinga baik-baik. Nama siapa yang Ian sebutkan." titah Arianti sambil menangis saat menyuruh ibunya menonton live Alvian, yang segaja dipercepat oleh Arianti. Yaitu saat sang artis menyebutkan nama istrinya.


Rose tidak menjawab dan berkata sepatah katapun. Dia hanya mengangguk dengan hati bergemuruh dikuasai amarah.


"Namanya Ayara Febriani Jasmeen Rafael. Dia adalah gadis yang aku cintai sejak dulu dan bukanlah simpanan."


Tes!


Tes!


Air mata Nyonya Rose menetes degan tangan bergetar hebat. Namun, itu bukanlah air mata bahagia melainkan air mata karena tidak terima nasib Ayara seberuntung itu bisa menikah dengan seorang artis terkenal.


"Ke--kenapa, kenapa bisa terjadi seperti ini? Tidak-tidak! Dia tidak boleh hidup bahagia, yang pantas menjadi istri Ian ALV hanyalah dirimu. Bukan anak sialan itu." ucapnya kesal.


"Ma, lakukan sesuatu, lakukan sesuatu agar Ian menjadi suamiku, Ma. Cepat lakukanlah sesuatu," Arianti memegang kedua bahu mamanya sambil menagis histeris.


"Arianti, tenanglah! Mama tidak bisa berpikir dengan benar bila kau seperti ini," seru wanita itu yang sama-sama terlihat kacau seperti putrinya.


"Lalu aku harus bagiamana? Apakah harus diam saja melihat Ayara hidup bersama laki-laki paling tampan dan kaya raya itu." jawab Arianti benar-benar tidak terima melihat Ayara hidup bersama pujaan hatinya.


Mungkin bila bukan Alvian yang menjadi suami Ayara. Dia tidak akan marah seperti itu, tapi ini justru jauh dari perkiraan. Tidak disangka-sangka gadis yang selalu mereka tindas dari segi apapun. Kini telah menjadi ratu dihati seorang member ALV yang paling berpengaruh di group boyband nya.


"Jika begitu dia sudah menjadi menantu keluarga Rafael. Tidak-tidak! Arianti ayo berdirilah, kita menemui papamu di ruang kerjanya. Hanya dia yang bisa membawa Ayara pulang kerumah ini" bukannya sadar atas perbuatan mereka.


Ataupun menyadarkan putrinya agar tidak memiliki sifat iri pada Ayara. Justru Nyonya Rose lah yang membawa anaknya semakin tersesat.


"Apakah papa sudah pulang, bukannya dia lagi di perusahaan?"


"Papa mu sudah pulang beberapa waktu lalu. Tapi dia langsung masuk keruang kerjanya dan tidak bicara sepatah katapun." jawab wanita itu langsung menarik tangan anaknya keluar dari kamar yang sudah berantakan.


"Mama, tolong lakukanlah sesuatu. Aku tidak mau melihat Ayara hidup bersama Ian, Ma. Bisa-bisa aku gila bila seperti ini. Mama tahu sendiri seberapa ngefansnya aku pada artis itu. Lalu bagaimana mungkin dia sudah memiliki anak bersama Ian." ucap Arianti memohon pada sang mama.


Untuk saat ini mereka belum bisa mengigat bahwa saat keluarga Wilson mengusir Ayara. Gadis malang itu bukan hanya lagi sakit, tapi juga lagi mengandung.


"Apa yang kau katakan, kau pikir Mama akan membiarkan dia hidup dalam bergelimang harta. Tidak-tidak! Mama tidak akan membiarkan dia bahagia." ibu dan anak itu setengah berlari menuruni tangga.


Soalnya ruang kerja Tuan Edward berada disamping tangga dan kebetulan sekali hari ini beliau pulang cepat. Entah apa yang membuatnya sudah kembali dari perusahaan.


Nyonya Rose belum menanyakan ada hal apa sehingga masih siang suaminya sudah pulang. Tadinya wanita setengah baya itu mau memanggil putrinya untuk mengajak makan siang. Selagi Tuan Edward pulang jadi bisa makan bersama.


Ceklek!


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Anak dan ibunya yang sama-sama terlihat kacau itu masuk kedalam ruangan kerja Tuan Edward. Sehingga membuat laki-laki itu menoleh dengan tatapan tidak menentu. Namun, dari raut mukanya beliau tidak baik-baik saja.


"Pa, apakah Papa tahu jika Ayara ada di kota ini?" tanya Nyonya Rose pada suaminya dan duduk dihadapan Tuan Edward yang lagi duduk sambil memegang dokumen di tangannya.


"Lalu?" bukannya menjawab, tapi beliau balik bertanya acuh tak acuh.


"Papa, Ayara sudah menjadi menantu keluarga Rafael. Dia sudah menikah dengan laki-laki yang merupakan artis terkenal." ucap Arianti langsung duduk di sisi ayahnya.


"Dari mana kau tahu?"


"Astaga! Papa kemarikan ponselmu, berarti Papa dan Mama sama saja tidak tahu bahwa ada berita penting hari ini. Seluruh dunia sedang digemparkan oleh wanita yang menjadi simpanan dari Ian ALV." seru Arianti langsung mengambil ponsel Tuan Edward untuk mencari berita tentang member ALV.


"Lalu apa hubungannya dengan kakakmu?"


"Pa, Ayara sudah menjadi simpanan dari artis terkenal dan sudah pasti keluarga Wilson akan menjadi buronan para wartawan yang mencari berita." sambung Nyonya Rose membuat Tuan Edward merebut ponselnya dari Arianti.


"Papa, biar aku saja---"


"Diamlah!" bentak beliau sudah membuka berita terkini melalui ponselnya dan benar saja di sana terpampang jelas wajah putrinya yang sudah dia usir empat tahun lalu.


"Ja--jadi pemuda yang aku temui di makam waktu itu adalah member ALV dan ayah dari cucuku. Dia adalah suami Ayara." seru Tuan Edward setelah melihat Ayara digandeng oleh pria tampan bersama seorang gadis kecil dalam gendongan laki-laki itu.


"Ayara, ternyata kau hidup bahagia selama ini. Syukurlah, Nak! Papa benar-benar menyesal telah mengusirmu." ucap beliau lagi mengelus foto anak perempuan yang tidak pernah dia anggap ada. Selama Ayara tinggal di keluarga Wilson.


"Pa, apa yang Papa lakukan? Kenapa Papa tidak marah padanya? Dia sudah membuat aib keluarga kita dengan hamil anak dari Ian ALV. Jadi sudah pasti besok pagi keluarga Wilson akan ada di baner utama berita populer." ujar Nyonya Rose semakin kesal setelah melihat tanggapan suaminya.


Dengan begitu kesempatan Arianti untuk mendapatkan Ian ALV, akan terbuka lebar. Begitulah cara berpikir orang yang serakah. Tanpa berpikir jika tidak semudah itu mereka membawa Ayara pergi dari kediaman keluarga Rafael.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Kita tidak bisa menghentikan para wartawan, karena berita ini sudah tersebar." jawab Tuan Edward tidak tahu juga apa yang harus dia lakukan.


Saat ini bukan hanya ada masalah Ayara saja. Akan tetapi perusahaan Wilson juga lagi berada dalam masalah besar. Itulah yang membuat beliau pulang ke rumah untuk mengambil kontrak kerjasama yang tau-taunya dibatalkan oleh rekan bisnis beliau dari luar negeri.


"Pa, Papa harus membawa Ayara pulang dari rumah keluarga Rafael, karena bila tidak. Maka sudah pasti nama baik keluarga kita akan semakin buruk, gara-gara ulah Ayara." ucap Nyonya Rose yang langsung dibenarkan oleh ibu mertuanya.


"Apa yang dikatakan oleh Rose benar, Nak. Ayo kita kerumah Tuan Abidzar untuk menjemput Ayara. Walau bagaimanapun dia adalah putrimu. Sudah pasti nama baik keluarga kita akan hancur bila dia terus berada di sana." ujar wanita yang menjadi nenek paling kejam bagi Ayara.


"Tapi Bu, Ayara sudah bahagia bersama pemuda itu. Aku pernah bertemu mereka di makam Jasmeen beberapa waktu lalu dan aku lihat Aya sangat disayang olehnya." jawab Tuan Edward yang sangat menyesal telah membuang Ayara.


Apalagi setelah melihat wajah cucu perempuannya. Wajah yang membuat beliau tidak pernah tidur dengan nyenyak lagi karena terbayang-bayang wajah sang cucu.


"Edward, tidak peduli dia sudah bahagia atau belum. Tapi yang jelas nama baik keluarga Wilson akan hancur apabila wartawan sempat mendatangi rumah kita dan mencari tahu bahwa kita sudah mengusir Ayara dari sini dalam keadaan mengandung." seru wanita tua itu membentak anaknya.


"Ibu, itu adalah resiko kita yang telah mengusirnya. Aku tidak peduli dengan nama baik keluarga Wilson. Aku sudah berdosa pada Jasmeen dan juga anakku. Biarkanlah semua ini terjadi." jawab Tuan Edward yang menolak usul dari ibu maupun istrinya.


"Edward, kita mengusirnya karena dia memang bersalah. Maka dari itu ibu tidak pernah menyukainya." ibu dari Tuan Edward terus saja menekan anaknya sendiri. Agar membawa Ayara kembali karena takut nama baik keluarga mereka akan tercemar.


*


*


Sementara itu. Di rumah utama kediaman keluarga Rafael. Gadis yang mereka bicarakan, mereka maki-maki. sudah merasa lebih baik setelah berendam di dalam Bathtub. Seperti mana yang dikatakan oleh nenek Alvian.


"Al, kenapa lampunya dimatikannya?" tanya Ayara yang sudah keluar dari ruang ganti dan langsung duduk disamping suaminya, karena Alvian sendiri yang mengulurkan tangannya agar Aya duduk bersamanya.


"Tidak ada, aku hanya melakukan live selama kau mandi," jawab jujur Alvian karena dia mana mungkin berbohong pada istrinya.


"Apa! Kau live? Apakah mereka memaki dirimu?" seru Aya mendorong pelan dada suaminya karena Alvian merangkul mesra bahu Ayara.


Cup!


Satu kecupan pada bibir Aya, setelah itu barulah Alvian menjawab pertanyaan istrinya.


"Iya, aku melakukan live sebentar untuk memberitahu fans ku, bahwa apa yang diberitakan memang benar. Aku tidak ingin mereka berpikir bahwa kau adalah simpanan ku. Makanya aku melakukan live."


"Lalu apakah mereka tidak memaki dirimu?" Ayara kembali lagi bersandar pada dada bidang suaminya.


"Tidak! Kebanyakan mereka ingin aku memperkenalkan kau dan Via di depan umum."


"Kau jawab apa?" Ayara terus bertanya karena yang ada dipikirannya adalah umpatan kasar dari fans ALV untuk keluarga mereka.


"Aku bilang bilang kau dan putri kita sudah siap. Maka kita akan melakukan jumpa pers untuk mengklarifikasi semuanya." papar pemuda tampan itu karena dia memang akan melakukan jumpa pers.


Namun, menunggu semuanya sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan dari masalahnya.


"Oh, iya, kau sudah menjawab benar," Ayara akhirnya tidak bertanya lagi.


"Kalau begitu apakah kita bisa membuat adik untuk Via sekarang?" tanya Alvian yang membuat Aya tersenyum mendengar ucapan konyolnya.


"Apa yang kau katakan, dalam---"


Ttttddd!


Ttttddd!


Suara ponsel Alvian bergetar karena ada yang meneleponnya.


"Siapa?" tanya Ayara pada suaminya yang menatap pada ponsel.


"Alice," Alvian langsung memberikan ponselnya pada Ayara. "Angkatlah! Sekarang semua orang sudah tahu jika aku sudah menikah. Jadi siapapun boleh mengetahui siapa dirimu."


"Agh! Tidak-tidak! Aku tidak mau mengangkat nya. Daripada bicara dengan Alice lebih baik aku turun untuk menemui Via," tolak Ayara menaruh ponsel suaminya diatas meja.


"Terserah padamu, aku juga tidak mau mengangkatnya. Apakah kau tidak mau tidur? Biar aku temani,"


"Tidak! Aku takut kau malah mengajak membuat adik untuk Via." Ayara tergelak karena Alvian langsung mengelitiki perutnya.


"Kau sudah berani menggodaku rupanya," Alvian juga ikut tertawa sambil mengejar Ayara yang berlari keluar dari kamar mereka.


"Haaa... ha... aku tidak menggoda mu. Tapi lagi berbicara kebenaran," jawab Ayara yang sudah tidak berlari lagi. Sehingga Alvian dapat mengejarnya.


Namun, pemuda itu tidak mengelitiki perut istrinya lagi. Melainkan menarik lembut tangan Aya menuruni tangga untuk mencari keberadaan putri mereka yang ada dilantai bawah.


"Deri, Via mana?" tanya Alvian pada adiknya yang baru mau berjalan menaiki tangga karena kamarnya juga ada dilantai atas rumah tersebut.


"Via tidur dikamar mama, kata mama tadi kalian berdua tidak boleh datang ke sana. Biarkan dia tidur karena Via baru saja diajak berbicara oleh psikiater." jawab Deri berhenti dihadapan kakaknya.


"Psikiater? Putriku tidak sakit apa-apa. Kenapa malah---"


"Papa yang melakukannya karena tidak ingin Via mengalami trauma bila melihat kerumunan orang-orang. Jadi sebelum ketakutan itu datang, papa sudah melakukan pencegahan dengan cara mendatangkan psikiater anak."


"Oh! Yasuda! Kalau begitu kami juga mau kembali ke kamar lagi." seru Alvian ikut menyusul Deri dari belakang.


Yaitu membawa istrinya kembali kelantai atas. Alvian benar-benar tidak menyangka bahwa papanya sudah jauh bertindak sampai mendatangkan psikiater anak. Padahal belum tahu pasti jika Vania mengalami trauma mental atau tidaknya. Soalnya semua itu baru dugaan saja.


Ceklek!


"Ayo masuk lagi, sepertinya mama menyuruh kita membuat adik untuk Via." ucap Alvian membukakan pintu kamar mereka dan menyuruh istrinya masuk lebih dulu.


"Apa yang kau katakan, diluar sana kita sedang dibicarakan oleh orang-orang. Tapi kau malah sibuk mengatakan ingin membuat adik untuk Via." Ayara memanyunkan bibirnya karena Alvian yang dicintai oleh para fans ALV dan Alvin suaminya sangatlah berbeda.


"Agh! Biarkan saja mereka mau bicara apa, aku tidak terlalu pusing. Lagian papa juga belum mengatakan apapun." jawab Alvian yang tidak tahu apa yang tengah direncanakan oleh ayahnya.


"Tapi Al, aku rasa saat ini keluarga Wilson pasti sudah melihat berita tentang kita. Jujur aku takut Tuan Edward akan datang ke sini untuk membawaku pulang bersamanya. Bila itu sampai terjadi, apa yang harus aku lakukan?" ucap Ayara menyempaikan kegundahan hatinya.


Walaupun dia bisa menolaknya, tetap saja Ayara berpikiran seperti itu juga.


"Kau tidak perlu khawatir, Sayang. Dia tidak akan berani melakukan apapun terhadapmu. Apa kau pikir aku akan diam saja. Sekarang kau adalah istriku, Ayara. Tidak akan aku biarkan satu orang pun menyentuh sehelai rambutmu." tegas Alvian yang tidak pernah main-main dengan ucapannya.


...BERSAMBUNG......