I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Calon Menantu Papa.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Dengan tangan saling menggenggam satu sama lain. Alvian dan Ayara berjalan menuju pintu rumah besar tersebut.


"Selamat datang, Tuan Alvin," sambut seorang pelayan perempuan. Wanita tersebut memang hanya menyapa Alvian saja, karena ingin menyebut nama Ayara dan Vania. Dia tidak kenal, jadi hanya tersenyum hangat saja pada keduanya.


"Iya, apakah semuanya ada di dalam?" tanya Alvian berhenti di depan pintu rumah tersebut.


"Iya Tuan, Nyonya Lili, Tuan Abidzar dan semua anggota keluarga yang lainnya, ada di dalam. Mereka lagi berkumpul di ruang keluarga tengah." jawab wanita itu yang sudah mengerti arah pertanyaan tuan mudahnya.


"Baiklah! Terima kasih!" Alvian kembali menarik lembut tangan Ayara. "Sayang, kau tidak perlu takut karena keluargaku sebetulnya adalah orang-orang baik. Namun, entah kenapa papaku tidak mau menerima hubungan kita." ucapnya pada Aya yang hanya mengangguk mengerti.


"Tidak apa-apa! Asalkan ada dirimu maka aku tidak akan takut," si ibu muda melepaskan genggaman tangan mereka dan beralih merangkul lengan Alvian.


Sungguh mereka terlihat seperti satu keluarga yang sangat romantis dan bahagia. Dimana dalam gendongan Alvian ada buah hati mereka yang menoleh ke kiri dan kanan melihat rumah besar kakeknya.


Beberapa orang yang sedang merias pelaminan di dalam rumah itu semuanya menatap ke arah mereka bertiga.


Untungnya orang-orang tersebut adalah orang kepercayaan keluarga Rafael. Jadi rahasia tentang pernikahan Alvian tetap akan terjaga.


"Ck! Papa bersemangat sekali ingin menikahkanku dengan wanita pilihannya. Sampai mati pun aku tidak akan mau menerima nya, karena aku hanya akan menikahimu," gerutu pemuda itu sambil melewati orang-orang yang lagi bekerja. Namun, dia tidak berniat menyapa mereka, karena rasa jengkel pada sang ayah.


"Sudahlah jangan menggerutu terus menerus, lama-lama kau sudah seperti orang tua saja." sambung Ayara masih tetap merangkul mesra tangan Alvian. Untuk menghilangkan rasa gugup yang sedang dia rasakan.


Ini adalah kali pertama Ayara bertemu keluarga laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Jadi sudah pasti dia merasa gugup, malu dan takut secara bersamaan. Hanya saja untuk meyakinkan Alvian. Aya berpura-pura bahwa dia tidak merasakan apapun.


"Papa tulun," pinta Vania begitu mereka sudah hampir sampai di ruang keluarga, di bagian tengah rumah besar tersebut.


"Baiklah! Tapi Via tidak boleh berlari ya," Alvian menurunkan sang putri karena begitu banyak anggota keluargannya yang lain. Jadi sangat tidak mungkin apabila ayahnya berani menyakiti Vania. Begitulah menurut pemikiran pemuda itu.


"Tenanglah! Ada aku," bisik Alvian karena tahu tangan Ayara mulai terasa dingin.


"Huem," wanita tersebut hanya berdehem yang disertai senyuman kecil.


"Ibu... Alvian da--datang bersama putrinya!" seru Nyonya Lili pada ibu mertuanya, dengan suara terbata-bata melihat kedatangan Alvian bersama anak dan calon istrinya.


"Baguslah, jika mereka sudah datang!" jawab singkat Tuan Abidzar seraya merentangkan kedua tangannya sambil berjongkok. Beliau turun dari sofa yang dia duduki.


Sehingga membuat semuanya merasa heran termasuk Alvian sendiri. Namun, tidak bagi Ayara.


"Opa," seru Vania langsung berlari kearah Tuan Abidzar.


Cup, cup, Muaach!


"Selamat datang princess nya Opa," jawab Tuan Abidzar langsung mengendong cucunya dan memberikan ciuman.


"Baru dua hari Opa tidak bertemu dengan mu. Tapi rasanya sudah sangat rindu," kata beliau sudah duduk pada tempat yang ia duduki tadi.


"A--aya! Apakah papa kenal dengan kalian?" tanya Alvian memegang kedua bahu Ayara untuk meminta jawaban pada gadis itu.


"Alvin, apa seperti ini caramu memperlakukan menantu Papa?" ucap Tuan Abidzar yang membuat seluruh keluarganya terheran-heran karena mereka memang tidak tahu apa-apa.


"Papa, ada apa ini? Apakah Papa lagi membuat lelucon?" tanya Nyonya Lili degan tangan bergetar mengelus pipi Vania yang sangat mirip dengan putra sulungnya.


"Sayang, ayo gendong sama Oma, ya," tangis wanita setengah baya itu pecah saat Vania merentangkan kedua tangannya dan tidak menolak saat mau digendong.


"Abi, bisa kau jelaskan pada kami semua? Apakah kau sudah tidak menganggap aku ini ibumu lagi. Kenapa kau merahasiakan cicit ku?" seru neneknya Alvian ikut mendekati Vania.


"Kak Abi, jadi Kakak sudah kenal Vania?" tanya adik-adik beliau ikut menginterogasi Tuan Abidzar.


"Jadi wanita yang akan Papa pilihkan untuk menjadi istri Kakak adalah mamanya Vania?" tebak Deri yang langsung dijawab oleh beliau.


"Tentu saja, memangnya siapa lagi. Apa kau pikir Papa akan membiarkan kakakmu meninggalkan tanggung jawabnya dan membiarkan dia menikah dengan wanita lain." jawaban Tuan Abidzar tentu kembali membuat heboh ruangan itu.


"Sayang, apakah kau dan papa..."


Pemuda itu tidak mengejutkan lagi ucapannya dan langsung memeluk Ayara dengan erat.


"Sayang, kau sangat cantik," Nyonya Lili dan keluarga lainnya tidak bisa berkata apa-apa, yang jelas mereka merasa sangat bahagia.


Tidak seperti tadi, semuanya menatap Tuan Abidzar dengan tatapan membunuh, karena beranggapan bahwa beliau sangatlah egois. Tidak memikirkan nasib cucu mereka, bila Alvian tidak bertanggung jawab sebagai ayah Vania.


"Hai cantik! Ini Om Deri," adik bungsu Alvian pun hanya sibuk mendekati Vania yang dalam gendongan mamanya.


"Alvin, mau sampai kapan kau memeluknya. Aya pasti lelah karena baru tiba di kota ini tadi pagi. Jadi cepat bawa dia duduk," suara bariton Tuan Abidzar membuat mereka semua menyadari jika ada gadis yang mereka abaikan keberadaannya.


Gara-gara rasa bahagia menyambut kedatangan Vania, membuat mereka semua lupa akan calon menantu Rafael yang baru.


"Astaga! Nak, maafkan kami jadi melupakan keberadaanmu." seru Tante Anis berjalan mendekati Ayara dan keponakannya.


Tidak banyak bicara lagi, wanita itu langsung memeluk tubuh kecil Ayara dan berkata.


"Sayang, maafkan Tante karena sudah membiarkan Alvin tidak bertanggung jawab pada kalian berdua." Tante Anis meminta maaf. Padahal sudah jelas semua itu bukanlah kesalahannya.


"Tidak apa-apa, Tante. Kalian tidak bersalah, karena ini salah Aya juga yang tidak pernah memberitahu Alvin." jawab Aya seraya melepaskan pelukan mereka.


"Via sama Om dulu ya, biar Oma menyambut kedatangan mama Via dulu," kata Deri tidak sabar untuk mendapatkan giliran memeluk keponakan cantiknya.


Mungkin karena tahu dia berada di tempat yang aman. Sehingga si cantik Vania tidak menolak saat subuhnya dipindah sana-sini, karena semua saudara ayahnya ingin menggendong dia.


"Sayang, maafkan Mama, Nak. Maafkan kami yang terlambat mengetahuinya. Sehingga kau dan Vania menderita." tangis Nyonya Lili menangis memeluk Ayara.


Hal itupun membuat Ayara juga ikut menangis. Setelah dia sebesar ini, selain Almarhum Bibi Atika. Tidak ada wanita manapun yang memanggilnya anak. Makanya dia sampai menangis seperti saat ini.


Ayara terharu karena kebaikan keluarga Alvian yang mau menerima dirinya dengan tangan terbuka. Menyambut hangat kedatangannya yang bukan siapa-siapa.


"Terima kasih, terima kasih karena kau sudah mau melahirkan Vania. Padahal kau sendiri sudah di usir oleh keluargamu." ucap wanita setengah baya itu lagi, yang masih memeluk tubuh Aya yang bergetar menahan tangisnya.


"Tidak, kalian tidak bersalah, Ma--ma. Aya memang tidak pernah memberitahu Alvin, jika Aya mengandung Vania, karena hari itu juga. Kami langsung meninggalkan kota ini." jawab Ayara sempat ragu saat mau menyebutkan kata mama. Namun, setelah melihat ketulusan calon ibu mertuanya. Membuat Ayara memangil Nyonya Lili degan sebutan mama juga.


"Ma, biarkan Ayara duduk. Dia baru sampai di kota ini jam lima tadi pagi."ucap Tuan Abidzar yang sudah tidak ditegur oleh istrinya sejak kemarin siang.


Gara-gara sedang marah pada beliau karena sudah mau menjodohkan Alvian degan wanita lain. Bahkan Tuan Abidzar juga mengancam akan membuat cucunya menderita.


Ternyata untuk membuat kejutan besar hari ini, Tuan Abidzar rela dimusuhi oleh keluarga besarnya.


"Jadi Papa yang sudah membawa Aya kembali ke sini?" tanya Alvian berjalan mendekati ayahnya. Lalu dia langsung memeluk laki-laki yang kemarin siang hampir dia pukul.


"Kenapa kau memeluk Papa? Apakah kau tidak mau menikah dengan wanita yang Papa pilih?" ucap Tuan Abidzar balas memeluk putranya.


Dia sebetulnya merasa kasihan dan tidak tega juga saat memukul putranya kemarin siang. Namun, untuk membalas apa yang sudah dirasakan oleh Ayara. Beliau memukul anaknya sendiri.


"Papa, jika tahu wanita itu adalah Aya, tentu Alvin tidak akan menolaknya. Papa juga tidak perlu harus marah-marah seperti kemarin," jawab pemuda itu yang belum mau melepaskan tubuh papanya.


Hal yang selalu Alvian rindukan, karena sudah lama mereka tidak pernah berpelukan lagi karena setiap kali mereka bertemu, maka selalu bertengkar. Gara-gara Tuan Abidzar tidak pernah menyukai profesi putarannya sebagai seorang penyanyi.


"Haa...ha... Papa memukulmu karena agar kau tahu rasanya di pukul. Kalian sama-sama melakukan kesalahan. Jadi kenapa hanya Aya saja yang dipukul oleh Edward." jawab Tuan Abidzar tertawa dan melepaskan pelukan mereka.


Ternyata bukan hanya Alvian yang merindukan berpelukan dengan ayahnya. Tapi juga Tuan Abidzar. Hanya saja sebagai orang tua beliau menahan gengsinya.


"Papa, maafkan Mama juga," Nyonya Lili mendekati anak dan suaminya. Lalu mereka bertiga kembali berpelukan walaupun hanya sesaat, karena mereka semua sangat penasaran apa yang sudah terjadi.


"Sayang, ayok duduk!" Alvian merangkul Ayara dan diajak duduk di sofa dekat Deri dan putri mereka. Jadi di sofa panjang itu di duduki oleh mereka berempat.


"Abi, bagaimana kau sudah mengenal Via dan mamanya! Sejak kapan kau tahu bahwa Alvin sudah mempunyai anak?" tanya neneknya Alvian.


"Eum... ibu, sebelumnya maafkan aku sudah membuat ibu marah," jawab Tuan Abidzar tersenyum sebelum mulai menceritakan apa yang sudah terjadi.


"Selama dua tahun terakhir ini, aku selalu mengutus seseorang untuk menjaga Alvin. Tepatnya setelah penyerangan saat dia di Apartemen lamanya." Tuan Abidzar berhenti sejenak. Lalu kembali bercerita lagi.


"Aku khawatir hal serupa kembali terjadi lagi. Meskipun para staf dan bodyguard nya ada. Tetap saja aku tidak percaya pada orang lain. Bagiamana bila yang ingin melenyapkan Alvin adalah salah satu dari mereka."


"Jadi papa tahu dari pengawal Papa?" tanya Deri ikut menyimak.


"Huem, benar! Saat pengawal Papa mengatakan Alvin berlari di Taman untuk mencari wanita dan anaknya, lalu Bara membeli mobil baru dan ternyata kakakmu tidak kembali bersama rombongan. Papa yakin ada yang tidak beres." jawab beliau yang saat ini kembali mendekap tubuh Vania, karena gadis kecil itu sudah datang pada opanya lagi.


"Sehingga Papa mengirimkan dua orang pengawal lagi untuk menyelidiki semuanya. Dan setelah dilakukan penyelidikan, ternyata kakakmu memiliki anak dengan Aya. Untuk memastikan sendiri, Papa berangkat ke kota B dan menemui si cantik ini, yang ternyata sangat mirip dengan papanya." Tuan Abidzar tersenyum menatap pada sang cucu.


"Lalu kenapa Papa bisa membujuk Aya untuk mau kembali ke kota ini?" sekarang Alvian yang bertanya.


Satu tangan kekarnya, dia gunakan buat merangkul bahu Ayara. Seakan-akan takut, bila gadis itu pergi meninggalkan dirinya.


"Itu setelah Papa menemui mereka secara langsung." jawab beliau.


Flashback on...


"Selamat siang! Ada yang bisa kami bantu Tuan," sambut Ayara tengah menyusun bunga yang mereka jual.


"Bisa kita bicara sebentar? Saya adalah orang tuanya Alvian." jawab lelaki yang tidak Ayara kenal.


Deg!


Tubuh Ayara langsung membeku di tempatnya berdiri saat ini.


"Brengsek! Jadi Alvin sudah memberitahu orang tuanya dan tidak memberitahuku lebih dulu. Bagaimana jiga orang ini datang karena ingin merebut putirku? Tidak-tidak! Aku harus bicara padanya." gumam Ayara dengan pikiran berkecamuk tidak karuan.


"Bagaimana? Apakah kita bisa bicara di tempat lain dan bawa Vania juga." tanya pria dewasa itu kembali bertanya karena melihat Ayara hanya diam saja.


"Bi--bisa! Tunggu Saya berpamitan pada teman Saya." jawab Ayara terbata-bata.


Ketahuilah lelaki setengah baya itu memang sangat tampan. Namun, suara bariton nya membuat tubuh orang yang baru pertama kali berbicara padanya menjadi dingin.


"Tunggu dulu! Vania juga dibawa," cegah pria tersebut sudah tidak sabar untuk bertemu sang cucu dan hanya di angguki oleh Ayara.


Ya, dia adalah Tuan Abidzar. Ayah kandung Alvian yang baru saja tiba di kota B satu jam lalu.


Beliau jauh-jauh datang ke sana, hanya untuk memastikan sendiri tentang laporan para anak buahnya.


"Lula, tolong kau jaga Toko dulu, ya. Aku mau berbicara dengan orang tuanya Alvin. Aku perlu bicara dengannya. Aku ta--takut dia datang untuk merebut putriku." ucap Aya sambil menyeka air matanya kasar.


Padahal baru tadi malam dia berkata mau memberi Alvian kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Namun, kenapa pagi ini orang tua pemuda itu sudah datang menemuinya.


"Benarkah? Kalau begitu cepat kau temui dan katakan padanya. Jika Vania adalah putrimu. Mau sampai kapanpun hanya kau yang berhak atas dirinya." jawab Lula ikut merasa takut.


Padahal dia belum melihat jelas muka Tuan Abidzar yang sangat tampan. Meskipun sudah tau.


"Nanti kau katakan maaf ku pada Kak Regina, ya. Aku berjanji tidak akan lama," Ayara berbicara sambil berjalan mendekati Vania yang lagi asik bermain.


"Iya, kau tidak perlu khawatir! Aku akan mengurus semuanya."


"Huem, terima kasih! Maafkan aku karena selalu menyusahkan mu," kata Ayara sudah mengendong putrinya terburu-buru.


"Iya, kau tidak perlu berterima kasih. Kita adalah sahabat. Aku senang bila bisa membantu mu." jawab Lula yang juga selalu tulus pada sahabatnya.


"Hai cantik," sapa Tuan Abidzar mengulurkan tangannya untuk mengajak Vania bersalaman.


Si kecil tidak langsung menerimanya. Dia tatap dulu muka laki-laki tersebut.


"Jangan takut, Opa bukan orang jahat. Ini kakeknya Vania," jelas Tuan Abidzar mengerti ketakutan cucunya.


"Opa nya Via?"


"Iya, Opa nya Via! Ternyata kau memang cucu Rafael." lelaki itu menyugikkan senyumannya setelah mendengar ucapan Vania yang menyebut dirinya Via, bukan Vania.


"Ayo kita pergi sekarang, kau tunjukkan saja tempat yang enak untuk kita bicara." ajak Tuan Abidzar yang menangkap raut takut Ayara.


... BERSAMBUNG... ...