
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Auh! Sakit sekali!" rintih Ria begitu membuka matanya. Dia menatap ke sekeliling kamar. "Aku ada dimana?" tanyanya belum sadar sepenuhnya.
"Kenapa milikku sakit sekali?" .
Ria bergeliat kecil dan barusa menyingkirkan beban berat dari atas perutnya. Membuat laki-laki yang tidur sambil memeluk tubuhnya terbangun.
"Kau sudah bangun?"
"Astaga! Si--siapa kau?" seru gadis itu kaget dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin karena saat ini Ria masih telan jang tanpa sehelai benangpun.
"Kenapa kau ada di sini?" teriak Ria yang takut bila sudah terjadi sesuatu dan sialnya memang telah terjadi.
"Apakah kau tidak ingat sama sekali yang sudah kita lakukan? Kau dan bercinta di kamar Bar." pemuda itu menjawab seraya memajukan mukanya untuk mengecup bibir ranum Ria yang sedikit membengkak karena ulahnya saat bercinta.
Cup!
Plaaak!
Satu kecupan langsung dibalas oleh Ria dengan tamparan keras. Membuat pemuda itu meradang karena marah.
"Brengsek! Berani sekali kau menamparku." umpat pria itu menarik paksa selimut yang dibuat Ria membungkus tubuhnya.
"Kau lupa ya percintaan kita tadi? Atau mau kita melakukannya lagi?" tidak sama seperti ucapan nya. Pria itu seolah bertanya tapi kembali melakukan hubungan intim pada Ria. Namun, kali ini dengan cara memaksa gadis itu.
Ria yang belum memiliki kesadaran sepenuhnya dan tubuhnya pun masih sakit bekas unboxing yang mereka lakukan tadi. Kembali harus merasakan rudal ilegal milik pria yang sama-sama lagi prustasi karena cinta.
Seolah-olah membalaskan dendam nya. Dalam keadaan sadar sepenuhnya pria itu menggempur Ria tanpa rasa iba. Semakin gadis itu merintih atara sakit dan nikmat, maka dia semakin berpacu bak kuda zebra di padang pasir.
Aaah!
Aaah!
"A--aku mohon hentikan! Aku sudah tidak kuat." rintih Ria dengan nafas terengah-engah dibawah Kungkungan laki-laki tersebut.
"Kau sudah berani menampar ku. Jadi kau harus merasakan sakitnya." si pria yang terus menerus melakukan percintaan dengan paksaan. Dia juga membuang semua benihnya di dalam rahim gadis yang sebentar lagi akan menjadi sarjana kedokteran.
Hati Ria yang hancur kini bertambah dengan hidupnya juga. Tidak disangka niat hati pergi ke Bar untuk menghilangkan rasa stressnya. Malah berakhir menghancurkan masa depannya sendiri.
Hampir satu jam kemudian barulah pria yang tidak dia kenal mengakhiri penyatuan tubuh mereka. Walau Ria juga mengalami orgasme, tetap saja dia merasakan jijik pada tubuhnya sendiri.
"Aaaghhk! Ternyata tubuhmu memang sangat nikmat. Aku kira tadi karena aku kebanyakan minum anggur saja. Namun, rasanya masih sama." pria itu mengerang nikmat sebelum terbaring disamping tubuh Ria yang masih lemas seakan tidak berdaya.
"Ke--kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku sehingga kau tega berbuat keji?" rintih Ria menangis tersedu-sedu.
"Ck! Bukannya tadi siang kau juga mau melakukannya bersamaku. Jadi untuk apa kau menangis." decak pria tersebut.
"Mungkin karena aku terlalu mabuk. Seharusnya kau tidak mengambil kesempatan untuk melakukannya padaku." Ria yang sudah mulai mengigat kenapa bisa berada di sana pun hanya bisa menagis penuh sesal.
"Ya, aku kan juga lagi mabuk. Sudahlah tidak usah menangis! Aku akan bertanggung jawab atas perbuatan ku." tidak tahan mendengar tangisan Ria, pemuda itupun duduk untuk berbicara serius.
"Kau ini ternyata juga bodoh ya." kesal si pria. "Bangunlah! Pakai pakaianmu kita pulang dari sini. Aku akan menikahimu."
"Menikah?"
"Iya, menikah. Kau pikir ada laki-laki yang mau padamu? Apalagi bila kau sampai hamil anakku."
Deg!
Jantung Ria berdegup kencang. Dia benar-benar binggung harus berbuat apa. Mau menolak tapi Ria takut bila hamil diluar nikah.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Jika Bara sampai tahu hal ini dia pasti akan semakin membenciku."
Gumam Ria di dalam hatinya. Lalu menatap pada pria yang telah merenggut keperawanannya, yang saat ini tengah memakai pakaian.
"Tapi sepertinya dia bukan orang miskin. Untuk sementara apakah aku terima saja ya?"
Ria masih mempertimbangkan menerima atau tidak ajakan pria itu untuk menikah.
"Ku hitung dalam waktu lima menit. Bila kau tidak menjawab aku akan pergi sekarang dan jangan pernah mencariku untuk meminta pertanggung jawaban."
"Hei... kau!" Ria tidak melanjutkan ucapannya. "Ba--baiklah! Tapi... kita menikah kontrak saja ya, karena bila aku tidak hamil, maka kita harus berceriai. Aku terpaksa menerima dirimu." jawab Ria yang masih ragu-ragu pada ucapnya sendiri.
"Oke, tidak masalah. Itu memang lebih baik karena aku tidak suka padamu. Hanya saja aku bukan laki-laki pengecut yang lari dari tanggung jawab." imbuh pria itu seraya melempar dress Ria yang ada di atas lantai kamar.
"Pakailah! Ayo kita pergi dari sini. Atau kau masih mau---"
"Tidak-tidak! Aku mau pulang sekarang." Ria mengambil dress-nya dan juga memakai pakaian dalam yang diberikan oleh pria itu.
"Dasar manusia aneh! Tadi dia memperkosa ku lagi. Tapi sekarang mau bertanggung jawab. Apakah dia pria gila ya?"
Guman Ria karena merasa aneh dengan laki-laki tersebut.
Setelah Ria siap, mereka berdua membayar minuman dan juga sewa kamar. Kedua meninggalkan Bar tersebut secara bersamaan. Namun, sebelum itu sudah bertukar nomor ponsel. Agar bisa membicarakan pernikahan kontrak mereka.
"Ya Tuhan... apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku? Perusahaan hampir bangkrut karena mereka mau aku menjadi istri Bara. Namun, hari ini aku yang menghancurkan hidupku sendiri."
Selama dalam perjalanan pulang Ria terus memikirkan tentang alasannya yang mau menikah secara mendadak. Tidak mungkin Ria mengakui jika sudah diperkosa, karena sebelum hal itu terjadi dia melakukannya dengan sukarela. Walaupun dalam pengaruh alkohol.
Lain cerita Ria yang hancur hidup dan masa depannya hari ini. Maka lain pula kisah Alvian dan Ayara.
Kedua pasangan halal tersebut lagi menikmati kebersamaan tanpa ada anak-anak yang mengaggu. Sejak sore hari kedua pergi meninggalkan Baby Arka dan si cantik Vania. Rencananya malam ini Alvian dan Ayara juga tidak pulang. Mereka akan tidur di sebuah Villa yang tidak jauh dari pusat ibukota.
Namun, di daerah kawasan Villa begitu ramai. Sehingga keduanya bisa melakukan Dinner di tempat terbuka.
"Alvin, aku malu para pengunjung menatap kita sejak awal datang. Kenapa kau tidak minta ruangan private saja?" ucap Ayara yang semakin terlihat cantik. Padahal mereka sudah memiliki dua orang anak.
"Aku sengaja melakukannya karena ingin merasakan seperti pasangan lain. Anggap saja aku bukan member ALV. Jadi seolah-olah kita lagi pacaran saat masih sekolah." jawab Alvian tersenyum karena dia memang sudah bebas mau pergi bersama Aya kemanapun. Soalnya pernikahan keduanya sudah diumumkan ke publik.
"Kau ini ada-ada saja. Aku merasa tidak nyaman karena para gadis menatap mu seperti kelaparan."
"Itu pertanda bahwa aku masih tampan seperti dulu." Alvian tergelak begitu pula istrinya. Mereka berdua memang suka sekali bersanda gurau.
Maka dari itu hubungan keduanya selalu terlihat harmonis.
... BERSAMBUNG......