
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Apa? Tidak, Aya! Aku tidak mau membawa kalian pulang ke rumah." tolak Alvian. Setelah mendengar ucapan Ayara yang mengajaknya meminta Restu pada kedua orang tuanya.
"Jika kau tidak mau, maka aku tidak ingin menikah denganmu. Karena aku sudah tidak memiliki orang tua Alvin. Jadi hanya Restu dari orang tua mu yang bisa mendoakan pernikahan kita." Ayara tetap pada pendiriannya.
"Astaga" Alvian mengusap wajahnya kasar. "Aya sayang, aku tidak mau membawamu pulang ke sana karena takut jika papa mengetahui kalian ada bersamaku. Aku tidak mau papa melakukan sesuatu untuk memisahkan kita." jawab Alvian benar-benar frustasi dibuatnya.
Tadi setelah makan, Alvian membahas pernikahan mereka yang akan dilakukan secara diam-diam. Cukup keempat sahabatnya saja yang mengetahuinya.
Semulanya Aya hanya diam mendengarkan sambil melihat putri mereka lagi bermain sendiri. Namun, setelah Alvian selesai mengutarakan niatnya.
Ayara langsung mengatakan agar mereka meminta restu lebih dulu pada keluarga Rafael. Itulah yang mereka perdebatkan sekarang.
"Apakah tidak ada syarat lain? Aya, aku mohon mengertilah! Ini demi kebaikan kita semua," tawar Alvian berusaha membujuk Aya. Agar mau mendengarkan perkataannya.
"Tidak! Syaratnya hanya itu, kita datang ke rumah orang tuamu. Setelah itu baru kita menikah. Tapi jika kau tidak mau, ya sudah! Aku dan Vania akan kembali ke kota B, dan kau menikah saja dengan wanita pilihan papamu." ujar Ayara sudah berdiri dari duduknya.
"Eh, Tunggu-tunggu! Aya tunggu dulu," seru pemuda itu menarik tangan Ayara agar kembali duduk di sampingnya.
"Alvin, aku tidak mau menikah denganmu. Apabila tidak mendapatkan Restu dari kedua orang tuamu. Jadi percuma saja kau menahan ku, karena aku akan tetap pulang ke kota B." Aya berusaha melepaskan tangannya yang masih dicekal oleh Alvian.
Namun, bukannya terlepas, akan tetapi pemuda itu semakin menggenggam erat.
"Iya, iya! Baiklah! Kita ke sana sekarang. Tapi hanya sekedar meminta Restu, setelah itu kita akan langsung ke kantor agama untuk melangsungkan pernikahan kita hari ini juga," ucap Alvian dengan terpaksa.
"Oke! Tidak masalah, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang." ajak Ayara penuh semangat.
Sehingga membuat Alvian sedikit heran karenanya. Soalnya sambil mereka menikmati sarapan. Alvian sudah bercerita jika dirinya akan dijodohkan dengan gadis bernama Alice, yang merupakan seorang penyanyi, sama sepertinya.
Pemuda itu juga sudah menceritakan. Apa alasan ayahnya tidak merestui hubungan mereka.
Akan tetapi Ayara terlihat biasa-biasa saja, dan tidak terkejut akan hal itu. Namun, karena Alvian sangat mencintai ibu dari anaknya itu. Jadi tidak ingin banyak bertanya yang membuat Aya kurang nyaman.
"Sayang, ayok kita pergi dulu. Nanti setelah urusannya selesai. Kita akan kembali ke sini lagi." ajak Alvian mendekati sang putri.
"Tita mau pelgi dauh?" tanya Vania yang mau saja saat digendong oleh papanya.
"Iya, kita akan pergi! Tapi tidak terlalu jauh," jawab Alvian berjalan mendekati Ayara yang melihat dia dan Vania.
"Ayo!" ajaknya ingin menarik tangan Ayara. Namun, justru tangannya langsung ditahan oleh Aya.
"Ada apa? Apakah kau sudah berubah pikiran?" tanyanya berharap Ayara tidak jadi mengajak ke rumah orang tuannya.
"Enak saja! Biar aku yang mengedong Vania. Kau pakai penutup wajah mu seperti biasanya. Kita akan berjalan masing-masing. Aku tidak mau---"
"Aku akan mengunakan masker dan topi. Tapi kita akan keluar bersama. Aku tidak mau, nanti anak buah papa tiba-tiba datang. Lalu menyakiti kalian," sela pemuda itu yang mengetahui, jika papanya tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Tapi---"
"Kita akan keluar bersama." masih sambil mengendong sang putri. Alvian mengambil topinya dan masker penutup wajah.
"Tolong pakaikan," ucapnya lagi memberikan topi dan masker penutup wajah pada Ayara. Agar wanita itu membantunya.
"Kenapa malah menyuruhku? Kenapa tidak dipakai sendiri," protes Aya, tapi tetap membantu Alvian memakainya karena tahu pemuda itu tidak bisa melakukannya, karena sedang mengedong putri mereka.
"Kau itu sangat lucu, Aya. Protes, tapi masih membantuku juga." gumam Alvian di dalam hatinya, diiringi senyuman kecil.
Saat memasangkan topi tersebut, begitupun ketika memasang maskernya. Aya melakukannya sambil menahan nafas. Soalnya jarak diantara mereka sangat dekat.
Baik Aya, ataupun Alvian, mereka berdua sama-sama menahan deguban jantung masing-masing.
Perasaan yang mereka miliki dulu dan sekarang. Ternyata masih tetap sama tidak ada yang berubah.
"Su--sudah! Ayo kita berangkat sekarang." ajak Aya berjalan lebih dulu untuk menyembunyikan bahwa dirinya sedang gugup.
"Huem! Tapi kau yang menutup pintunya." pemuda itu menurut saja, karena tahu Ayara sengaja mengelak darinya.
"Iya, kau duluan!" titah wanita itu yang yang tidak dihiraukan oleh Alvian. Dia tetap menunggu Ayara mengunci apartemennya. Lalu setelah itu baru ia genggam tangan wanita itu agar berjalan bersama.
Sepanjang perjalanan menuju ke arah garansi mobil yang terletak di ruang bawah tanah. Alvian dan Ayara tidak bicara apa-apa, karena pemuda itu menjawab pertanyaan Putri mereka yang menanyakan benda apa saja yang dilihatnya.
"Papa, Via duga mau itu," tunjuk Vania melihat ada anak kecil seumuran dengannya, yang membawa permainan masuk kedalam gedung Apartemen tersebut.
"Iya, nanti kita beli, ya. Tapi setelah kita pulang dari rumah Oma," jawab Alvian sambil tersenyum menatap putrinya penuh cinta.
"Aya," panggilnya lagi begitu mereka masuk kedalam lift menuju lantai yang mengarah langsung pada garasi mobil, di gedung tersebut.
"Huem, apa?" jawab Ayara singkat.
"Maafkan aku, maaf karena terlambat mengetahui semuanya. Sehingga kau harus membesarkan putri kita sendirian. Aku tidak bisa membayangkan betapa susahnya kau membesarkan Via seorang diri." ucap pemuda itu yang benar-benar selalu menghantui rasa bersalahnya.
"Sudahlah! Kau tidak perlu selalu meminta maaf padaku, karena semua ini juga bukan salahmu. Aku juga bersalah yang tidak pernah memberitahumu bahwa aku hamil saat hubungan kita berakhir."
Cup!
"Terima kasih! Kau sudah mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kau tidak salah menyembunyikan semuanya, karena aku tahu betapa kecewanya dirimu padaku," Alvian merangkul bahu Ayara sehingga dia bisa mengecup kening wanita itu.
"Alvin... ternyata kau tidak pernah berubah. Sikap lembut mu masih tetap sama seperti kita pacaran dulu. Semoga kali ini kau tidak akan mengecewakan aku lagi, karena jujur aku masih sangat mencintaimu." gumam Aya yang diam saja saat Alvian bersikap romantis padanya.
Sejak dulu, hal itulah yang membuat Ayara begitu bergantung pada Alvian, karena hanya pemuda itu yang menyanyangi nya. Sedangkan seluruh keluarga Wilson tidak ada memberlakukan dia dengan baik.
Jadi jangan salahkan Ayara, karena menyerahkan kesuciannya pada sang kekasih. Semua yang dia lakukan tentu saja karena Aya berpikir setelah mereka melakukan hubungan suami istri. Maka Alvian akan menjadi miliknya selamanya.
"Ayo masuk!" titah pemuda itu karena mereka sudah tiba di samping mobil Lamborghini Aventador yang baru Alvian bali satu bulan lalu.
Braaak!
Suara pintu mobil yang ditutup oleh Alvian. Lalu dia membawa putrinya berjalan memutar dan masuk lewat pintu sebelahnya lagi.
"Sekarang Via sama mama, ya. Soalnya Papa akan membawa mobilnya." ucapnya pada sang putri.
"Tidak mau, Via mau tama Papa," jawab si cantik tiba-tiba untuk digendong mamanya.
"Sayang, sama Mama ya, jika seperti ini bagaimana mobilnya bisa jalan," bujuk Ayara sudah mengulurkan tangannya. Mau memudahkan sang putri agar berpindah tempat pada pangkuannya. Akan tetapi Vania tetap menggelengkan kepalanya tidak mau.
"Mau tama papa, Ma. Via tuma duduk, tidak takal," jawab gadis kecil itu semakin memeluk leher papanya.
"Tapi sayang, jika---"
"Sudah tidak apa-apa! mungkin dia juga sama merindukanku setelah satu minggu tidak bertemu." sela Alvian tersenyum bahagia, karena akhirnya dia bisa merebut hati putrinya, yang awal bertemu jangankan gendong. Berbicara saja Vania tidak mau.
"Tapi tidak mengganggumu? Jika kiranya bisa membahayakan nyawa kita, maka lebih baik tidak usah,"
"Tentu saja tidak menggangguku, ini bawa mobil bukan motor. Jadi biarkan dia seperti ini," jawab Alvian mulai menghidupkan mesin mobilnya sampai hampir selama dua menit. barulah dia menjalankan kendaraan tersebut untuk keluar dari perkiraan yang berada di bawah tanah.
Cup!
"Maaf ya, tadi malam Papa tidak bisa menjemput Via." ucap Alvian mengecup pipi putrinya sambil sesekali melihat jalan di depan mobil mereka.
"Papa telja, jadi Via tama mama naik mobil bagus," tunjuk si kecil pada mobil lain yang melintas.
Sekarang mobil tersebut sudah keluar dari area apartemen dan sudah berada di jalan raya menuju rumah kedua orang tuanya.
"Iya, kemarin papa lagi pergi bekerja, makanya belum bisa menjemput Via,"jawab pemuda itu tidak bisa menyurutkan senyum bahagianya, karena bisa berada di satu mobil bersama wanita yang dia cintai dan si buah hati.
"Papa, Via mau duduk di belatang," ucap Via tiba-tiba sehingga Alvian mengetepikan mobilnya ke sisi jalan. Guna menjaga keselamatan mereka semua.
"Apakah Via mau duduk sendiri? Kenapa tidak sama mama saja, sayang," tanya Alvian memastikan.
Dia tidak mau putrinya kenapa-napa, karena untuk sampai ke rumah orang tuanya. Masih membutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua puluh menit lagi.
"Iya, Via mau duduk cendian," si cantik langsung berdiri diatas paha ayah. Sehingga membuat pemuda itu, mau tidak mau membiarkan putrinya duduk di belakang.
"Sayang, apakah tidak apa-apa, Via duduk sendirian?" menatap pada Ayara yang diam memperhatikan mereka berdua.
Entah hal apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Sehingga dia terus melihat Alvian dan Vania yang mukanya bagaikan pinang dibelah dua.
"Tidak apa-apa! Asalkan kau membawa mobilnya tidak seperti pembalap." jawab Ayara yang masih ingat bahwa pemuda itu suka sekali mengendarai mobilnya dengan kencang.
"Haa... ha... aku sangat senang. ternyata kau masih ingat kebiasaan burukku," tawa Alvian sudah memperbaiki kursi belakang, agar putrinya rasanya manis.
"Ingat hal yang buruk-buruknya saja," elak gadis itu memalingkan wajahnya kearah samping.
"Huem! Tidak apa-apa meskipun hanya mengingat hal buruknya saja, karena kau tetap masih ingat padaku." Alvian kembali jalankan kendaraan tersebut.
Namun, pandangan matanya terus mengawasi sang putri, yang bernyanyi riang. Anaknya itu sama saja seorang dirinya. Yaitu sama-sama suka bernyanyi.
"Aya, sejak kapan dia memiliki hobi bernyanyi seperti itu?" tanya Alvian menoleh ke arah putrinya.
"Dari umurnya sekitar dua tahun kurang lebih. Saat dia mulai bisa berjalan dan berbicaranya sudah lancar. Seingat ku dari sejak itu dia sudah hobi bernyanyi. Walaupun hanya dia sendiri yang mengerti bahasanya," jawab Ayara tersenyum.
"Benarkah! Wah ternyata dia memanglah putriku,"
"Hei, apa maksudmu? Jadi kau ragu Jika Via adalah anakmu?" seru Ayara menatap Alvian tajam.
"Aku tidak berkata ragu. Tapi Via itu benar-benar menjadi duplikat ku. Coba saja kau perhatikan. Bukan hanya wajah kami saja yang mirip, kebiasaannya pun sama sepertiku." pemuda itu tersenyum karena saat melihat Ayara marah. Bukannya seram dimatanya, tapi malah terlihat mengemaskan.
"Itu mungkin karena dulu aku sangat membencimu. Jadi wajah Via lebih banyak mirip denganmu. Padahal aku adalah ibunya, aku pula yang hamil dan membesarkannya seorang diri. Ini sungguh tidak adil,"
"Tapi degan begitu, aku bisa mengetahui bahwa dia adalah putriku. Aya, terima kasih karena sudah membiarkan dia hidup ke dunia ini. Padahal kau sangat membenciku," Alvian meraih tangan kiri Ayara. Lalu dia genggam dan dekatkan pada dadanya.
"Sejak dulu, sampai saat ini, perasaanku padamu tidak pernah hilang. Justru yang ada setiap harinya rasa cintaku semakin besar, untuk tetap mencintaimu." ungkap Alvian yang pagi ini saja sudah lebih dari sepuluh kali mengatakan bahwa dirinya masih mencintai Ayara.
"Aku percaya itu, sandi apartemenmu belum diganti dan masih menggunakan tanggal lahirku," jawab Aya hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan cinta Alvian.
Member ALV itu, memang sangat romantis sejak dulu. Tapi apabila dia sedang bersama Ayara saja. Soalnya bila sedang bersama dengan Alice atau gadis lainnya. Alvian tidak pernah bersikap romantis sama sekali, yang ada malah terkesan cuek tidak peduli dengan sekitarnya.
"Untungnya aku tidak menukar sandinya. Jika aku sudah menggantinya dengan yang baru, maka kau dan Via pasti sekarang sudah pergi menjauh dariku." tebak Alvian membuat Ayara tersenyum membenarkan.
Asik mengobrol di sepanjang jalan, sampai tidak terasa jika saat ini mereka sudah tiba di kediaman keluarga Rafael. Terlihat begitu banyak mobil mewah terparkir di depan rumah tersebut, yang Alvian tebak adalah mobil keluarga besarnya.
"Apakah ini rumahnya?" tanya Ayara setelah mesin mobil mereka dimatikan.
"Iya, kau tidak perlu takut, karena satu-satunya orang yang tidak merestui hubungan kita, adalah papa." jawab Alvian sambil tangannya melepas sabuk pengaman di tubuh Ayara maupun pada tubuhnya sendiri.
"Huem, aku tidak takut, hanya merasa gugup saja,"
"Ada aku, jadi kau tidak perlu gugup. Apapun yang terjadi di dalam nanti. Maka aku tidak akan melepasmu. Kita bertiga akan tetap bersama seperti sekarang." tangan pemuda itu menarik Aya ke dalam pelukannya.
"Papa, Mama," suara Vania langsung membuat Alvian dan Ayara melepaskan pelukan mereka.
"Maaf sayang, Papa lupa jika ada peri kecil ini duduk di belakang sendirian." tawa Alvian mengangkat tubuh putrinya dari bangku belakang dan di bawa ke depan bersamanya.
"Sekarang ayo kita turun, semoga semuanya berjalan baik-baik saja. Sehingga kita benar-benar bisa menjadi sebuah keluarga kecil." ajak Alvian siap menerima kenyataan pahit apa saja yang akan terjadi setelah ini.
Asalkan dia dan Ayara bisa bersatu menjadi pasangan suami istri. Sehingga Vania memiliki orang tua lengkap.
Berbagai rancangan kebahagiaan, sudah direncanakan oleh pemuda tampan itu, karena dia memiliki begitu banyak uang. Jadi apa yang tidak bisa dia lakukan.
...BERSAMBUNG......