
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Selamat datang, Albar, Nona Lula." sambut Dokter Riri. "Ayo silahkan duduk!" lanjutnya lagi.
"Iya, terima kasih, Dok." jawab pasangan suami-istri itu serempak.
"Kita seumuran pastinya. Panggil nama saja tidak usah formal. Lagian aku adalah sahabat baik Arya."
"Baiklah, Dokter Riri. Bisa tolong membantu kami? Soalnya kami menikah sudah hampir satu tahun dan sampai saat ini istriku belum juga hamil." Bara yang berbicara karena Lula diam mendengarkan.
"Kalau begitu kita periksa dulu kesehatannya. Jika sudah selesai diperiksakan, baru tahu penyebabnya." dengan instruksi Dokter Riri. Lula pun diperiksa untuk mengetahui penyebab dia yang tidak kunjung hamil.
"Dokter Riri, bagaimana? Apakah hasilnya sama, aku baik-baik saja?" tanya Lula yang sudah berulangkali melakukan pemeriksaan. Bahkan kata Dokter kandungan, dia dan Bara juga tidak mandul.
"Semuanya baik tidak ada yang salah. Aku rasa penyebabnya adalah stres berlebihan." jawab sang dokter. "Apakah kau tidak percaya pada kesetiaan Albar? Sehingga memiliki pengaruh pada kesehatan mental mu." tebaknya seraya tersenyum.
Bara adalah seorang member terkenal, bahkan menjadi aset negara mereka. Jadi sudah pasti kekasih ataupun istrinya merasa cemburu takut kehilangan. Begitulah menurut pemikiran dokter tersebut.
"Sayang, jadi benar kau tidak hamil-hamil karena stres?" Bara yang mendengar hal tersebut langsung mengenggam tangan istrinya.
"Apa yang kau pikirkan, huem?" tanyanya lagi.
"Bar... aku tidak memikirkan hal apapun, aku baik-baik saja." jawab Lula balas tersenyum.
"Aku bisa saja mengatakan semuanya pada Bara. Tapi... aku takut dia tidak percaya padaku karena mama sangat pandai berkilah. Aku belum siap kehilangannya."
Wanita itu bergumam di dalam hatinya. Lula takut bila berbicara jujur akan membuat hubungannya dan Bara yang akan menjadi masalah. Soalnya Nyonya Marry selalu bersikap baik bila ada anaknya.
"Riri, apakah ada solusinya agar istriku bisa hamil?" Bara bertanya pada Dokter Riri.
"Salah satu caranya adalah hidup sehat. Tidak boleh stres yang akan menghambat kesuburan pada rahim juga. Hal ini terlihat sepele, tapi berdampak besar." jawab sang dokter sudah membantu Lula turun dari atas ranjang pemeriksaan.
"Aku akan memberikan Vitamin dan juga resep-resep untuk penyubur kandungan. Namun, ini hanya usaha kita, karena segalanya atas kuasa Tuhan." lanjut dokter itu lagi. "Tapi pokok pertamanya adalah Tolong hindari stres memikirkan hal apapun."
"Baiklah! Aku akan menjaganya dengan baik agar tidak stres lagi." kata Bara yang tidak tahu apa penyebab Lula banyak pikiran. Sehingga membuat mereka belum juga bisa memiliki buah hati.
"Untuk konsultan selanjutnya kapan lagi, Dok?" sekarang barulah Lula yang bertanya.
"Setelah obat yang aku berikan habis. Apabila tidak ada perubahan pada dirimu, aku akan mencoba cara lain." jawab Dokter Riri yang sudah menulis setiap kemasan obat darinya.
"Bila kalian mau bertemu dengan ku, maka hubungi saja ke nomor pribadiku. Yang tadi itu adalah nomor ku. Jika yang ada pada kartu ini nomor klinik." jelasnya agar kedatangan Bara dan Lula tetap menjadi privat .
"Iya, aku tahu karena tadi Arya sudah mengatakan padaku juga." sela sang dokter tersenyum.
Untungnya dia sudah sering bertemu dengan Alvian. Jadi ketika bertemu Bara tidak histeris karena Dokter Riri adalah salah satu fans ALV.
Sambil mengobrol Bara pun menyerahkan uang untuk membayar pengobatan istrinya dan sesuai prosedur Dokter Riri menerima pembayaran seperti pada pasien yang lain.
Tidak lama, berhubung hari semakin sore, Bara dan Lula pun berpamitan untuk pulang. Ketika dalam perjalanan pria itu tidak banyak bertanya. Hanya saja dia berhenti di pinggir jalan untuk membeli makanan kesukaan sang istri.
"Sayang, lusa kau ikut aku saja ya?"
"Hah? Ikut kemana?" seru Lula karena tahu jika lusa suaminya akan keluar negeri.
"Temani aku untuk menyelesaikan album solo yang akan diluncurkan."
"Kau bermimpi? Mana mungkin aku akan ikut bersama mu. Bisa-bisa semua orang akan tahu hubungan kita, Bar."
"Tidak masalah! Aku tidak ingin kau stres tanpa sebab. Bersiap-siap saja, lusa kau akan ikut bersamaku. Nanti aku akan meminta pada Kak Mauza untuk mendampingi mu."
"Ya, terserah padamu." Lula pun mengiyakan karena sebetulnya sudah lama dia ingin ikut seperti mana Aya yang selalu menemani Alvian ke berbagai ibukota maupun negara.
"Ayo turun!" Bara mengulurkan tangannya untuk membantu Lula turun dari mobil karena mereka sudah tiba dirumah pribadinya.
"Kau langsung mandi saja, aku yang akan menyiapkan makanan yang kita beli." titahnya membuat Lula tersenyum lebar.
Sebab Bara sangat jarang bersikap romantis seperti mana Alvian, yang selalu menjadikan Ayara bak ratu.
Cup!
"Kau kenapa tersenyum? Apakah ada yang aneh?" Bara menahan pinggang ramping Lula dan mencium bibir yang selalu ia nikmati.
"Aku hanya merasa bahagia karena kau perhatian padaku." jawab jujur Lula.
"Maaf! Maafkan aku karena selalu sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan mu." Bara menarik Lula kedalam pelukannya. Padahal hari ini entah berapa kali dia melakukannya.
"Tapi mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan mu."
"Huem!" jawab Lula setuju karena memang dia membutuhkan Bara disampingnya. Jika uang Lula tidak pernah kekurangan, hanya perhatian Bara yang kurang.
"Sekarang kau pergi mandi ya, jangan menunggu, hari semakin malam." titah pria itu lagi dan Lula pun menurutinya.
"Apa yang aku lakukan selama ini? Apakah Lula tersiksa menjadi istriku karena aku tidak perhatian padanya. Sehingga dia bisa stres?"
Bara bergumam melihat punggung Lula yang sudah naik kelantai atas.
...BERSAMBUNG......