
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Malam sudah berganti pagi.
Di kediaman keluarga Rafael. Pagi-pagi sekali Alvian, mama dan neneknya sudah bersiap-siap mau menemani Ayara periksa kehamilan calon cicit Rafael.
Termasuk juga si cantik Vania, gadis kecil yang dulunya sangat malang. Sekarang sudah menjadi princess di keluarga besar Rafael.
Sedangkan Tuan Abidzar ada rapat pagi ini di perusahaan Evander group. Jadi tidak ikut mengantar sang menantu. Begitu pula dengan Deri, pemuda tampan itu harus berangkat kuliah.
"Via mau tama Papa," ucap Vania merentang kedua tangannya minta digendong oleh papanya. Karena mereka sudah mau berangkat ke rumah sakit dan sekarang sudah berdiri di samping mobil.
"Oke, princess sama Papa dan mama, ya. Oma biar sama nany," Alvian langsung mengendong putrinya yang semakin hari wajah mereka malah semakin mirip saja.
"Ma, Mama sama nenek, Via mau sama kami," ucap si tampan pada ibunya yang baru menyusul mereka keluar rumah.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi nanti saat kalian ke rumah Tuan Edward, dia tidak boleh dibawa. Mama tidak mau Via harus mendengar ucapan kasar dari para Vampir itu," jawab Nyonya Lili berjalan mendekati mobilnya yang sudah dibuka oleh para pengawal Tuan Abidzar.
Begitu pula dengan nenek Alvian. Wanita paruh baya itu sudah duduk didalam mobil lebih dulu karena beliau benar-benar sudah tidak sabar mau melihat pemeriksaan calon cicit keduanya. Sebab Alvian memang cucu tertua dari anak yang tertua Tuan Rafael pula.
Hanya untuk mengantar ke rumah sakit saja, yang akan mengawal ada lima mobil dan mereka semua adalah pengawal terpilih. Termasuk Denis, pemuda itu juga akan mengawal kemanapun Ayara pergi.
"Siap ibu bos, Anda jangan khawatir. Setelah pulang dari rumah sakit Vania akan dikembalikan pada Oma," goda Alvian sebelum masuk kedalam mobilnya sendiri.
Alvian membawa mobil Lamborghini Gallardo miliknya tanpa mengunakan sopir karena pemuda itu hanya ingin bersama keluarga kecilnya.
"Via tidak mau duduk di depan sama Papa?" tawar Alvian karena biasanya apabila dari rumah mereka sendiri. Si cantik selalu minta duduk dipangkuan papanya.
"Tidak mau, Via sudah besal. Bental lagi mau dadi kakak, ya kan, Ma?" jawab Via meminta persetujuan mama nya.
"Huem, iya. Via sudah mau menjadi kakak," Ayara tersenyum menatap pada suaminya.
"Kenapa tersenyum? Apa kau takut jika Via tidak mau memiliki adik?" Alvian juga ikut tersenyum.
"Sebetulnya iya, jujur aku takut karena memiliki adik. Via malah kurang mendapat kas---"
"Tidak akan! Via tetaplah prioritas utama kita. Dia adalah princess Rafael. Mana mungkin aku membiarkan dia kekurangan apapun," sela pemuda itu mengelus kepala Ayara dengan satu tangannya. Sedangkan tangan satunya lagi memegang setir mobil.
"Iya, aku tahu itu karena papa saja tidak mungkin membiarkan Via kekurangan kasih sayang," jawab Ayara membenarkan ucapan suaminya.
Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Mereka terus saja mengobrol. Begitu pula dengan Vania. Si gadis kecil itu kadang bertanya apa yang tidak dia ketahui pada papanya.
"Nanti pulang sama Oma, ya. Papa sama mama mau pergi melihat orang yang sakit," ucap Alvian karena takut bila Vania malah mau ikut bersama mereka.
Jika bukan ke rumah keluarga Wilson yang sekarang sudah menjadi milik Ayara. Maka tentu dengan senang hati Alvian membawa putrinya.
"Lain kali saja. Hari ini opa ada rapat. Bagaimana bila besok?" Ayara yang mencegah karena dia sudah tahu bahwa hari ini ayah mertuanya mengadakan rapat.
"Tapi Via mau hali ini," Via langsung memanyunkan bibirnya karena tidak mau bila harus besok pagi.
"Papa... bilang opa, Via mau ikut telja duga," ucapnya berdiri untuk mendekati sang ayah yang masih mengendarai mobil mereka.
"Oke, nanti papa kirim pesan saja, ya. Sekarang opa pasti lagi bekerja," Alvian tidak ubahnya seperti Tuan Abidzar. Mana mungkin menolak keinginan Vania. Karena bagi mereka si kecil sudah cukup menderita sejak dalam kandungan dan jangan sampai sekarang Vania merasakan tidak bisa memiliki apa yang ia mau.
"Tapi---"
"Tidak apa-apa, sayang. Papa justru akan marah bila kita membuat cucunya bersedih," sela Alvian sambil mematikan mesin mobilnya tepat di depan Lobby rumah sakit tersebut.
Lalu mereka turun, begitu pula dengan Nyonya Lili dan neneknya. ada delapan orang pengawal ikut masuk memberikan penjagaan. Karena semuanya sudah disiapkan oleh Dokter Jessie. Jadi Ayara tidak perlu menunggu lagi dan langsung melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana, Dok? Apakah benar istri Saya hamil," tanya Alvian degan perasaan berdebar-debar. Takutnya setelah diperiksa mengunakan alat, tau-taunya tidak hamil.
"Tentu saja benar Tua Muda, coba lihat layarnya. Ini adalah calon bayinya. Namun, karena umur kehamilannya baru tiga Minggu. Jadi hanya berbentuk biji kacang hijau," jawab si Dokter tersenyum lebar.
"Mama, Nenek. Istriku benar-benar hamil lagi," seru Alvian masih mengenggam lembut tangan Aya yang lagi diperiksa bagian perut gadis itu
"Iya, kita akan mendapatkan anggota keluarga Rafael yang baru," senyum kedua wanita berbeda usia itu terus mengembang.
Setelah kurang lebih satu jam melakukan berbagai pemeriksaan kesehatan Ayara. Mereka pun sudah keluar dari rumah sakit. Makanya lama karena Alvian dan Ayara konsultasi tentang berhubungan **** yang aman terlebih dahulu.
Soalnya Alvian tidak mau karena nafsunya malah akan menyakiti calon buah hati dan sang istri.
"Via, pulang ikut oma sama Nany ke perusahaan, ya. Papa sama mama mau pergi untuk keperluan lain," saat menurunkan anaknya di dalam mobil mewah yang membawa mama dan neneknya. Pemuda itu kembali menyakinkan sang putri agar tidak menangis.
"Iya, Papa daga adek Via," jawab si cantik tersenyum lebar.
Cup!
"Tentu Papa akan menjaga adek Via dengan sangat baik," Alvian mengecup pipi putrinya sebelum menutup pintu mobil tersebut dan melambaikan tangannya menatap kepergian sang putri yang mau ke perusahaan Evander Group.
"Sayang, kau sudah siap kita ke rumah baru mu?" tanya Alvian memastikan sambil mengendarai mobilnya.
"Iya, tentu saja aku sudah siap," dusta Ayara karena sebetulnya saat ini rasa dihatinya ada sedih dan bahagia.
Sedihnya karena begitu banyak kenangan buruk yang membekas di ingatannya dan bahagianya hari ini dia akan membalas semua perbuatan kejam sang nenek dan ibu tirinya.
Jika degan Tuan Edward. Gadis itu hanya kecewa karena tidak pernah dianggap sebagai layaknya seorang putri.
"Oke, hari ini lakukanlah apa yang kau inginkan. Kau harus ingat bahwa dirimu adalah istri ku. Kau menantu keluarga Rafael. Jangan biarkan mereka merendahkan dirimu," nasehat Alvian karena pemuda itu tidak bisa menerima hinaan Arianti tadi malam.
"Iya, kau tenang saja. Aku sudah punya cara untuk membuat mereka merasakan semuanya," jawab Ayara tersenyum kecil.
...BERSAMBUNG......