
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Hari begitu cepat berlalu. Sudah delapan bulan kemudian. Pernikahan Bara dan Lula sudah hampir dua tahun. Namun, pasangan suami-istri tersebut belum juga memiliki keturunan. Padahal berbagai metode pengobatan dari dokter terbaik sudah dilakukan.
Bara juga selalu menomorsatukan istrinya daripada karier. Seperti perkataan Alvian bahwa percuma memiliki harta berlimpah, jika orang yang disayangi tidak hidup bahagia.
Sejauh ini hubungan Bara dan Lula tidak pernah ada masalah. Padahal sudah berbagai cara Nyonya Marry menghasut anaknya agar meninggalkan Lula dan menikahi Ria. Tidak memiliki anak, itulah alasan wanita tua itu menyuruh sang putra menikah lagi.
Padahal semua itu dialah penyebabnya. Beliau yang menyuruh Lula meminum obat pencegah kehamilan.
"Sayang, bagaimana?" tanya Bara begitu melihat Lula keluar dari kamar mandi. Ini bukanlah kali pertama wanita itu melakukan tes kehamilan. Hampir setiap bulan Lula mengharapkan agar alat tersebut berubah menjadi garis dua. Akan tetapi lagi dan lagi tetap saja garis satu, tidak ada perubahan.
Lula tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. Namun, dari matanya yang memerah karena menahan air mata membuat Bara tahu jika mereka gagal lagi.
"Tidak apa-apa! Jangan bersedih!" Bara yang kecewa berusaha menenangkan Lula.
"Bara... Maafkan aku!" lirih Lula semakin menagis setelah berada dalam pelukan suaminya. "Maafkan aku tidak bisa memberimu keturunan. Padahal kita sudah berupaya selama ini," lanjutnya.
"Kita coba lagi ya, jangan bersedih. Aku tidak apa-apa." dusta Bara memaksakan senyumnya.
Lama mereka berpelukan, setelah itu Lula pun bersiap-siap karena pagi ini mereka akan ke rumah orang tua Bara. Walaupun satu Minggu sekali rasanya Lula begitu malas. Namun, harus bagaimana lagi. Baik buruknya Nyonya Marry tetaplah ibu dari suaminya.
"Apakah sudah siap?"
"Sudah! Ayo kita berangkat! Jangan sampai papa dan mama menunggu kita terlalu lama." jawab Lula dengan tampilan begitu cantik.
Bagiamana tidak, sekarang kehidupan Lula sama seperti Ayara. Bara membelikan berbagai macam jenis pakaian terbaru dan kosmetik yang harganya hanya mampu dibeli oleh para sultan. Walaupun Lula sendiri tidak pernah menginginkan semua itu.
"Huh! Kenapa setiap mau ke rumah utama aku merasa mau dieksekusi mati? Padahal bila mau ke rumah Tante Lili, aku selalu bahagia dan malas untuk pulang."
Guman Lula di dalam hatinya. Walaupun dia tahu jawabannya adalah karena ibu mertuanya yang tidak merestui pernikahan mereka.
"Sayang, kau kenapa?" Bara mengenggam lembut tangan istrinya. "Kau terlihat gelisah sekali? Jika soal Tes pack tidak usah kau pikirkan. Lagian kata Tante Anis, dia sampai dua tahun lebih baru bisa memiliki anak." kata Bara yang tidak tahu istrinya gelisah karena sebentar lagi mereka akan sampai di rumah orang tuanya.
"Aku baik-baik saja, Bar. Tapi... entah mengapa sejak tadi bagun tidur aku merasa gelisah dan seakan-akan akan terjadi sesuatu yang buruk hari ini." ungkap Lula karena memang hatinya tidak tenang lebih dari hari sebelumnya.
Cup!
"Tidak akan terjadi apapun karena aku ada bersamamu. Tidak akan aku biarkan kau kenapa-napa." pria itu mengecup tangan istrinya. Bersamaan dengan mobilnya yang sudah sampai di depan rumah mewah keluarga Anderson.
"Terima kasih! Aku percaya kau tidak akan membiarkan aku kenapa-kenapa." jawab wanita itu mengagguk.
"Yasudah, ayo turun!" ajak Bara melepaskan salt belt pada tubuh dia dan istrinya. Lalu pasangan suami-istri itu turun secara bersamaan. Namun, baru saja mau melangkah masuk ke dalam rumah. Datanglah satu buah mobil mewah yang tidak asing bagi Lula dan Bara.
"Ria!" lirih Lula yang masih bisa didengar oleh Bara.
"Aku tidak tahu mau apa dia datang ke sini." langsung menjelaskan karena takut istrinya salah paham.
"Mungkin mama mu yang mengundangnya." Lula hanya tersenyum kecil. Sudah beberapa bulan ini mereka aman karena Ria tidak pernah datang lagi.
"Bara... Lula, kalian juga baru datang. Aku kira aku sudah terlambat." ucap Ria yang terlihat sangat cantik, modis dan seksi tentunya.
"Iya, kami---" ucapan Lula terpotong karena suara Nyonya Marry.
"Ria, sayang. Kau sudah datang rupanya. Tante kira kau tidak jadi datang." Nyonya Marry memeluk hangat Ria dan mengabaikan menantunya sendiri. Membuat Lula hanya saling pandang dengan suaminya.
"Bara, Nak. Ayo masuk! Mama sudah memasak makanan kesukaan mu dan Ria." lagi-lagi wanita setengah tua itu tidak memperdulikan Lula.
"Ma, menantu Mama adalah Lula, kenapa tidak menyambut kedatangannya?" Bara berkata tidak suka karena tahu istirnya pasti kecewa diperlakukan seperti itu.
"Ck!" berdecak kecil disertai senyuman sinis. "Menantu? Haa... ha... kau jangan bodoh, Nak." jawabnya berhenti sejenak. "Sudahlah! Ayo kita masuk dan sarapan terlebih dahulu. Mama tidak mau acara pagi ini menjadi rusak hanya karena hal tidak penting." sebelum putranya menjawab, Nyonya Marry sudah masuk sambil menggandeng tangan Ria.
"Lula, ayo kita masuk. Nanti aku---"
"Masuklah! Sepertinya kedatangan ku tidak diinginkan. Aku akan pulang duluan dengan mengunakan taksi saja." sela Lula cepat. Namun, pergelangan tangannya sudah dicekal erat oleh Bara.
"Kita datang bersama dan akan pulang bersama. Ayo masuk!" seru Bara yang benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Di satu sisi Nyonya Marry adalah ibunya. Sedangkan sisi lainnya, Lula istrinya.
"Tapi Bar, kau tahu sendiri mama mu seperti tidak menganggap kedatangan ku. Berbeda sekali sikapnya terhadap Ria."
"Mungkin itu karena Mama masih kecewa kau belum bisa memberinya cucu. Namun, percayalah, mama tidak sejahat itu. Ayo masuk! Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Apalagi kita sudah sampai disini." Bara menarik tangan Lula masuk kedalam rumah.
Berhubung sudah tahu orang tuanya berada di dalam dapur bersih. Pasangan suami-istri itupun langsung menuju ke sana.
"Albar, Lula. Kalian berdua sudah datang. Ayo duduklah kita sarapan bersama." sambut hangat Tuan Anderson. Beliau memang tidak mempermasalahkan tentang status Lula.
"Iya, Pa. Maaf kami jarang ke sini." jawab mereka serempak. Sedangkan Nyonya Marry masih menunjukkan wajah masamnya.
Berhubung jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima. Mereka semua pun sarapan bersama. Hanya Nyonya Marry dan Ria saja yang berbicara, yang lain cuma diam mendengarkan.
"Bagaimana dengan kontrak member ALV, Bar? Apakah masa kontraknya habis bulan depan?" tanya Nyonya Marry.
"Masih di undur bulan Maret, Ma. Soalnya Agenci tidak bisa berdiri tanpa member ALV. Jadi walaupun kontrak berakhir, kami berlima tetap mengunakan Agensi AX Si." jawab Bara sesuai faktanya.
"Oh, masih tiga bulan dari sekarang ya. Tapi tidak apa-apa juga. Mama ingin mengadakan resepsi pernikahanmu jika kontrak sudah berakhir."
"Soal itu Bara dan Lula harus membicarakannya terlebih dahulu." Bara menatap pada istrinya yang semakin menunduk sedih.
"Ya, bicarakan saja sama istrimu, Albar." sahut Tuan Anderson dan Nyonya Marry tersenyum tipis. Entah apa maksudnya yang membuat Lula merasa ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Ria, ayo tambah lagi, sayang!" ucap Nyonya Marry pada Ria. Tidak biasanya beliau benar-benar menunjukkan tidak suka pada menantunya.
"Mama benar-benar keterlaluan! Kenapa bersikap seperti ini pada Lula."
Kali ini yang bergumam adalah Bara. Ingin membicarakan sekarang pada sang ibu waktunya belum tepat.
Pria itu mau membicarakan perihal sikap mamanya. Namun, sebelum Bara duduk, Nyonya Marry sudah menyerahkan obat pencegah kehamilan padanya.
"Ini apa, Ma?
"Kau lihat saja dan tanyakan pada istrimu." jawab beliau sebelum duduk diatas sofa diikuti oleh Lula.
"Obat---"
"Pencegah kehamilan. Wajar saja sampai saat ini istrimu tidak kunjung hamil, karena dia mengonsumsi obat itu." sela Nyonya Marry memfitnah menantunya.
"A--apa? Ti--tidak mungkin, Ma. Jika Mama tidak menyukai istriku bukan seperti ini caranya." bantah Bara tidak percaya begitu saja.
"Jika kau pikir Mama berbohong, coba kau pergi keatas dan buka laci disamping tempat tidur kalian. Mama tidak akan tahu bila Bibi Amarta tidak menemukannya."
"Aku tidak percaya ini. Lula tidak mungkin melakukannya." Bara berdiri kasar dan pergi kelantai atas. Yaitu untuk membuktikan perkataan mamanya.
"Tidak! Lula tidak mungkin melakukannya."
Dengan hati tidak menentu Bara pun melangkah menuju kamarnya. Tujuannya adalah laci di samping tempat tidur.
"Lula, aku harap semua ini tidak benar."
Tangan Bara yang kekar sampai bergetar saat membuka laci tersebut. Takutnya ternyata menjadi kenyataan. Di dalam laci ada sisa obat pencegah kehamilan. Pertanda sudah diminum oleh pemiliknya. Yaitu Lula, ya! Wanita itulah yang meminumnya karena itu adalah kamar mereka.
"Lula!" mengeram kesal dan meremas obat tersebut. Lalu dia pun setengah berlari kelantai bawah. Bertepatan dengan Lula yang baru selesai membantu asisten rumah tangga dari dapur bersih.
"Bara, ada---"
"Apa ini? Untuk apa kau meminumnya?" bentak Bara yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Ba--bara! Aku---"
"Dasar wanita tidak tahu diri! Kau tahu kan jika Bara sangat berharap kalian segera mempunyai anak. Namun, balasan apa yang kau berikan Lula?" Nyonya Marry ikut memarahi menantunya.
"Itu bukan milikku. Aku tidak---"
"Ayo kita pulang!" dengan kasar Bara menyeret tangan Lula keluar dari rumah orang tuanya. Himbauan dari Tuan Anderson yang menyuruh Bara membicarakan baik-baik sudah tidak dihiraukan.
"Ba--bara, aku tidak---"
"Kita bicarakan di rumah." potong pria itu yang membawa mobilnya seperti orang mabuk. Padahal mereka berdua tidak ada yang memakai sabuk pengaman.
Perjalanan yang seharusnya menempuh kurang lebih tiga puluh menit, sekarang cukup kurang lebih lima belas menit saja.
"Ayo turun!" kembali membentak dan tidak memperdulikan Lula seperti biasanya. Wanita itupun ikut turun dan berusaha menjelaskan karena tahu jika saat ini Bara lagi salah paham padanya.
"Ba---"
Praank!
Meja kaca ditendang oleh Bara cukup keras. Hinga pecak berhamburan keatas lantai.
"Apa kau bisa menjelaskannya?" teriak Bara yang ingin menghancurkan barang apapun. Pria itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku. Namun, tatapannya pada Lula begitu tajam.
"Ba--bara... to--tolong jangan seperti ini. A--aku tidak pernah meminumnya." jawab Lula terbata-bata karena takut melihat Bara mengamuk. Semenjak mereka menikah menikah baru kali ini Bara marah dan berbicara kasar.
"Lalu kenapa benda sialan ini ada di laci yang ada dikamar kita?" masih berusaha menenangkan dirinya agar jangan sampai memukul Lula. Sebab sedikit banyaknya Bara tahu istrinya bukanlah lawannya.
"Aku juga tidak tahu. Aku bersumpah tidak pernah meminum benda seperti itu. Percayalah... aku tidak mungkin melakukannya." Lula berusaha mau menyentuh tangan Bara. Namun, oleh pria itu langsung ditepis kasar.
Membuat Lula yang memiliki tubuh kurus tidak seperti sebelum mereka menikah, jatuh kelantai dan telapak tangannya mengenai pecahan kaca.
Auuh!
Rintih nya kesakitan. Akan tetapi Bara yang masih marah tidak menghiraukannya.
"Ba--bara percayalah! Aku tidak mungkin melakukannya. Pasti ada seseorang yang mau menjebakku." Lula semakin menagis. Rasa sakit dari terluka tidak dia hiraukan, karena rasa sakit atas perlakuan Bara lebih dari apapun.
"Wah-wah! Jadi kau mau menuduh mamaku yang sudah memfitnah mu? Kau licik sekali sehingga---"
"Aku berkata jujur, Bar. Aku tidak pernah membeli ataupun meminum obat itu. Ini pasti mamamu yang melakukannya karena tidak menyukaiku. Dia mau memisahkan kita." Lula berdiri dengan darah mengalir dari telapak tangannya. Dress mahal yang dia pakai sudah dilumuri oleh darahnya sendiri.
"Lula, apakah kau sadar dengan apa yang kau katakan ini? Jadi kau menuduh mamaku? Wanita yang sudah melahirkan aku?" Bara mengepal tangannya kuat.
Urat-urat tangannya terlihat menegang. Pertanda jika emosinya benar-benar besar.
"Aku tidak menuduh, tapi inilah kenyataannya. Sejak awal kita menikah mama mu sudah memberiku obat itu dan mengancam bila aku sampai hamil, dia akan melenyapkan anak kita. Hal itulah yang selalu membebaniku selama ini." Lula berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan.
"Namun, aku tidak pernah menuruti permintaannya. Karena aku juga mau kita memiliki anak seperti Ayara dan Violeta." lanjutnya.
"Jadi kau menyalahkan mamaku dan memfitnahnya? Kau---"
"Iya, karena aku tidak pernah meminum obat pencegah kehamilan, Bar. Ini pasti jebakan karena mama mu ingi---"
Plaaak!
"Cukup, Lula!" satu tamparan keras langsung Bara layangkan pada pipi Lula yang basah oleh air mata. "Jika kau tidak mau memiliki anak bersama ku bukan seperti ini caranya. Aku benar-benar kecewa padamu." setelah itu Bara pergi meninggalkan Lula yang semakin menagis memanggil namanya.
Pipi Lula sampai memar dan Bara tetap tidak perduli. Dia pergi membawa hati yang kecewa.
"Bara... kenapa kau tidak percaya padaku." lirih Lula menangis diatas lantai. Luka yang tadinya hanya ada satu, sekarang menjadi ada beberapa bagian termasuk pada kakinya juga.
... BERSAMBUNG......