
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
... HAPPY READING......
.
.
"Al, kami duluan ya, kau dan Bara hati-hati. Jangan sampai ada yang mengenali kalian berdua." ucap Naufal yang sedang memakai jaketnya.
"Iya, kau tenang saja. Tidak mungkin aku membuat orang-orang tahu siapa kami," jawab Alvian yang juga lagi memakai jaketnya yang berwarna hitam.
Tidak lupa pemuda itu juga menyiapkan masker penutup wajah. Agar bisa menutupi sebagian wajahnya mereka.
"Aku do'akan, kalian bisa menemukannya hari ini dan... jika sudah bertemu, bawa mereka kembali." sahut Sandy yang mendengar percakapan kedua sahabatnya.
"Huem, Terima kasih! Semoga saja dia mau." Alvian menjawab ragu. Sangat tidak mungkin jika Aya bisa semudah itu mau ikut bersamanya. Setelah apa yang dia lakukan.
Alvian benar-benar sudah menghancurkan kehidupan Ayara. Jadi dia sendiri sadar diri juga. Setidaknya untuk sekarang bisa bertemu putrinya itu sudah cukup.
"Oya, Al... tolong sampaikan maaf ku pada Aya. Meskipun dia tidak mau ikut kalian pulang ke kota S. Katakan padanya, bahwa aku pasti akan datang ke rumah nya untuk melihat keponakan ku. Jadi jangan pernah dia lari lagi," timpal Hanan menarik koper bajunya keluar dari kamar mereka masing-masing.
"Huem, thanks! Karena kalian semua sudah mengerti dan mendukung ku," jawab Alvian tulus.
Sebab mencari Ayara dan Vania, resikonya sangat besar. Apalagi bila ada paparazi yang mengetahui hal tersebut. Namun, keempat sahabatnya tidak memikirkan keegoisan diri mereka saja.
Malah sangat mendukung agar Alvian segera mencari Ayara dan Vania. Begitulah eratnya tali persahabatan mereka. Saling menyayangi dan mengerti satu sama lainnya.
"Ayo, ayo! Kita pulang sekarang," kata Staf Muzaki masuk bersama yang lainnya. Ada juga Staf yang bertugas membawa barang-barang milik para member ALV.
"Bara, Alvian... jika masalahnya sudah selesai, cepatlah kembali. Ingat rabu kita akan debut ke luar negeri lagi,' ucap Staf Muzaki sambil berjalan keluar karena mereka sudah mau meninggalkan hotel.
"Iya, Smith tidak perlu khawatir. Kami akan kembali secepatnya," jawab mereka berdua serempak.
"Oke, nanti kita berpisah di persimpangan jalan bagian timur. Kami ke kiri. Sedangkan kalian ke kanan. Agar tidak ada yang tahu bahwa kalian masih berada di kota ini." kata staf Muzaki berhenti di tempatnya berdiri untuk beberapa detik. Setelah itu dia kembali berjalan lagi.
berhubung para Staf dan bodyguard sudah tahu. Jadi untuk mobil dan pengawalan pun sudah diatur Manejer masing-masing member.
"Al, selamat berjuang, ya. Jika kalian berhasil menemukannya. Salam buat Aya dan putrimu," ucap Naufal yang memeluk sahabatnya.
Saat ini mereka sudah mau masuk ke mobil masing-masing. Begitu pula Alvian dan Bara.
"Do'akan saja agar aku bisa menemukannya hari ini. Jika sampai aku kehilangan mereka lagi. Aku bisa gila," ungkap pemuda itu juga ikut berbicara dengan suara kecil. Agar tidak ada yang mendengar ucapan mereka.
"Bersabarlah! Semua butuh perjuangan," Hanan menepuk pelan pundak Alvian dan Naufal. Sebagai isyarat bahwa mereka harus pergi sekarang.
Setelah itu karena semuanya sudah siap. Alvian pun ikut masuk ke mobil keluaran terbaru milik Bara yang baru saja dibeli kemaren siang oleh Manajernya.
"Al, kenapa malah aku yang menyetir? Bukannya kau yang tahu dimana tempat Aya?" tanya Bara karena sebetulnya dia ingin bersantai.
Dia benar-benar sangat menyesal karena pada saat itu tidak langsung turun dari mobil untuk memastikan. Apakah benar itu Ayara atau hanya sekedar mirip saja.
"Baiklah! Kita coba mencarinya di sekitar sana. Bila tidak ada, baru kita cari ke tempat lain." Bara pun mulai menambahkan laju kendaraan mewahnya.
Hanya sekitar lima belas menit dari hotel tempat mereka menginap. Mobil iring-iringan mereka pun berpisah. Dengan skill yang ia miliki Bara berhasil keluar dari jalur rombongan mobil mereka.
Dalam kecepatan diatas rata-rata pemuda itu menambah laju kendaraannya. Agar tidak ada satupun yang tahu bahwa mereka belum kembali ke kota S.
"Aaaa! Kenapa kesannya kita seperti buronan, sampai harus menyelinap seperti ini," teriak Bara karena mereka berhasil keluar dari rombongan.
"Ck, kita bukan buronan," decak Alvian mengelengkan kepalanya. Namun pandangan matanya tetap pada ponsel.
"Iya bukan buronan penjahat, tapi buronan cinta," Bara tergelak karena apa yang ia katakan memang benar.
"Kau sama Lia bagaimana? Bukannya dia cinta sejati mu?" Alvian menatap kearah Bara yang lagi memperhatikan jalanan di hadapan mereka.
"Aku dan Lia ya seperti itulah! Aku tidak tahu, itu cinta atau bukan. Tapi yang jelas setelah ini dia masih mau melanjutkan kuliah kedokteran nya,"
Deg!
Mendengar kata dokter membuat pikiran Alvian kembali pada Ayara. Mantan kekasihnya juga memiliki cita-cita ingin menjadi seorang dokter hebat.
Agar bisa menolong banyak orang. Sudah cukup ibunya meninggal gara-gara lambat mendapatkan pertolongan dari dokter. Padahal saat itu Jasmeen ibunya sudah sekarat karena kecelakaan yang ia alami.
"Alvin nanti meskipun aku kuliah kedokteran tapi aku tetap akan menemuimu setiap akhir pekan."
Ucapan Ayara seakan berputar-putar di dalam benak Alvian.
"Andai aku tidak pernah meninggalkannya. Mungkin Aya juga akan menjadi seorang dokter, seperti cita-citanya. Walaupun Tuan Edward mengusirnya dari rumah. Aku mampu membiayai kuliah Aya sekaligus anakku,"
Gumam Alvian kembali merasa penyesalan yang terasa begitu menyakitkan. Sampai dia tersadar karena mendengar pertanyaan Bara.
"Al, ini kita mau langsung kemana? Aku kurang tahu juga kita kena macetnya dulu di daerah mana?"
"Ikuti Google maps ini. Kita ke rumah sakit terdekat yang ada di sekitar pusat ibukota," jawab Alvian yang sejak tadi ternyata mencari-cari petunjuk melalui ponselnya.
"Kau gila! Bukannya kita mau mencari Aya dan putrimu? Kenapa malah ke rumah sakit. Mana mungkin m---"
"Aldebaran, Bara dan Albar! Aku ingin mencari petunjuk dari rumah sakit. Agar saat kita bisa menemukan Aya. Dia tidak bisa menyangkal bahwa Vania adalah putriku. Bagaimana jika tahu-tahunya dia sudah menikah dengan orang lain. Apa mungkin aku bisa menemui Vania?" gara-gara kesal pada pada sahabatnya itu. Alvian sampai menyebutkan semua nama Bara.
"Haa... ha... kenapa tidak bicara dari tadi," tawa Albar. Namun, beberapa saat kemudian dia kembali berbicara. "Al, apa kau tak apa bila Aya sudah menikah dengan orang lain?" tanyanya menoleh kearah Alvian yang menarik nafasnya dalam-dalam.
"Huh! Entahlah! Jangan kau tanyakan sekarang," jawab Alvian menghembuskan nafas kasar.
...BERSAMBUNG.....