
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Enam hari sudah berlalu. Besok pagi adalah kepulauan para member ALV beserta para Staf dan kru dari Agensi. Yaitu dari perusahaan yang di naungi para artis papan atas tersebut. Sedangkan hari yang ini adalah waktunya para member pergi jalan-jalan sebelum kembali ke negara mereka.
Tadi malam adalah konser Alvian dan Alice tampil satu panggung. Namun, bukan di wilayah Washington DC lagi. Tapi di bagian Palm Beach, FL dan Athertoon, AC. Wilayah yang terbilang paling kaya.
Jadi jangan tanyakan berapa mahalnya bayaran mereka saat manggung di sana. Namun, di sini bukan masalah uang yang membuat ALV mau konser daerah tersebut. Melainkan fans ALV boleh dikatakan sekitar tujuh puluh lima persen dari seratus persen jumlah penduduknya.
Setelah pembicaraan malam itu. Hubungan Alvian dan Alice masih baik-baik saja. Tidak ada yang berubah meskipun Alvian sangat jarang mengangkat panggilan telepon dari wanita itu.
"Al," panggil Bara yang lagi bersiap-siap mau pergi menemui kekasihnya.
"Huem, apa?" Alvian menjawab. Namun, tidak mengalihkan pandangan matanya dari ponsel karena lagi melihat foto putrinya yang dikirim oleh Aya.
"Apakah Aya marah kau menerima telepon dari Alice atau dari teman wanita mu?"
"Kenapa? si tampan Alvian kembali membalikkan pertanyaan dan belum juga menjawab. Soalnya ayah satu anak itu memang seperti itu. Apabila dia merasa pertanyaan tersebut tidak penting, maka tidak akan langsung menjawabnya.
Berbeda apabila sudah bersama Ayara. Si pawang yang sudah menaklukan hati member ALV tersebut. Sebelum Aya bertanya, maka Alvian akan menjelaskan lebih awal.
"Tidak ada apa-apa, sih. Hanya saja saat kita di Washington DC. Kau mengatakan pada Alice, jika lagi menjaga jarak dengan gadis itu. Makanya tidak mau mengangkat panggilan darinya." jelas Bara karena dia tidak begitu paham masalah hubungan karena dia dan Ria tidak seperti itu.
Mereka terkadang berkomunikasi dalam satu Minggu paling banyak dua kali. Malahan semenjak mengenal Lula. Bara lebih sering teleponan dengan gadis itu.
Salah satu fans yang mencintai Bara lebih dari seorang pengemar saja. Setiap malam mereka selalu bertukar kabar dan itu masih berlanjut sampai sekarang.
"Bara, aku hanya ingin menjaga perasaan Aya saja. Dia tidak pernah melarang siapapun menghubungiku dan itu sejak kami pacaran empat tahun lalu. Sebelum hubungan kami kandas." jawab Alvian menaruh ponselnya dan menatap kearah sahabatanya yang lagi bersiap-siap.
"Namun, aku tahu jika dia tidak nyaman saat mengetahui ada gadis lain yang menghubungi ku. Coba saja kita balikkan keadaan. Bagaimana jika yang menelepon itu adalah sahabat wanita yang kita cintai. Apakah kita akan biasa-biasa saja, atau akan marah." papar pemuda itu sedikit menyugikkan senyum.
"Apakah kau memukul Arga dulu karena kau cemburu padanya?" tebak Bara langsung menunjuk pada Alvian penuh selidik.
"Menurut mu, memangnya aku gila memukul orang tanpa sebab." jawab Alvian tidak mengelak dengan tebakan Bara.
"Arga kan tahu jika Aya kekasihku, tapi saat pertandingan basket antara sekolah kita dan sekolah Aya. Aku melihat dia terus menghubungi Aya. Tentu saja aku marah padanya. Mungkin jika dia tidak berhenti sampai di hari itu. Maka Arga sudah aku buang ke laut. Tidak peduli jika dia Kapten basket di sekolah kita." ungkap Bara
"Haa... ha... kenapa aku sampai tidak tahu, ya. Sial! Aku kira waktu itu kau ingin menjadi kapten sepertinya. Bukan karena cemburu Arga menghubungi Aya." tawa Bara yang telah selesai memakai sepatunya.
"Aku tidak pernah tertarik menjadi kapten basket." karena Bara sudah selesai bersiap-siap. Jadi Alvian juga ikut berdiri.
"Jadi jika kita tahu rasanya tidak suka saat orang yang kita cintai dihubungi oleh orang lain. Maka jangan pernah melakukan hal yang sama. Apalagi kata mamaku wanita itu sangat sensitif. Jadi kita yang harus peka pada suasana hati mereka." saat membuka pintu kamar hotel. Alvian masih memberikan nasehat terhadap Bara.
"Oke, terima kasih! Ternyata kau memang sudah layak menjadi seorang suami dan Ayah. Tadinya aku kira kau hanya terlena dengan rasa surga dunia saja." imbuh Bara membuat Alvian menendang kaki sahabatnya itu.
"Brengsek! Kau ingin mengejekku," serunya sambil tersenyum.
"Tapi Al, eum... jujur saja, aku tidak pernah merasakan seperti yang kau ceritakan tadi. Aku tidak pernah cemburu bila ada yang menghubungi Ria. Kau kan tahu sendiri jika aku dan kekasihku sangat jarang berkomunikasi." papar Bara sesuai apa yang dia rasakan.
"Makanya kau tanyakan padanya nanti, apakah dia ingin hubungan kalian berlanjut atau bagaimana. Jangan sampai nanti istriku sudah hamil lagi kau belum menikah ju---"
"Ck, sombong sekali. Kau bukan hanya memberi ancaman pada Bara. Tapi juga pada kami yang belum memiliki kekasih." decak Hanan yang keluar dari kamar mereka juga diikuti oleh Naufal dan Sandy.
"Anggap saja seperti itu, jadi segeralah mencari kekasih. Jangan sampai ada berita bahwa member ALV penyuka pisang. Kan tidak lucu, wajah saja yang tampan." saat berkata seperti itu Alvian tergelak.
Begitu pula dengan Bara. Dia juga tertawa karena mendengar kata penyuka pisang. Yaitu sesuka sesama jenis, itulah yang dimaksud oleh Alvian.
"Brengsek! Enyah lah! Jangan sampai aku kurung kau di dalam kamar hotel." timpal Naufal yang membuat mereka akhirnya tertawa bersama.
"Kita akan satu mobil, kan?" tanya Sandy saat mereka sudah masuk kedalam lift menuju lantai dasar gedung tersebut.
"Tentu saja, bila kita mengunakan banyak mobil. Maka akan membuat orang-orang mencurigai kita. Lagian Bara sangat hapal daerah sini, dia sudah sering menemui Ria." Hanan yang menjawab.
"Oke, tidak masalah. Aku kan hanya ingin menemani saja. Jika ada yang cocok paling membeli oleh-oleh buat mamaku." kata Sandy yang hanya memiliki ibu saja. Sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia sejak satu tahun lalu.
"Aku juga hanya mau menemani Bara, kasihan dia. Memiliki kekasih tapi tidak ada kepastian." imbuh Naufal membenarkan.
Sebelum keluar dari lift. Mereka sudah memakai masker penutup wajah dan juga topi. Agar tidak ada yang mengenal mereka. Untuk sampai ke mobil yang sudah disiapkan oleh Manejer, mereka keluar secara terpisah.
Tidak berjalan serempak. Takutnya akan ada yang mengenali bahwa mereka adalah member ALV. Lima orang pemuda yang sudah membuat para kaum hawa menolak untuk tua karena pesonanya.
Belum lagi ke randoman mereka saat konser. Yaitu tampil tidak dibuat-buat agar para penonton menyukainya. Melainkan menunjukan seperti apa hubungan persahabatan mereka yang menjadi contoh baik oleh d fans ALV.
"Kalian hati-hati, tidak jauh dari mobil kalian akan ada bodyguard yang ditugaskan oleh Smith Muzaki mengawasi dari jarak jauh." ucap seorang Staf juga yang bertugas menyiapkan kendaraan bersama Manejer.
"Iya Kak, kami akan berhati-hati dan terimakasih." ucap mereka sebelum pergi dari hotel tersebut. Berhubung Bara yang lebih paham daerah sana. Jadi dia yang membawa mobilnya.
"Bara, apakah kekasihmu sudah kau suruh menunggu di suatu tempat?" tanya Hanan karena mereka tidak mungkin asal bertemu dengan Ria di mana saja.
"Sudah! Aku sudah memberitahu nya untuk menunggu di tempat biasa kami bertemu." pemuda itu menjawab sambil memperhatikan jalanan ibu kota yang sangat bersih. Sama seperti negara mereka.
Tidak lama, hanya kurang lebih lima belas menit. Ternyata mobil mereka telah tiba di sebuah Mall terbesar di daerah sana.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Alvian yang mengira jika Bara akan menemui kekasihnya di tempat private.
"Aku memang sering bertemu dengannya di sini. Lagian banyak orang, kita tidak akan di curigai. Berbeda bila di tempat khusus, akan ada yang curiga melihat kita memakai masker penutup wajah seperti ini." jelas pemuda itu langsung saja turun lebih dulu dan di ikuti oleh member lainya satu persatu masuk ke dalam Mall.
Agar tidak terlalu nampak oleh para pengunjung lainya.
"Oke, aku ada dilantai dua belas. Ria sudah menungguku di sana." jawab Bara langsung mengarah kearah lift karena dia akan langsung ke lantai dua belas.
"Al, ayo! Do'akan saja semoga hubungan nya dan Ria baik-baik saja." Naufal kembali berjalan kearah Alvian karena sekarang Bara tidak ada. Jadi mereka sudah bisa pergi berempat. Tidak akan dicurigai oleh orang lain karena bila berlima, itu baru menimbulkan kecurigaan. Apalagi tadi malam mereka konser di kota tersebut.
"Baiklah, ayo!" Alvian pun mengikuti ketiga sahabatnya. Mereka berempat hanya akan berjalan-jalan di Mall seraya mencari oleh-oleh buat keluarga tercinta.
*
Sementara itu di lantai dua belas. Bara baru keluar dari dalam lift dan langsung mencari keberadaan kekasihnya yang lagi duduk di pinggir jendela kaca. Yaitu di cafe tempat yang sudah beberapa kali mereka jadikan tempat bertemu.
"Ria, aku harap kau tidak mengecewakan aku lagi. Karena sikapmu yang semakin berubah. Tidak pernah perduli dengan hubungan kita." gumam Bara berjalan mendekati kekasihnya.
"Hai... Sorry, aku terlambat," ucapnya saat sudah berdiri di dekat meja yang diduduki oleh Ria.
"Bara, kau sudah datang," seru gadis itu tersenyum dan langsung menaruh gelas kopi yang baru akan dia minum. Soalnya Ria sudah menunggu hampir satu jam lalu.
"Bara, aku sangat merindukanmu," ucap Ria sudah berdiri dan memeluk kekasihnya. Mereka memang sudah lama berpacaran. Namun, selalu menjalin hubungan jarak jauh karena Ria kuliah kedokteran yang harus menghabiskan waktu lebih lama daripada kuliah jurusan biasa.
"Aku juga sangat merindukanmu. Ayo duduk," Bara menarik lembut tangan kekasihnya dan mereka pun duduk bersebelahan dengan jarak beberapa puluh senti saja.
"Apakah kau datang sendiri?" tanya gadis itu melihat Bara hanya datang sendirian.
"Tidak! Mereka berempat lagi jalan-jalan di Mall ini juga. Mungkin lagi membeli oleh-oleh buat keluarganya."
"Oh, aku kira kau sendiri. Oya, kau bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan. Hal penting apa?" Ria yang tidak memiliki banyak waktu akhirnya langsung saja bertanya.
Bahkan gadis itu sampai tidak menawarkan agar Bara memesan sesuatu lebih dulu. Namun, karena sudah biasa seperti itu setiap kali mereka bertemu. Bara hanya diam saja tidak ambil pusing.
Hanya saja pemuda itu menyugikkan senyum dibalik masker yang menutup sebagian wajahnya. Akan tetapi itu bukanlah senyum bahagia, melainkan senyum kecewa karena belum apa-apa, sang kekasih sudah bertanya ada hal penting apa.
"Apakah kau buru-buru?" sebelum menjawab pertanyaan Ria. pemuda itu juga ikut melemparkan pertanyaan.
"Iya, benar! Makanya aku datang lebih awal. Namun, ternyata kau datangnya terlambat dan ini waktu ku hanya tinggal tiga puluh menit lagi. Setelahnya aku ada acara penting bersama teman satu kampusku." jawab gadis itu jujur karena dia memang tidak pernah selingkuh dengan pria manapun.
Hanya saja Ria orangnya terlalu cuek karena kesibukannya. Jadi terkesan seperti bukan orang berpacaran.
"Baiklah karena kau buru-buru, jadi aku akan langsung mengatakannya sekarang." jawab Bara memperbaiki cara duduknya dan menatap muka Ria dengan serius.
"Ri, kau tahu kan jika kedua orang tuaku ingin aku segera menikah, karena opa ku keadaannya kurang sehat. Apalagi aku adalah cucu dan anak satu-satunya di keluarga kami. Ma---"
"Jika kau ingin membahas pernikahan, maaf! Aku tidak bisa, Bar. Aku masih ingin menyelesaikan kuliahku." sela Ria cepat.
Soalnya sekitar satu bulan lalu mereka berdua juga sudah pernah membahas hal tersebut, walaupun hanya melalui sambungan telepon. jadi sedikit banyaknya gadis itu sudah tahu ke mana arah pembicaraan Bara.
"Ria, aku tidak akan pernah mengaggu sekolahmu. Hanya saja tolong bantu aku untuk menyakinkan kedua orang tuaku. Jika kita langsung menikah, kita bisa menyembunyikan semuanya dari umum. Seperti mana pernikahan Alvian dan Ayara saat ini."
"Bara, aku tidak bisa! Berapa kali harus aku katakan, karena aku tidak ingin mencampur adukkan keduanya. jujur... Aku juga belum siap untuk menikah sekarang," jawab Ria tetap pada keputusannya seperti satu bulan lalu.
"Tapi bila aku tidak bisa membawa kekasihku yang bisa dinikahi kapanpun. Maka aku akan dijodohkan dengan gadis pilihan mereka." Bara mengenggam tangan sang kekasih yang ada di atas meja.
Agar Ria mengerti keadaanya yang ingin mengajak gadis itu menikah. Bila bukan karena orang tuanya, tentu Bara tidak akan memaksa seperti sekarang.
"Bar, kau tinggal bilang saja pada keluargamu. Bahwa umur kita baru saja dua puluh tiga tahun. Kenapa harus buru-buru menikah. Sedangkan di negara kita rata-rata menikah di umur dua puluh lima ke atas. Pasti keluargamu akan mengerti bila kau berbicara jujur, bahwa kita berdua belum siap menikah."
Setelah mendengar jawaban Ria. Bara langsung melepas genggaman tangannya dengan pelan. Dia hanya terdiam dan binggung harus berkata apa. Bara bukanlah Alvian yang jago merayu seorang wanita.
"Bar, aku memang mencintaimu. Tapi bukan berarti harus menikah sekarang, aku tidak ingin gara-gara cepat menikah. Nanti kuliahku akan berantakan dan kau tahu sendiri jika menjadi seorang dokter adalah cita-citaku sejak kecil." jelas Ria yang bergantian mengenggam tangan Bara.
Pemuda itu hanya diam masih mendengarkan Ria akan berkata apalagi untuk hubungan mereka.
"Namun, bila kau memaksa untuk menikah sekarang, aku tidak bisa dan lebih baik kita putus saja. Menjadi seorang dokter itu adalah masa depanku, karena jika kita menikah, belum tentu pernikahan itu akan utuh sampai kita sama-sama tua,"
"Apa maksudmu, apakah kau lebih memilih untuk mengakhiri hubungan kita. Daripada menikah denganku dan kau bisa melanjutkan lagi kuliahmu setelah kita menikah?"
"Aku tidak perlu menjelaskan secara rinci, karena kau pasti tahu apa maksudku. Aku harap kau mengerti, Bar. Ini untuk kebaikan kita berdu---"
"Tidak! Ini bukan untuk kebaikan kita berdua, tapi untuk kebaikanmu sendiri. Baiklah jika putus adalah pilihanmu. Maka hari ini aku akan melepas mu agar bisa bebas mengejar cita-cita yang kau impikan." Bara menarik kasar tangannya yang masih digenggam oleh Ria.
"Seharusnya aku sadar jika sejak dulu aku memang tidak pernah berarti untuk mu. Aku datang ke sini secara tersembunyi karena ingin mendapatkan kabar baik. Tapi tidak aku sangka, jika kau sendiri yang ingin kita putus." ungkap Bara yang tidak habis pikir ada wanita menolak untuk diajak menikah.
"Bara... bukan seperti itu, tapi aku---"
"Tapi aku bukan masa depanmu, kan? Jika begitu carilah masa depanmu dan aku juga akan mencari masa depanku sendiri." setelah berkata demikian Bara langsung berdiri dari tempat duduknya.
Buat apa juga berlama-lama di saja, jika hanya berujung pertengkaran di tempat umum. Untungnya di dekat meja mereka sepi, tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
"Ria, sekarang kau bukan lagi kekasihku. Diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Terima kasih karena selama dua tahun ini sudah mau menjadi kekasihku, meskipun aku tidak tahu kau sebetulnya menanggap aku sebagai pacar atau tidak. Selamat tinggal!" tidak peduli Ria menyuruhnya untuk berhenti.
Pemuda tampan itu langsung saja meninggalkan tempat tersebut untuk menemui para sahabatnya.
"Ternyata benar kata Lula. Kita tidak akan ada nilainya bila cinta itu tidak ada. Kenapa aku bodoh sekali, selama berpacaran entah berapa kali Ria menanyakan tentang keadaanku."
Gumam Bara di dalam hatinya degan membawa kekecewaan atas ucapan Ria yang saat ini hanyalah mantan kekasihnya.
...BERSAMBUNG......