
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Di tempat acara berlangsung. Alvian sudah menyanyikan satu buah lagu. Dan saat ini adalah lagu yang ke-dua. Biasanya mereka hanya akan menyanyikan paling banyak empat buah lagu.
Selebihnya yang mengisi acara tersebut adalah penyanyi lainnya lagi. Untuk jam tampil mereka pun sudah diatur dengan sangat sempurna oleh para staf mereka. Agar tidak banyak menghabiskan waktu Staf Muzakki juga mengatur supaya Group boyband ALV tampil pada jam setengah delapan.
Jadi pada pukul sepuluh mereka sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap malam ini. Soalnya dari jarak kota B ke kota S harus menempuh perjalanan selama kurang lebih lima jam. Sebab jika menaiki jalur udara memang tidak ada. Terkecuali menaiki helikopter. Namun, Alvian dan keempat sahabatnya tidak mau dan meminta agar mengunakan mobil saja.
Riuh suara penonton hampir mengalahkan musik itu sendiri. Untungnya segala sesuatu sudah diatur supaya tidak menghambat debut ALV.
"Albar, aku mencintaimu," jerit para gadis disaat MC kembali mengajak para member berbincang untuk meminta pendapat atas konser mereka malam ini.
"Naufal, Ian! Aaaa semuanya, aku padamu," teriakan histeris dari para fans yang berbagai usia, ada yang muda, anak-anak dan dewasa sekalipun. Tergantung mereka yang mampu membeli tiket.
Contohnya Lula hanya mampu membeli tiket kursi urut tujuh belas dari depan panggung. Untungnya dia sudah mendapat kesempatan untuk bertemu para member tadi sore. Jadi walaupun saat ini dia mendapatkan kursi jauh dari panggung, tidak terlalu rugi.
Namun, untuk membeli tempat duduk nomor urut segitu saja, sudah menghabiskan uang tabungan Lula dan bila dikumpul. Setara dengan gaji selama tiga bulan dia bekerja di toko Bibi Atika.
"Wah, ternyata kalian sangat dicintai, ya. Sejak kalian berada diatas panggung, tempat ini menjadi seperti lautan peri," ucap si MC tertawa karena suatu kebanggaan juga dia bisa berbicara langsung dengan group boyband yang sudah mendunia.
"Ini semua karena kami juga mencintai mereka. Mencintai para fans kami," yang dijawab oleh Hanan. Sambil mengarahkan tangannya berbentuk love pada para penonton yang terus berteriak penuh kekaguman dan damba ingin memiliki meskipun tidak akan mungkin bisa digapai.
Berbeda dengan teriakan seorang gadis yang mempertaruhkan nyawanya antara hidup dan mati. Demi melahirkan si buah hati.
"Agak! huh... huh... ini sakit sekali," lirih Aya sudah hampir satu jam dia berada di dalam ruangan bersalin. Namun, anaknya belum juga keluar.
"Nona tenangkan diri, Anda. Tenang! Jangan banyak pikiran agar emosional Anda bisa teratur, karena semua ini bisa berpengaruh besar pada kontraksi bayi untuk keluar lebih cepat," ucap dokter wanita yang rela tidak jadi menonton konser ALV karena harus menggantikan tugas sahabatnya yang sedang mengalami musibah.
"Dokter, Saya---"
"Aaghk," Ayara tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena si bayi kembali lagi memberi tekanan agar dia ikut mendorong keluar.
"Ya Tuhan! Aku mohon padamu, tolong selamatkan anakku. Beri aku kemudahan untuk melahirkannya. Hanya dia yang aku punya di dunia ini," Aya yang lelah kembali meneteskan air matanya sambil bergumam di dalam hati. Untuk menguatkan dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin dia bisa menahan emosi, antara marah, menyesal, sakit karena sudah dicampakkan oleh orang-orang yang tadinya dianggap menyayanginya dengan tulus. Namun, nyatanya semua itu hanya kebohongan belaka.
Saat ini Aya berjuang menahan rasa sakitnya sendirian. Tanpa ada yang mengenggam tangannya seperti cerita di novel-novel yang para suami mendampingi istrinya.
"Aaagk, huh, huh!" dengan nafas terengah-engah gadis itu kembali mencoba mengejan agar si bayi cepat keluar. Soalnya dokter yang menolongnya saat ini berkata. Apabila dalam waktu satu jam lagi belum juga bisa melahirkan secara normal. Maka akan dilakukan tindakan operasi Caesar untuk menyelamatkan nyawa Ayara sendiri dan juga anaknya.
"Aaagh, huh, Aaaaghk!" hanya dengan dua kali menarik nafas dalam-dalam. Ayara berhasil mengeluarkan bayinya.
Ooee... ooee..
Suara tangis bayi mungil menggema di dalam ruangan tersebut. Ayara berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.
"Wah, Anda berhasil, Nona. Selamat bayi Anda sangat cantik sama seperti ibunya," ucap di dokter tersenyum. Lalu ia meletakan bayi perempuan itu diatas dada ibunya.
"Selamat datang anakku, terima kasih sudah lahir ke dunia ini. Sekarang Mama tidak sendirian lagi," gumam Ayara kembali menangis melihat bayinya yang masih berlumuran darah bergerak di atas dadanya.
Ooee... ooee
Si bayi kembali menangis, karena dia diambil oleh suster untuk dimandikan terlebih dahulu.
"Sebentar ya cantik, biar Tante suster bersihkan dulu dirimu. Setelah itu baru kau bersama dengan mama lagi," kata dokter tersenyum haru.
Selama wanita itu menjadi dokter kandungan. Baru malam inilah dia menolong wanita melahirkan yang tidak ditemani oleh suami ataupun keluarnya. Jadi dokter tersebut sangat mengerti betapa sakitnya berada di posisi Ayara.
"Maaf ya, Nona juga akan kami bersihkan. Agar setelah ini kita pindah ke ruang rawat inap," kali ini yang membantu membersihkan tubuh ayam adalah dokter itu sendiri dan dibantu rekannya.
Tidak lama, hanya kurang lebih lima belas menit kemudian. Ayara dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, bukan VIP.
Ooee... ooee...
"Sabar ya sayang, tunggu Tante memperbaiki infus pada tangan ibumu," dokter yang bernama lengkap Erina itu mengendong bayi Ayara yang menangis. Sebelum diserahkan pada ibunya untuk di susui.
"Ini, kasih minum air susumu dengan cara seperti yang pernah Saya ajarkan, waktu kita melakukan pemeriksaan," katanya menyerahkan si bayi pada ibunya.
"Iya, Saya sudah paham, Dok. Terima kasih karena kalian semua sudah menolong Saya. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, karena jika dengan uang, Saya tidak punya." ucap Ayara dengan tulus.
"Sama-sama, Nona, yang terpenting bagi kami, Anda dan bayinya sehat," Dokter Elina melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Nona, Saya permisi mau ke ruang kerja Saya. Jika Anda perlu sesuatu, katakan saja pada suster Ira," ucapnya berpamitan untuk membersihkan tubuhnya dan juga istrirhat, karena Dokter Erina akan bertugas sampai besok pagi.
"Anakku," seru Ayara memeluk putrinya terlebih dahulu untuk menumpahkan semua rasa bahagia dan kasih sayangnya. Saat ini yang ada di dalam ruangan tersebut hanya dia dan satu orang perawat, yang disuruh oleh Dokter Erina agar ada yang menemani Ayara.
"Aku rela melepas dirimu, Alvin. Meskipun sakit ini tidak akan pernah sembuh. Jujur awalnya aku tak sanggup, tapi sekarang aku benar-benar telah melepas mu untuk orang lain, karena jarak antara kau dan aku semakin jauh, tidak mungkin dapat ku gapai lagi. Biarkan anak kita menjadi kenangan indah yang akan menemani langkahku untuk ke depannya," gumam Aya sambil menatap putri kecilnya yang mulai menghisap air susunya.
BERSAMBUNG...